Malam terasa semakin hangat ketika banyak orang mengisi hampir semua kursi di Ndalem Natan. Alunan selo yang dipetik oleh jari lincah Lintang Pramudia serasi dengan arsitektur Jawa Ndalem Natan. Di tempat ini, tua dan muda, laki-laki dan perempuan nampak antusias untuk menyimak rangkaian acara bertajuk “Seratus Tahun Pramoedya Ananta Toer” yang berisi dialog terbuka, pembacaan puisi, dan penampilan musik. Dialog dipandu oleh Nasir Tamara serta dinarasumberi Aprinus Salam dan Okky Madasari. Acara yang menjadi kerja sama antara Universitas Gadjah Mada, Toko Buku Natan, dan Omong-omong ini dilaksanakan di Kotagede karena Pram dalam bukunya yang berjudul Mangir pernah bercerita tentang Kotagede.
Aprinus Salam membuka dialog dengan pembahasan mengenai perempuan-perempuan dalam tulisan Pram, yakni Annelies, Nyai Ontosoroh, dan Dedes. Menurutnya, Pram benar-benar menggunakan perspektif pascakolonial ketika mengonstruksi Ontosoroh. Ontosoroh oleh Pram diposisikan tidak sebagai wanita pribumi dari sisi watak meskipun latar belakangnya jelas-jelas pribumi. Pram membersihkan masa lalu Ontosoroh agar bisa menjadi perempuan yang melawan kolonial. Peran Ontosoroh juga digambarkan sebagai sosok yang modern-rasional. Dengan cara itu, Pram menampakkan rasa hormatnya untuk melindungi perempuan Jawa. Meskipun di sisi lain, ketika masuk ke ruang privat, Ontosoroh menjadi sosok perempuan natural yang diposisikan di ranah tertentu oleh suami Belanda-nya, Herman Melemma.
Perempuan selanjutnya adalah Annelies. Menurut Aprinus Salam, Annelies merupakan tokoh novel perempuan yang paling disayangi oleh Pram. Lain dari Nyai Ontosoroh yang sepanjang novel digambarkan tidak pernah bahagia, Annelies (anak Ontosoroh dan Melemma) dikarakterisasi bersih dari lahir. Meskipun Annelies merupakan anak Ontosoroh (pribumi) dan Melemma (kolonial), tapi beban dosa tidak ditimpakan pada Annelies. Rasa sayang Pram pada tokoh Annelies juga terlihat dari kecantikannya yang dilukiskan dalam novel. Selain itu, Pram juga sangat melindungi karakter Annelies.
Di karya lain, tokoh perempuan ketiga adalah Dedes yang berasal dari abad ke-12. Aprinus mengatakan, dalam hal ini kita tidak perlu membenturkan sastra dengan fakta historis. Pram menggambarkan Dedes sebagai seseorang yang cantik dan pintar akan tetapi dipenuhi aura mistik. Dedes melakukan beberapa siasat dalam beberapa bagian cerita dan sangat berambisi dengan kekuasaan. Sebab itu, meski mencintai Arok dengan tulus, Dedes tidak mau berbagi kekuasaan dengannya. Melalui cerita ini terlihat pemahaman Pram terhadap sejarah bahwa raja-raja Jawa adalah keturunan Dedes.
Melihat Pram dari Tiga Sisi
Berbeda dengan Aprinus Salam yang menilai Pram melalui tokoh-tokoh perempuan dalam karyanya, Okky Madasari melihat Pram dalam tiga perspektif, yakni sebagai sastrawan, intelektual, dan sebagai warga negara. Sebagai sastrawan, Okky menilai Pram telah membuat standar tinggi bagi penulis-penulis Indonesia setelahnya. Menurutnya, mitos bahwa buku Pram berat untuk dibaca itu salah. “Betapa pun besar visinya, Pram mampu meramunya dalam cerita yang bisa dinikmati siapa saja,” ungkap Okky.
Apa yang disuarakan Pram jelas mengandung nilai-nilai yang dia percayai. Dalam pandangan Okky, karya-karya Pram yang paling kentara adalah menyuarakan perjuangan melawan hierarki. Melawan hierarki ini setidaknya terejawantahkan dalam beberapa bentuk. Pertama, melawan feodalisme. Pram benar-benar menggugat hierarki sosial dalam masyarakat nusantara yang masih penuh dengan feodalisme (tata sosial yang dibentuk oleh bangsawan). Kedua, hierarki antara penjajah dengan masyarakat terjajah. Ketiga, hierarki antara laki-laki dan perempuan. Pram itu seorang feminis, jauh sebelum wacana feminis menjadi arus utama seperti saat ini. Pram sudah melawan penindasan terhadap perempuan. Keempat, Pram melawan hierarki antara kelas ekonomi.
Adapun secara intelektual, Pram dalam bukunya Panggil Aku Kartini Saja menunjukkan pemahamannya yang mendalam akan sejarah. Pram ingin membuat narasi sejarah Indonesia yang tidak hanya menginduk pada western sentris. Pram betul-betul menunjukkan bahwa intelektual tidak boleh ahistoris dan selalu menjadikan sejarah sebagai pijakan dalam setiap langkah dan pengambilan keputusan. Sebagai intelek, dia juga berani dan kritis. Menurut Okky, dari Pram kita bisa belajar bahwa kita harus memahami budaya dan ilmu Barat, akan tetapi jangan menghamba ke Barat. Dengan demikian, dekolonisasi ilmu pengetahuan, perlawanan terhadap western sentris sudah disampaikan Pram baik melalui karya-karyanya maupun secara eksplisit dalam kuliah-kuliah yang diberikannya.
Perspektif ketiga adalah Pram sebagai warga negara. Okky menilai bahwa Pram adalah seorang yang berdaulat serta paham atas hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Pram pernah dekat dengan pemerintah Orde Lama sekaligus pernah dipenjara pada masa itu karena Pram berbeda pendapat dengan Bung Karno, khususnya atas peraturan pemerintah yang membatasi kepemilikan lahan untuk Tionghoa. Dia banyak menyampaikan gugatan terhadap pembatasan kepemilikan lahan bagi orang Tionghoa itu. Dari situ terlihat Pram adalah orang yang kritis terhadap kekuasaan dan dia tetap bisa teguh pada nilai-nilai yang lain. Ini adalah bentuk sikap nyata Pram sebagai warga negara yang sangat menyuarakan keadilan sosial.
Selain sebagai orang yang sangat humanis, Pram adalah sosok yang berakal. Logikalah yang menjadikannya sesuatu. Dia sangat rasional. Ketika dia membicarakan soal Jawa, dia bilang orang Jawa itu kolonial. Dengan cara itu, dia melakukan otokritik yang sangat besar terhadap identitas sukunya. Dari sisi spiritualitas sendiri, dia baru menemukan spiritualitasnya pada usia 50-an setelah dikirimi sebuah buku oleh seorang Jesuit.
Dalam dialog yang berlangsung sepanjang kurang lebih 4 jam itu selalu ada hal yang menarik untuk diulas mengenai Pram di berbagai sisinya. Terlebih acara tersebut banyak dihadiri orang-orang tua yang pernah satu masa bahkan memiliki pengalaman hidup bersama Pram. Beberapa dari mereka juga membagikan hal-hal menarik tentang Pram. Pembacaan puisi beriring petikan selo yang dikhususkan untuk Pram mengisi jeda dialog. Hingga larut malam, peserta terus berdatangan memenuhi Ndalem Natan. Pertanyaan demi pertanyaan juga terus memantik diskusi tentang berbagai isu seperti feminisme, rasisme, kapitalisme, dan lain sebagainya.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂








