Iman Sosialisme dan Sosialisme yang Beriman

Penulis

Belakangan ini kami rutin mengadakan kegiatan berbagi makanan tiap Jumat di jalanan maupun di masjid. Tampak senyum bahagia pada wajah orang-orang yang tersisihkan dari sirkuit kapitalisme, ketika menerima makanan. Kami membayangkan, bagaimana jika tersedia makanan gratis setiap hari di setiap rumah ibadah? Lalu tidak berhenti sampai situ, kita lanjutkan dengan air bersih gratis, pakaian gratis, pendidikan gratis, hingga pada akhirnya kita melenyapkan sebagian besar pertukaran komoditas pada barang-barang yang menjadi hajat hidup orang banyak. Bisakah kita melakukannya?

 

Usai menyaksikan ulang film Squid Game musim pertama (2021), lalu dilanjut yang musim kedua (2024), tiba-tiba aku teringat dengan perkataan Noam Chomsky dalam film dokumenter The Requiem of American Dream (2015). Dia berkata bahwa dunia hari ini tidak lagi seperti dunia yang dibayangkan Adam Smith yang diilustrasikan dengan merchant dan manufacturer seperti tukang daging (butcher), pembuat bir (brewer), dan tukang roti (baker). Dunia hari ini adalah milik institusi keuangan dan korporasi multinasional. Merekalah ‘penguasa umat manusia’ yang mengikuti maksim Adam Smith yang terkenal, “Segalanya bagi kita sendiri dan tiada untuk orang lain.” Namun, apakah dunia selalu seperti itu? Selalu di bawah segelintir penguasa yang mengendalikan, memeras, dan menertawakan massa rakyat yang lemah? Singkatnya, apakah dunia akan senantiasa dalam cengkeraman sistem kapitalisme?

Menjawab pertanyaan itu, saya teringat film The Young Karl Marx (2017) besutan Raoul Peck. Karl Marx muda, dalam adegan dia memberi ceramah di kalangan buruh Prancis berkata, “Tenagamu dijual bagai barang dagangan oleh majikanmu. Kecuali bahwa engkau tidaklah bebas. Kau dipaksa untuk menjualnya demi bisa hidup dan menjualnya dengan harga rendah.”

Lalu seorang buruh menyelanya, “Majikan dan pekerja senantiasa ada!” Dan Marx menjawab, “Tidak selalu! Berkata bahwa itu selalu ada merupakan pernyataan borjuis. Kapital ingin kita berpikir demikian. Namun segalanya bergerak. Segala hal merupakan subjek yang bergerak. Tidak ada yang tetap. Seluruh relasi sosial, dari perbudakan, perhambaan, kerja upahan, merupakan hal yang historis dan sementara. Kenyataannya, kondisi saat ini haruslah berubah. Kaum borjuis masih bebas untuk mempekerjakan buruh dan buruh masih dipaksa untuk menjualnya. Kaum borjuis suka berkata kebebasan, tetapi kebebasan itu ialah untuknya, bukan untukmu. Kau tahu itu, kau merasakannya dalam darah dagingmu, setiap hari. Ini bukanlah permainan yang adil. Jelas sudah, ini telah dicurangi.”

Kapitalisme telah berlangsung selama dua abad di muka bumi, yang tentu saja dengan perkembangan yang tidak merata di berbagai negeri. Selama dua abad lebih ini, kapitalisme senantiasa menemui krisis internalnya sendiri, seperti pada krisis ekonomi 1873, 1930-an, 1970-an, 1990-an, 2008, 2011, hingga yang belakangan krisis ekonomi akibat pandemi pada 2020. Di samping krisis ekonomi, kita juga melihat krisis kemanusiaan sebagai akibat dari berbagai perang yang dikobarkan oleh negara-negara dan korporasi-korporasi industri persenjataan. Krisis ekologi seperti perubahan iklim, pemanasan global, bencana yang abnormal, dan sebagainya juga menjadi dampak dari eksploitasi berlebihan yang dilakukan negara dan korporasi. Jika ada dokter ahli bedah planet dan peradaban, lalu bumi sebagai pasiennya, maka sang dokter akan berkata, “Mohon maaf, sudah tidak tertolong.”

Namun kembali perlu diingat bahwa kapitalisme bersifat historis. Ia tercipta dari puing-puing masyarakat feodal yang dihempaskan oleh serangan bertubi-tubi gerakan renaisans (renaissance), pencerahan (enlightment/aufklarung), enclosure, revolusi industri, revolusi borjuis, dan kolonialisme modern. Saat ini kapitalisme telah mencapai tahap tertingginya yaitu imperialisme (Lenin, 1917). Tepat pada puncaknya, kapitalisme itu sendiri akan menggali liang kuburnya sendiri, lalu melahirkan sistem sosialisme. Sosialisme dilahirkan dari kandungan kapitalisme–ia lahir dipaksa oleh tenaga pendorong atau aksi revolusioner dari kelas buruh (Alimin, 1947).

 

Sosialisme, Masalah, dan Prospeknya

 

Di 2025 ini, dengan berbagai krisis yang telah dilalui, nyatanya kapitalisme tetap adaptif dan bertahan sebagai sistem ekonomi. Liang kubur telah digali, tetapi kapitalisme tak kunjung mati. Masyarakat sosialis yang diramalkan akan menggantikan kapitalisme tak kunjung datang. Sebaliknya, orang-orang malah mengira bahwa sosialisme sudah gagal, dengan Uni Soviet sebagai bukti.

Republik Sosialis Federasi Soviet Rusia adalah negara sosialis pertama yang berdiri pada 1917, kemudian memperluas dirinya dan bertransformasi menjadi negara besar yang kita kenal sebagai Uni Soviet. Negara tersebut membubarkan diri pada 1991, yang dianggap sebagai kegagalan sosialisme dan kemenangan kapitalisme Barat. 

Namun, sejatinya pembubaran Uni Soviet bukanlah kegagalan sosialisme, karena hingga hari ini pun masih terdapat negara-negara yang secara formal menganut dan menerapkan kebijakan sosialis dengan berbagai adaptasinya masing-masing. Ada Tiongkok dan Vietnam yang menerapkan sosialisme-pasar, Kuba yang bertahan dengan membuka sektor pariwisata, dan Korea Utara yang menafsirkan sosialisme menggunakan filosofi juche. 

Di sisi lain, banyak pula negara-negara yang secara formal bukanlah negara sosialis, tetapi sedang dipimpin oleh partai pekerja yang dalam taraf tertentu berhaluan kiri/sosialis/komunis, seperti Spanyol yang dipimpin Partido Socialista Obrero Español berideologi sosial-demokrat, Sri Lanka yang dipimpin aliansi partai politik Jathika Jana Balawegaya berideologi populisme sayap kiri, Chili yang dipimpin oleh koalisi partai bernama Frente Amplio berideologi sosialisme-demokratik, Nepal yang dipimpin oleh Partai Komunis Nepal (UML) berideologi marxisme-leninisme, dan negara-negara lainnya.

Ada juga negara-negara yang tidak dipimpin partai pekerja berhaluan kiri/sosialis/komunis, tetapi terdapat partai kiri/sosialis/komunis yang memimpin di level tertentu. Contohnya negara bagian di India bernama Kerala yang dipimpin Partai Komunis India (M) berideologi marxisme-leninisme, di Amerika Serikat terdapat Democratic Socialist of America yang berhaluan sosialisme-demokratik yang menempatkan kader-kadernya di sejumlah jabatan publik seperti Alexandra Ocasio-Cortez dan Rashida Talib, hingga di Palestina yang terdapat Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP) berhaluan marxisme-leninisme yang masih aktif menentang penjajahan Israel.

Menimbang kenyataan politik di atas, maka pembubaran Uni Soviet dapat dimaknai sebagai kegagalan sosialisme pada aspek implementasi kebijakan tertentu, bukan pada keseluruhan konsep sosialisme itu sendiri. Lantaran sosialisme ternyata masih laku di berbagai tempat. Bahkan tak dapat dipungkiri bahwa penerapan sosialisme di Uni Soviet tidak sepenuhnya gagal, malahan memperoleh pencapaian signifikan dalam berbagai bidang. Uni Soviet berhasil memajukan penduduknya yang mayoritas buta huruf tatkala masih di bawah rezim feodal Tsar menjadi maju secara literasi, mentransformasi ekonomi dari feodal agraris menjadi industri modern, turut serta mengakhiri Perang Dunia II dengan mengalahkan Nazi Jerman, membantu gerakan-gerakan anti-kolonial di negeri-negeri Dunia Ketiga, menjamin hak pilih dan partisipasi perempuan dalam pemerintahan, menjadi negara yang pertama kali meluncurkan satelit dan manusia ke ruang angkasa, hingga mengembangkan energi nuklir.

 

Sosialisme, Hancurnya Gerakan Kiri Indonesia, dan Faktor Agama

 

Indonesia juga memiliki kaitan tersendiri dengan sosialisme. Jika kita melihat para pendiri bangsa, hampir semuanya memiliki karakteristik sosialis dengan taraf dan tafsiran yang beda-beda. Sukarno punya marhaenisme atau marxisme dalam konteks masyarakat Indonesia yang agraris, Hatta menganut sosial-demokrasi yang percaya dengan koperasi, Tan Malaka mempercayai kolaborasi komunisme dan pan-Islamisme, Sutan Sjahrir mendirikan Partai Sosialis Indonesia, dan ada Amir Sjarifuddin yang memimpin Pemuda Sosialis Indonesia.

Pasca kemerdekaan pun, elemen-elemen sosialis masih mewarnai perpolitikan Indonesia. Menurut Herbert Feith, sistem kepartaian di Indonesia yang multi partai pada Pemilu 1955 diwarnai oleh lima aliran, yakni tradisi Jawa (di antaranya diwakili oleh Partai Indonesia Raya-Wongsonegoro), aliran Islam (diwakili oleh Partai Majelis Syuro Indonesia dan Partai Nahdlatul Ulama), aliran nasionalis (diwakili oleh Partai Nasional Indonesia dan Partai Rakyat Nasional), aliran komunis (diwakili oleh Partai Komunis Indonesia), dan aliran sosial-demokrat (diwakili oleh Partai Sosialis Indonesia) (Yusa, 2016: 228).

Partai-partai kiri mulai lenyap setelah berlangsungnya pembantaian massal terhadap pemimpin, anggota, dan simpatisan PKI, serta para pengikut Sukarno. Rezim Orde Baru kemudian menyatakan PKI sebagai partai terlarang dan melarang pula penyebaran ajaran marxisme-leninisme melalui Ketetapan MPRS No.XXV/MPRS/1966. Ketentuan hukum tersebut memaksa absennya partai politik parlemen yang berhaluan kiri/sosialis/komunis. Kalaupun ada, misalnya Partai Rakyat Demokratik yang didirikan pada 1996, menjadi sasaran represi pada masa Orde Baru dan tidak pernah lolos pemilu pada pasca Reformasi. Di sisi lain, organisasi-organisasi kiri di masyarakat pun hingga kini tidak ada yang memiliki jumlah massa signifikan dibanding sebelum Orde Baru.

Dari sekian banyak sebab, salah satu yang menjadikan kemandekan gerakan kiri di Indonesia adalah pertentangannya dengan agama. Orang-orang kiri selalu diasosiasikan dengan PKI dan PKI dicap negara sebagai penganut ateisme. Lantaran Indonesia merupakan negara berdasarkan “Ketuhanan Yang Maha Esa” sebagai sila pertama Pancasila, maka kesimpulannya menjadi kiri adalah menyatakan diri sebagai anti-Pancasila.

Tak bisa dipungkiri bahwa gerakan kiri Indonesia pernah melakukan serangan terhadap agama maupun institusinya. Pada Peristiwa Madiun 1948, PKI melakukan penyerbuan ke Pondok Pesantren Al-Jauhar di Desa Kanigoro yang dipimpin Kiai Nahdlatul Ulama (NU) di mana para anggota Pelajar Islam Indonesia (PII) sedang melakukan pelatihan mental. PKI melakukan penyerbuan dengan anggapan bahwa pelatihan tersebut merupakan bagian dari kontra-revolusi terhadap politik Nasakom Bung Karno. Sedangkan dari pihak muslim beranggapan bahwa serangan tersebut merupakan permusuhan kaum komunis terhadap Islam (Pradheksa, 2022). Kemudian pada 1960-an, beberapa pertunjukan ludruk dan ketoprak yang digelar Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) mengangkat judul-judul yang kontroversial, seperti Matine Gusti Allah (Matinya Allah), hingga Paus Rabi (Paus Menikah) (Sulistiani, 2022).

Serangan PKI terhadap agama berkaitan ideologi marxisme-leninisme yang dalam gagasan maupun praktiknya mempropagandakan ateisme. Dalam Zur Kritik der Hegelschen Rechtsphilosophie (Kritik atas Filsafat Hak Hegel), Marx (1844) berkata:

 

“Penghapusan agama sebagai kebahagiaan semu bagi masyarakat adalah tuntutan bagi kebahagiaan sejati mereka. Menyerukan mereka untuk melepaskan ilusi tentang kondisi mereka sama saja dengan menyerukan mereka untuk melepaskan kondisi yang membutuhkan ilusi. Oleh karena itu, kritik terhadap agama pada dasarnya adalah kritik terhadap lembah air mata yang dilingkari oleh agama.”

 

Friedrich Engels, kolega Marx, sebagaimana dia tulis dalam Anti-Dühring melihat bahwa agama akan lenyap dengan sendirinya ketika terwujud masyarakat tanpa kelas (Engels, 1878):

 

“…Ketika masyarakat, dengan mengambil alih semua alat produksi dan menggunakannya secara terencana, telah membebaskan dirinya dan semua anggotanya dari ikatan yang kini mengikat mereka dengan alat produksi yang mereka sendiri hasilkan tetapi yang dihadapi mereka sebagai kekuatan asing yang tak tertahankan, ketika oleh karena itu manusia tidak lagi sekadar mengusulkan, tetapi juga mengatur—baru pada saat itulah kekuatan asing terakhir yang masih tercermin dalam agama akan lenyap; dan bersamanya juga refleksi keagamaan itu sendiri akan lenyap, karena alasan sederhana bahwa pada saat itu tidak akan ada lagi yang tersisa untuk direfleksikan.”

 

Vladimir Lenin sebagai tokoh utama pendiri Uni Soviet memanifestasikan kritik Marx dan Engels terhadap agama dalam sebuah kebijakan negara. Partai Komunis Uni Soviet membangun organisasi bernama Soyúz Voínstvuyushchikh Bezbózhnikov (Liga Militan Ateis), yang secara aktif mempropagandakan ateisme dan anti-agama di masyarakat. Mereka punya slogan, “Perjuangan melawan agama adalah perjuangan untuk sosialisme” (Pospielovsky, 1987: 52). 

Dalam aturan hukum resminya, sebenarnya Uni Soviet menjamin hak atas kebebasan beragama maupun tidak beragama. Hal ini tertuang dalam konstitusinya yang menyebutkan. “Untuk menjamin kebebasan hati nurani warga negara, gereja di Uni Soviet dipisahkan dari negara, dan sekolah dipisahkan dari gereja. Kebebasan beribadah dan kebebasan propaganda anti-agama diakui bagi semua warga negara” (Pasal 124 Konstitusi Uni Soviet 1936). Namun dalam implementasinya, negara Uni Soviet menyokong penuh propaganda anti-agama, membatasi kegiatan-kegiatan peribadatan dengan mengalihfungsikan gereja, dan merepresi pemuka agama.

Bagaimanapun, hubungan antara sosialisme yang berdasarkan marxisme dengan agama tidaklah melulu berseberangan. Abdurrahman Wahid a.k.a Gus Dur pernah mengemukakan dalam konteks kaitan antara marxisme dan Islam, pada perkembangannya timbul semacam sinkretisme di antara keduanya. Muncul sejumlah intelektual muslim yang mendalami sumber-sumber ajaran Islam melalui analisis Marx tentang pertentangan kelas. Di sisi lain, gerakan sosialis seperti Partai Komunis Italia pun menggunakan pemahaman yang lebih terbuka terhadap wawasan keagamaan untuk ditampung dalam perjuangan menumbangkan kapitalisme global (Wahid, 1982).

Di Indonesia pun, pada mulanya gerakan komunis yang lahir tidak mempertentangkan marxisme dengan agama. Bila ditelisik secara kesejarahan, embrio PKI muncul dari organisasi Sarekat Islam (SI). Ketua PKI pertama, Semaoen, bahkan pernah menjadi Ketua SI Semarang. Lalu di Surakarta ada keluarga mulyono  Haji Mohamad Misbach dengan julukan ‘Haji Merah’, yang mendirikan PKI afdeling Surakarta, dan aktif memimpin berbagai pemogokan. Baginya, perjuangan melawan kapitalisme adalah perjuangan melawan setan. Dalam tulisannya dia berkata, “Setan adalah musuh kita. Ia dalam abad ini bekerja untuk kapitalisme. Kapitalisme adalah fitnah, nafsu untuk melenyapkan keimanan kita kepada Tuhan” (Arifin, 2012).

Ditarik lebih awal lagi, ada H.O.S Tjokroaminoto, pendiri SI, yang menulis Islam dan Sosialisme. Baginya, Rasulullah Muhammad S.A.W adalah seorang sosialis. Dia juga berkata, “Sosialisme hanyalah bisa menjadi sempurna apabila tiap-tiap manusia tidak hidup hanya untuk dirinya sendiri saja sebagai binatang atau burung, tetapi hidup untuk keperluan masyarakat bersama, karena segala apa saja yang ada hanyalah berasal atau dijadikan oleh satu kekuatan atau satu kekuasaan, ialah Allah Yang Maha Kuasa” (Raditya, 2017).

 

Sosialisme Religius sebagai Jalan keluar

 

Sebelum lebih jauh menghubungkan sosialisme dengan agama, mari kita coba tetapkan pengertian kita tentang sosialisme. Sosialisme bisa dimengerti dalam dimensi sistem ekonomi, sistem politik, hingga gerakan sosial. Tidak ada definisi tunggal tentang sosialisme. Dalam dimensi sistem ekonomi, biasanya sosialisme dimengerti sebagai sistem yang menempatkan sarana produksi di bawah kendali pekerja/sosial/masyarakat/publik (terlepas dari melalui negara atau dalam bentuk-bentuk lainnya). Dalam dimensi politik, sosialisme biasanya dimengerti sebagai sistem di mana kelas pekerja memegang tampuk kekuasaan (terlepas dari apakah kelas pekerja itu mewakili dirinya sendiri atau diwakili partai). Dalam dimensi gerakan, maka gerakan sosialis biasanya memperjuangkan terwujudnya masyarakat sosialistik melalui pengorganisiran kelas pekerja melawan kepentingan kelas kapitalis.

Sebagai gerakan, sosialisme selalu tidak sama dengan marxisme atau komunisme. Sosialisme sudah eksis sebelum Marx. Maka dari itu, Marx berupaya membedakan sosialismenya dengan varian-varian sosialisme lain, dengan menamainya sosialisme ilmiah. Sosialisme ilmiah merupakan gerakan pembebasan proletariat yang didasarkan pada pemahaman penuh atas kondisi-kondisi historis (Engels, 1880). Definisi sosialisme ilmiah tersebut sama dengan definisi komunisme (Engels, 1847). Jadi bisa dibilang, kedua term tersebut adalah sama.

Sebelum Marx, gerakan sosialis muncul pada masa Revolusi Industri Pertama. Para pemikir Prancis pada abad 17 dan awal abad 18, seperti Jean Meslier, Étienne-Gabriel Morelly, dan Abbé de Mably menganjurkan gagasan redistribusi kekayaan dan penghapusan kepemilikan pribadi (Pierson, 2016). Pada periode yang sama, pemikir Inggris Thomas Spence dan Thomas Paine juga menyerukan untuk kepemilikan kolektif atas tanah, pemerintahan yang desentralistik, dan bantuan bagi ibu dan anak (Butler, 2015: 15). Dan berbagai gerakan sosialis terus berlanjut pada rentang periode berikutnya, yang akan menjadi melelahkan jika semua dituang dalam tulisan ini.

Termasuk pula dalam varian gerakan sosialis adalah sosialisme berdasarkan agama. Sosialisme-religius adalah kerangka ideologis yang menggabungkan keyakinan agama dengan prinsip-prinsip sosialis, yang bertujuan untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritual dengan keadilan sosial dan kesetaraan ekonomi. Sosialisme-religius beranggapan bahwa agama dan sosialisme pada hakikatnya saling terkait, masing-masing saling membutuhkan untuk mencapai realisasi penuh (Biemann, 1928: 258-260).

Pada berbagai agama terdapat gerakan sosialis ini. Dalam Islam, kita sudah singgung banyak contoh sebelumnya. Dalam Buddhisme, terdapat beberapa tokoh agama yang mengusung sosialisme-Buddhis, antara lain Buddhadāsa Bhikkhu, Han Yong-un, dan Tenzin Gyatso (Dalai Lama ke-14). Dalam wawancaranya, Gyatso pernah mengemukakan:

 

“Dari semua teori ekonomi modern, sistem ekonomi marxisme didasarkan pada prinsip-prinsip moral, sedangkan kapitalisme hanya peduli dengan keuntungan dan keuntungan. Kegagalan rezim di bekas Uni Soviet, bagi saya, bukanlah kegagalan marxisme, melainkan kegagalan totalitarianisme. Karena alasan ini, saya masih menganggap diri saya sebagai penganut setengah marxis dan setengah buddhis” (Tibet and China, Marxism, Nonviolence, 2018). 

 

Di dalam kekristenan terdapat pula sosialisme-Kristen dalam berbagai gerakan. Friedrich Engels dalam Perang Petani di Jerman (1850) menyoroti tokoh bernama Thomas Müntzer yang memimpin gerakan Anabaptisme yang melancarkan revolusi melawan feodalisme di Jerman Selatan pada 1525. Di bawah kepemimpinan Müntzer, gerakan ini berubah menjadi perang melawan semua otoritas yang ada dan upaya untuk membangun negara Kristen yang ideal melalui revolusi, dengan kesetaraan di antara masyarakat. Dalam masa modern, berdirinya Partai Buruh Inggris pada awal abad 20 diinisiasi oleh tokoh penganut sosialisme-Kristen bernama Keir Hardie. Menurutnya, sosialisme adalah perwujudan ajaran Yesus, yang akan menyelamatkan gereja dari Mamon (berhala harta yang berlebihan), yang menurut mereka menyebabkan gereja kehilangan arah dan menjadi korup karena berpihak pada orang kaya dan berkuasa terhadap orang miskin. Dia berpandangan, sosialisme tidaklah anti-agama tetapi menentang mereka yang akan menggunakan agama untuk mendukung kapitalisme dan status quo (Knox, 1988).

Dalam Katolik, secara umum sosialisme dikecam oleh banyak paus. Namun, beberapa paus, seperti Paus Fransiskus dan Paus John Paul II mendukung dan melihat ada keterkaitan antara ajaran Yesus dan sosialisme. Paus John Paul II  misalnya, pernah mengatakan, “Hak atas kepemilikan pribadi tunduk kepada hak atas penggunaan bersama”, dan berkenaan dengan alat-alat produksi, “Baik dalam bentuk kepemilikan publik maupun kolektif, alat-alat tersebut harus melayani tenaga kerja dan memungkinkan hak atas penggunaan bersama” (Sigmund, 1990: 171). Di Amerika Latin pada 1960-1970-an, muncul pula gerakan Teologi Pembebasan yang menggabungkan ajaran Katolik dengan prinsip-prinsip sosialisme untuk membela hak-hak kaum miskin dan tertindas. Beberapa tokoh terkenalnya antara lain Gustavo Gutiérrez yang disebut Bapak Teologi Pembebasan dan Óscar Romero seorang Uskup Agung yang dibunuh karena memperjuangkan hak rakyat miskin di El Salvador.

Dalam agama Hindu, Mahatma Gandhi dapat menjadi teladan tentang bagaimana dia meyakini Hinduisme sejalan dengan sosialisme. Dia berkata:

 

“Aku telah menyatakan bahwa aku seorang sosialis jauh sebelum orang-orang yang kukenal di India menyatakan keyakinan mereka. Namun, sosialismeku muncul secara alamiah dan tidak diadopsi dari buku mana pun. Itu muncul dari keyakinanku yang tak tergoyahkan pada anti-kekerasan. Tidak ada orang yang dapat secara aktif melakukan anti-kekerasan dan tidak bangkit melawan ketidakadilan sosial, di mana pun itu terjadi.”

 

Sosialisme-religius adalah solusi bagi gerakan sosialis di Indonesia yang mengalami kebuntuan akibat dari berlakunya pelarangan penyebaran ajaran marxisme dan sentimen keagamaan di Indonesia. Ia dapat menggali anasir-anasir sosialisme dalam semua ajaran agama dan kepercayaan di Indonesia. Institusi-institusi agama dapat menjadi basis pengorganisiran untuk membela kelas tertindas dan melenyapkan kapitalisme.

Sebagai negeri yang kebanyakan penduduknya muslim, salah satu ajaran agama yang potensial untuk melawan kapitalisme adalah wakaf. Wakaf adalah kegiatan memisahkan dan menyerahkan sebagian harta benda untuk dimanfaatkan secara umum dan berkelanjutan. Harta yang diwakafkan tidak boleh dijual, diwariskan, atau dipindahtangankan, sehingga menjadi aset yang bersifat abadi. Dalam Islam, wakaf merupakan bentuk ibadah yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Biasanya kita mengenal wakaf dalam bentuk tanah yang diperuntukkan untuk pembangunan masjid, kuburan, jalan umum, dan pesantren. Padahal wakaf bisa diperuntukkan untuk banyak hal, termasuk yang belum banyak seperti rumah sakit dan wakaf untuk kegiatan produktif seperti pertanian yang hasilnya bisa disalurkan untuk kegiatan non-profit. Wakaf juga bisa diperuntukkan untuk fungsi ekologis seperti hutan dan embung masyarakat.

Konsep berbagi harta yang punya semangat seperti wakaf juga dapat ditemukan dalam berbagai agama. Dalam Kristen dan Katolik, ada konsep endowment. Di Hindu ada devadana. Dalam ajaran Buddha ada dāna. Namun dalam hukum Indonesia, wakaf dapat dilakukan oleh warga negara dari semua kalangan pemeluk agama, bukan hanya warga negara yang muslim saja (Badan Wakaf Indonesia, 2022).

Di samping konsep berbagi harta, kebanyakan agama juga menentang atau sekurang-kurangnya membatasi bentuk-bentuk eksploitasi kapitalistik seperti praktik riba. Lalu semua agama juga melarang atau sekurang-kurangnya membatasi diri dalam keserakahan, yang dalam epos kapitalisme ini berwujud pada pengejaran profit dan akumulasi kapital. Kita dapat mengeksplorasi lagi ajaran-ajaran apa saja yang terdapat dalam agama-agama, yang mengandung semangat melawan kapitalisme.

Di samping sebagai gerakan, sosialisme-religius juga potensial untuk dimanifestasikan dalam partai politik. Dengan dihapuskannya ambang batas partai politik dan presiden untuk Pemilihan Umum 2029, partai politik berhaluan sosialisme-religius bisa mewujudkan setahap demi setahap masyarakat sosialis melalui jalur pemerintahan. Tidak ada aturan hukum termasuk TAP MPR yang dapat melarang partai politik berhaluan sosialisme-religius untuk berdiri dan dipilih rakyat. Konstituen dan basis anggota partai sosialis-religius bisa bersumber dari kalangan umat beragama yang selama ini jenuh dengan partai-partai politik yang berkuasa saat ini, yang hanya menjadikan agama untuk kepentingan partai dan segelintir orang.

 

Penutup

 

Dalam Squid Game, meski digambarkan bahwa watak manusia dalam dunia yang kapitalisme tampak serakah dan hanya mementingkan diri sendiri, tetapi masih ada orang-orang yang sadar dan yakin seperti Seong Gi-hun (tokoh utama, protagonis) dan kawan-kawan yang tiada gentar melawan sistem permainan Squid Game yang dikendalikan para orang kaya. Sama seperti pada permainan kapitalisme ini, pada akhirnya kamu sendiri yang akan menentukan apakah akan mengakhiri permainan atau justru melanjutkannya. Gerakan sosialis adalah gerakan yang sadar untuk mengakhiri permainan keji kapitalisme dan mendirikan masyarakat sosialis. Keimanan dalam agama dapat mempertebal keyakinan sosialis itu. 

 

Referensi

Arifin, S. (2012). Islam dan Pembebasan. Indoprogress. https://indoprogress.com/2012/08/islam-dan-pembebasan/

Badan Wakaf Indonesia. (2022). Ketua Divisi Husoli BWI Sebut Wakaf Non-Muslim Sah. Badan Wakaf Indonesia. https://www.bwi.go.id/7925/2022/04/11/ketua-divisi-husoli-bwi-sebut-wakaf-non-muslim-itu-sah/#:~:text=Ketua%20Divisi%20Badan%20Wakaf%20Indonesia,yang%20nonmuslim%20diperbolehkan%20memberikan%20wakaf.

Biemann, A. D. (1928). Three Theses of a Religious Socialism. https://doi.org/10.1007/978-1-137-07671-7_28.

Butler, M. (2015). Mapping Mythologies: Countercurrents in Eighteenth-Century British Poetry and Cultural History. Cambridge University Press.

Engels, F. (1847). Prinsip-Prinsip Komunisme. https://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/1847/1847-PrinsipKomunisme.htm

Engels, F. (1878). Anti-Dühring. Vorwärts. https://www.marxists.org/archive/marx/works/1877/anti-duhring/ch27.htm

Engels, F. (1880). Sosialisme Utopis dan Sosialisme Ilmiah. La Revue socialise. https://www.marxists.org/indonesia/archive/marx-engels/18800420-sosialismeutopis/index.html

Knox, W. W. (1988, Oktober). Religion and the Scottish Labour Movement c. 1900–39. Journal of Contemporary History, 23(4), 609–630. doi:10.1177/002200948802300406

Marx, K. (1844). A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right. Deutsch-Französische Jahrbücher. https://www.marxists.org/archive/marx/works/1843/critique-hpr/intro.htm

Pierson, C. (2016). Just Property: Volume Two: Enlightenment, Revolution, and History. OUP Oxford.

Pospielovsky, D. V. (1987). A History of Soviet Atheism in Theory, and Practice, and the Believer, vol 1: A History of Marxist-Leninist Atheism and Soviet Anti-Religious Policies. St Martin’s Press.

Pradheksa, P. Y. (2022, Oktober 1). Melihat sejarah rivalitas kelompok kiri dan Islam, serta “Buku Putih” yang melanggengkan sikap antikomunis di Indonesia. The Conversation. Retrieved Januari 10, 2025, from https://theconversation.com/melihat-sejarah-rivalitas-kelompok-kiri-dan-islam-serta-buku-putih-yang-melanggengkan-sikap-antikomunis-di-indonesia-191668

Raditya, I. N. (2017, Desember 16). H.O.S. Tjokroaminoto Memadukan Islam dan Sosialisme. Tirto. https://tirto.id/hos-tjokroaminoto-memadukan-islam-dan-sosialisme-cwW1#:~:text=%E2%80%9CBahwa%20rasa%20persaudaraan%20dan%20persatuan,Amelz%2C%201952%3A138).

Sigmund, P. E. (1990). Liberation theology at the crossroads: democracy or revolution? Oxford University Press.

Sulistiani. (2022, September 5). Ludruk, Awalnya Pekerjaan Parttime. Historia. Retrieved Januari 10, 2025, from https://historia.id/kultur/articles/ludruk-awalnya-pekerjaan-parttime-vqoBB/page/1

Tibet and China, Marxism, Nonviolence. (2018). https://hhdl.dharmakara.net/hhdlquotes1.html

Wahid, A. (1982). Pandangan Islam tentang Marxisme-Leninisme. https://nu.or.id/taushiyah/pandangan-islam-tentang-marxisme-leninisme-R4rTA. https://nu.or.id/taushiyah/pandangan-islam-tentang-marxisme-leninisme-R4rTA ___ Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/iOS)

Yusa, I. G. (2016). Hukum Tata Negara Pasca Perubahan UUD NRI 1945. Setara Press.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *