Edgar Allan Poe adalah seorang penulis, penyair, penyunting, dan kritikus sastra asal Amerika yang lahir pada 19 Januari 1809, di Boston, Massachusetts. Dia dikenal sebagai salah satu orang yang paling berpengaruh dalam lingkup sastra Amerika. Dia berkontribusi terhadap perkembangan gaya fiksi gotik, misteri, kisah-kisah mengerikan (macabre storytelling). Karya-karya Poe acap kali mengeksplorasi tema kematian, kehilangan, kegilaan, dan supranatural, dengan menggabungkan romantisisme gelap dan kedalaman psikologis.
Poe dihargai oleh dunia karena telah menciptakan kisah-kisah detektif modern dan dipertimbangkan sebagai pionir dari gaya science-fiction. Selain itu, Poe terpesona dengan sandi dan cryptography. Tak heran dirinya sering kali menantang pembaca untuk memecahkan teka-teki dalam karyanya. Ketertarikannya pada kode bahkan memengaruhi tulisannya, seperti dalam The Gold-Bug, yang menampilkan peta harta karun yang ditulis dalam sandi.
Poe menginspirasi banyak penulis terkenal. Pengaruhnya meluas jauh melampaui masa hidupnya. Penulis seperti H.P. Lovecraft, Arthur Conan Doyle, dan bahkan penyair Perancis seperti Charles Baudelaire mengagumi karyanya. Baudelaire menerjemahkan banyak cerita Poe ke dalam bahasa Prancis, membawanya ke khalayak Eropa yang lebih luas.
Di sisi lain, Poe adalah seorang kritikus sastra yang ditakuti oleh sastrawan di eranya. Dia tidak segan-segan memberikan ulasan pedas terhadap karya-karya orang sezamannya. Ujung-ujungnya, dia memeroleh reputasi sebagai kritikus yang tajam. Gaya tajam dan kejujurannya yang tak kenal ampun membuatnya dijuluki “The Tomahawk Man”. Dia tidak takut mengkritik, sekalipun penulis paling populer di eranya, bahkan jika itu membuatnya dimusuhi. Namun, di sisi lain orang-orang tetap saja mengakui reputasi dan integritas intelektualnya.
Poe meyakini perannya sebagai kritikus adalah untuk mengungkap tulisan yang buruk dan menuntut penulis Amerika memenuhi standar yang lebih tinggi. Ulasan kritisnya sering kali mencakup pemeriksaan teknis terperinci atas sebuah karya sastra, dan pengamatannya mengungkap kesalahan tata bahasa hingga penalaran yang tidak logis.
Sebagai seorang kritikus, Poe menarik banyak perhatian atas kecerdasannya yang tajam dan keterusterangannya dalam mengkaji karya sastra. Dia sungguh menggunakan kemampuannya untuk ‘merendahkan’ nilai sebuah karya.
Dia telah mengulas beberapa tokoh sastra elit dalam sejarah. Salah seorang yang Poe kritik karyanya adalah Henry Wadsworth Longfellow. Poe sama sekali tidak terkesan dengan Longfellow dan yakin bahwa penyair “Paul Revere’s Ride” itu tukang plagiat. Poe menyebutnya “sang penipu besar”, dengan mengatakan bahwa dia bersalah atas “perampokan sastra yang paling biadab”.
Poe secara khusus menyoroti Longfellow dan kelompoknya di New England. Meskipun Poe mengakui Longfellow sebagai salah satu penyair Amerika terkemuka, dia juga menyesalkan cengkeraman kelompok “ frog-pond” terhadap lingkup sastra Amerika. Kelompok rahasia semacam itu mengendalikan kuasa sastra yang luar biasa kuat.
Poe adalah kritikus yang adil. Jika dia menyukai sebuah karya, dia tak segan memberikan pujian bagi mereka sambil tetap menyertakan kekurangan karya tersebut. Berikut adalah orang-orang yang pernah Poe kritik berikut ulasannya;
Elizabeth Barrett Browning: “Celaka karena telah lama diasingkan oleh kesehatan yang buruk dari dunia telah membentuk dirinya… keberanian yang menyenangkan dalam berpikir dan berekspresi yang belum pernah ada sebelumnya dalam diri seseorang penulis perempuan lainnya.”
Nathaniel Hawthorne: “Gaya Tuan Hawthorne adalah kemurnian itu sendiri. Nadanya sangat efektif–liar, sedih, penuh pertimbangan, dan sepenuhnya sesuai dengan temanya. Kita hanya perlu keberatan bahwa tidak ada cukup keragaman dalam tema-tema ini.”
Ralph Waldo Emerson: “Ketika saya mempertimbangkan bakat sejati–kekuatan sejati Tuan Emerson, saya takjub karena menemukan dalam dirinya sedikit lebih dari sekadar tiruan yang penuh hormat dari [Thomas] Carlyle.”
Karena ketajaman kritiknya, Poe memang sering dianggap lebih maju dari zamannya dalam mengembangkan teori sastra. Esai-esainya, seperti “The Philosophy of Composition” dan “The Poetic Principle”, menawarkan wawasan tentang proses kreatifnya dan menyediakan kerangka kerja untuk memahami sastra.
“The Philosophy of Composition” menguraikan proses cermat dan penuh pertimbangan yang dia klaim telah diikutinya saat menulis “The Raven”. Poe berpendapat bahwa tulisan yang hebat adalah hasil dari perencanaan yang cermat, bukan inspirasi atau spontanitas.
Meskipun beberapa kritikus mempertanyakan apakah Poe benar-benar mengikuti metode yang dia gambarkan atau membumbui ceritanya untuk efek dramatis, esai tersebut tetap menjadi kontribusi penting bagi teori sastra. Esai ini menyoroti komitmen Poe terhadap keterampilan dan pemahamannya tentang aspek teknis penulisan, yang menawarkan wawasan bagi para penulis dan pembaca.
“The Philosophy of Composition” berfungsi sebagai panduan praktis bagi para penulis dan pandangan menarik tentang filosofi artistik Poe, yang menunjukkan keyakinannya bahwa sastra adalah tentang desain dan ketepatan serta tentang imajinasi dan emosi.
Lalu “The Poetic Principle” mendefinisikan puisi sebagai penciptaan keindahan yang berirama dan menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah untuk membangkitkan emosi. Esai itu menjadi landasan kritik sastra Poe dan eksplorasi mendalam tentang apa yang membuat puisi abadi dan universal. Esai tersebut menawarkan wawasan berharga tentang cita-cita artistik Poe dan komitmennya untuk mengejar keindahan.
Selama hidupnya, Poe sebagai seorang kritikus, terus-terusan menggugat monopoli sastra Amerika. Dia mengeluh bahwa terdapat empat atau lima kelompok menguasai sastra Amerika dengan menguasai sebagian besar jurnal kritik sastra, sehingga dia memutuskan berperang melawan mereka. Bahkan sampai dirinya meninggal.
Sayangnya, Edgar Allan Poe mati dalam keadaan miskin, tak sebanding dengan ketenarannya. Meskipun menjadi salah satu tokoh sastra yang paling dikenal saat ini, Poe berjuang secara finansial sepanjang hidupnya. Misalnya, dia hanya dibayar $9 untuk puisinya yang terkenal “The Raven”. Kesulitan keuangannya menyebabkan gaya hidupnya yang tidak menentu dan hal ini berdampak pada kesehatannya yang kian memburuk.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂








