Harapan Rezeki dari Guyuran Makam: Potret Sosial Kematian di Kota Besar

Penulis

Makam, sebuah pusara di sudut kota ataupun desa-sebagai tempat akhir peristirahatan. Makam, tidak hanya menjadi gundukan tanah dari tulang-belulang, dan muara kesedihan dari kehilangan seseorang. Akan tetapi makan bertransformasi sebagai komoditi mewah di berbagai tempat. Salah satunya Jakarta. 

Sebagai salah satu kota besar di Indonesia, Jakarta memiliki persoalan serius mengenai pemakaman. Fajar Sauri, Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta menyebut, jumlah petak makam yang tersedia hanya 118.348 petak, pada akhir tahun 2025. Bahkan 69 titik telah penuh dan tidak dapat menampung jenazah baru. Di sana hanya dapat menerima sistem tumpang-satu pusara makam dapat diisi lebih dari satu jenazah.

Tempat Pemakaman Umum (TPU) lantas tergerus dan tidak dipikirkan secara matang. Sejatinya, keterbatasan lahan pemakaman telah diketahui sejak tahun 2010. Yayat Supriatna, Pengamat Tata Kota, menyebut pendataan yang belum optimal disertai dengan penuntasan masalah yang tak kunjung usai sejak lama. Menghasilkan letupan masalah lebih besar.

Kebutuhan dasar itu menjadi barang langka yang sulit didapatkan. Usai lahan yang kian menyempit dan digantikan gedung-gedung tinggi, selain memerlukan sejumlah uang untuk menyiapkannya. Betul uang. 

Kota besar yang penuh sesak, uang menjadi hal wajib dimiliki dari saat hidup hingga tulang-belulang di bawah tanah. Makam berubah menjadi barang mewah di tengah pencakar langit, pemukiman, dan kawasan industri. 

Ketiadaan uang telah memusingkan orang yang mati di kota besar ini. Ketika melihat sepetak tanah kosong di kawasan makam, ia tidak dapat berbaring di sana. Mulai dari kawasan makam keluarga, ukurannya yang terlalu kecil, biaya pemusaran yang tinggi, tanda pengenal yang bukan asal dari kota itu, hingga bagian jalan di kawasan makam. 

Menariknya, makam di kota besar ini tidak hanya menjadi pusara orang yang telah mati. Akan tetapi menjadi lahan basah dalam mencari nafkah. Bukan tukang gali kubur apalagi tukang bunga. Ia adalah perawat makam. 

Guyuran Air dan Mencabut Rerumputan

Di Jakarta, saat mengunjungi TPU pasti akan menjumpai satu dua orang yang mengguyur pusara makam, saat peziarah datang. 

Ia datang dengan seember air bersih atau menggunakan wadah lain, sembari menghampiri peziarah. Mulanya mencabut rerumputan dan tanaman liar di pusara-wajar makam itu tidak begitu dirawat-sehingga terlihat sangat lebat tumbuhannya. Kemudian, ia menyirami air dari atas hingga bawah. Seperti yang terlihat di TPU Tegal Alur. 

Nama TPU itu sempat booming ketika pandemi Covid-19 melanda. Disanalah pusara lubang dan lalu lalang ambulan datang, guna mengistirahatkan korban yang gugur. Saking ramainya yang gugur, lahan yang awalnya longgar menjadi rapat dan hanya menyisakan batu nisan diatasnya. 

Hilir mudik ambulan dan keluarga silih berganti. Penggali kubur terus berpindah tanpa mengenal waktu hingga malam pun tiba. 

Tempat itu seolah tidak mengenal waktu sunyi. Bak taman bermain atau tempat wisata, kawasan yang berada di batas barat Jakarta dan Provinsi Banten, menjadi pusat aktivitas dan tangis keluarga. 

Di tengah rintik kesedihan dan ratapan sunyi saat jenazah dimasukkan, atau mendoakan pusara keluarga, datanglah sekelompok orang menyirami makam. 

Foto perawat makam di salah satu makam di Jakarta. sumber gambar: arsip Wisnu Yogi Firdaus

Mereka sigap menghampiri peziarah tanpa menunggu jawaban: iya/tidak/belum/nanti. Selain menargetkan peziarah, mereka juga menargetkan pada jenazah yang hendak dimakamkan. Tegar salah satunya.

Wajah perawat makam seolah menunjukkan satu harapan yang sama-mengharapkan balasan uang atau benda-peziarah-menyatukan tua-muda dalam profesi itu. Orang-orang yang berada di sekitar bahkan mengarahkan tangannya, ketika peziarah sudah menemukan pusara keluarga.

Tanpa berpikir panjang dan relatif singkat, Tegar bersama rekannya sudah membawa wadah yang berisi air bersih. Mereka lantas mencabuti rerumputan dan tanaman liar di pusara makam dan berhenti sejenak ketika peziarah membacakan doa.

“Saya menjalankan profesi ini sudah dua tahun. Sebelumnya saya diajak oleh paman saya yang juga berprofesi sebagai perawat makam,” ucap Tegar, sambil mengguyur air di salah satu pusara makam.

Ia mulai menjalankannya ketika lulus sekolah dua tahun lalu. Artinya profesi ini bagi sebagian pihak, menjadi ladang basah yang diturunkan dari waktu ke waktu. 

Tidak hanya memahami bagaimana merawat makam, waktu yang relatif singkat dalam menghampiri peziarah turut memperlihatkan, mekanisme ekonomi mikro di tempat itu. Sebab Tegar bukan tokoh tunggal, sepanjang TPU potret serupa ditemukan. 

Guntur-siswa kelas 2 sekolah dasar-juga melakukan hal serupa di blok berbeda. Ketika dijumpai, ia bersama rekannya perempuan yang juga masih kecil. Mereka menghampiri peziarah dengan membawakan wadah yang berisi air, dan menyirami pusara makam.

Bedanya, mereka tidak secepat kelompok Tegar. Ia melakukan profesi itu, ketika setelah pulang sekolah dan tidak menjadikan sesuatu yang harus dilakukan. Mengingat usianya masih sangat dini dan waktunya lebih dipenuhi bermain dan belajar.

Maka, ketika menghampiri peziarah hanya menghabiskan waktu luang, sembari bermain di sekitar makam-lingkungan rumahnya di sekitar TPU.

Ekonomi Kematian yang Subur di TPU

Potret yang tergambarkan di TPU Tegal Alur memperlihatkan satu wajah. Jakarta, tidak hanya menyusahkan bagi yang hidup, tetapi juga yang mati. Keterbatasan lahan pemakaman dan biaya pusara yang tinggi, telah menyulitkan bagi sebagian keluarga.

Kesulitan dalam bertahan hidup dan menghidupkan laju ekonomi, memunculkan profesi informal yang tertutup di balik pagar batas pemakaman. 

Hal itu juga merupakan refleksi dari apa yang disebut habitus dan reproduksi sosial, oleh Pierre Bourdieu. Istilah habitus-penampakan pengetahuan atau kebudayaan-berasal dari proses tindakan sehari-hari-yang dianut oleh banyak orang-membentuk kesadaran yang sama. Artinya, proses sosial tidak hanya berlangsung atas strata sosial yang berbeda. Pemaknaan dan sudut pandang yang sama dalam melihat satu realitas, telah menjadi sebuah jembatan yang menghubungkan ruang sosial.

Apa yang terlihat dalam kacamata Guntur dan Tegar, menunjukkan bahwa aktivitas itu merupakan profesi lazim-layaknya para pedagang atau tukang gali kubur. Keterhubungan dalam memperoleh upah atas jasa merawat makam-melalui pencabutan tanaman liar dan menyirami pusara makam-saat peziarah datang, memperlihatkan gerak mikro ekonomi akan terus bertransformasi, selama nilai dan sudut pandang sama dimiliki oleh sekelompok orang.

Beralaskan rasa iba dan terima kasih atas jasa yang diberikan, profesi ini seolah bergerak seperti fungi (jamur). Tampilan itu, tidak hanya diperlihatkan atas kegesitan dan pola kerja di pusara makam, tetapi turut menampilkan orang-orang di sekitar makam.

Mereka meskipun tidak bergerak, tetapi menjadi pemancar ketika peziarah telah menemukan pusara makam. Mereka dengan sigap memberikan sinyal dengan pola komunikasinya, dan menunjukkan letak pusara makam yang sedang dikunjungi peziarah.

Ketika Tegar dan rekannya sedang merawat pusara lain, dan mendengar sinyal dari orang di sekitar ada peziarah yang berdoa di salah satu pusara makam-dengan cepat mereka menghampiri dan melakukan tugasnya.

Bagi Bourdieu, penciptaan ruang ekonomi yang terlihat atas kebiasaan sekelompok orang, telah membentuk sekat-sekat batas wilayah pusara yang dapat dijangkau. Ruang sosial itu, telah menciptakan komunikasi non formal dan di waktu yang sama membentuk satu harmonisasi sosial. Bahwa wilayah tertentu hanya dapat dimasuki oleh satu pihak, dan pihak lain tidak memasuki kawasan itu untuk profesi yang sama.

Perjuangan dalam menciptakan modal dan kuasa, telah membuka sekaligus menutup individu lain berprofesi yang sama. Lahirnya Tegar sebagai perawat makam-sebagai turunan dari pamannya-memberikan kuasa kultural dan sosial. Bahwa profesi non-formal di balik pagar TPU-turut diturunkan dan melegitimasi kawasan yang dapat dirawat-sebagai modal ekonomi.

Pada akhirnya, kematian tidak menghentikan laju kuasa ekonomi oleh individu atau kelompok tertentu. Justru, kuasa tersebut dalam ruang-ruang mikro bertahan dan menjalar dari satu kawasan ke kawasan lain.


Apa yang terlihat di TPU Tegal Alur memberikan wajah berbeda, bukan kesedihan apalagi kehilangan. Tetapi ruang bertahan dalam usaha ekonomi melalui rasa iba dan belas kasih.

Rerumputan yang tercabut dan air yang mengguyur, menahan sekelompok orang bertahan dari kerasnya bertahan di kota besar.


Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *