Sore hari, taman stroberi itu seperti baru saja mandi memakai sabun paling wangi yang pernah ada di muka Bumi ini. Terdengar dilebih-lebihkan memang, tapi sumpah, tempat ini sedang indah-indahnya. Langitnya jingga kemerahan, seolah Matahari sedang diperas perlahan di cakrawala sana, lalu airnya menetes menjadi cahaya lembut yang menyirami daun, rumput, dan buah-buah merah mungil yang bergelantungan manja.
Angin berhembus santai, tidak terburu-buru. Ia berjalan pelan di antara barisan stroberi, membawa aroma tanah yang sejuknya sanggup membuat dahi berkerut berubah menjadi senyuman paling tulus yang pernah ada. Di tempat seperti ini, perokok paling keras kepala akan lupa menyalakan korek, hanya memutar-mutar batang rokoknya sambil berkata, “Ah, nanti saja.” Pemabuk yang biasanya akrab dengan botol bisa jadi mendadak khusyuk memandangi kilau senja, merasa mabuknya kalah telak oleh warna langit.
Taman ini seperti punya sihir sopan yang berkata, “Silakan berhenti sejenak. Dunia takkan kemana-mana kok.” Seolah taman ini ruang tunggu bagi jiwa-jiwa yang lelah. Namun, anehnya, di hamparan luas nan elok itu, tak ada siapa pun. Sunyi. Tak ada rombongan keluarga, tak ada anak kecil yang berlarian, tak ada warung terpal biru yang selalu hadir di tempat-tempat wisata, tak ada penjual es krim keliling yang sok akrab.
Hanya menyisakan ketenangan. Selain dua manusia yang berdiri tak terlalu jauh satu sama lain. Mereka berdua saja yang di tempat itu, dua orang yang dulu pernah berbagi musim, lalu entah kapan cuacanya berubah. Mereka seperti terseret takdir yang usil, tiba-tiba sudah ada di sana. Tiba-tiba saja berdiri, berhadapan, dengan ditemani barisan stroberi yang menggantung santai.
Lelaki itu bernama Harsa. Pria biasa yang hidupnya berjalan lurus, tanpa banyak upaya menyiasati keadaan. Di depannya berdiri Ipeh. Perempuan manis dengan kehangatan yang tak perlu diumumkan lewat pengeras suara. Wajahnya seperti sore itu sendiri: lembut, tapi punya daya untuk membuat siapa pun betah berlama-lama.
Tatapan mereka bertemu. Canggung, tentu saja. Senyum pun muncul, tipis, seperti Matahari yang malu-malu di balik awan. Senyum yang tidak tahu harus tinggal atau pergi dan juga senyum yang lahir dari ingatan serta jarak. Dan di antara barisan stroberi yang ranum, percakapan pun mulai berlangsung, pelan dan hati-hati, sebagaimana senja yang enggan berakhir.
Ipeh: “Buahnya banyak yang merah.”
Harsa: “Iya. Seperti sengaja pamer ke orang-orang yang datang tanpa niat beli.”
Ipeh tertawa ringan.
Ipeh: “Kau tidak berubah.”
Pipinya bersemu. Harsa ikut tertawa kecil.
Ipeh: “Aku tidak tahu kenapa kita bisa ada di sini.”
Harsa: “Aku juga tidak.”
Ipeh: “Ini seperti mimpi.”
Harsa mengangguk. Ia terdiam sejenak, memandangi barisan stroberi di hadapannya, seolah buah-buah itu bisa memberinya petunjuk kata mana yang aman diucapkan dan mana yang sebaiknya ditelan saja.
Harsa: “Bagaimana kabarmu sekarang?”
Ipeh tersenyum tipis.
Ipeh: “Baik, hidupku berjalan lancar.”
Harsa: “Bagaimana dengan kuliah lukismu?”
Ipeh memetik satu buah stroberi yang paling merah, membersihkan tanah di permukaannya dengan ibu jari, lalu memberikannya kepada Harsa. Harsa menerimanya, tersenyum, lalu memakannya, seolah itu adalah hal paling wajar di dunia.
Ipeh: “Sebentar lagi aku lulus dari kuliah. Kalau tidak ada halangan, aku ingin benar-benar menjadi pelukis. Rasanya mimpi itu sudah tidak sejauh dulu.”
Harsa mengangguk sambil mengunyah perlahan. Manis buah itu terasa utuh di lidahnya.
Harsa: “Senang mendengarnya.”
Ia berhenti sebentar, seperti orang yang sadar kalimat berikutnya rawan salah ucap.
Harsa: “Kau memang selalu terlihat tahu ke mana harus melangkah.”
Ipeh tersenyum,
Ipeh: “Itu karena kau melihatku dari jauh.”
Ia menatap Harsa sejenak, lalu berpaling.
Ipeh: “Bagaimana denganmu? Kuliah sastramu?”
Harsa mengangguk pelan.
Harsa: “Baik saja, walau ada sedikit kendala di sana-sini, tapi tetap kujalani…”
Ia mengusap sisa rasa manis di lidahnya, lalu menatap ke arah lain.
Harsa: “Sejauh ini belum ada yang membuatku pindah jurusan.”
Ipeh tertawa.
Harsa : “Aku juga sebentar lagi selesai,” Ia berhenti sebentar. “Ya… Kurang lebih begitu.”
Ipeh tersenyum. Wajahnya terlihat senang mendengar kabar itu.
Ipeh: “Itu kabar baik, Harsa. Aku ikut senang, sungguh.”
Ipeh mengusap pundak Harsa pelan, lalu melihat sekitar.
Ipeh: “Tempat ini terasa asing bagiku.”
Ia menoleh ke sekeliling taman, pada barisan stroberi yang sunyi dan rapi.
Ipeh: “Tak pernah terpikir, juga tak pernah kusimpan dalam ingatan bahwa taman seperti ini akan menjadi tempat kita bertemu lagi.”
Harsa: “Aku juga bingung kenapa kita dibawa ke sini.”
Harsa memetik dua buah stroberi dari tangkai terdekat, menyerahkan satu kepada Ipeh, sementara yang lain langsung dilahapnya.
Harsa: “Stawrrbewrryyy fieldff.”
Ia bicara tak jelas karena mulutnya sedang sibuk mengunyah.
Ipeh: “Hah? Apa?”
Ipeh tersenyum, menahan tawa.
Harsa: “Strawffrrbeerrwwrryy fiiellffgg.”
Kali ini Ipeh tertawa lepas, sampai matanya berair.
Ipeh: “Strawberry Fields? Maksudmu itu?”
Ipeh mengusap sudut matanya. Senyumnya masih tersisa—manis sekali, pikir Harsa.
Harsa mengangguk.
Harsa: “Aku teringat lagu The Beatles yang berjudul ‘Strawberry Fields’. Tempat ini persis sekali dengan lirik lagunya yang selalu aku bayangkan, tapi imajinasiku terpatahkan karena ternyata, John Lennon bilang, bahwa ‘Strawberry Fields’ yang ia maksud adalah panti asuhan, bukan taman stroberi, sialan memang.”
Ipeh: “Kau suka The Beatles?”
Harsa mengangguk.
Ipeh: “Sejak kapan?”
Harsa: “Sejak kau pergi.”
Ipeh tidak menjawab. Ia masih memegang stroberi yang tadi diberikan Harsa, dijepit pelan di antara dua jarinya. Buah itu belum disentuh, merahnya utuh, seperti sesuatu yang belum berani ia habiskan.
Sunyi. Angin sore bergerak perlahan di antara barisan tanaman.
Ipeh: “Kawan-kawanmu gimana?”
Harsa: “Terakhir kucek mereka masih bernapas. Kawan-kawanmu?”
Ipeh tertawa, menatap ke atas, melihat langit senja kekuningan. Lalu pandangannya berpindah melihat Harsa.
Ipeh: “Masih bernapas juga, Har.”
Harsa ikut tertawa. Ini adalah hal yang paling ia rindukan selama ini.
Harsa: “Kau masih suka menjual manik-manik?”
Ipeh: “Masih. Beberapa waktu lalu malah ada orang asing yang sama sekali tak kukenal membeli manikku, biasanya yang membeli paling teman-teman saja. Dia orang asing pertama yang jadi pelangganku.”
Harsa: “Orang asing?” Dia tampak kikuk.
Ipeh: “Ya, entah, dia dapat kontakku dari mana. Saat beli, dia mengajak ketemu langsung, tapi kutolak. Jadi kukirim saja ke alamatnya.”
Ipeh terdiam, menatap Harsa yang tampak malu.
Ipeh: “Ternyata alamat itu tertuju ke tempatmu.”
Harsa kikuk, menggaruk kepala yang tidak gatal; dia ingin menghilang saat itu juga saking malunya.
Harsa: “Hehe, aku salah mencomot topik.”
Ipeh tertawa lepas, untuk kedua kalinya. Ia memegang Pundak Harsa, menepuknya.
Ipeh: “Aman, ahahaha, tak usah malu, loh.”
Harsa: “Hei, aku biasa saja, ya…”
Ipeh: “Biasa saja apanya? Kau terlihat malu begitu, loh. Itu jelas sekali.”
Harsa tersenyum, lalu ikut tertawa bersama.
Tak lama setelahnya, mereka berdua melihat sekeliling, tampak tak jauh dari tempat mereka berdiri ada kursi kayu, pas untuk dua orang. Ipeh menoleh ke Harsa dan langsung tau maksudnya, lalu pergi ke arah kursi itu.
Mereka pun duduk berdampingan, tidak berdempetan, masih ada jarak sedikit di antara mereka berdua. Ipeh melihat buah stroberi yang sedari tadi dipegang lalu memakannya, manis utuh menyentuh lidahnya, ia bersenandung gembira saat memakannya, menyisakan Harsa yang tersenyum memperhatikannya.
Harsa: “Kau juga… tidak berubah.”
Ipeh hanya mengangguk sambil menggigit stroberi. Dia terlihat serius, menatap taman yang dipercantik oleh cahaya Matahari sore, seakan sedang menilai apakah cahaya itu cukup bagus untuk lukisannya—atau mungkin sedang menilai apakah stroberi itu manisnya pas. Harsa menatapnya. Ia tersenyum kikuk, setengah kagum, setengah menyesal tak bisa ikut seserius itu saat makan stroberi sendiri.
Ipeh mengusap sisa manis stroberi dari ujung jarinya, menatap Harsa dengan mata setengah menahan senyum.
Ipeh: “Kau mau bilang sesuatu?”
Harsa menarik napas pelan, kikuk.
Harsa: “Apa kita bisa mulai lagi? Pelan-pelan, dari awal, seperti dulu?”
Ipeh menatapnya dengan lembut, senyumnya sedikit sendu.
Ipeh: “Tidak, Har… Kisah kita sudah bukan masanya lagi. Biarlah taman ini menjadi satu-satunya saksi pertemuan kita hari ini.”
Harsa tersenyum, menghela napas. Ia hanya bisa mengangguk. Sunyi. Angin sore bergerak perlahan di antara barisan tanaman.
Harsa: “Kukira aku bisa hidup normal setelah kau pergi.”
Ipeh terdiam, menatapnya dengan dalam.
Harsa: “Ternyata tidak.”
Ipeh: “Aku juga.”
Harsa tersenyum kecil, getir.
Harsa: “Lalu kenapa kita tetap berjalan seperti orang yang baik-baik saja?”
Ipeh menghela napas.
Ipeh: “Karena semesta tidak memberi pilihan lain.”
Harsa: “Aku sering berharap kau kembali.”
Ipeh terdiam.
Ipeh: “Dan aku sering berharap kau tidak berharap.”
Kring! Kring! Kring!
Bocah itu terbangun. Suara bel sekolah yang memekakkan telinga seolah menariknya dari dunia lain. Matanya masih berat, rambutnya berantakan, dan jantungnya berdetak dengan cepat. Ia sendiri tak tahu kenapa.
Teman sebangkunya, Hazqy, menepuk pundaknya. “Bangun, oi, bangun, oi! Ada murid baru di kelas sebelah… cantik, … dia menulis pakai tangan kiri loh, kidal!”
Bocah itu menelan napas. Di dadanya ada rasa hangat yang aneh, seperti sisa-sisa mimpi menolak untuk hilang, seperti ada satu senyuman yang belum sempat ia genggam namun selalu menempel di pikirannya. Ia melangkah malas keluar kelas dengan setengah sadar, setengah penasaran, jantungnya berdesir pelan, hati bergetar.
Di luar, sorak-sorai terdengar riuh, tapi bagi bocah itu, dunia tiba-tiba terasa lambat. Ia melihatnya—seorang murid baru, menunduk, menulis dengan tangan kiri, rambutnya tertiup lembut oleh angin, wajahnya tampak hangat, tenang, dan manis, seolah membawa cahaya senja ke tengah riuh sekolah.
Beberapa anak perempuan di kelas itu terlihat mendekat dan bertanya, “Namamu siapa?”
Bocah itu menahan napas, hatinya berdegup, waktu seolah berhenti sesaat. Saat murid baru itu menoleh, bibirnya bergerak pelan ingin menjawab, dunia seketika terasa hangat, dan penuh kemungkinan—meski kata itu belum terucap, tapi hati bocah itu sudah menangkap semuanya.
Di sanalah cerita berhenti, meninggalkannya dengan rasa yang lembut dan kenangan yang belum sempat dimulai, namun sudah terasa begitu penting di hatinya.
TAMAT.
-Sudarma.
Editor: Farras Pradana
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:









cant wait for ur next story haikal… jangan berhenti, jika kita tidak bisa berbagi cerita setidaknya aku bisa membaca ceritamu! ᢉ𐭩