Manusia sebagai hayawanun nathiq kian hari memberikan kiat-kiat untuk mempermudah kehidupannya sebagai manipulator nilai alam semesta. Perkembangan teknologi yang dilakukan manusia sekarang sudah mencapai tingkatan otomatisasi seluruh hal menggunakan kecerdasan artifisial (artificial intelligence). Sebut saja chatgpt, gemini, deepseek, dan pelbagai kecerdasan artificial lainnya. Meski terdapat pro kontra dalam penggunaannya, harus diakui bahwa perkembangan teknologi kita sudah sampai di tahap menyalakan lampu dengan mengucapkan “hello google, turn on the lamp”.
Psycho Pass adalah salah satu serial anime yang mampu menggambarkan kondisi dunia dengan otomatisasi berbasis kinerja kecerdasan buatan terjadi. Anime yang diproduksi oleh I.G. Production ini pertama kali ditayangkan pada tahun 2012. Anime bertemakan distopia cyberpunk ini mengisahkan Jepang di abad ke-22 yang berhasil mengaplikasikan kecerdasan artifisial di seluruh ranah kehidupan manusia, bahkan sampai di ranah hukum. Psycho Pass berfokus pada Akane Tsunemori dalam perjalanannya sebagai inspektur kepolisian di kota Tokyo.
Dalam konstruksi logika fiksi di Psycho Pass, dunia tersebut dibangun atas sistem superkomputer bernama Sibyl System. Sibyl System adalah sebuah sistem yang dapat merekam keseluruhan kegiatan manusia kemudian melakukan kegiatan komputasi untuk mendeteksi kejahatan secara a priori. Pada awalnya, Sibyl System dibuat oleh Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Sosial untuk mewujudkan cita-cita utopia di mana seluruh masyarakat bahagia dan sejahtera. Uniknya, Sibyl System justru dibangun dengan memori kolektif dari sekitar 200 otak penjahat kelas kakap. Meski demikian, Psycho Pass menggambarkan bahwa Sibyl System membawa Jepang menjadi negara yang paling rendah tingkat kejahatannya dibandingkan dengan negara lainnya.
Kondisi tersebut disebabkan oleh Sibyl System yang dapat mendeteksi seluruh reaksi biologis dan psikologis seseorang terhadap tindakan kejahatan. Sibyl memberikan gambaran kepada aparat kepolisian melalui alat bernama Dominator terkait koefisien kejahatan dari seseorang. Dominator kemudian akan menentukan tindakan hukum yang dapat diambil dari besaran koefisien kriminal yang muncul di layar. Secara umum, Dominator memiliki tiga tipe keputusan, yaitu melumpuhkan (non lethal paralyzer), mematikan (lethal eliminator), dan memusnahkan (destroy decomposer). Putusan Dominator itu kemudian secara langsung dieksekusi sesaat setelah Dominator memutuskan penilaian koefisien kriminal seseorang.
Panoptikon Virtual Masyarakat Indonesia
Panoptikon, sebuah konsep arsitektur yang dikenalkan oleh Jeremy Bentham pada 1787 tentang sebuah menara pengawas dengan kemampuan memantau keseluruhan narapidana di dalamnya. Panoptikon menjadikan seorang narapidana (dalam hal ini adalah kita, warga negara) mengalami fenomena pengaturan diri sendiri akibat perasaan selalu diawasi oleh Panoptikon ini. Michel Foucault dalam Discipline and Punish dan disinggung sedikit di Knowledge and Power menjelaskan bahwa Panoptikon tidak hanya berbicara tentang pengawasan fisik, tetapi juga menghasilkan kontrol sosial yang mendikte pikiran tanpa perlu kekerasan secara langsung.
Sibyl dalam Psycho Pass dijelaskan sebagai pemantau yang tidak dapat diverifikasi oleh warga. Warga hanya diperbolehkan mengetahui bahwa mereka hanya diawasi oleh sistem. Efeknya adalah warga hanya berusaha menjaga agar koefisien mereka tidak melebihi ambang batas minimal. Pemindai juga memberikan sebuah treatment tentang ketidakteraturan pemeriksaan. Hal tersebut menjadikan warga hanya berfokus untuk mengendalikan tingkat stres mereka. Dalam jangka panjang, Sibyl System mendikte kelakuan warganya agar sesuai dengan kondisi ideal menurut Sistem.
Indonesia sedang mencoba untuk membuat Panoptikon itu. Tidak selalu langsung terjadi, tetapi memiliki pola yang sangat kentara. Salah satu yang terjadi di Indonesia, negara menyelenggarakan ‘pengawasan’ terhadap warganya lewat UU ITE.
Terlepas dari putusannya yang Alhamdulillah sekali diputus bebas, kasus Delpedro Marhaen, Khariq Anhar, Syahdan Hussein, dan Muzzafar Salim patut menjadi sorotan atas potensi pengawasan ala panoptikon di Indonesia. Awalnya mungkin adalah rekan-rekan tersebut, namun jangan lupa bahwa masih ada kurang lebih 506 tahanan politik dari demonstrasi Agustus 2026. Pola penangkapan seperti ini kemudian akan mendikte kepada orang tua yang resah akan anaknya untuk tidak mengikuti demonstrasi. Jangankan demonstrasi dengan turun ke jalan, untuk melakukan unggah ulang sebuah postingan di Instagram juga barangkali akan direpresi menggunakan fitur domestik dari tiap-tiap individu itu.
Setidaknya, Sibyl System turut memperhatikan potensi individu dan probabilitas pekerjaan agar bisa hidup sejahtera. Indonesia tidak demikian, alih-alih memperhatikan potensi individu, Indonesia masih kesulitan untuk menghadirkan lapangan pekerjaan yang berpotensi tinggi untuk dijalani dengan sejahtera. Janji kampanye yang tidak dapat digugat itu masih membekas di benak masyarakat. Heroik menyebut akan menyediakan 19 juta lapangan pekerjaan, berdaulat secara ekonomi, dan lainnya. Entahlah, semoga masih ada arah bagi Indonesia ini kedepannya.
Bagaimana Kira-kira Koefisien Kriminal Masyarakat Indonesia?
Pengaturan Sibyl System dalam kehidupan masyarakat setidaknya mencakup dua hal, yaitu potensi paling bagus dari karier seseorang dan tingkat stres seseorang yang berpengaruh terhadap koefisien kriminalnya. Koefisien kriminal yang ada di Psycho Pass dinilai berdasarkan tingkat stres, kondisi emosi, dan jiwa dari orang yang dimaksud. Sibyl melakukan scanning secara real time terhadap seluruh kegiatan masyarakat yang terdaftar dalam sistemnya. Apabila seseorang memiliki tingkat koefisien kriminal yang tinggi, terdapat dua pilihan tindakan yang akan dianalisis oleh sistem. Pertama adalah rehabilitasi dan kedua adalah pemusnahan. Sebenarnya ada satu lagi, yaitu pemusnahan. Namun, jarang sekali pemusnahan ditunjukkan dalam serial.
Dominator sebagai mata sistem Sibyl memiliki peran penting dalam sistem bisa melakukan penghakiman terhadap seseorang. Pemeriksaan oleh Dominator, ketika dilakukan oleh Inspektur Kepolisian, sangat menentukan tindakan yang akan diambil. Meskipun terdapat kondisi target dapat kabur maupun target tidak terdeteksi karena salah satu dari kategori penjahat kelas berat, sistem Sibyl memperlihatkan kondisi birokrat ideal yang mengerjakan tugas tanpa adanya keluhan maupun bias atas rasa kasihan. Ya, setidaknya itu lebih mending karena kecerdasan artifisial tentu tidak memiliki perasaan, sehingga lebih menjamin objektivitas daripada manusia.
Belakangan ini, Presiden Indonesia mengemukakan hal yang sangat fenomenal tentang analisis kondisi masyarakat berdasarkan studi yang dilakukan oleh Global Flourishing Study (GFS). Prabowo menyatakan bahwa masyarakat Indonesia adalah masyarakat paling ‘bahagia’ di dunia. Sungguh mengesankan mengingat kondisi perekonomian yang sedang anjlok, IHSG yang tidak kunjung membaik, dan hilangnya empati dari pejabat publik terhadap kondisi fasilitas umum masyarakatnya.
GFS sebenarnya menggunakan pemilihan flourishing yang jauh lebih kompleks daripada sekadar happiness, welfare, atau prosperous. GFS menggunakan enam domain utama dalam penilaiannya, yaitu happiness & life satisfaction, mental & physical health, meaning & purpose, character & virtue, close relationships, dan financial & material stability. Keenam domain tersebut sangat berbeda dengan World Happiness Report (WHR) yang menggunakan variabel GDP per kapita, dukungan sosial, healthy life expectancy, kemampuan memilih pilihan hidup, generosity, dan perception of corruption.
Hal ini tentu akan menjadikan penafsiran kata ‘bahagia’ berdasarkan laporannya. Laporan tersebut menghasilkan dua kondisi Indonesia yang cukup berbeda. Laporan GFS menyatakan bahwa Indonesia adalah negara dengan tingkat flourish tertinggi di dunia, sedangkan WHR menunjukkan tingkatan yang lebih rendah, di peringkat 83 dari negara-negara di dunia.
Jika Sibyl diterapkan di Indonesia dengan basis data dari kedua laporan tersebut dengan penyampaian Bapak Presiden, maka amanlah masyarakat Indonesia. Pertanyaannya: “apakah memang demikian?”. Ternyata, dari laporan GFS ditemui bahwa nilai Masyarakat Indonesia didongkrak oleh nilai dari domain relasi sosialnya. Masyarakat Indonesia adalah domain love & care berhasil mendapatkan nilai 8.85 dari 10. Sudut yang lain misalnya pada Global Peace Index justru Indonesia mendapatkan nilai hanya 1,86 dari 10. Hal ini menunjukkan bahwa relasi antara masyarakatlah yang menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan. Masyarakat Indonesia masih memiliki potensi untuk mengalami stres secara struktural dalam domain ekonomi dan ketidakpercayaan terhadap institusi.
Jika dilihat dari kedua laporan di atas, cenderung akan mudah mengalami fluktuasi stres yang sangat cepat. Bagaimana tidak, masyarakat indonesia seringkali menghadapi kabar yang sangat di luar nalar dari penyelenggara negaranya. Misalnya adalah Menteri HAM yang sudah paham HAM sejak umur lima tahun tapi belum ada kasus pelanggaran HAM berat masa lalu yang selesai. Menyamakan masuknya Indonesia ke Board of Peace yang dinilai sama dengan Hudaibiyah, dan banyak kabar lainnya. Padahal, religiusitas masyarakat Indonesia menjadi salah satu ranah yang mendobrak tingkatan flourishing untuk menutupi bagian lainnya.
Belum Ada Dominator, tapi Polisi Sudah Sering Membunuh
Teknologi mutakhir yang menjadi mata dari sistem Sibyl adalah sebuah peranti berbentuk beceng yang terkoneksi langsung dengan sistem. Dominator, begitulah Psycho Pass menyebutkannya. Dominator hanya diberikan kepada inspektur kepolisian dengan tujuan menghentikan laju tindak kejahatan. Ketika Dominator membidik target, Dominator membaca dan mengirimkan data psikologis dari target kepada sistem Sibyl untuk selanjutnya mendapatkan angka koefisien kriminal. Jika koefisien kriminal tidak mencapai ambang batas minimal, maka pelatuk akan terkunci sehingga tidak akan menyebabkan tembakan. Sangat presisi berdasarkan scientific based evidence yang diperoleh dari mekanisme penghitungan kecerdasan artifisial. Dominator memungkinkan untuk tindakan eksekusi di tempat tanpa melakukan proses peradilan.
Proses peradilan dengan lembaga peradilan yang independen menjadi tonggak utama bagi negara hukum berjalan. Indonesia sebagai negara hukum yang dijelaskan melalui Pasal 1 Ayat (3) UUD NRI 1945 tentu tidak dapat menerapkan proses komputasi Sibyl System dengan menghapuskan proses peradilan. Setidaknya begitu sampai berita akan oknum-oknum penegak ketertiban masyarakat yang tidak melaksanakan tugasnya berseliweran di media sosial.
Kanjuruhan 1 Oktober 2022, Gamma Rizkynata Octavandi 24 November 2024, Affan Kurniawan 28 Agustus 2025, Arianto Tawakal 19 Februari 2026, dan masih banyak rekan-rekan lainnya. Kendati diberikan sistem keren bernama Dominator, polisi Indonesia bahkan tidak perlu Dominator itu untuk membunuh. Seakan sudah bisa menentukan salah dan benarnya seseorang menggunakan mata yang terkoneksi langsung dengan chip komputer kuantum yang ada di otaknya.
Dominator di Psycho Pass digunakan sebagai instrumen yang mengirimkan sinyal kepada sistem untuk menentukan kelayakan seseorang untuk ditembak mati. Indonesia tidak memerlukan itu. Sibyl System yang ada sekarang adalah institusi kepolisian itu sendiri. Sebuah institusi yang menggunakan media dan performativitas simbolik untuk merangkai rasa iba dan kasihan di benak masyarakat Indonesia. Komisi Percepatan Reformasi Polri yang dari dulu sudah sering digaungkan juga tidak kunjung tampak kinerjanya secara nyata. Sebelum Bapak Presiden membentuk Komisi Percepatan Reformasi Polri yang diketuai oleh Hakim Mahkamah Konstitusi 2003-2008, Prof. Jimly Asshiddiqie, Listyo Sigit juga membentuk itu di internal Polri. Namun, baik dari keduanya juga tidak menghasilkan apa-apa. Polisi kita masih tetap membunuh. Lebih lagi, tidak hanya membunuh, tetapi juga tidak mampu berpihak kepada masyarakatnya.
Psycho Pass adalah distopia Indonesia modern, tapi ada sedikit perbedaan. Psycho Pass berangkat dari ide bahwa kesejahteraan turut dipikirkan oleh negara dengan Sibyl System yang mengidentifikasi potensi maksimal seseorang menggunakan data biologis. Sedangkan Indonesia hanya mewarisi penilaian panoptik, koefisien kriminal yang fluktuatif akibat kesenjangan sosial, dan polisi yang tanpa Dominator bisa membunuh banyak orang tidak bersalah. Sehingga Psycho Pass tidak lebih dari distopia daripada Indonesia hari ini.
Referensi
A43. (2024, November 4). Menyoal Kabinet Panoptikon ala Prabowo. Retrieved from pinterpolitik.com: https://www.pinterpolitik.com/in-depth/menyoal-kabinet-panoptikon-ala-prabowo/
C. Santy, L. S. (2024). The Panoptic Sibyl System and the Dystopia in Gen Urobuchi’s Psycho Pass. Kata Kira: Journal of Language, Literature, and Teaching.
DA, A. T. (2026, Maret 8). Delpedro Marhaen dkk. Divonis Bebas, YLBHI Desak Pemerintah Minta Maaf. Retrieved from hukumonline.com: https://www.hukumonline.com/berita/a/delpedro-dkk-divonis-bebas–ylbhi-desak-pemerintah-minta-maaf-lt69ad8b96b16a4/
Hali, D. J. (2006). Belajar dari Mekanisme Panoptikon. Jurnal Hukum Pro Justitia Volume 24 Nomor 2.
Holthaus, J. (2023). A Glitch in the System: Alienation and Glitches in Psycho-Pass. University of Kansas.
John F. Helliwell, R. L. (2025). World Happiness Report. University of Oxford: Wellbeing Research Centre.
Nurfauzan, M. D. (2021, Maret 15). Psycho Pass: Menggubris Alam Utilitarianisme dalam Sibyl Systeme. Retrieved from economica.id: https://economica.id/psycho-pass-menggubris-alam-utilitarianisme-dalam-Sibyl-system/
Savira, D. (2022, Juli 2). Apakah Sibyl System yang Ada di Anime Psycho Pass Bisa Diterapkan di Indonesia. Retrieved from froyonion.com: https://www.froyonion.com/news/esensi/apakah-Sibyl-system-yang-ada-di-anime-psycho-pass-bisa-diterapkan-di-indonesia
Study, G. F. (2026). Complete Well Being Throughout the World: Lessons from the First Wave of the Global Flourishing Study. Baylor University, Harvard University, Gallup.
Wood, M. A. (2018). Algorithmic Tyranny: Psycho-Pass, Social Science Fiction and the Criminological Imagination. Crime Media Culture.
Editor: Dhika Marcendy
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








