Berlabuh di Tanah Indah Untuk Para Terabaikan

Penulis

Kalo membicarakan musik indie rock, rasanya masih kurang jika para teman-teman skena melupakan atau bahkan belum mengenal band FSTVLST. Karena hampir semua lingkup tongkrongan, seperti di kedai-kedai maupun coffee shop selalu terdengar lantunan musik dari band FSTVLST.

Ya, benar. FSTVLST adalah band yang lahir dan besar di Jogja, tepatnya di lingkup kampus Institut Seni Indonesia. Awal mulanya, pada 2003 band ini bernama Jenny. Menghasilkan satu album yang berjudul Manifesto. Tapi di tahun-tahun berikutnya, beberapa personel ada yang memutuskan untuk mengundurkan diri.

Dan akhirnya pada 2010, Jenny seakan-akan seperti terlahir kembali, berubah nama menjadi FSTVLST dengan formasi Farid (vokal), Roby (gitar), Mufid (bas), Danish (drum), dan Rio (keyboard). Band ini lalu menghasilkan dua album, yaitu Hits Kitsch dan FSTVLST II. Melansir dari majalah Rolling Stones yang terbit di 2015, album Hits Kitsch masuk dalam peringkat 20 besar album terbaik Indonesia masa itu.

Meskipun terlahir kembali dengan nama yang berbeda, FSTVLST dan Jenny tetap memiliki sisi kesamaan. Dari segi genre yang diusung, yaitu alternatif rock, lirik-liriknya menggambarkan keresahan dan ketimpangan sosial yang sedang terjadi.

Hingga kini, lagu-lagu FSTVLST laris digandrungi khalayak muda. Banyak teman-teman saya yang setiap kali berkunjung ke rumahnya, selalu memutar lagu-lagu dari FSTVLST berulang kali. Followers Instagram saya yang menggunakan backsound lagu FSTVLST untuk bahan instastori-nya juga sering ditemui.

Hingga kemudian saya lantas terbawa suasana dan tertular virus FSTVLST. Setiap ada waktu senggang untuk bersantai, sering kali saya iseng-iseng memutar lagunya. Menikmati dan memahami setiap lirik yang tersirat. Sampai saat ini, saya jatuh cinta dengan lagu-lagu dari FSTVLST.

Beberapa tahun yang lalu, saat saya baru mengenal FSTVLST. Ada seorang kawan yang terus-terusan memutar lagu berjudul “Gas” dari album FSTVLST II. Lagu itu mempunyai ketukan dan petikan gitar yang lumayan membakar semangat. Apalagi lirik di dalam lagu “Gas” berhasil memvisualisasikan keadaan di mana semua cita-cita dan impian sering kali menemui kegagalan hingga keterpurukan. Nah, FSTVLST hadir dengan lagu “Gas”, agar menyadarkan kita untuk tidak mengakhiri mimpi dengan keterpurukan. Salah satu liriknya yang masih menjadi pegangan saya adalah, “Berjalan tak seperti rencana adalah jalan yang sudah biasa, dan jalan satu-satunya, jalani sebaik kau bisa”. Bait lagu “Gas” diakhiri dengan “Bagaimana pun juga merawat cita-cita takkan semudah berkata-kata,” dan disusul lirik, “Rencana berikutnya rajut lagi cerita, merapal doa gas sekencangnya.”

FSTVLST seperti mengajak kita bangkit dari keterpurukan, salah satunya di lagu “Gas” tadi. Menengok kondisi hari ini, serta didasari apa yang saya lihat, hal-hal yang tidak pernah dipikirkan sering menghantam ekspektasi kita. Bahwasannya itu adalah suatu hal yang wajar, dan pasti akan dialami setiap manusia. Tak terkecuali saya, yang menganggap FSTVLST sebagai penyelamat. Menggandeng orang-orang yang dilanda kebingungan juga kelimpungan di tengah oase gurun pasir yang luas. Lagu-lagu FSTVLST hadir untuk menawarkan jabat tangan dan dukungan.

Saat saya mendengar lagu FSTVLST yang dikumandangkan oleh Farid, seakan-akan seperti terkena suatu sihir, yang masuk melalui telinga lalu merambat di sudut-sudut pikiran saya. Menenangkan sekaligus juga memberikan energi untuk melakukan aktifitas dan kembali merancang mimpi-mimpi. Saya sampai sulit membedakannya, apakah itu hanya sekadar lirik atau lebih ke doa.

Tak hanya itu, di sela-sela konser Farid Stevy, tak jarang juga ia memberikan kata-kata semangat pada para khalayak muda untuk lebih berani lagi menghadapi hantaman persoalan-persoalan di kehidupan. Band ini selalu memberikan penampilan yang menarik, unik, dan menyentuh hati. Memberikan momen yang sukar untuk dilupakan.

Hampir semua lirik-lirik yang diciptakan oleh Sirin Farid Stevy mampu mengubah arah pandangan hidup saya. Contohnya lagu “Tanah Indah Untuk Para Terabaikan”. Lagu ini adalah salah satu lagu yang saya tunggu-tunggu di saat FSTVLST manggung di suatu konser. Lirik yang tersirat sangatlah mendalam bagi saya. Kita diajak untuk lebih memedulikan kondisi lingkungan yang kian hari kian runyam. Pesan yang terlontar sangat terasa. Banyak orang memaknai lagu ini sebagai gambaran kerusakan lingkungan dan ekosistem di dalamnya. Hal ini bisa kita lihat pada penggalan lirik di awal lagunya “Di tanah indah yang tinggal hanya debu, darah dan marah.”

Tapi, saya memaknainya berbeda. Saya merasa lagu ini adalah suatu ajakan untuk mereka, orang-orang yang diabaikan dari suatu lingkup kelompok, karena memiliki hal atau pemikiran yang berbeda dari teman-teman lainnya. Salah satu liriknya adalah, “Kan ku ajak mereka yang merasakan serupa, kan ku jemput jiwanya di rumahnya. Jiwa-jiwa yang terabaikan, rusak dan di tinggalkan, terundang terbang bersama.”

FSTVLST ingin mengajak kalian, para orang yang terabaikan, untuk pergi ke suatu tempat dan mengajak atau mengumpulkan orang-orang yang dirasa mempunyai masalah yang sama, untuk membangun sebuah ruangan kalian sendiri dengan fondasi serta tujuan yang sama. Jelas seperti lirik akhir yang tersirat di akhir lagu, “Ruangan yang megah, menjelajah, langit yang pemurah, berkatilah, waktu yang entah, berpihaklah, tanah yang indah, kami datang.”

Kita harus berani keluar dari lingkup kelompok yang menurut kita sudah tidak nyaman. Dan akan mengakibatkan dampak buruk apabila kita memaksa untuk bertahan. Tarik jangkarmu dan turunkan layar kapalmu. Marilah bersama-sama kita mengarungi kerasnya samudra kehidupan guna mencari, menemukan, dan berlabuh di “Tanah Indah Untuk Para Terabaikan”.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *