Babel: Gambaran Monopoli dalam Ekonomi dan Politik Dunia

Penulis
Kebenaran hadir bukan karena kenyataan tetapi didesain sedemikian rupa. Agar kenyataan yang diyakini semua orang adalah kebenaran bukan kebenaran yang hakiki.
-Michel Foucault

Wajah sosial-ekonomi sering kali mengalami pembiasan dari sebuah potret sosial. Hal itu seolah yang hendak disampaikan oleh R.F. Kuang dalam Babel. Kuang hendak menunjukkan bahwa kesejahteraan, kekayaan, dan keseimbangan sering kali terbentuk bukan untuk semua pihak tetapi hanya untuk mengenyangkan sebagian pihak.

Pengaturan kekayaan dan derajat negeri Inggris, sebagai latar belakang Babel, memberikan refleksi tajam-bahwa aturan yang terbentuk kerap kali terbentur dengan motif dari pelaku ekonomi besar.

Babel, salah satu sudut pengetahuan dan intelektual dunia, memberikan sebuah tembok dan harapan bagi sebagian orang agar dapat mengenyam pendidikan dan merasakan kenikmatan memperoleh karpet yang lebih harum. 

Babel tidak hanya disimbolkan sebagai gedung ilmu pengetahuan, tetapi turut menjadi medan pertarungan dalam memperoleh kekayaan dan akses yang lebih besar dari yang bisa diperkirakan.

Potret itu seolah dipentaskan tidak hanya di setumpuk kertas, melainkan masih diparodikan oleh banyak negara. Lantas bagaimana Babel menjadi cermin dari banyak negara?

Dari Kolonisasi Hingga Harapan

Kuang menarik latar belakang cerita dari Imperium Inggris yang berjaya di abad ke-19. Luasnya wilayah koloni berbuah pada tingginya pendapatan yang diterima Inggris, salah satunya berbentuk perak. Perak ini nantinya menjadi asal dikenalnya cipta perak, sematan dalam menyebut produk linguistik dengan mengukir tiap kata pada perak-agar dapat berfungsi selayaknya sihir dan menjadi sebuah sumber energi.

Cipta perak dibentuk berdasarkan akar linguistik dalam berbagai aksara dunia. Tidak hanya dibatasi oleh satu aksara saja, cipta perak dapat digerakkan oleh aksara kuno ataupun aksara baru. Hal tersebut karena setiap kata yang terukir dapat memberikan kekuatan—tergantung makna yang terselip dari tiap huruf yang terukir serta pelafalan saat setiap kata diucapkan.

Adanya penyusunan akar linguistik ini mendorong diperlukannya sebuah institusi untuk menempa tiap batang perak. Itulah alasan Babel berdiri. Babel pun dimaknai tidak hanya menjadi ‘bengkel penempaan’ tetapi turut menjadi institusi pendidikan setingkat universitas.

Gemerlap kemagisan cipta perak menarik banyak mata untuk mengenyam pendidikan di sana. Babel lantas memikat banyak bakat dari segala penjuru dunia untuk merasakan salah satu kiblat pendidikan. Daya tarik itu kemudian mendesain Babel untuk memberikan syarat penerimaan masuk yang sulit. Salah satunya kewajiban menguasai aksara Yunani dan Latin.

Alhasil, para mahasiswa yang menempuh pendidikan di sana sudah merasakan getirnya atmosfer pendidikan. Bahkan sebelum sah menjadi ‘warga’ Babel.

Syarat yang ditetapkan, menginternalisasikan mahasiswanya agar dapat memahami kurikulum yang telah disusun di Babel, tanpa menunggu adaptasi dalam waktu lama.

Hal itu turut dirasakan oleh Robin Swift (Robin), Victorie Desgraves (Victorie), Ramiz Rafi Mirza (Ramy), dan Lettia Price (Lety). Mereka adalah sederet tokoh utama yang dimunculkan Kuang.

Keempat tokoh berasal dari latar belakang yang berbeda-beda. Robin—tokoh utama cerita—berasal dari wilayah Kanton, Tiongkok. Ia didatangkan oleh Lovell—ayah angkatnya, usai kehilangan ibu kandungnya akibat wafat terjangkit wabah. Kehilangan makna tempat yang dinamakan ‘rumah’ mengantar Robin untuk meninggalkan tanah kelahiran dan membentuk identitas baru di tanah Britania Raya.

Victoire, perempuan asal Haiti yang terdampar di Perancis bersama ibunya setelah rangkaian peristiwa yang terjadi di dalam negerinya. Ketika berada di Perancis mereka menetap di salah satu kediaman bangsawan bernama Desjardins. Ibunya bekerja sebagai pelayan dan tak lama ia meninggal setelah jatuh sakit. Alhasil, Victoire pun menjadi pelayan dari keluarga Desjardins.

Bakat yang dimiliki Victoire dalam mengingat dan penguasaan bahasa Latin dan Yunani, telah memikat hati Desjardins dan hendak memamerkan Victoire pada teman-temannya. Melalui koneksi yang ia miliki membawa Victoire mendarat ke Babel. Victoire tidak hanya fasih melafalkan bahasa Yunani, Latin, ataupun Perancis tetapi ia juga fasih berbahasa Kreol.

Ramy, laki-laki asal India juga anak tertua dari empat bersaudara. Ia dibawa oleh Sir Horace Wilson setelah membuat Wilson terpukau dengan kecerdasannya, saat meninjau hasil kerja ayahnya. Diketahui bahwa ayah Ramy menjadi bawahan di India. Ia mengajarkan Ramy bagaimana membuat orang Inggris senang tetapi menutupi jejak-jejak perlawanan atas tindakan kolonisasi di India. Terbiasa melihat yang dicontohkan ayahnya, Ramy pun melakukan hal serupa di hadapan orang Inggris dan membawanya ke Babel.

Berbeda dari ketiga temannya, Letty berasal dari Inggris. Sudah pasti ia tidak memiliki memori trauma di negara asalnya. Tetapi Letty tidak pernah merasakan keberuntungan sejak kecil. Ia lahir sebagai anak bungsu. Lincoln, kakaknya, merupakan anak yang diharapkan ayahnya sebagai penerus keluarga sedangkan tatapan yang sama tak kunjung didapatkan Letty. 

Sayangnya, sang kakak tidak memiliki ketertarikan dalam menempuh pendidikan akademis. Ia tidak tahan dengan buku bahkan hanya untuk satu menit. Lambat laun, sikap Lincoln sangat menjengkelkan di mata keluarganya, termasuk Letty. 

Letty telah menggantungkan mimpinya pada sang kakak tetapi mimpi itu terurai berai. Hingga Lincoln pun tewas usai insiden kecelakaan yang menimpa dirinya. Setelah proses pemakaman, Letty berusaha menyusun mimpinya kembali untuk menempuh pendidikan di Babel. Ia menyurati pimpinan universitas dan membuktikan dirinya layak sebagai mahasiswa. Bagi Letty menjadi mahasiswa Babel adalah keberuntungan. 

Keempat tokoh utama ini menuntun pembaca agar memahami masalah yang mengikat pada Babel. Kuang hendak menegaskan satu legitimasi—kekuatan yang lebih besar kerap menjadi secerca cahaya pada kawasan yang didudukinya. Meskipun di waktu yang sama mereka sengaja menggiring kelompok yang lebih lemah untuk menempuh pendidikan setinggi-tingginya; tujuan mereka bukan untuk perbaikan hidup atau timbal balik atas praktik penundukkan yang selama ini dijalankan; melainkan untuk mempermudah kegiatan ekonomi dan politik antara kawasan koloni dengan negara induk.

Kondisi itu seolah menyiratkan Imperium Inggris menjadi satu-satunya ‘rumah’ usai rumah asal tidak ditemukan cahaya terang perbaikan hidup. Sorotan itu dituliskan secara tajam terutama pada sosok Robin.

Keterbatasan biaya dalam mengakses obat-obat dan cipta perak-yang turut digunakan dalam tindakan medis. Hal tersebut berakibat pada jatuhnya banyak korban jiwa atas wabah yang mendera. Alhasil, Kanton seolah tidak dapat dijadikan masa depan bagi Robin. 

Inggris seolah digdaya atas sumber pengetahuan dan sumber daya. Gambaran kontras itu terlihat di mata Robin ketika berada di Kanton. Maka wajar ia melihat Inggris menjadi satu-satunya tujuan dalam menemukan arti ‘rumah baru’, sekaligus tujuan baru di hidupnya. 

Kondisi ini mengingatkan penulis pada teori kritis, yang berkembang pada Mazhab Frankfurt—kelompok pemikir berhaluan Marxis yang berada dalam lingkar organisasi intelektual kritis di Institut Penelitian Sosial (Institut für Sozialforschung), Frankfurt, Jerman.

Melalui teori kritis diuraikan bahwa realitas sosial tidak berjalan apa adanya sehingga dalam perkembangan manusia kerap berlangsung praktik eksploitasi dan dominasi. 

Kondisi itu selaras dengan latar sosial pada Babel. Inggris secara halus memainkan mimik wajah humanis dan menjadi tujuan dalam menggapai ilmu pengetahuan baru.

Sebagaimana yang ditegaskan Kuang pada sosok Robin, munculnya ketimpangan pada akses kesehatan—buah ketidakberdayaan ekonomi—melahirkan penderitaan yang tampak pada jatuhnya ibu Robin sebagai korban pada wabah penyakit.

Selain yang dialami Robin, refleksi teori kritis sejalan dengan yang dialami oleh Ramy dan Victoire. Ramy yang berasal dari keluarga bangsawan Mughal yang juga dipaksa berparodi mendukung kekuasaan yang lebih besar agar memperoleh akses melawan hegemoni Imperium Inggris di tanah asalnya. Atau Victorie, perempuan asal Haiti yang terdampar di Perancis atas peristiwa di dalam negerinya. Ia tidak hanya fasih melafalkan bahasa Yunani, Latin, ataupun Perancis tetapi ia juga fasih berbahasa Kreol. Ia turut berparodi agar dapat melawan jeratan dan mengupayakan kemerdekaan yang sudah lama dirampas darinya.

Sehingga secara tegas bahwa Kuang memperlihatkan praktik dominasi dan eksploitasi tidak melulu berlangsung pada praktik penindasan secara langsung. Akan tetapi melalui infiltrasi pengetahuan, praktik serupa secara terselubung juga tetap berlangsung. Meskipun dalam memainkan peran itu, Kuang juga menggarisbawahi mereka yang menjalani sistem tidak melulu hanya menjadi pion bagi kelompok yang lebih besar. Alhasil, praktik itu memberikan sebuah gambaran bagaimana Babel terbangun dan hidup pada karya Kuang.

Babel lantas memberikan sebuah semangat baru dalam mengenyam pendidikan. Meskipun ia tidak memperlihatkan wajah aslinya ketika keempat mahasiswa ini tiba pertama kali di sana.

Institusi itu seolah memainkan mimik wajah yang sama seperti institusi pendidikan formal secara lazim. Ia dikagumi atas letupan ilmu pengetahuan serta keajaiban cipta perak yang digunakan. Kedigdayaan tersebut lantas menyihir banyak pihak.

Babel tidak hanya dimaknai sebagai ‘bengkel’ bagi Inggris tetapi juga menjadi bank data linguistik, yang mereka (Inggris) kumpulkan melalui monopoli ekonomi dan politik di tanah koloni.

Sorotan itu memberikan kuasa bagi Babel dalam akses yang lebih besar. Alhasil, sebagian pemimpin Babel menarik keuntungan atas kemampuan yang mereka peroleh. Selain pandangan dasar, mereka berasal dari kelompok yang lebih berkuasa dan menjadi dalih kebenaran dalam mengarahkan jalan bagi kelompok yang lebih lemah.

Refleksi yang Tidak Terbatas Pada Cerita

Kuang hendak menggarisbawahi bahwa ceritanya tidak hanya memperlihatkan dominasi Inggris serta penegasan daya magis cipta perak dalam menggerakan energi ekonomi. Singkatnya cipta perak dapat diibaratkan seperti bahan bakar minyak (BBM). Namun hal tersebut turut melukiskan rangkaian akar kata pada perak yang ditempa agar perak itu bekerja, sekaligus bagaimana para penempa mencari akar linguistik yang tepat untuk menghasilkan tenaga dan durasi yang lebih panjang. 

Tidak sebatas itu saja, Kuang juga turut menjelaskan bahwa perak yang digunakan oleh masyarakat luas memiliki spesifikasi dan kualitas yang berbeda-beda. Ibaratnya semakin tinggi kendaraan yang digunakan, semakin tinggi pula BBM yang digunakan. Hal itu juga yang berlangsung pada cipta perak.

Dengan mengumpamakannya dengan bahan bakar, penulis membayangkan cipta perak dengan ragam jenis BBM seperti: premium, pertalite, pertamax, pertamax turbo, ataupun produk BBM lainnya. Dari sini munculnya ragam produk dengan kualitas yang berbeda, yang berujung mendorong harga penjualan yang berbeda. Kondisi itu berlangsung pula di cipta perak. Semakin tinggi kadar kemurnian perak, tenaga yang dihasilkan semakin lama.

Alhasil, kebutuhan perak semakin meningkat dari waktu ke waktu. Eksplorasi perak pun dilangsungkan. Babel lantas melakukan hal serupa. Pada salah satu bagian, Kuang memaparkan pentingnya eksplorasi perak bagi Imperium Inggris dan institusi Babel sendiri.

Cipta perak kemudian membangun Inggris dari banyak sudut, terutama penegasan Inggris sebagai salah satu negara yang memiliki tanah koloni yang luas. Kondisi ini memuluskan praktik perdagangan bebas dan mengirimkan keuntungan dari tanah jajahan menuju negara induk.

Praktik kolonialisme dan imperialisme berbuah pada penekanan politik secara langsung ketika tanah koloni tidak memenuhi kehendak yang dituntut, sebagaimana yang berlangsung di Kanton, Tiongkok.

Perjalanan Robin, Ramy, Victoire, dan Letty ke Kanton, Tiongkok, tidak sekadar praktik langsung atas materi pendidikan yang mereka peroleh. Lebih dari itu, mereka memperoleh kesaksian langsung atas kondisi terkini kawasan Kanton serta dominasi politik yang ditekankan Inggris, yang seolah menjadi juru selamat dunia—bahwa merekalah yang pantas mengeksplorasi dan memiliki sumber daya dalam jumlah yang besar.

Ketika mereka diberangkatkan ke Kanton, mereka dibersamai Lovell ayah angkat Robin sekaligus salah seorang pengajar di Babel. Ia tidak hanya menjadi pengawas bagi keempat orang itu tetapi menjadi “duta Babel” dalam menjalin hubungan ekonomi-politik antara Inggris dengan Tiongkok. Hal ini mungkin karena Lovell adalah salah satu dari sedikit orang Eropa yang cukup fasih dan memahami budaya Tiongkok.

Tentu mempelajari budaya, aksara, dan kebiasaan orang Tiongkok bukan tanpa sebab. Lovell mengemban misi penting dalam memuluskan monopoli perdagangan di tangan Imperium Inggris, dan di waktu yang sama turut melemahkan kekuatan Tiongkok. Ia menilai negara itu belum layak menetapkan aturan yang berlawanan dari kehendak Imperium.

Lovell memandang Tiongkok tidak lebih dari sekumpulan kawanan orang barbar yang tetap mempertahankan tradisi lama dan tidak sejalan dengan kebudayaan Eropa. Alhasil, keputusan Tiongkok yang berlawanan dengan kehendak pemerintah Inggris merupakan bentuk penegasan politis yang  perlu diselesaikan, baik secara politik maupun militer.

Pengiriman dirinya bersama keempat muridnya dimaksudkan untuk menegaskan bahwa sumbatan yang mengancam nilai ekonomi dan politis Inggris harus segera dibersihkan; meskipun perjalanan itu berakhir nihil, mengingat tekanan Inggris kepada pemerintahan Tiongkok tidak berhasil meluluhkan kehendak Kaisar. 

Sebelumnya, Inggris menuntut pembukaan akses perdagangan yang lebih besar di Tiongkok, salah satunya melalui perdagangan opium yang didatangkan dari tanah koloni terdekat, yakni India.

Inggris memandang keberanian Tiongkok dalam melawan kampanye perdagangan Inggris merupakan bentuk pembangkangan pada tuan besar. Karena itu, perwakilan Inggris di Kanton mendatangkan Lovell beserta muridnya untuk menyelesaikan masalah tersebut dan mencoba menyamakan persepsi kepada perwakilan Tiongkok agar mereka dapat membuka keran dagang serta mempersilahkan Inggris memonopoli opium, dan dapat membawa perak ke tanah Britania.

Catatan itu mengingatkan pada praktik serupa yang mendera banyak negara di dunia nyata. Tuan-tuan besar yang berasal dari kelompok ekonomi besar kerap mendesain masa depan melalui corak pikir bangsanya tanpa adanya ‘kesederajatan hakiki’ pada bangsa bawahannya.

Kesederajatan baru dipandang mungkin ketika negara lain bersedia berkompromi dan menyepakati keinginan tuan koloni. Hal serupa juga dapat berlangsung di dalam satu negeri, ketika perbedaan asal daerah dan munculnya kelompok masyarakat yang tampak digdaya menciptakan relasi kuasa di atas masyarakat lokal yang tinggal di kawasan sumber daya. Dalam situasi tersebut, mereka mengklaim diri sebagai pihak yang berhak menarik masyarakat keluar dari simbol “keterbelakangan” dan membangun apa yang disebut sebagai “peradaban.”

Alhasil, kelompok yang lebih berkuasa menginfiltrasi kelompok yang lebih kecil untuk mau berkompromi atas niat ekonomi dan politik yang digariskan. Jika mereka menolak, kelompok yang lebih besar tidak segan-segan akan berkonfrontasi secara politik dan militer. Hal tersebut seolah yang ditegaskan Kuang dalam Babel, ketika Tiongkok menolak keinginan Inggris maka mereka akan dihujani serangan militer dan diposisikan sebagai biang keladi dalam sorot mata Inggris-sebagaimana yang dituliskan oleh Lovell.

Catatan itu menjadi penegas bagi penulis bahwa Kuang hendak memberikan tanda tebal bahwa krisis politik sering berasal dari ekonomi, terutama yang berasal dari tidak terpenuhinya ‘hasrat ekonomi’ kelompok yang lebih besar.

Kuang tidak hanya memberikan gambaran kuat atas praktik relasi kuasa ekonomi, tetapi juga menyoroti bagaimana simbol “kemajuan” dan “keterbelakangan” dalam ilmu pengetahuan kerap digunakan untuk memecah pandang dan menyatukan sesuatu yang tak kasat mata. Ilmu pengetahuan, dalam hal ini, tidak semata menjadi gerbang peradaban, melainkan sebuah “jembatan” yang hanya dapat terbentang ketika para pihak berada pada titik yang setara. Itulah yang dinamakan kesederajatan.

Sorotan itu memberikan kuasa bagi Babel dalam akses yang lebih besar. Alhasil, sebagian pemimpin Babel menarik keuntungan atas kemampuan yang mereka peroleh. Selain pandangan dasar, mereka berasal dari kelompok yang lebih berkuasa dan menjadi dalih kebenaran dalam mengarahkan jalan bagi kelompok yang lebih lemah.

*Ulasan novel berjudul Babel karya R. F. Kuang yang diterjemahkan oleh Siska Nurohmah (Yogyakarta: Shira Media, 2024)


Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *