Aja Dumeh Merga Kuwasa: Sebuah Pesan Untuk Para Penguasa

Penulis

Peringatan Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional lalu, Jogja Memanggil bersama Forum Cik Ditiro dan Corong Api melakukan protes. Mereka melakukan protes di Titik Nol Kilometer Yogyakarta dengan tajuk “Ojo Dumeh Merga Kuwasa”: Gunung Jangan Dibom.

Sebagaimana rakyat Jawa, terutama rakyat di Yogyakarta dan sekitarnya, memiliki falsafah hidup dari cerita pewayangan sebagai kompas moral dalam kehidupan. “Ojo Dumeh Merga Kuwasa” merupakan salah satu nilai moralis yang diajarkan Semar, tokoh Punakawan dalam Wayang Jawa. 

Dalam pewayangan, Semar sebagai tokoh utama dalam Punakawan telah merepresentasikan nilai-nilai moralis untuk menjalani kehidupan. Pertama, Ojo Dumeh yang memiliki arti ‘jangan mentang-mentang’. Kedua, eling yang memiliki makna ingat akan kehadiran Tuhan dalam segala sudut kehidupan. Ketiga, waspodo yang bermakna sebuah sikap untuk bijaksana, sederhana, dan hati-hati agar bisa menjadi pribadi yang ‘bisa merasa’ atau empati bukan malah ‘merasa bisa’.

Tak hanya mengandung nilai moralis, Punakawan dalam Wayang Jawa juga memiliki nilai politis.

 

Punakawan dan Simbol Perlawanan Terhadap Ketidakadilan

Di pertengahan pertunjukan Wayang Jawa, para tokoh Punakawan hadir membawakan cerita-cerita yang lucu juga faktual. Kehadiran Punakawan dalam pagelaran dimaksudkan sebagai selingan dalam pementasan cerita-cerita Mahabharata agar penonton tak merasa bosan.

Punakawan di tiap daerah memiliki perbedaan. Pada pewayangan gagrag (gaya) Yogyakarta dan Surakarta menampilkan empat orang Punakawan golongan ksatria. Mereka adalah Semar dan tiga pengikutnya; Gareng, Petruk, dan Bagong. Sementara di Banyumas dan Cirebon beda lagi.

Di Banyumas, Punakawan ada Semar, Gareng, Petruk, dan Bawor. Cirebon agak unik, jumlah Punakawan di sana lebih banyak dari daerah lain. Ada sembilan tokoh Punakawan di Cirebon, yaitu Semar, Curis (Sekarpandan), Cungkring, Gareng, Bagong, Dawala, Ceblok, Bitarota, dan Bagalbuntung.

Para Punakawan tampil pada sesi yang disebut gara-gara. Punakawan hadir lebih fleksibel, yang mana mereka bisa berkomunikasi dengan penonton. Mereka menghibur para penonton lewat banyolan ataupun menyampaikan pesan-pesan moral. Mereka juga melancarkan kritis atas berbagai situasi sosial, politik, dan budaya yang sedang hangat diperbincangkan oleh masyarakat.

Dalam pewayangan, Punakawan berperan mendampingi seorang ksatria, biasanya tak terlepas dari ksatria Pandawa seperti Arjuna. Mereka bertugas menemani dan mengabdi ke sang ksatria, membimbing dan menasehati serta menghibur sekaligus menyampaikan pesan-pesan kebaikan. 

Punakawan adalah teman seperjalan saat sang ksatria mengembara, berburu, maupun saat melakukan perjalanan ke suatu negeri. Mereka memiliki identitas sebagai pengabdi para ksatria alias orang-orang penguasa yang berkedudukan sebagai rakyat kelas bawah (wong cilik). 

Kehadiran Punakawan, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, tak hanya menghibur tetapi juga menyoal berbagai pesan moral yang mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan juga kelas sosial. Mereka menjadi sebuah simbol perlawanan terhadap kekuasaan yang zalim. 

“Dalam cerita pewayangan, Punakawan seringkali hanya dipandang sebagai sekumpulan tokoh yang moralis, padahal jika dilihat dari segi kelas, Punakawan berkedudukan sebagai rakyat dalam cerita pewayangan. Artinya, wayang juga politis”, ungkap Api, inisiator aksi “Aja Dumeh, Merga Kuwasa” saat diwawancara.

Lebih lanjut, Api menjelaskan bahwa Punakawan digambarkan sebagai tokoh rakyat dan tidak hobi berperang seperti Pandawa dan Korawa misalnya, yang digambarkan sebagai bangsawan yang senang berperang. 

Dia juga mengatakan, cerita pewayangan tak terlepas dari mitologi Mahabharata dan Ramayana yang kemungkinan besar berasal dari India. Namun, pewayangan versi India tidak menghadirkan istilah dan cerita Punakawan. 

“Artinya, cerita Punakawan dalam kedua mitologi itu hanya hadir di Jawa dengan alasan yang sangat mungkin politis untuk menyesuaikan konteks di mana cerita itu hadir,” lanjut Api menjelaskan.

Semar menjadi representasi sosok yang bijaksana dengan mengajarkan bahwa kekuasaan sejati adalah tanggung jawab untuk melindungi rakyat dan memperjuangkan keadilan dan bukan kekuasaan yang sewenang-wenang untuk mencari kenikmatan ala bangsawan. Inilah falsafah yang disebut “Aja Dumeh”.

 

Semar Adalah Pengingat

Jika Semar memegang erat nilai “Aja Dumeh Mergo Kuwasa”, maka berlaku sebaliknya bagi para penguasa kita: “Punya Kuasa Maka Suka-Suka”. Lewat kekuasaan mereka memperkaya diri dengan mengorbankan kepentingan rakyatnya sendiri. Kita bisa melihatnya secara gamblang dengan adanya peristiwa perampasan lahan masyarakat adat dan petani atas nama pembangunan.

Pendidikan dan kesehatan yang kian jauh dari jangkauan masyarakat. Kebutuhan pokok yang terus mengalami kenaikan. Represifitas yang dilakukan oleh tangan aparatur negara terhadap rakyat. Penjajahan terhadap Papua, Aceh, dan Timor Leste. Kejahatan di masa lalu melalui pembunuhan massal pasca 1965. Kesemuanya itu adalah representasi para pengusaha dan penguasa yang bengis dan jauh dari sikap para tokoh Punakawan, khususnya Semar.

Lewat kekuasaan mereka (re: para penguasa) juga membangun dinastinya sendiri. Menyeret anak, istri hingga para menantunya naik ke atas panggung jajaran penguasa. Menggandeng para pengusaha untuk menindas rakyat. Bahkan merampas hak-hak rakyat bahkan hak mendapatkan air bersih sekalipun.

Hari ini, misalnya, saudara kita yang ada di Papua masih terus berjuang melawan penguasa-pengusaha yang hendak yang sewenang-wenang. Berkenaan dengan hari HAM Internasional 10 Desember 2024 lalu, Umat Kristiani berkumpul di Lapangan Zakheus, Distrik Abepura, Kota Jayapura. Mereka menggelar doa dan ratapan atas apa yang terjadi di Papua. 

Doa diiringi dengan prosesi jalan salib dengan mengelilingi lapangan tersebut. Tak lupa salib merah setinggi tujuh meter ditancapkan di tanah Lapangan Zakheus. Salib yang diberi warna merah bermakna berdarah-darah. Sementara tinggi salib tujuh meter menjadi simbol mewakili tujuh wilayah adat.

Tak hanya Distrik Abepura, Distrik Muting turut melakukan hal yang serupa. Pada 2021 lalu, salib merah setinggi dua hingga empat meter ditancapkan di kawasan hutan adat milik masyarakat yang berbatasan langsung dengan perusahaan-perusahaan sawit.

Jika umumnya dipasang saat memperingati Paskah di Papua, tapi tidak dengan Muting, sebuah distrik yang berada di Kabupaten Merauke yang secara administratif berbatasan dengan Kabupaten Boven Digoel. Pemasangan salib-salib sejak 2014 itu adalah gerakan yang diharapkan menjadi pengingat perusahaan agar tidak menggusur hingga batas yang sudah dibeli marga tertentu.

Karena menurut masyarakat adat, mayoritas lahan didapatkan perusahaan secara ilegal dan manipulatif. Mereka juga mengaku, bahkan ketika salib ditancapkan, terkadang perusahaan masih saja menyerobot wilayah tersebut. Inilah penyebab konflik horizontal antara masyarakat adat dengan pihak perusahaan yang tentunya dibantu oleh TNI dan Polri. 

Ketika ada TNI dan Polri di sana, maka kekerasan juga ada. Dikutip dari LaolaoPapua.com, Tinus Omba, warga Muting mendapatkan intimidasi melalui tembakan yang sengaja diluncurkan dekat telinganya saat melakukan protes kesewenangan perusahaan juga keamanan.

Tak hanya Omba, Agustinus Mahuze, ketua marga Mahuze yang memimpin marganya untuk protes menolak perusahaan di wilayah adat mereka dibombardir teror dan intimidasi. Upaya kriminalisasi itu terjadi pada 2015 silam. Tak puas dengan mengkriminalisasi, polisi menuduhnya sebagai dalang pembakaran hutan di sekitar wilayah perusahaan tanpa mengantongi bukti.

Inilah gambaran warisan imperialisme kolonial. Masyarakat kehilangan tanahnya sendiri dan secara bersamaan turut mendapatkan kriminalisasi. Bukankah sikap ini sangat jauh dari nilai yang dibawa oleh Semar? “Aja Dumeh Merga Kuwasa” lebih dari nilai moralis, nilai ini adalah sebuah pengingat. Jangan karena berkuasa maka bersikap sesukanya. Mengorbankan wong cilik dan mengeksploitasinya.

Referensi:
  1. Rilis Pers “Aja Dumeh Merga Kuwasa” oleh Gejayan Memanggil dan Forum Cik Ditiro
  2. Tanudjaja, B.B. (2022). Punakawan sebagai Subculture dalam Cerita Wayang Mahabaratha. Jurnal Desain Komunikasi Visual Nirmana, 22(1): 52-68.
  3. Yoesoef, M. (2014). Membaca Punakawan. Seminar Internasional Semiotik, Pragmatik, dan Kebudayaan, Depok: 17 Juni 2015. Hal. 2-14.
  4. Ngelia, Y. (2021). Salib Untuk Melawan Perampasan Lahan di Papus. 31 Maret 2021. Diakses pada https://laolao-papua.com/2021/03/31/salib-untuk-melawan-perampasan-lahan-di-papua/
  5. JubiTV. (2024). Salib Merah: Orang Papua Masih Berdarah-Darah di Tanahnya Sendiri. 11 Desember 2024. Diakses pada https://www.youtube.com/watch?v=DIIRbdzg9Vs

Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *