Mengapa Kita Belum Benar-benar Meruntuhkannya?

Penulis

Sejarah tidak pernah bergerak di ruang yang hampa. Ia lahir dari benturan kelas yang memperebutkan kekuasaan dari mereka yang menanggung akibatnya, yaitu rakyat. Ketika kebijakan digunakan sebagai instrumen legitimasi untuk kekuasaan melakukan ekspansi dan akumulasi kapital yang jauh dari orientasi kerakyatan seperti kenaikan bahan pokok yang terus melambung, anggaran pendidikan dipangkas untuk program prioritas yang problematik (MBG),  ruang sipil dimiliterisasi, sementara rakyat dianggap sebagai sapi perah yang terus bekerja, kemarahan rakyat yang semula bisik-bisik berhenti menjadi barisan demonstrasi yang datang silih berganti.

Tidak ada demonstrasi yang lahir dari kehendak kosong. Setiap massa yang demo berangkat atas kesamaan nasib, dimiskinkan, dan dipaksa menerima keadaan sebagai sesuatu yang wajar. Dalam masyarakat kapitalis, penderitaan tidak pernah hadir dari Nasib individual, Nasib tersebut  merupakan konsekuensi logis dari struktur kapitalisme yang kontradiktif, dan menegasikan orientasi kerakyatan; kesejahteraan ekonomi. Karena itulah, demonstrasi bukan sekedar ekspresi kemarahan spontan. Demonstrasi merupakan respon ketika kontradiksi material dalam kehidupan sehari-hari mulai disadari sebagai persoalan struktural, bukan lagi sebagai penderitaan individual. 

Gelombang demonstrasi yang terus bermunculan tidak dapat dibaca sebagai ledakan amarah sesaat. Demonstrasi juga dapat dibaca sebagai gejala bahwa kontradiksi kelas semakin meruncing. Krisis ekonomi, menyempitnya ruang sipil, bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba, apalagi atas kehendak rakyat, melainkan bagian strategi kekuasaan untuk mempertahankan dominasi ketika fondasi hegemoninya ada kemungkinan retak.

Situasi semacam ini mengingatkan masyarakat pada menjelang runtuhnya orde baru. Tidak serta merta sama, namun polanya mengarah demikian. Dominasi kekuasaan hari ini telah menunjukan pola yang berbeda untuk strategi meredam amarah rakyat. Sebab tidak ada kekuasaan dalam lanskap Sejarah yang secara sukarela menyerahkan atau membiarkan kekuasaannya runtuh. 

Kondisi ini sekaligus menunjukan bahwa masyarakat semakin peka terhadap cara kelas penguasa menggunakan kekuasaannya, trauma kolektif pada krisis 1998 dan otoritarianisme belum sepenuhnya hilang. Banyak mata kemudian melihat adanya kecenderungan situasi politik yang mengarah pada orde baru. Kecenderungan tersebut tidak serta merta sama dengan orde baru, namun polanya identik menuju orde baru. Artinya, gelombang demonstrasi belakangan yang terjadi tidak lahir dari kehendak kosong, ia terjadi karena benturan kontradiksi struktur yang akhirnya melahirkan akibat.

Sejak Prabowo mengambil alih kemudi negara, penyempitan ruang sipil seperti dipenuhi kawat berduri. Setiap aksi demonstrasi, hampir selalu berhadapan dengan eskalasi represi yang kian terbuka. Mulai dari intimidasi, kriminalisasi, hingga kecupan tongkat baton kepada massa menjadi hal biasa yang menanti massa demonstrasi dari instrumen koersi negara, TNI dan Polri. Seperti saat memasuki fase pengesahan RUU TNI, bara kemarahan rakyat menjalar ke berbagai kota melalui aksi bertajuk #PeringatanDarurat dan  membawa tuntutan 17+8. Demonstrasi yang menjalar ke berbagai kota bukan sekedar ekspresi kemarahan rancangan undang-undang, melainkan sebagai penanda bahwa masyarakat melihat bayang-bayang otoritarianisme akan kembali menjadi wajah kekuasaan.

Gelombang demonstrasi yang memadati jalan-jalan tidak hanya mengguncang pagar Gedung kekuasaan, tetapi juga mengoyak ruang pikir tentang mau dibawa kemana arus perlawanan massa. Di Tengah asap gas air mata dan tongkat baton, gema tuntutan rakyat melahirkan refleksi yang harus dibaca sebagai wajah Gerakan rakyat hari ini. Di Tengah situasi tersebut, kritik yang menuai perdebatan ialah Darurat Aktivisme Borjuis dari Abdul Mughis (Muddhofir and A’yyun 2024), serta Syarat-Syarat Mewujudkan Revolusi dari Coen Husain Pontoh (Pontoh 2026). Kedua manuskrip tersebut hadir layaknya dua pendaki yang memandang gunung yang sama. Mughis secara sinis membaca Gerakan yang bersifat rimpang, Coen menguraikan revolusi dari lanskap material-historis bagaimana revolusi terjadi.

Tulisan Coen merupakan respon dari gema “revolusi” yang diucapkan demonstran belakangan. Coen mengingatkan bahwa revolusi bukanlah petir yang menyambar langit cerah hanya karena massa meneriakan Namanya. Revolusi adalah musim yang lahir setelah perubahan cuaca yang Panjang; revolusi adalah akumulasi kontradiksi material, kematangan massa dalam mengorganisir, dan berkembangnya kesadaran faktor subjektif dalam merespon kondisi objektif yang semakin mencekik. 

Sementara Mughis mengajak Gerakan bercermin. Baginya, kemarahan yang hanya berangkat dari moralitas ibarat ombak yang berkali-kali menghantam karang tanpa merubah bentuk Pantai. Energinya besar, tetapi cepat surut. Karena itu, Mughis menekankan pentingnya membangun wacana tanding yang mampu mengorganisir kemarahan spontan menjadi kesadaran politik massa supaya lebih terarah, sehingga Gerakan tidak sekedar reaktif terhadap kebijakan, lebih dari itu, Gerakan mampu menghasilkan perubahan secara radikal.

Meski tulisan Mughis banyak diserap sebagai hardikan atas sematan “aktivisme borjuis”, seolah-olah seluruh bentuk perlawanan yang bergerak di ranah demokrasi, hak asasi manusia, dan kebijakan publik telah kehilangan makna politiknya sejak awal. Cara pandang demikian cukup berisiko mereduksi kenyataan yang lebih kompleks, lebih-lebih merawat konflik horizontal antar Gerakan. Namun demikian, kritik Mughis tidak patut diabaikan dan ditinggalkan karena sinisnya. Tulisan Mughis masih layak untuk dibaca bagaimana Gerakan hari ini masih terfragmentasi, dan menghasilkan Gerakan yang belum benar-benar menuju pada perubahan sosial yang radikal, atau revolusi.

Sebelum membicarakan Langkah taktis dan strategis untuk arah Gerakan, perlu lebih dahulu diakui bahwa demonstrasi belakangan belum padu dalam satu garis politik. Berbagai elemen Gerakan masih berdiri sebagai kekuatan massa yang cair dari latar belakang kelompok yang berbeda. Masyarakat sipil, organisasi akar rumput, mahasiswa, buruh, petani, hingga kelompok bergerak bersama-sama, tetapi lebih menyerupai Sungai-sungai kecil yang mengalir ke arah masing-masing. Arusnya deras, namun belum bermuara pada batu karang kekuasaan. 

Tidak berlebihan jika kondisi Gerakan hari ini disebut masih terfragmentasi. Kepentingan ego sektoral, latar belakang ideologi yang berbeda, dan ego politik setiap kelompok kerap menjadi tembok satu sama lain. Seringkali, solidaritas yang dipupuk tumbuh bersama sinisme horizontal, sehingga berat mengusung cita-cita dan padu dalam Gerakan. Dalam keadaan demikian, kekuasaan menjadi tidak perlu susah payah memecah konsentrasi massa dengan, dan hal yang paling sering strategi melakukan konflik identitas; Komunis, Anarko, Radikal, dan belakangan stempel LGBT. 

Persoalan Gerakan hari ini bukan semata-mata kurangnya militansi massa, melainkan tantangan pengorganisasian yang luas, disiplin, berakar pada orientasi kerakyatan, sehingga tiba pada Gerakan yang ofensif dan berada dalam satu garis politik. Sebab, perubahan sosial yang radikal lagi-lagi tidak mungkin dilakukan tanpa faktor subjektif sebagai subjek revolusioner  yang menguat hingga mampu merobohkan benteng kekuasaan yang selama ini tampak kokoh.  

Jalan Terjal  Membentuk Kekuatan

Membangun kekuatan rakyat menjadi Gerakan massa yang padu memang tidak semudah mengumpulkan jalanan dengan lautan demonstran. Kekuatan politik tidak lahir dari banyaknya orang yang hadir, lebih dari itu kemampuan menyatukan kesadaran, kepentingan, dan arah massa menjadi satu garis politik yang sama secara konsisten. Karena itu, revolusi bukanlah peristiwa yang datang tiba-tiba, revolusi lebih menyerupai pohon besar yang tumbuh perlahan, akarnya menjalar jauh ke dalam tanah sebelum batangnya menembus langit. Apa yang tampak di permukaan, hanyalah hasil dari kerja Panjang yang sering kali tidak terlihat. 

Coen Husain Pontoh mengingatkan, bahwa Sejarah terjadinya revolusi dapat dipahami sebagai letupan kemarahan yang terjadi dalam satu malam. Penjelasannya dari lanskap material-historis, revolusi lahir ketika kontradiksi struktural hadir sebagai postulat yang sebagai kondisi objektif di masyarakat, sehingga kondisi objektif itu secara bersamaan bertemu dengan faktor subjektif yang telah terorganisir. 

Persoalan terbesar Gerakan hari ini justru terletak pada proses pengorganisasian faktor subjektif tersebut. Berbagai latar belakang organisasi masyarakat  sipil, Gerakan mahasiswa, serikat buruh, petani, nelayan, pekerja informal, masyarakat adat, kaum muda yang radikal, hingga kaum intelektual sama-sama teralienasi dari relasi produksi. Tidak jarang juga mereka bergerak bersama-sama untuk melawan, akan tetapi, belum padu dalam barisan perlawanan dan berjalan konsisten.

Keadaan tersebut belum semata-mata disebabkan oleh kelemahan. Melainkan kekuasaan memiliki kepentingan untuk memastikan rakyat tidak menjadi satu kekuatan yang padu, sehingga menghasilkan Sejarah baru karena perubahan radikal yang mungkin dilakukan. Negara tidak pernah menggunakan satu strategi seperti tindakan represif melalui aparatus koersif negara, ataupun instrumen legitimasi kekuasaan seperti hukum untuk membungkam Gerakan. Sebelum tongkat baton dipukulkan dan gas air mata ditembakkan, kekuasaan terlebih dahulu bekerja melalui hegemoni, dan tak jarang mengkooptasi Gerakan memanfaatkan aktor komprador untuk melakukan infiltrasi gerakan. Negara membentuk polarisasi sehingga menjebak pikiran yang mendikotomikan antara hitam dan putih.

Belakangan, kooptasi dan polarisasi menjadi strategi yang masyhur digunakan. Negara memahami bahwa benteng jauh lebih mudah dikuasai apabila ada celah pintu yang terbuka. Di sanalah komprador memainkan perannya. Mereka hadir dengan wajah yang akrab dengan Gerakan, berbicara menggunakan Bahasa kerakyatan, tetapi perlahan mengarahkan energi perlawanan massa tidak lagi mengancam kekuasaan. Dan hari ini, aktor komprador mulai tampil seperti yang disaksikan oleh khalayak pada 15 Juni 2026. Mungkin, masih ada komprador-komprador lainnya yang belum tampil ke permukaan. Dari strategi demikian akhirnya dapat disadari bahwa massa yang tidak benar-benar terorganisir memudahkan kerja negara terhindar dari ancaman dengan mudah, tidak perlu dipatahkan, cukup ia dibelokkan hingga kehilangan arahnya sendiri. 

Dari Panjang dan terjalnya membentuk Gerakan massa yang padu pada garis politiknya memang menuntut kesabaran untuk mengorganisir, berani melampaui ego sektoral atau kebiasaan sektarianisme, dan yang paling penting adalah kedewasaan politik untuk menyatukan berbagai perjuangan parsial ke dalam satu horizon yang membicarakan Gerakan massa secara taktis-strategis. Mungkin, jika berbagai kelompok masih ada yang menolak untuk kompromis sesama Gerakan massa, perlu ruang dialog untuk untuk diyakinkan, bahwa menuju perubahan radikal tanpa adanya taktik yang fleksibel adalah hal yang menyulitkan (selama garis strategi masih tegas) (Malaka 2026). 

Siapa Subjek Revolusioner itu?

Sejarah seringkali menempatkan mahasiswa sebagai lukisan indah nan prestise dalam galeri Gerakan di Indonesia. Mahasiswa ditempatkan di atas kanvas berbingkai emas, diterangi sorot lampu Sejarah, bahkan dikenang sebagai motor utama yang menggulingkan otoritarianisme orde baru. Reformasi 1998 dikenang sebagai kemenangan mahasiswa yang berhasil mengguncang kekuasaan otoritarian, dari sanalah lahir keyakinan bahwa setiap kali negeri ini dilanda krisis, mahasiswa harus berdiri sebagai motor utama perubahan. Namun, Sejarah bukan cermin yang memantulkan wajah yang sama, hari ini kekuasaan menuntut masyarakat membentuk Gerakan massa yang berbeda.

Romantisme reformasi terus diwariskan melalui slogan, heroism, dan kisah-kisah tentang keberanian mahasiswa menduduki jalanan. Akan tetapi, revolusi tidak pernah lahir dari romantisme semata. Revolusi yang digaungkan belakangan, terkesan menjadi gema yang memantul di antara tembok-tembok kekuasaan. Namun, karena itu, secara semiotik gemaan revolusi dapat diserap bahwa ada kemungkinan rakyat yang menginginkan perubahan secara radikal di tengah kondisi objektif saat ini. 

Dalam terminology marxis, subjek revolusioner merekalah kelas yang hidup tercekik imbas kontradiksi kapitalisme. Mereka adalah kelas yang setiap hari memiliki peran produksi untuk mengakumulasi kapital kelas pemilik modal, yang akhirnya membuat mereka semakin berjarak dari hasil kerjanya sendiri (Komunis, Marx, and Engles 2009). Masyarakat yang teralienasi tidak lagi sebatas mereka proletariat yang berada di industri padat modal, padat karya, tetapi juga mereka yang menjadi Guru honorer yang mengajar dengan pengabdian tetapi menerima upah yang sangat jauh dari apa yang mereka kerjakan. Pengemudi ojek online yang setiap hari menerima upah satuannya. Ada pula Dosen kontrak tanpa kepastian kerja dengan upah rendahnya. Kemudian Petani yang melihat tanahnya berubah menjadi angka-angka investasi. Serta Pekerja Informal lainnya yang menjual tenaga tanpa pernah memiliki hari esok yang pasti (Novianto, Keban, and Hernawan 2019). 

Mereka mungkin tidak familiar dengan menyebut dirinya sebagai proletariat, tetapi kontradiksi yang dialami berasal dari akar yang sama (Wood 2021). Kapitalisme. Kapitalisme tidak lagi hanya membangun pabrik sebagai ruang produksi massal yang sekaligus ruang memeras keringat pekerja, namun juga mencerabut seluruh hidup pekerja yang membuat manusia perlahan juga teralienasi dari dirinya sendiri.

Di titik inilah, mahasiswa perlu ditempatkan secara proporsional. Mahasiswa bukan lagi satu-satunya api yang mampu membakar bangunan kokoh, tetapi mereka tetap mampu memberi percikan. Percikan memiliki kemampuan menyalakan api, namun ia akan mudah padam jika tertimpa batu. Percikan akan menjadi kobaran ketika bertemu dengan ranting-ranting yang telah lama mengumpulkan panas di bawah terik ketidakadilan. Ranting-ranting itulah kelas yang setiap hari dipaksa menanggung beban kontradiksi dari kapitalisme. 

Menunggu Gerakan mahasiswa saja menjadi pelopor tunggal gerakan massa adalah sesuatu yang tidak bijak diilhami. Perubahan yang radikal tidak lahir dari satu kelompok atas kelompok lainnya yang menganggap diri paling sadar, terdidik, dari kelompok lainnya. Perubahan radikal perlu dipertemukan dari seluruh kelas yang teralienasi dalam satu kesadaran politik sehingga tiba dengan padu pada garis politik yang sama, sehingga bermuara pada batu karang kekuasaan yang kokoh itu.  

Penutup

Menyatukan beragam simpul Gerakan yang lahir dari latar belakang, pengalaman, dan kepentingan yang berbeda memang bukan perkara mudah. Setiap simpul memiliki sifat, karakter, dan garis perjuangannya sendiri. Namun, justru karena kekuasaan hari ini semakin terkonsentrasi, Gerakan massa tidak lagi memiliki kemewahan untuk berjalan terpisah-pisah. Sungai-sungai perlawanan harus berhenti mengalir ke muaranya masing-masing untuk mulai dialirkan menjadi satu arus deras menuju batu karang kekuasaan.

Dalam situasi sedemikian dibutuhkan akan organisasi kepeloporan (avant-garde) menjadi semakin mendesak. Bukan sebagai golongan yang merasa prestisius, terdidik, hingga akhirnya berjarak pada rakyat, lebih-lebih berdiri di atas massa, melainkan sebagai ruang untuk menyatukan kesadaran, mengorganisir kemarahan, tentunya juga berdasarkan wacana yang berorientasi pada orientasi kerakyatan. Kemarahan yang sebelumnya kemarahan spontan, perlu diorganisir menjadi kekuatan politik yang terorganisir. Tanpa organisasi kepeloporan, setiap letupan perlawanan akan mudah dipadamkan, dibelokkan, sehingga tetap jauh dari sasarannya. 

Terlebih kondisi objektif belakangan terus menunjukan akumulasi kontradiksi ekonomi-politik yang semakin tajam. Disparitas sosial, penyempitan ruang sipil, serta meluasnya kelas yang teralienasi menjadi bara yang terus menyala. Namun, bara tidak akan pernah menjelma menjadi kobaran api apabila tidak ada tangan-tangan yang menyusun ranting-ranting kering di atasnya, dan itulah perlunya organisasi kepeloporan hari ini dengan sifat yang disiplin, keberanian moral, dan kemampuan membaca perubahan Sejarah . 

Refrensi

Komunis, Manifesto Partai, Karl Marx, and Friedrich Engles. 2009. Manifesto Partai Komunis. ed. Rowland Literatur.

Malaka, Tan. 2026. Naar De Republiek Indonesia Edisi Kritis 100 Tahun. ed. Zen RS.

Muddhofir, Abdil Mughis, and Rafiqa Qurrata A’yyun. 2024. “Darurat Aktivisme Borjuis.” Projcet Multatuli. https://projectmultatuli.org/darurat-aktivisme-borjuis/ .

Novianto, Arif, Yeremias T Keban, and Ari Hernawan. 2019. Mendorong Kerja Layak & Adil Bagi Pekerja Gig : Kajian Awal Tentang Ekonomi Gig Di Indonesia.

Pontoh, Coen Husain. 2026. “Syarat-Syarat Mewujudkan Revolusi.” Indoprogress. https://indoprogress.com/2026/06/syarat-syarat-mewujudkan-revolusi/

Wood, Ellen Meiksins. 2021. Asal-Usul Kapitalisme. 1st ed. ed. Alnick Nathan. Yogyakarta: Penerbit Independen.


Editor: Dhika Marcendy


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *