Pada Oktober 2025, ruang publik Indonesia diguncang oleh kontroversi yang melibatkan Trans Media, khususnya melalui program Xpose Uncensored di Trans7, dengan Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Pada Oktober 2025, ruang publik Indonesia diguncang oleh kontroversi yang melibatkan Trans Media, khususnya melalui program Xpose Uncensored di Trans7, dengan Pondok Pesantren (Ponpes) Lirboyo, Kediri. Tayangan tersebut diduga kuat telah menyinggung kehormatan Kiai Sepuh Lirboyo, KH Anwar Mansur, yang merupakan figur sentral dalam tradisi keulamaan Nahdlatul Ulama (NU). Kedudukan ulama tradisional yang dihormati ini memicu reaksi yang cepat dan meluas dari komunitas santri hingga masyarakat muslim.
Reaksi tersebut segera termanifestasi dalam seruan #BoikotTrans7 di media sosial, menunjukkan tingkat kemarahan dan solidaritas yang tinggi di kalangan umat. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Ansor Kediri bahkan turut mempersiapkan langkah hukum, menekankan betapa seriusnya pelanggaran moral dan kultural yang dirasakan.
Menghadapi mobilisasi massa yang mengancam legitimasi sosial dan bisnisnya, Trans7 dengan sigap merespons. Pada 15 Oktober 2025, Trans7 menyampaikan klarifikasi, mengajukan permohonan maaf resmi, dan melakukan tabayyun (konfirmasi dan dialog) kepada pimpinan Ponpes Lirboyo. Tindakan mitigasi risiko korporat ini berhasil meredakan konflik personal-kultural di permukaan.
Tesis Sentral: Biadabnya Oligarki Narasi
Insiden Lirboyo, meskipun terselesaikan secara formal melalui tabayyun, tidak dapat dipandang sebagai insiden redaksional biasa. Peristiwa ini merupakan ekses yang menunjukkan ‘biadabnya oligarki narasi’, sebuah sistem di mana kekuasaan media korporat digunakan untuk memanipulasi dan mengalihkan perhatian publik. Oligarki narasi, yang dibentuk oleh segelintir elite superkaya pemilik media, melindungi kepentingan ekonomi dan politik mereka dengan mendominasi diskursus publik, sebagaimana diuraikan dalam karya Jeffrey A. Winters tentang oligarki dan kekuasaan.
Tujuan utama laporan ini adalah menganalisis bagaimana mobilisasi emosi massa yang terpicu oleh isu kultural (penghinaan terhadap kiai) secara efektif difungsikan sebagai selubung naratif (smoke screen). Selubung ini bertujuan untuk menarik perhatian publik, menyedot energi kritik, dan mengalihkan fokus dari kejahatan ekonomi struktural yang sedang hangat, yaitu kasus-kasus ‘perampokan dana negara’ yang berskala triliunan rupiah. Analisis ini menempatkan keutamaan spiritual dan etika Islam sebagai kerangka kritik terhadap manipulasi publik ini.
Pilihan oligarki narasi untuk menargetkan atau menyinggung simbol spiritual sekelas Kiai Lirboyo menunjukkan pemahaman mendalam mereka terhadap psikologi massa dan hierarki nilai dalam masyarakat Indonesia. Kiai Lirboyo mewakili akar tradisi Islam Indonesia, memberikan legitimasi spiritual dan sosial yang tak tertandingi. Serangan terhadap simbol spiritual ini memicu kemarahan farḍu ‘ain (kewajiban universal) yang jauh lebih cepat dimobilisasi dan lebih kuat daripada kemarahan terhadap kejahatan fiskal yang bersifat kompleks dan abstrak.
Reaksi emosional massa yang tinggi ini, yang mencapai puncaknya dengan seruan boikot , dapat diredakan dengan cepat melalui permintaan maaf korporat yang diselubungi dengan mekanisme spiritual (seperti tabayyun). Mekanisme ini merupakan kalkulasi bisnis yang cerdik: meredakan konflik secepat mungkin dengan biaya moral yang relatif kecil, sehingga ruang publik yang lelah dan kosong siap untuk melupakan isu-isu struktural lain yang lebih penting. Dengan kata lain, oligarki media memanfaatkan energi spiritual umat untuk kepentingan defleksi politik.
Anatomi Oligarki Narasi: Kerangka Teoretis Oligarki
Oligarki narasi berakar pada penguasaan kekayaan yang diterjemahkan menjadi kekuasaan politik dan kontrol diskursif. Jeffrey A. Winters mendefinisikan oligarki sebagai kelas superkaya yang menggunakan kekuasaan mereka, termasuk melalui penguasaan media, untuk melindungi kekayaan mereka dari ancaman kebijakan negara atau tuntutan publik. Kebiadaban ini terlihat jelas ketika sumber daya yang seharusnya melayani kepentingan publik (seperti media penyiaran) justru digunakan untuk tujuan perlindungan kepentingan pribadi elite.
Ketika bisnis utama seorang oligark terancam, mereka akan menggunakan kerajaan media mereka sebagai senjata untuk meluncurkan kontra-narasi atau mengalihkan perhatian, sebagaimana yang digambarkan dalam contoh taipan media di Asia Tenggara yang menggunakan sumber daya medianya untuk memobilisasi protes politik demi melindungi kepentingan bisnisnya. Dengan demikian, media di bawah kendali oligarki bukanlah sekadar penyedia informasi yang bias, melainkan instrumen aktif dalam merusak keadilan publik.
Media Power sebagai Senjata Oligarki
Kasus Trans7 menegaskan temuan Ross Tapsell dalam Media Power in Indonesia: Oligarchs, Citizens and the Digital Revolution, yang menganalisis bagaimana taipan media di Indonesia mengkonsolidasikan kekuasaan naratif, bahkan di tengah revolusi digital. Trans Media, yang menaungi Trans7, adalah bagian dari CT Corp milik Chairul Tanjung. Kepemilikan silang ini memastikan bahwa liputan berita dan program editorial secara sistematis akan menghindari kritik yang dapat mengancam kepentingan finansial induk perusahaan atau afiliasi politiknya.
Mekanisme kontrol narasi yang digunakan untuk menciptakan pengalihan isu meliputi:
- Monopoli Emosi: Menciptakan atau memperkuat konten yang menghasilkan emosi tinggi dan viralitas instan (seperti insiden Xpose Uncensored ) untuk menyerap kapasitas kritik publik.
- Pengalihan Fokus: Menggeser perhatian publik dari isu substantif dan struktural (korupsi triliunan) ke konflik personal atau kultural yang lebih mudah didaur ulang sebagai konten.
Meskipun oligarki media mendominasi media tradisional, insiden Lirboyo menunjukkan adanya perlawanan yang signifikan. Boikot yang digencarkan oleh komunitas santri menunjukkan ketegangan antara dominasi oligarki yang terpusat dengan ‘kedaulatan warga’ yang terdistribusi di media digital. Mobilisasi counter-hegemonic ini memaksa korporasi untuk melakukan permintaan maaf, membuktikan bahwa meskipun oligarki berkuasa, ada titik sensitif spiritual dan sosial yang dapat digunakan publik untuk menuntut pertanggungjawaban.
Rusaknya Hifdz al-Aql
Salah satu dampak terparah dari dominasi oligarki narasi adalah kerusakan sistematis terhadap Hifdz al-Aql (menjaga nalar) yang merupakan salah satu tujuan utama (maqashid) dalam syariah. Media yang seharusnya berfungsi sebagai pencerah dan penjaga nalar publik, justru digunakan untuk membanjiri ruang publik dengan konflik yang memecah-belah dan manipulatif.
Oligarki narasi secara sengaja memprioritaskan konflik yang mudah dicerna dan sensasional, sehingga berita-berita ekonomi yang substansial dan rumit, yang membutuhkan nalar kritis tinggi, terpinggirkan. Hal ini menghalangi publik untuk menggunakan kemampuan analisis mereka terhadap masalah negara yang serius. Kebiadaban narasi ini terletak pada upaya sistematis mereka merusak kemampuan kolektif untuk berpikir jernih demi melindungi kepentingan ekonomi pribadi, sebuah kejahatan etis yang mendalam.
Hipotesis bahwa insiden Lirboyo berfungsi sebagai pengalihan isu diperkuat oleh data tentang kerugian negara berskala triliunan rupiah yang terjadi secara bersamaan pada periode Oktober 2025. Perhatian publik yang terkuras habis oleh krisis media versus pesantren menenggelamkan berita mengenai kejahatan ekonomi struktural.
Sebagai bukti kronologis, pada tanggal 15 Oktober 2025 tepat hari Trans7 menyampaikan permohonan maaf dan tabayyun kepada Ponpes Lirboyo Badan Koordinasi Pengawasan Tindak Pidana Korupsi (Kortastipidkor) mengumumkan kelanjutan pemeriksaan puluhan saksi dalam kasus dugaan korupsi PLTU Kalimantan Barat. Kerugian negara yang diestimasi dalam kasus ini mencapai nilai signifikan USD 62.410.523, atau setara dengan Rp 1,3 triliun. Skala kejahatan yang melibatkan tokoh-tokoh tinggi dan kerabat elite ini gagal mendapat sorotan media yang proporsional karena fokus naratif terpusat pada resolusi konflik kultural.
Selain kasus PLTU, kerugian negara akibat korupsi menunjukkan tingkat yang kronis dan masif sepanjang tahun 2025. Misalnya, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) pada Januari 2025 melaporkan keberhasilan penyelamatan potensi kerugian negara sebanyak Rp 6,7 triliun terkait kasus korupsi tata niaga timah. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) juga mencatat bahwa kerugian negara akibat korupsi terus meningkat signifikan setiap tahunnya, menekankan betapa struktural dan daruratnya masalah perampokan dana publik ini.
Analisis Jukstaposisi Kronologis
Analisis jukstaposisi (perbandingan kronologis) menunjukkan secara jelas bagaimana konflik emosional yang intensif menyediakan buffer naratif yang sempurna bagi perkembangan kasus-kasus korupsi yang seharusnya mendominasi halaman depan.
Linimasa Komparasi: Media Chaos vs Kerugian Negara (Oktober 2025)
| Tanggal Kritis | Insiden Lirboyo (Narasi Sensasional) | Skandal Korupsi Negara (Narasi Substantif) | Analisis Dampak Defleksi |
|---|---|---|---|
| Awal Oktober 2025 | Seruan #BoikotTrans7 menguat pasca tayangan Xpose Uncensored menyinggung Kiai Lirboyo. | Dorongan pemulihan kerugian negara akibat korupsi tambang. BPK/KPK menghitung kerugian kasus korupsi kuota haji. | Energi emosi publik diarahkan sepenuhnya pada isu kultural, mengalahkan urgensi isu ekonomi. |
| Rabu, 15 Oktober 2025 | Trans7 secara resmi minta maaf dan melakukan tabayyun ke Ponpes Lirboyo. Berita ini mendominasi trending topic. | Kortastipidkor mengumumkan pemeriksaan puluhan saksi dalam kasus korupsi PLTU Kalbar (Kerugian Rp 1.3 triliun). | Titik krisis narasi: Keberhasilan resolusi konflik media yang mudah (apology) secara efektif menenggelamkan perkembangan kritis kasus kejahatan ekonomi yang bernilai triliunan. |
| Sepanjang 2025 | Isu terkait media dan pesantren terus diperdebatkan dan dikritik, tetapi perlahan mereda. | Kerugian dan penyelamatan dana skala triliunan (timah, PLTU) terus terjadi, menunjukkan sifat korupsi yang masif dan terstruktur. | Perampokan dana skala besar terus berlangsung di bawah bayangan konflik media yang terpusat. |
Kerusakan Nalar Publik
Oligarki narasi mengeksploitasi perbedaan antara sifat kejahatan. Mereka berhasil membuat kejahatan ekonomi struktural tampak impersonal (hanya berupa statistik triliunan rupiah), sementara menciptakan konflik personal yang intens dan mudah dipahami (penghinaan terhadap figur yang dihormati).
Publik lebih cepat memobilisasi kemarahan kolektif terhadap serangan personal terhadap kiai yang disucikan, daripada terhadap kerugian negara USD 62 juta yang dirasakan abstrak dan melibatkan sistem yang rumit. Dengan mempersonalisasi konflik (Chairul Tanjung vs Kiai Lirboyo), oligarki narasi secara sistematis mengaburkan kejahatan sistemik yang jauh lebih merusak. Kerugian terparah dari defleksi ini adalah hilangnya kemampuan kolektif untuk memprotes kerugian negara secara terstruktur dan berkelanjutan, karena perhatian telah habis terserap oleh konflik yang sudah diselesaikan.
Untuk mengkritik kebiadaban narasi ini, diperlukan landasan etika politik Islam. Pemikiran Nurcholish Madjid (Cak Nur) sangat relevan di sini. Cak Nur menegaskan bahwa kehidupan politik harus dipandang sebagai bagian dari ‘ibadah’, sebuah praktik yang harus konsisten berlandaskan akhlak mulia dan nilai-nilai keagamaan yang tinggi.
Landasan moral etika politik menurut Cak Nur adalah penegakan prinsip moral kemanusiaan dan keadilan, khususnya dalam mewujudkan egalitarianisme. Dari perspektif ini, perampokan dana negara yang ditutupi oleh manipulasi media adalah bentuk pengkhianatan spiritual dan antitesis total terhadap keadilan yang diperjuangkan oleh etika Islam. Ketika kekuasaan media digunakan untuk melindungi elite yang merampok, politik berubah dari ibadah menjadi fasad (perusakan).
Korupsi skala triliunan yang terus terjadi secara struktural (PLTU, timah) menciptakan fasad di muka bumi. Kerusakan ini meluas karena menghambat mashlahah (kemaslahatan umum), merusak kepercayaan publik, dan menyebabkan kemiskinan struktural. Kejahatan ini jauh melampaui insiden penghinaan personal yang dapat diselesaikan dengan tabayyun.
Tabayyun Korporat dan Ghasab Struktural
Penggunaan instrumen tabayyun oleh Trans7 untuk meredam kemarahan massa adalah contoh sempurna bagaimana kosakata moralitas tinggi dapat ditukar dengan kalkulasi mitigasi risiko korporat. Tabayyun yang bersifat akhlaki (penyelesaian konflik personal) digunakan sebagai pengalih perhatian dari ghasab (perampasan) yang bersifat struktural dan bernilai triliunan.
Masyarakat spiritual harus meningkatkan kesadaran terhadap bahaya ini. Jihad kontemporer tidak hanya terbatas pada mempertahankan agama dari invasi fisik, tetapi juga ‘jihad nalar’ perlawanan terhadap invasi naratif yang bertujuan mencuri harta publik (hifdz al-mal) dan merusak nalar kolektif (hifdz al-aql). Menuntut keadilan substantif yang diajukan oleh etika politik Cak Nur adalah tugas spiritual tertinggi dalam menghadapi oligarki narasi.
Insiden Trans Media/Lirboyo pada Oktober 2025 adalah studi kasus yang memperlihatkan keahlian oligarki narasi dalam menciptakan kegaduhan kultural yang intens dan mudah dikelola, sehingga berita-berita krusial mengenai perampokan dana negara (kasus PLTU Rp 1,3 T dan timah Rp 6,7 T) terpinggirkan. Oligarki berhasil menukarkan fokus publik dari akuntabilitas finansial berskala triliunan menjadi konflik emosional yang berujung pada permintaan maaf formal. Kesimpulannya, tugas komunitas intelektual dan spiritual kontemporer adalah menolak defleksi yang ditawarkan oleh oligarki, dan mengalihkan fokus dari tabayyun personal ke tuntutan terhadap keadilan struktural yang terampas. Pengkhianatan spiritual terbesar bukan hanya terletak pada konten media yang tidak sopan, melainkan pada sistem yang memungkinkan triliunan dana publik dicuri di bawah bayangan konflik-konflik artifisial.
Editor: Ivo Trias Julianno
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








