Mohammad Hatta Mungkin Sudah Mundur Minggu Lalu

Penulis

Jika Mohammad Hatta adalah Wakil Presiden Indonesia hari ini, mungkin dia sudah menyusun surat pengunduran dirinya minggu lalu. Bukan karena skandal pribadi, bukan karena tekanan politik, tapi karena hal yang lebih jarang kita temui dalam kepemimpinan modern: kejujuran pada hati nurani. 

Dia akan datang ke Istana Negara seperti biasa, berjalan pelan, menyapa ajudan dengan senyumnya yang tidak pernah berubah sejak 1945. Namun, kali ini tanpa map presentasi, tanpa berkas proyek strategis, tanpa ide untuk transformasi digital atau industri nikel. Dia hanya membawa satu lembar kertas. 

Isinya sederhana:

“Saya tidak bisa mendampingi kekuasaan yang tidak lagi mendengarkan suara rakyat.”

Lalu dia pamit. 

Tanpa drama. Tanpa jumpa pers. Tanpa narasi pencitraan. Hanya integritas yang terasa janggal di zaman ini. 

Kalau Hatta ada hari ini, dia akan sangat kesepian di dalam pemerintahan. Demokrasi yang dibelanya dengan penuh keyakinan barangkali hanya menjadi dekorasi di latar belakang konferensi pers. Prinsip-prinsip yang dia tegakkan bisa dianggap terlalu idealis, bahkan dianggap sebagai ancaman bagi stabilitas. 

Sebab bagi Bung Hatta, demokrasi bukan sekadar pemilu lima tahunan. Demokrasi adalah keterbukaan, kesederajatan, dan kebebasan yang berjalan sepanjang hari, setiap hari. Namun apa yang akan dia temui hari ini? Rapat-rapat yang disusun untuk menyetujui, bukan untuk berdebat dan berdiskusi. Lembaga-lembaga yang dikendalikan bukan dengan prinsip, tapi dengan perintah. Kritik dianggap makar, perbedaan dianggap gangguan.

Jika dia mengkritik kebijakan yang terlalu berpihak pada investor dan terlalu menyisihkan petani dan buruh, dia akan disebut ‘tidak paham geopolitik modern’. Jika dia mempertanyakan hilangnya peran rakyat dalam proses pembangunan, dia akan dilabeli ‘tidak tertib’. Jika dia bertanya kenapa presiden bisa semaunya sendiri mengganti sistem pemilu atau mencalonkan kerabat, dia akan disuruh ‘ikut arus saja’.

baca juga:
–Gerakan Buruh di Awal Kemerdekaan: Antara Aksi Langsung dan Swakelola
–Bagaimana Adam Smith Memandang Pendidikan?

Namun Bung Hatta bukan orang yang bisa diajak ikut arus. Kita tahu itu. Dia pernah menolak banyak jabatan yang ditawarkan. Dia pernah menulis esai panjang tentang mengapa dia memilih tidak menikah dulu, karena Indonesia yang diperjuangkannya seumur hidupnya belum merdeka. Dan dia pernah mundur dari jabatan wakil presiden karena tidak mau jadi pelengkap penderita dalam sistem yang kian menjauh dari nilai-nilai republik.

Bayangkan jika hari ini dia masih di jabatan yang sama. Melihat demokrasi dijalankan dengan buzzer. Menyaksikan pemilihan umum disusun seperti festival sponsor. Menyaksikan hukum menjadi alat untuk menyingkirkan lawan, bukan melindungi keadilan. 

Mungkin dia hanya akan berkata pendek dalam rapat kabinet:

“Ini bukan republik yang kita bangun.”

Lalu diam.

Sebab tidak ada yang betul-betul ingin menjawab.

Dia akan muak melihat angka-angka pertumbuhan ekonomi diumumkan dengan senyum puas, padahal di bawahnya jutaan rakyat digerus utang dan upah murah. Dia akan geli melihat pemimpin sibuk mengganti logo, jargon, dan pakaian, tapi tak pernah mengganti cara mereka memperlakukan rakyat. Di negeri yang katanya demokratis ini, suara dibeli, kritik dibungkam, dan janji tinggal perayaan tanpa pertanggungjawaban. Bung Hatta tak akan tahan hidup di dalam sandiwara yang mengatasnamakan rakyat tapi memerankan oligarki.

Orang akan bertanya: mengapa Bung Hatta mundur? Dan jawabannya justru terletak di pertanyaan itu sendiri. Di negara yang sehat, orang bertanya: mengapa pemimpin tetap bertahan. Namun di negeri ini, ketika pemimpin mundur karena prinsip, kita malah bingung.

Mundurnya Hatta akan menjadi berita besar sehari, lalu dikaburkan oleh berita insiden selebritas. Tidak ada yang sungguh-sungguh membaca isi suratnya. Dia akan diundang ke acara podcast, ditanya mengapa tidak menempuh jalur komunikasi internal saja. Dia akan dijadikan mim oleh warganet, disebut terlalu baper atau ketinggalan zaman.

Padahal sebenarnya, kita yang sudah jauh tertinggal dari pemikiran Bung Hatta. 

Hari ini, demokrasi kita masih tampak meriah dari luar. Namun seperti gedung yang hanya dicat bagian depannya saja, tiang-tiang di dalamnya keropos. Bung Hatta tidak akan sanggup pura-pura. Dia tidak bisa berpura-pura tersenyum di peringatan Hari Demokrasi, sementara suara rakyat hanya menjadi formalitas. 

Jika Bung Hatta hari ini adalah wakil presiden, dia mungkin hanya akan bertahan sebentar. Namun dia tidak akan diam. Dia akan mundur sambil berkata: “Saya percaya pada rakyat. Tapi saya tidak bisa terus berdiri di tengah sistem yang tidak lagi percaya pada mereka.”

Dan ketika dia pergi, mungkin yang tersisa hanyalah pertanyaan yang tak bisa kita semua jawab: “Apa yang sebenarnya kita pertahankan. Demokrasi atau kekuasaan?”


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *