Thorfinn dan Krisis Manusia Modern: Dari Balas Dendam Menuju Makna Hidup

Penulis

Vinland Saga dan Potret Kehampaan Manusia Modern 

Ada satu hal menarik ketika menonton Vinland Saga: anime ini terasa seperti sedang membicarakan manusia modern, meskipun latarnya berada di era Viking ribuan tahun lalu. Di permukaan, Vinland Saga memang dipenuhi perang, pembunuhan, dan perebutan kekuasaan. Namun semakin jauh ceritanya berjalan, yang terasa justru bukan soal aksi pertarungannya, melainkan kehampaan hidup para karakternya.

Saya pikir itulah alasan mengapa banyak orang merasa dekat dengan perjalanan Thorfinn. Ia bukan sekadar tokoh anime yang ingin membalas dendam atas kematian ayahnya. Ia adalah gambaran manusia yang kehilangan arah hidup, lalu berusaha mencari makna setelah hidupnya dipenuhi kebencian. Dan kalau dipikir-pikir, krisis seperti itu tidak jauh berbeda dengan apa yang dialami manusia sekarang.

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Orang berlomba mencari uang, pengakuan, jabatan, atau validasi sosial. Media sosial membuat semua orang tampak sibuk mengejar sesuatu. Namun di balik itu, banyak orang justru merasa kosong. Ada yang terlihat berhasil tetapi tidak tahu lagi mengapa ia bekerja terlalu keras. Ada yang terus marah pada dunia tanpa benar-benar memahami sumber kemarahannya. Ada pula yang hidup hanya untuk membuktikan sesuatu kepada orang lain. Dalam kondisi seperti itu, perjalanan Thorfinn terasa sangat relevan.

Hidup dalam Bayang-Bayang Dendam: Kehilangan Diri dan Identitas 

Pada awal cerita, Thorfinn hidup hanya untuk membalas dendam kepada Askeladd, orang yang membunuh ayahnya, Thors. Setelah peristiwa itu, hidup Thorfinn praktis berhenti berkembang. Ia tumbuh di medan perang, belajar membunuh sejak kecil, dan menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk memelihara amarah. Dalam banyak adegan, kita bisa melihat bahwa Thorfinn sebenarnya tidak benar-benar hidup. Ia hanya bergerak mengikuti luka masa lalunya.

Hal itu terlihat jelas dalam Vinland Saga Season 1 Episode 6, sekitar menit 15–18, ketika Thors mengatakan bahwa “seorang pejuang sejati tidak membutuhkan pedang.” Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi justru menjadi inti dari seluruh perjalanan Thorfinn. Ironisnya, Thorfinn baru memahami makna perkataan ayahnya setelah ia terlalu lama tenggelam dalam kekerasan.

Di titik ini, Vinland Saga terasa sangat dekat dengan persoalan manusia modern. Banyak orang sebenarnya hidup dalam “balas dendam” versi mereka sendiri. Tidak selalu berupa keinginan membunuh seseorang, tetapi bisa berbentuk ambisi yang lahir dari luka. Ada orang yang bekerja mati-matian karena ingin diakui. Ada yang terus membenci kelompok tertentu karena pengalaman masa lalu. Ada pula yang hidup hanya untuk membuktikan bahwa dirinya lebih baik dari orang-orang yang pernah meremehkannya.

Masalahnya, hidup yang digerakkan oleh kebencian biasanya tidak pernah benar-benar memberi ketenangan. Itulah yang terjadi pada Thorfinn. Ketika Askeladd akhirnya mati bukan di tangannya, seluruh tujuan hidupnya runtuh begitu saja. Adegan di akhir Season 1 memperlihatkan Thorfinn seperti kehilangan identitas. Ia marah, kosong, dan tidak tahu lagi harus hidup untuk apa. Selama ini ia mengira bahwa membunuh Askeladd akan menyelesaikan semuanya. Namun kenyataannya tidak demikian.

Eksistensialisme dan Pencarian Makna: Membaca Perjalanan Thorfinn 

Pengalaman itu mengingatkan saya pada gagasan Jean-Paul Sartre tentang eksistensialisme. Sartre percaya bahwa manusia tidak dilahirkan dengan makna hidup yang sudah jadi. Manusia harus menciptakan sendiri makna hidupnya melalui pilihan-pilihannya. Masalahnya, banyak orang justru menyerahkan hidupnya pada trauma, tekanan sosial, atau kebencian. Akibatnya, mereka kehilangan kebebasan untuk menentukan dirinya sendiri.

Thorfinn mengalami situasi itu. Selama bertahun-tahun, ia tidak hidup sebagai dirinya sendiri. Ia hidup sebagai bayangan dendamnya. Bahkan ketika perang selesai, ia tetap tidak menemukan kedamaian. Di sinilah Vinland Saga mulai berubah dari anime perang menjadi refleksi tentang manusia.

Perubahan terbesar Thorfinn terjadi dalam Season 2, terutama ketika ia menjadi budak di ladang milik Ketil. Tidak ada lagi peperangan besar atau duel spektakuler seperti musim pertama. Justru di situlah anime ini terasa lebih dalam. Thorfinn mulai dipaksa menghadapi dirinya sendiri. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia tidak bisa lari ke medan perang untuk melupakan rasa bersalahnya.

Trauma, Kekerasan, dan Hilangnya Kemanusiaan 

Salah satu adegan paling kuat muncul di Season 2 Episode 9, sekitar menit 17–20. Dalam mimpi buruknya, Thorfinn melihat tumpukan mayat orang-orang yang pernah ia bunuh. Ia jatuh ke dalam jurang penuh korban perang sambil terus dihantui rasa bersalah. Adegan itu bukan hanya soal trauma pribadi, tetapi juga kritik terhadap dehumanisasi.

Perang membuat manusia terbiasa melihat orang lain sebagai musuh, bukan sebagai sesama manusia. Dan kalau dipikir-pikir, kondisi seperti itu masih terjadi sampai sekarang. Bedanya, kekerasan modern tidak selalu berbentuk perang fisik. Kadang ia hadir dalam bentuk ujaran kebencian, perundungan digital, fanatisme politik, atau hilangnya empati terhadap orang yang berbeda pandangan.

Media sosial memperlihatkan hal itu setiap hari. Orang bisa saling menghina hanya karena perbedaan pilihan politik atau selera budaya. Tidak sedikit yang merasa puas ketika orang lain dipermalukan di ruang publik digital. Dalam situasi seperti itu, manusia perlahan kehilangan kemampuan untuk melihat orang lain sebagai manusia utuh. Mereka hanya dilihat sebagai lawan, angka, atau objek pelampiasan emosi.

Vinland Saga mencoba melawan cara pandang semacam itu. Anime ini tidak memuliakan kekerasan meskipun dipenuhi adegan perang. Justru sebaliknya, ia memperlihatkan dampak panjang dari kekerasan terhadap kondisi batin manusia. Thorfinn mungkin berhasil bertahan hidup di medan perang, tetapi jiwanya perlahan hancur.

Yang menarik, perubahan Thorfinn tidak terjadi secara instan. Ia tidak tiba-tiba menjadi orang baik setelah menyadari kesalahannya. Ia tetap membawa trauma dan rasa bersalah. Namun sedikit demi sedikit, ia mulai memahami bahwa hidup tidak harus dijalani dengan kebencian.

“Aku Tidak Punya Musuh”: Menjadi Manusia di Dunia yang Keras

Puncaknya terlihat dalam Season 2 Episode 22 sekitar menit 12–14 ketika Thorfinn mengatakan, “Aku tidak punya musuh.” Kalimat itu mungkin terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sangat radikal. Di dunia yang dipenuhi perang dan balas dendam, memilih untuk tidak membenci adalah tindakan yang sulit.

Kalimat itu terasa relevan dengan kondisi masyarakat hari ini. Kita hidup di era ketika orang mudah sekali mencari musuh. Politik sering dibangun di atas polarisasi. Media sosial memberi ruang besar bagi kemarahan. Bahkan kadang orang lebih cepat menghakimi daripada mencoba memahami.

Dalam konteks Indonesia, situasi seperti itu juga cukup terasa. Perbedaan pilihan politik, agama, atau identitas sosial sering berubah menjadi permusuhan berkepanjangan. Orang lebih nyaman hidup dalam kelompoknya sendiri sambil memandang kelompok lain dengan curiga. Akibatnya, ruang publik dipenuhi kebisingan, tetapi miskin empati.

Melalui perjalanan Thorfinn, Vinland Saga seperti sedang mengingatkan bahwa kebencian tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun. Balas dendam mungkin memberi kepuasan sesaat, tetapi jarang memberi makna hidup yang utuh. Justru ketika manusia mampu keluar dari lingkaran kebencian, di situlah kemungkinan untuk menjadi manusia yang lebih baik mulai muncul.

Hal lain yang membuat Vinland Saga terasa kuat adalah karena anime ini tidak menawarkan harapan secara berlebihan. Dunia dalam cerita itu tetap keras. Kekerasan tetap ada. Ketidakadilan tetap terjadi. Namun di tengah situasi tersebut, manusia masih punya pilihan untuk menentukan dirinya sendiri.

Itulah yang membuat perjalanan Thorfinn terasa sangat manusiawi. Ia tidak berubah menjadi pahlawan sempurna. Ia hanya seseorang yang lelah hidup dalam kebencian dan mencoba mencari cara lain untuk menjalani hidupnya. Dan mungkin, banyak orang modern diam-diam mengalami hal yang sama.

Di tengah tekanan hidup, persaingan sosial, dan dunia yang semakin bising, manusia sering kehilangan hubungan dengan dirinya sendiri. Mereka sibuk bertahan hidup sampai lupa bertanya: sebenarnya untuk apa semua ini dijalani?

Vinland Saga tidak memberi jawaban pasti atas pertanyaan itu. Tetapi anime ini setidaknya menawarkan satu kemungkinan: bahwa makna hidup mungkin tidak ditemukan melalui kemenangan atas orang lain, melainkan melalui keberanian untuk memahami diri sendiri dan tetap menjaga kemanusiaan di tengah dunia yang keras.

Mungkin karena itulah perjalanan Thorfinn terasa membekas bagi banyak penonton. Bukan karena ia karakter terkuat, tetapi karena ia memperlihatkan sesuatu yang jarang dibicarakan dalam budaya populer: bahwa menjadi manusia jauh lebih sulit daripada sekadar menjadi pemenang.

Referensi

“Existentialism.” Encyclopaedia Britannica. Britannica – Existentialism

“The Philosophy of Vinland Saga’s Thorfinn Karlsefni.” The Boar, 12 Desember 2022. The Boar – The Philosophy of Vinland Saga’s Thorfinn Karlsefni

Internet Encyclopedia of Philosophy. (n.d.). Albert Camus. Internet Encyclopedia of Philosophy – Albert Camus

Stanford Encyclopedia of Philosophy. (2023). Existentialism. Stanford University. Stanford Encyclopedia of Philosophy – Existentialism

Universitas Brawijaya. (2024). Filosofi eksistensial Jean-Paul Sartre pada karakter Thorfinn dalam anime Vinland Saga. Repository Universitas Brawijaya. Repository Universitas Brawijaya – Eksistensialisme Thorfinn

Yabushita, M. (2023). “Compassion Is What Makes a True Warrior in Vinland Saga.” Crunchyroll News, 16 April 2023. Crunchyroll – Compassion Is What Makes a True Warrior in Vinland Saga


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *