Membedah Alienasi Budaya Weton di Tengah Dominasi Zodiak dan Tarot dalam Perspektif Generasi Z

Penulis

Disclaimer: Pembahasan dalam artikel ini difokuskan pada sistem weton dalam lingkup kebudayaan masyarakat Jawa sebagai studi kasus alienasi budaya. Penulis memosisikan narasi Zodiak dan Tarot dalam tulisan ini murni sebagai variabel pembanding, bukan sebagai fokus utama pembahasan.

Kehadiran gawai digital di genggaman hari ini telah mengubah cara kita memandang spiritualitas dan orientasi masa depan. Pergeseran ini menciptakan jarak generasi yang nyata dalam mencari pegangan hidup. Jika dahulu kakek-nenek kita sibuk menghitung hari lahir (weton) untuk menentukan langkah hidup, mulai dari urusan jodoh hingga waktu yang pas untuk membangun rumah, kini generasi muda lebih akrab dengan praktik kartu Tarot atau ramalan Zodiak yang berseliweran di timeline media sosial.

Alienasi atau keterasingan budaya ini terjadi karena dua konsekuensi kemungkinan. Pertama, dari eksternal masyarakat, kapitalisme digital Barat telah melakukan kolonialisasi terhadap cara kita memandang nasib melalui estetika Zodiak ataupun Tarot. Kedua, dari internal masyarakat sendiri, terjadi kegagalan dalam menterjemahkan filosofi weton ke dalam bahasa zaman. Weton menjadi asing karena ia dibiarkan tetap menjadi ‘bahasa tua’ yang rigid, sementara dunia di luar sana bergerak dengan bahasa visual yang cair serta inklusif. Ketidakmampuan kita untuk menjembatani ini adalah akar dari keterasingan budaya tersebut. 

Fenomena ini bukan sekadar tren musiman yang mondar-mandir begitu saja, melainkan sebuah bentuk nyata dari alienasi budaya masyarakat Jawa yang sistematis. Alienasi ini bukan hanya berdampak pada hilangnya minat, melainkan proses di mana masyarakat Jawa, sebagai pemilik “asli” budaya weton, merasa asing dan tidak berdaya (powerless) di hadapan standarisasi spiritualitas global. Kita sedang melihat sebuah kondisi di mana weton tidak lagi memiliki ruang resonansi di kepala pemiliknya sendiri, tergantikan oleh narasi asing yang dianggap lebih memiliki ‘nilai jual’ sosial.

Hal ini terjadi karena pengaruh westernisasi yang masif, yang secara halus mendikte standar “keren” dalam pergaulan sosial. Kita merasa jauh lebih intelektual dan modern ketika membicarakan istilah-istilah seperti sun sign, moon sign, atau The Magician di media sosial daripada hitungan hari lahir yang dianggap sisa-sisa masa lalu. Sementara itu, pembahasan mengenai weton acapkali dianggap ndeso, rigid, dan hanya merujuk pada hal mistis yang menakutkan atau berbau klenik.

Mengapa budaya Tarot dan Zodiak dianggap lebih “superior” dan keren dibandingkan weton yang jelas-jelas berangkat dari rahim kebudayaan masyarakat Jawa sendiri? 

Rebranding Mistisisme: Rahasia di Balik Kemasan Estetik

Nyatanya, ketertarikan ini bukan tanpa alasan. Budaya Barat, melalui kapitalisme industrinya, lebih berhasil melakukan rebranding terhadap mistisisme. Keberhasilan tersebut menjadi suatu produk budaya yang sekilas terasa “keren”, “estetik”, dan applicable melalui kemasan visual yang unik di media sosial. Bahkan, kepopuleran ini tak lepas dari peran content creator yang berhasil memonetisasi mistisisme Barat ke dalam ekosistem digital yang modern.

Menilik dari sisi psikologi, hal ini terjadi karena budaya Barat mampu mengemas hal-hal yang bersifat metafisika ke dalam narasi psikologi populer yang sangat dekat dengan selera generasi digital. Zodiak tak lagi dipandang sebagai ramalan bintang semata, melainkan alat bedah kepribadian yang dibungkus dengan istilah-istilah medis-psikologis yang tampak masuk akal.

Sebaliknya, budaya lokal seperti weton seringkali mengalami stigmatisasi sebagai sebuah praktik budaya tradisional yang dibiarkan terbungkus dengan cara- cara lama yang dianggap tak lagi relevan dengan napas zaman.

Penelitian Pradipta dan Stark (2025) dalam jurnal e-BANGI menemukan bahwa masyarakat urban Indonesia cenderung lebih menerima praktik esoterik modern seperti Tarot, meskipun pada saat yang sama memiliki persepsi negatif terhadap praktik tradisional seperti dukun. Hal ini terjadi karena praktisi Tarot berhasil melakukan rebranding diri melalui media sosial dengan mengadopsi spiritualitas New Age yang terasa lebih modern. Ketimpangan citra inilah yang menyebabkan weton terasingkan di tanah airnya sendiri.

Mengapa Gen Z Beralih ke Tarot?

Berangkat dari perspektif Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, penelitian lapangan dilakukan terhadap lima belas informan dari berbagai latar belakang disiplin ilmu—mulai dari Ilmu Hukum, Ilmu Komunikasi, Sastra Jepang, hingga Vokasi, hal ini menunjukkan motif yang sangat beragam pula. Rahma dan Nadien, misalnya, melihat Tarot bukan sebagai bentuk ramalan gaib, melainkan sebagai alat bantu psikologis dan ruang refleksi diri yang memberikan validasi emosional terhadap dinamika kehidupan mereka sehari-hari. Kemudahan akses digital dan banyaknya influencer yang mempromosikan kartu Tarot membuat praktik ini terasa lebih inklusif.

Di pihak lain, weton justru mengalami penyangkalan keras oleh informan seperti Warda dan Ainun. Mereka menginterpretasikan weton sebagai mitos kolot yang hanya membatasi kebebasan individu dalam menentukan pilihan hidup. Ada ketakutan bahwa jika weton tidak cocok, maka masa depan akan suram—sebuah narasi yang tidak mereka temukan dalam fleksibilitas Zodiak.

Ketimpangan ini pun digarisbawahi oleh pendapat Zahid, yang menyoroti bahwa Tarot lebih mudah diterima Gen Z karena aksesnya luas dan visualnya yang menggoda mata, berbeda dengan weton yang terkesan lebih berat karena melibatkan hitungan matematika Jawa yang rumit.

Kecenderungan ini semakin diperkuat oleh temuan dalam Gunung Djati Conference Series (2023) dari UIN Sunan Gunung Djati. Penelitian Pratama dkk. (2023) mencatat bahwa kepercayaan terhadap zodiak di kalangan remaja Indonesia meningkat karena pengaruh lingkungan digital yang masif. Zodiak memberikan jawaban cepat bagi kecemasan mereka, sementara weton memerlukan proses belajar dan pemahaman konteks budaya yang lebih dalam.

Ilmu Titen: Data Sains Tradisional yang Terlupakan

Namun, jika kita mau menyingkap gemerlap estetika Barat tersebut, tersimpan sebuah “niskala logika” yang sering kali kita abaikan akibat terputusnya rantai informasi antargenerasi.

Sistem weton sendiri, sebenarnya merupakan bentuk kecerdasan lokal yang sangat logis dan sarat akan etika sosial. Alasan di balik mengapa budaya ini sering dicap tak masuk akal adalah karena penyampaiannya yang menggunakan bahasa simbolisme sering kali tidak tuntas tersampaikan ke generasi muda. Artinya, orang-orang hanya mematuhi larangan yang dicetuskan dengan dalil-dalil yang berhubungan ke ranah magis, tanpa mengetahui alasan rasional mengapa larangan tersebut dibuat oleh para leluhur.

Realitasnya, weton adalah sebuah perwujudan dari ilmu titen, yaitu sebuah metode empiris berbasis pengamatan pola perilaku alam dan manusia selama berabad-abad yang menyerupai statistika karakter.

Muhsinin dkk. (2024) dalam Jurnal Plano Buana mendefinisikan ilmu titen sebagai kearifan lokal berupa kekayaan intelektual tradisional suku Jawa, yang berasal dari kata “niteni” yang berarti “mengamati”. Sementara itu, Tamam dkk. (2025) dalam Jurnal Hukum Islam UIN Suska Riau menjelaskan bahwa ilmu titen adalah metode berbasis kebiasaan dan observasi terhadap peristiwa masa lalu (niteni) yang digunakan untuk menentukan waktu yang tepat bagi peristiwa penting.

Jika ditarik dalam konteks modern, ilmu titen sebenarnya bekerja layaknya sebuah “data sains”, tetapi versi tradisional. Para leluhur mencatat kecenderungan sifat seseorang berdasarkan waktu lahirnya dan menemukan pola yang berulang secara konsisten.

Pernyataan ini sejalan dengan kacamata “filosofis” Alendra, seorang mahasiswa S2 Hukum Universitas Brawijaya, yang menyatakan bahwa weton memiliki dasar filosofis mendalam yang tak boleh dimaknai secara harfiah semata. Sebagai contoh, mitos larangan “jangan duduk di depan pintu, nanti jodohnya macet”. Sebenarnya, secara rasional ini merujuk pada aturan etika agar tidak menghalangi akses jalan serta menjaga kesopanan di ruang publik agar tidak mengganggu pandangan orang lain yang lewat.

Begitu pula dengan Salsa yang melihat weton sebagai cara membaca kepribadian yang cukup akurat jika dipelajari secara serius. Sebagai contoh, karakter Presiden Jokowi yang lahir pada Rabu Pon digambarkan dalam sistem weton sebagai “Laku ning Rembulan” yang secara filosofis berarti memiliki karakter yang menyejukkan dan mampu mengayomi. Penjelasan semacam ini sebenarnya bukan hasil sihir atau klenik, melainkan kristalisasi dari pengamatan pola perilaku manusia yang sudah dibuktikan lewat berbagai literatur kebudayaan.

Bahkan jika diteliti lebih dalam, cara Nadien membaca karakter orang lewat kartu Tarot sebenarnya memiliki prinsip yang mirip dengan cara weton bekerja: sama-sama melihat pola sifat manusia berdasarkan simbol-simbol tertentu. Perbedaannya hanya terletak pada kemasan: yang satu menggunakan kartu bergambar estetik, yang lain menggunakan penanggalan kosmik lokal.

Penutup: Kedaulatan Berpikir di Tengah Gempuran Budaya Global

Kita sedang berada di titik di mana identitas budaya kita mulai luntur karena rasa rendah diri (inferiority complex) terhadap produk Barat. Jadi, kalau kita ingin membedah maknanya, weton itu sebenarnya adalah warisan kecerdasan yang sangat masuk akal.

Ernando dkk. (2025) dalam Brawijaya Journal of Social Science mengingatkan bahwa alienasi, dalam hal ini alienasi budaya—ditandai oleh dua hal: ketidakberdayaan (powerlessness) dan ketidakberarti (meaninglessness). Ketika generasi muda merasa tidak berdaya terhadap arus global dan menganggap weton “tidak berarti”, di situlah alienasi budaya terjadi secara sistematis.

Menghargai weton bukan berarti kita menjadi “orang kuno” yang anti terhadap modernitas. Sebaliknya, menghargai weton berarti kita sedang menghargai cara unik orang Jawa dalam memahami kerumitan sifat manusia yang ternyata tak kalah presisi dengan Zodiak atau Tarot. Ada kedalaman epistemologis dalam weton yang tak dimiliki oleh ramalan harian di media sosial yang sering kali hanya bersifat permukaan.

Pada akhirnya, fenomena alienasi ini harus mengingatkan kita semua bahwa menjadi modern bukan berarti harus melupakan jati diri dan membuang warisan intelektual bangsa. Zodiak dan Tarot memang terlihat menarik karena branding-nya yang sangat kuat di ekosistem digital, tetapi weton punya kedalaman makna yang lebih dekat dengan DNA sosial kita sebagai masyarakat Indonesia sendiri.

Sebagai refleksi akhir, penulis menekankan sebuah kegelisahan jangan sampai kita menjadi generasi yang sangat fasih membicarakan rasi bintang  di langit Barat, tetapi malah gagap dan malu mengakui warisan kecerdasan leluhur sendiri.  Kita bisa tetap mengikuti perkembangan zaman tanpa harus menjadi asing di rumah sendiri. Mengakui weton adalah bentuk kedaulatan berpikir, yang berarti keberanian untuk tidak sekadar menelan mentah-mentah tren spiritualitas global. Ia menuntut kita untuk bersikap kritis: jika kita bisa menerima logika pola bintang dalam Zodiak, mengapa kita harus menutup mata pada logika pola perilaku dalam Weton? Kedaulatan ini bukan berarti menutup diri dari Tarot, melainkan menempatkan Weton sebagai alat yang setara, sebuah “data sains” lokal yang memiliki kedalaman epistemologis yang sama kuatnya. 

Referensi

Ernando, G. A., Susilo, A. T. H., & Kholifah, S. (2025). Alienasi masyarakat lokal dalam pengambilan keputusan terkait desa wisata Osing Kemiren. Brawijaya Journal of Social Science, 5(1). https://doi.org/10.21776/ub.bjss.2025.005.01.5

Muhsinin, M. R. M., Niken, M., Aryo, N. P. C., Trisafanda, P. D., Hidayati, S. R., & Ulfadayanti, W. (2024). Pengaruh karakteristik wilayah terhadap penerapan ilmu titen di Kulon Progo. Jurnal Plano Buana, 5(1). https://doi.org/10.36456/jpb.v5i1.8129

Pradipta, A., & Stark, A. (2025). When magic makes sense: Public perceptions of modern esoteric practices in urban Indonesia. e-BANGI Journal of Social Sciences & Humanities, 22(1), 45-55. https://ejournals.ukm.my/ebangi/article/view/81418

Pratama, M. R., Ahmadi, N., Patimah, N. S., & Wulandari, N. A. (2023). Kepercayaan terhadap zodiak atau ramalan bintang yang banyak dilakukan oleh remaja. Gunung Djati Conference Series, 22. https://conferences.uinsgd.ac.id/index.php/gdcs/article/view/1506

Tamam, B., Krisnawati, D., Junaidi, A., Rato, D., & Waeno, M. (2025). Determining the auspicious day of a marriage ceremony using “titen science”: An ‘urf perspective in Andongsari, Jember. Jurnal Hukum Islam, 23(1). https://ejournal.uin-suska.ac.id/index.php/hukumislam/article/view/36034


Editor: Febrian Adinata Hasibuan


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *