Di Bawah Bayang-Bayang Marx: Kontribusi Pemikiran Friedrich Engels dan Kritik

Penulis

Kebanyakan orang sering salah kaprah dalam mengartikan Marxisme sebagai proyek individual. Seolah-olah ia merupakan terminologi pemikiran yang hanya bersumber dari satu sosok yaitu Karl Marx. Padahal jauh dari kesan sebenarnya, Marxisme lebih tepat disebut proyek intelektual kolaboratif yang melibatkan Marx bersama sang karib, Friedrich Engels.

Lewat korespondensi tertulisnya kepada Johan Phillips Becker tertanggal 15 Oktober 1844, Engels menggambarkan perannya dalam pengembangan Marxisme awal sebagai biola kedua bagi Marx. Sederhananya, ia merupakan perumpamaan atas komitmen seumur hidup untuk memainkan peran pendukung bagi kerja intelektual yang dilakukan oleh Marx. Marcello Musto dalam artikel berjudul “200 Tahun Engels: Kontribusi dan Keterbatasan Sang “Biola Kedua” (2020) menjelaskan dengan cukup komprehensif mengenai kontribusi Engels dalam kemitraan intelektual bersama Marx.

Musto menulis, ketimbang Marx, Engels lebih dulu menjadi pemikir otodidak yang memandang pentingnya kritik ekonomi politik. Kenyataan ini hampir tak terbantahkan, mengingat banyaknya karya jurnalistik bertema serupa yang ditulis Engels sebelum pertemuannya dengan Marx. Bahkan kelak, saat pertemuan bersejarah antar keduanya terjadi, minat Marx untuk menggeluti topik ekonomi politik sangat dipengaruhi oleh sebuah artikel berjudul “Outlines of a Critique of Political Economy” yang ditulis Engels dan terbit dalam buku Franco-German Yearbooks (1844).

Setelah keduanya sepakat untuk menjalin kemitraan intelektual, lahir beberapa magnum opus yang pengaruhnya melampaui zaman. Beberapa karya tersebut antara lain “The Holy Familiy” (1848), “The German Ideology” (1845), dan “The Communist Manifesto” (1848). Bisa dibilang karya ini merupakan embrio bagi apa yang kelak dikenal sebagai Marxisme.

Pembagian kerja yang berlangsung memosisikan Engels lebih dari sekadar teman diskusi untuk menentukan posisi politik atas fenomena sosial tertentu, sekaligus bercerita tentang kehidupan personal bagi Marx. Engels, ia turut memberi sumbangsih teori yang memungkinkan Marxisme semakin membumi. Komitmennya dalam hal ini akhirnya menghasilkan sejumlah karya seperti “The Condition of Working Class in England” (1845), “The German Peasants War” (1850), “Anti Duhring” (1878), “Socialism : Utopian and Scientific” (1880).

Kita bahkan bisa menilai jika “Capital” (1867) yang ditulis oleh Marx tidak akan pernah tuntas dan berhasil dibaca secara lintas generasi tanpa pengorbanan Engels. Engels rela melakukan apapun untuk memastikan kelangsungan hidup Marx dan keluarga, serta memfasilitasi penuntasan “Capital” (1867). Saking besarnya pengorbanan Engels, Marx lewat sepucuk surat yang diperuntukkan untuk karibnya itu menulis, “tanpa pengorbanan Anda untuk saya, saya tidak mungkin bisa menyelesaikan pekerjaan besar yang membutuhkan tiga jilid ini”.

Marx wafat pada 13 Maret 1883 di London, Inggris. Namun tugas memainkan “biola kedua” bagi Marx tetap diemban oleh Engels. Dari menyiapkan penerbitan jilid kedua dan ketiga dari “Capital” (1867), memeriksa naskah terbaru yang terbit dan telah diterjemahkan, hingga menulis pengantar dan epilog untuk berbagai edisi karya Marx yang dicetak ulang.

Di samping itu, Engels tetap pada komitmennya untuk membumikan Marxisme dengan rutin mempublikasi teori. Komitmen tersebut mewujud dalam beberapa karya antara lain “The Origin of the Family, Private Property and the State” (1884), “Ludwig Feuerbach and the End of Classical German Philosophy” (1886), dan “Dialectics of Nature” (1873 -1886). Hingga pada tanggal 5 Agustus 1895, Engels dinyatakan wafat di usia 74 tahun akibat penyakit kanker kerongkongan.

Kematian Engels tak hanya meninggalkan warisan, melainkan juga perdebatan di kalangan intelektual Marxis yang telah berlangsung sejak beberapa dekade lalu. Perdebatan yang terjadi umumnya terkait dengan kepentingan untuk mengecualikan pemikiran Engels dari Marx, atau sebaliknya, tetap menganggap keduanya sebagai satu kesatuan. Sebab dilihat dari sejarahnya, batas antara Engels sebagai pemikir independen dan kolaborator Marx yang representasional untuk mewakili pemikiran-pemikirannya sangat tipis dan seringkali kabur. 

Perdebatan yang berlangsung jauh dari kesan sepele, mengingat adanya tuduhan serius dari kalangan intelektual Marxis Barat yang menilai kontribusi Engels justru mengaburkan analisis Marx dan membuatnya cenderung mekanistik, ketimbang yang selama ini kaya akan nuansa. Pada konteks yang jauh lebih konkret, kontribusi Engels dianggap bertanggung jawab atas kemunculan doktrin stalinisme, atau turunan dari Marxisme yang esensi revolusionernya telah dilucuti sedemikian rupa oleh Joseph Stalin. Pengantar ini penting saya ajukan sebagai bahan untuk mengukur sejauh mana relevansi buku berjudul “Friedrich Engels : Pemikiran dan Kritik” (2020) ini dengan konteks persoalan yang diajukan.

Buku ini diterbitkan tepat pada 200 tahun peringatan kelahiran Friedrich Engels. Ia menjadi momen ketika sosok Engels tak hanya dikenang, melainkan juga dikoreksi atas kontribusi pemikirannya terhadap Marxisme. Secara tepat, buku ini mampu menangkap momentum juga kegelisahan yang menyertainya.

Dalam kata pengantarnya, Dede Mulyanto dan Fuad Abdulgani menyayangkan adanya upaya untuk mendeskriditkan sosok dan pemikiran Engels. Ia dianggap sebatas pembeo, atau lebih buruk lagi, intelektual yang telah menjungkirbalikkan pemikiran Marx. Oleh sebab itu, buku ini sebenarnya diinisiasi sebagai langkah pembuktian terbalik.

“Friedrich Engels : Pemikiran dan Kritik” (2020) merupakan bunga rampai yang memuat esai dari para intelektual “kiri” lokal menyoal kontribusi sang biola kedua. Jauh dari kesan “klangenan” seperti yang diklaim Martin Suryajaya, buku ini tetap memuat olahan pemikiran juga kritik yang menempatkan Engels pada posisi semestinya sebagai pemikir independen. Tentu saja dengan berbagai kelebihan, juga kekurangannya.

Elemen tersebut mempengaruhi gambaran keseluruhan buku melampaui maknanya sebagai biografi politik sederhana. Melainkan usaha penyelidikan serius dan berani dari para intelektual lokal berdedikasi untuk turut mewarnai diskursus yang tengah berkembang menyoal sosok dan pemikiran Friedrich Engels. Setiap orang yang melibatkan diri dalam gerakan emansipasi buruh dapat mengambil darinya intisari pemikiran sebagai pembelajaran berharga.

Figur Intelektual Berpihak 

Lahir di Barmen, Prusia (sekarang Jerman) pada 28 November 1820, Engels berasal dari latar belakang keluarga borjuis tulen. Latar belakang demikian membuat kehidupan personalnya yang makmur dan mudah. Terlebih lagi karena adanya dukungan serta kasih sayang dari segenap anggota keluarganya.

Engels adalah putra sulung dari delapan bersaudara. Karena itu, jauh sebelum menginjak usia dewasa, ia sudah dipersiapkan menjadi pewaris bisnis keluarga yang dirintis oleh sang kakek sejak masih muda. Tepatnya pada usia 19 tahun, Engels sudah dikirim oleh ayahnya untuk magang di sebuah pabrik milik kerabat dalam rangka pembekalan diri sebagai calon pebisnis.

Rio Apinino dalam esainya “Jalan Engels : Perjalanan Hidup dan Pemikiran Seorang Komunis Parlente” menulis, titik tolak peralihan ideologi Engels dari romantisme ke sosialisme terjadi pada fase ini. Peralihan itu semakin terasah tatkala Engels diwajibkan untuk menjalani wajib militer di Jerman. Di Jerman, Engels memanfaatkan waktunya untuk memupuk pengetahuan dan mengikuti kursus filsafat yang kelak menghubungkannya dengan kelompok Hegelian Muda.

Perlahan tapi pasti, aktivitas Engels di Jerman terendus oleh keluarganya dan karena itu pada 1842, ia dikirim oleh sang ayah ke Manchester untuk kembali memperdalam ilmu bisnis sekaligus menjauhkannya dari kelompok radikal. Keputusan ini kelak sangat disesali oleh sang ayah. Sebab pengalaman saat di Manchester justru  membuat Engels semakin meneguhkan keberpihakan politiknya terhadap kepentingan kaum buruh.

Mengutip Rio, Kota Manchester waktu itu merupakan perwujudan neraka di dunia. Di balik lingkungan orang kaya yang nyaman dan bersih, ada anak-anak yang dipekerjakan paksa dengan upah rendah, bedeng tempat buruh tidur berjejer seperti ikan teri, dan banyak dari mereka yang cacat akibat kecelakaan kerja. Populasi terbilang cukup tinggi namun angka harapan hidup rata-rata hanya sampai usia 28 tahun akibat lingkungan dan kondisi kerja yang sangat buruk.

Di tengah lingkungan seperti itu, Engels jatuh cinta dan menjalin ikatan romantis bersama seorang buruh perempuan bernama Mary Burns.  Adalah Burns yang menemani Engels untuk mengunjungi lingkungan buruh yang kelak menjadi inspirasinya untuk menulis kritik ekonomi politik. Beberapa dalam bentuk artikel yang kelak mempertemukannya dengan Marx, satu di antaranya berupa mahakarya berjudul “The Condition of Working Class in England” (1851) yang ditulis dengan mengedepankan metode etnografi yang ketat.

“Engels memang aktivis politik yang berangkat dari titik pijak materialis : melihat kenyataan di depan mata, bukan dari buku-buku teks sebagaimana aktivis-intelektual pada zamannya. Justru asupan teori datang belakangan, yang itu semakin meneguhkan keberpihakan politiknya.” (hlm 4)

Engels tentang Akar Penindasan Perempuan dan Kritik

Isu seperti ketertindasan perempuan tak luput dari perhatian Engels. Salah satu karyanya yang sering dijadikan rujukan primer menyoal akar ketertindasan perempuan dalam perspektif Marxis tiada lain adalah “The Origin of the Family, Private Property and the State” (1884). Buku ini memuat dua esai dengan pokok pembahasan spesifik menyoal “The Origin of the Family, Private Property and the State” (1884) yang ditulis Friedrich Engels.

Salah satu di antaranya yang menurut saya patut mendapat perhatian yakni esai berjudul “Engels dan Asal-Usul Ketertindasan Perempuan : Kritik Atas Teori Budaya Patriarki” oleh Linda Sudiono. Alasan mengapa esai ini menarik ialah karena ia ditulis oleh seorang perempuan. Selain itu, ia menjadi satu-satunya karya yang merefleksikan kritik sebagaimana yang tertuang dalam judul buku.

Mengawali kritiknya, Linda lebih dulu mengulas analisis Engels terhadap sejarah berikut pertaliannya dengan penindasan kaum perempuan. Dari analisis yang tersedia, diperoleh hipotesis bahwa kepemilikan pribadi telah secara bertahap menyingkirkan peran perempuan dari rantai produksi yang sebelumnya bersifat sosial menjadi privat dan ditempatkan pada wilayah domestik. Penyingkiran ini dalam perkembangannya kian ditopang oleh transformasi bentuk keluarga dalam masyarakat kelas yang monogamis demi kepentingan mempertahankan kekayaan lewat hak waris.

Kritik Linda menyoal analisis Engels terkait dengan ke-tidakcermatannya dalam menggunakan istilah “keluarga” pada konteks sosial masyarakat pra-kelas. Kritik Linda atas analisis Engels dimulai dari penggunaan istilah “keluarga” pada konteks masyarakat Pra-Kelas yang dinilai kurang tepat. Padahal unit sosial yang terimajinasikan oleh istilah “keluarga” modern baru muncul bersamaan dengan lahirnya masyarakat kelas. Selain itu masih terdapat analisis yang kabur menyoal tesis kemunculan kepemilikan pribadi sebagai akar penindasan perempuan dan juga bias tentang peran domestik perempuan sebagai sesuatu yang asali. Tak kalah penting lagi, penjelasan Engels tentang keharusan perempuan untuk memperluas peran dalam produksi sosial yang dikuasai laki-laki, sekaligus mengesampingkan urusan domestik yang dinilai mengaburkan pertalian antara revolusi sosialis, pembebasan perempuan, dan perjuangan demokratis berbasis persamaan hak.

Teori budaya patriarki yang banyak diadaptasi oleh kelompok studi dan politik feminis pun tak luput dari kritik. Linda mengkritik kecenderungan teoretikus budaya patriarki yang cenderung melihat persoalan eksploitasi kelas oleh kapitalisme dan ketertindasan perempuan oleh budaya patriarki sebagai dua bagian yang terpisah secara parsial. Padahal bagi Linda, keduanya sangat terkait dan saling mempengaruhi secara dialektis.

“Oleh karena itu, menganalisis akar penindasan perempuan adalah menempatkannya dalam konteks hubungan sosial atas corak produksi yang ada melalui investigasi proses sejarah yang melahirkan corak produksi tersebut. Hal ini dilakukan untuk membongkar tabir pengetahuan empiris atau faktual tentang realita parsial yang mengandung kesalahan kategori yang berpotensi memberikan implikasi material atas pilihan strategi perjuangan pembebasan perempuan ke depan.” (hlm 154)

Kontribusi pada Topik Kemiliteran

Pada awal tulisan, bahkan sebagian besar buku ini, telah dibahas sedemikian rupa tentang kontribusi Engels yang cukup signifikan terhadap kritik ekonomi politik. Namun di luar konteks topik yang identik dengan sosok Engels, dedengkot komunis ini rupanya dekat dengan topik kemiliteran. Namanya tercatat pernah digunakan sebagai lembaga riset dan ilmu kemiliteran di Jerman Timur, bahkan Engels juga sering dijuluki “Pak Jendral” di lingkungan keluarga Marx.

Esai “Perang dan Pertempuran : Pemikiran Engels Tentang Soal-Soal Kemiliteran” dari Francesco Hugo menyebut awal kedekatan Engels dengan topik kemiliteran berakar dari Revolusi Prancis 1789. Menurut Engels, selain mengubah basis sosial ekonomi masyarakat, Revolusi Prancis 1789 juga turut membawa nuansa baru dalam ranah suprastruktur dengan kelahiran perang modern. Hal ini ditandai dengan perubahan strategi juga taktik peperangan akibat eskalasi penggunaan prajurit dalam pertempuran oleh Napoleon Bonaparte.

Selain faktor historis, kedekatan Engels dengan topik kemiliteran juga dipengaruhi oleh dua hal yang bersifat aktual. Pertama, peristiwa Revolusi 1848 atau dijuluki juga sebagai Revolusi Februari melawan monarki. Kedua, pengalaman langsung ketika ia terlibat dalam pasukan pemberontak di Baden dan Palatinate pada periode 1848 hingga 1849.

Hugo menulis teori perang yang ditulis Engels tak bisa dilepaskan dari metode berpikir materialisme dialektis dan historis. Sehingga kekuatan militer, tentara armada, strategi, dan taktik sangat bergantung pada tingkat kondisi produksi dan komunikasi yang telah dicapai oleh masyarakat. Namun meski Engels menganggap perang berada pada tingkat suprastruktur yang bergantung pada basis realitas objektif, ia tetap melihat faktor subjektif sebagai penentu kekuatan.

Metode demikian memengaruhi penilaian Engels terhadap kekuatan militer suatu negara yang tidak hanya ditentukan oleh kekuatan perekonomiannya semata, melainkan diukur juga dari tingkat moral, motivasi, juga kapasitas para jendral perang. Dalam hal teknis dan taktis, Engels berpendapat bahwa perang modern dicirikan oleh kecepatan dan inisiatif dalam bermanuver. Selain itu, ia berdasarkan strategi Napoleon Bonaparte juga membahas pentingnya penggunaan teknologi serta penggabungan korps pasukan cadangan berdasarkan kapasitasnya sebagai infanteri, kavaleri, maupun altileri.

Dalam komentarnya pada kegagalan revolusi yang terjadi pada pertengahan abad ke-19, Engels menulis dua pokok yang gagal diperhatikan oleh pemberontak kala itu dan patut dipertimbangkan oleh generasi pemberontak di masa depan. Pertama, tidak memulai pemberontakan sepanjang kapasitas kelompok belum menunjukkan tanda-tanda kesiapan yang matang. Kedua, pemberontakan harus selalu memulai inisiatif menyerang betapa besar atau kecil skalanya karena sebenarnya yang terpenting dari siasat ini adalah motivasi dan konsistensi yang harus selalu tegak seperti di awal.

“Dengan kata lain sama seperti yang dipraktikkan oleh Napoleon Bonaparte lewat bentuk perang modernnya yaitu berkarakter massa dalam penyerangan dengan gabungan kekuatan dan juga mobilitas dari penyerangan tersebut. Sehingga apabila kelas pekerja ingin dapat menang dalam pertempuran meraih revolusi, jumlah pasukan menjadi salah satu penentu kekuatan dalam perang modern. Setelah itu tentu saja mobilitas dari setiap gerakan dengan manuver yang dilengkapi strategi serta stratak yang relevan dalam kondisi perang hari ini.” (hlm 177-178)

Semakin didalami isinya, buku ini membawa saya pada kesimpulan tentang warisan Engels yang begitu berharga terhadap ilmu pengetahuan secara umum dan khususnya, gerakan emansipasi kelas pekerja. Memang dalam perkembangannya warisan tersebut turut memicu perdebatan dan kontroversi di lingkaran intelektual Marxis. Akan tetapi itu tidak sama sekali menihilkan fakta bahwa Engels terbukti telah berkontribusi nyata dalam membumikan Marxisme.

Dalam hal ini, saya banyak terinspirasi dari pembuktian yang ditulis Paul Blackledge lewat artikelnya “Engels vs. Marx?: Two Hundred Years of Frederick Engels” (2021) yang terbit di halaman Monthly Review. Dari artikel tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa perdebatan menyoal kontribusi Engels lebih banyak bertolak dari landasan moral atas beberapa karyanya yang belum sepenuhnya tuntas. Di samping itu, terdapat pemahaman bahwa hanya dengan membaca warisan Marx-Engels secara sungguh-sungguh, berbagai bentuk yang dianggap “penyimpangan” dalam tradisi Marxisme akhirnya dapat dikenali.

Sikap demikian tidak boleh dianggap puritan, atau bermaksud menjaga kemurnian teori belaka. Tetapi merupakan disiplin yang berangkat dari kesadaran bahwa pembacaan yang keliru atas teori dapat menimbulkan implikasi material yang mewujud dalam praktik. Sehingga pembacaan ketat atas teori memang sangat krusial dalam tradisi Marxis.

Saat ini peradaban kapitalis telah berkembang jauh lebih kompleks ketimbang era Marx-Engels. Maka menempatkan pemikiran Marx-Engels sebagai alat analisis dan bukannya “dogma” menjadi keharusan dalam rangka pembuktian atas nama relevansi. Entah kritik atau malah pengembangan teori yang menjadi muaranya, usaha tersebut sepatutnya dianggap sahih sepanjang ia mengacu sepenuhnya pada metode materialisme dialektis dan historis.

Saya pikir, ajaran inilah yang menjadi suatu kelebihan dari buku ini. Dengan kata lain, buku ini secara tidak langsung ingin menggelorakan sikap ilmiah yang konsisten dalam tradisi Marxis. Hanya saja memang terdapat proporsi bahasan yang terbatas pada segmen kritik menyoal kontribusi pemikiran Engels dalam buku ini. 

Meski begitu, untuk naskah yang terbit dengan berbagai keterbatasan, buku “Friedrich Engels : Pemikiran dan Kritik” (2020) tampak sudah cukup selaras dengan tanggapan Engels yang termuat dalam suratnya kepada Johann Phillipp Becker. Engels sadar betul setelah kematian Marx ia begitu diharapkan untuk memainkan biola pertama menggantikan peran sang karib. Menanggapi ekspektasi sosial yang dibebankan padanya, Engels dengan segala kerendahan hati menulis :

“Pasti akan ada kesalahan dan tidak ada yang lebih menyadari hal itu selain saya. Dan baru ketika keadaan semakin bergejolak, kita benar-benar akan menyadari betapa kita telah kehilangan Marx. Tidak seorang pun dari kita memiliki wawasan luas yang memungkinkan suatu tindakan cepat untuk menemukan solusi yang tepat dan langsung pada inti masalah. Di masa yang lebih damai, mungkin saja peristiwa membuktikan saya benar dan dia salah, tetapi pada saat revolusi, penilaiannya hampir tak pernah salah.”***

Referensi

Engels, Friedrich. Engels to Johann Phillipp Becker in Geneva. Surat. 15 Oktober 1884. https://marxists.architexturez.net/archive/marx/works/1884/letters/84_10_15.htm

Marx, Karl. Marx to Engels in Manchester. Surat. 16 Agustus 1867. https://marxists.architexturez.net/archive/marx/works/1867/letters/67_08_16.htm

Musto, Marcello. 2020. “200 Tahun Engels : Kontribusi dan Keterbatasan Sang “Biola Kedua”. IndoPROGRESS. https://indoprogress.com/2020/12/232885/


*Ulasan buku berjudul Friedrich Engels: Pemikiran dan Kritik diedit oleh Dede Mulyanto & Fuad Abdulgani (2020, Ultimus)


Editor: Citra Jasmin Pertiwi


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *