
Menyongsong Tahun Baru
Kembang api akan diledakkan lagi dalam hitungan jari. Memecah langit dalam kepingan waktu yang seragam dan kosong. Tawa-tawa merekah lagi, setiap mata jadi pendar laut warna-warni, seperti tahun-tahun yang lalu. Ikan, jagung atau ayam membuat lajur di atas pemanggang. Para Heraclitus siap menyalakan api. Tak ada perasaan gagal, hanya seremonial. Yang lalu, biarlah berlalu. Sebab, kita mesti terus bergerak menyongsong masa depan yang lebih maju. Menyingsing lengan baju. Menuju 2026 atau, hal-hal besar layaknya cita-cita Indonesia Emas 2045.
Homogenous and Empty Time
Walter Benjamin, seorang filsuf, kritikus budaya dan esais yang berpengaruh dari Mazhab Frankfurt, dalam “Theses on the Philosophy of History” yang ditulis pada tahun 1939 – 1940 mengkritik unsur teleologis dalam Materialisme Historis milik Karl Marx dan Friedrich Engels yang sarat akan optimisme kemenangan di penghujung sejarah, di mana kelas proletar mengalahkan kelas kapitalis sehingga tercipta masyarakat tanpa kelas. Dialektika warisan Hegel ini, seolah memandang gerak sejarah niscaya menuju kemajuan. Tesis, anti-tesis hingga sintesis.
“It is well-known that an automaton once existed, which was so constructed that it could counter any move of a chess-player with a counter-move, and thereby assure itself of victory in the match. A puppet in Turkish attire, water-pipe in mouth, sat before the chessboard, which rested on a broad table. “
“Through a system of mirrors, the illusion was created that this table was transparent from all sides. In truth, a hunchbacked dwarf who was a master chess-player sat inside, controlling the hands of the puppet with strings. One can envision a corresponding object to this apparatus in philosophy. The puppet called “historical materialism” is always supposed to win. It can do this with no further ado against any opponent, so long as it employs the services of theology, which as everyone knows is small and ugly and must be kept out of sight.”
Kutipan yang di atas diambil pada tesis I Walter Benjamin yang secara satire mengandaikan Materialisme Historis sebagai boneka berpakaian Turki dengan cangklong di mulutnya, sedang bermain catur dan diyakini akan terus memenangkan pertandingan. Sebab di balik boneka tersebut, ada seorang kerdil bungkuk yang merupakan ahli catur sedang mengendalikan boneka. Seorang ahli catur tersebut diandaikan sebagai teologi yang menyembunyikan wujud kerdil bungkuk dan jeleknya, demi terus memenangkan pertandingan.
Walter Benjamin, dalam esai tersebut agaknya bermaksud menyingkirkan unsur otomatis—yang ia sebut sebagai “automaton”—Materialisme Historis dalam memandang sejarah. Menyingkirkan unsur teleologis warisan Hegel yang menganggap bahwa “Telos”—dalam bahasa Yunani yang berarti “tujuan akhir” atau “akhir dari suatu proses”—dalam sejarah adalah proses perkembangan roh menuju puncak kesadaran, kemenangan atau kesempurnaan sejarah yang niscaya.
Sejarah dalam kecenderungan ini memandang waktu sekadar arus linear menuju masa depan. Luka-luka masa lalu semata untuk diakui, sembari pelan-pelan tergerus dalam ingatan kita, lantaran embusan badai kencang membawa kita menuju masa depan yang dipandang lebih menjanjikan kendati mencemaskan.
Alih-alih menyelesaikan tumpukan luka-luka masa lalu. Dalam istilah Walter Benjamin, sejarah dalam kecenderungan tersebut menjadi “homogenous and empty time”. Ketika waktu menjadi seragam. Sekadar angka-angka identik yang dapat dipertukarkan menjadi jam, tanggal, bulan dan tahun yang terus berulang. Menjadi kosong, sebab setiap momen sejarah sekadar untuk diketahui. Tak ada makna instrinsik dari tragedi masa lalu yang membuat kita merasa mesti menanggung bebannya untuk ditebus di masa kini.
“To articulate what is past does not mean to recognize “how it really was.” It means to take control of a memory, as it flashes in a moment of danger. For historical materialism it is a question of holding fast to a picture of the past, just as if it had unexpectedly thrust itself, in a moment of danger, on the historical subject. “
“The danger threatens the stock of tradition as much as its recipients. For both it is one and the same: handing itself over as the tool of the ruling classes. In every epoch, the attempt must be made to deliver tradition anew from the conformism which is on the point of overwhelming it. For the Messiah arrives not merely as the Redeemer; he also arrives as the vanquisher of the Anti-Christ. The only writer of history with the gift of setting alight the sparks of hope in the past, is the one who is convinced of this: that not even the dead will be safe from the enemy, if he is victorious. And this enemy has not ceased to be victorious.”
Pada tesis yang ke VI di atas,—yang juga dilihat hubungannya dalam tesis II hingga VII—Walter Benjamin mengajak kita untuk kembali mengambil kendali atas kenangan, saat kenangan tersebut muncul seketika dalam momen bahaya. Agaknya, apa yang ia pandang sebagai momen bahaya atau “a moment of danger” di sini adalah potensi waktu menuju masa depan sebagai waktu yang seragam dan kosong. Masa depan bagi sejarah yang terus-menerus dimenangkan oleh para penindas.
Karenanya, masa lalu mesti lekas diselamatkan sebelum tergerus oleh badai waktu yang melaju cepat, yang membuat kita perlahan melupakan tragedi setelah terus-menerus ditumpuk. Masa lalu, juga dipandang memiliki unsur Mesianik bagi siapa saja yang menjadikannya sebagai rujukan, percikan harapan yang membuatnya bangkit lalu lekas menebusnya di masa kini. Sebab, bagi Walter Benjamin “.. that not even the dead will be safe from the enemy, if he is victorious. And this enemy has not ceased to be victorious.”
Kita Tak Pernah Belajar
Pada 11 Januari 2023, kita ketahui bahwa Jokowi pernah mengakui 12 kasus, termasuk tragedi 1965, sebagai pelanggaran HAM berat di masa lalu. Namun, hingga kini belum ada upaya penyelesaian secara yudisial maupun non-yudisial. Belum lagi terkait pelanggaran HAM yang lain, yang masih saja terulang atas nama industri pertambangan di berbagai daerah. Di Bantaeng, misalnya, di KIBA (Kawasan Industri Bantaeng) telah berdiri di dalamnya enam pabrik pengolahan nikel milik Huadi Group: PT Huadi Nickel Alloy Indonesia, PT Unity Nickel-Alloy, PT Downstone Energy Material, PT Huadi Wuzhou Nickel Industry, PT Yatai Huadi Alloy Indonesia dan PT Hengseng New Energy Material Indonesia. Warga yang tinggal di sekitar kawasan mesti menanggung limbah tambang yang mencemari laut, sawah, yang jadi sumber penghidupannya.
Hal ini melanggar hak untuk hidup dalam lingkungan yang sehat, dilansir pada situs Bollo(dot)id:
“Cerobong-cerobong pabrik bekerja 24 jam penuh tanpa henti. Protes warga karena kebisingan, truk yang membawa debu, cerobong yang mengeluarkan asap putih pekat dan hitam, sungai yang rusak, tanaman yang mati, hingga areal persawahan yang gagal panen, bagai angin lalu.”
Di Sumatera Barat, Sumatera Utara serta Aceh, dampak bencana ekologis oleh tambang dan deforestasi ini, alih-alih membuat pemerintah kapok, Prabowo malah merencanakan untuk membuka lahan sawit di Papua.
Pun Pelanggaran HAM dalam demonstrasi yang kita tumpuk dalam kekalahan demi kekalahan sejak Omnibus Law 2020 hingga demonstrasi DPR sepanjang Agustus 2025 yang lalu. Pada demonstrasi Omnibus Law yang terjadi sepanjang Oktober hingga November 2020, ada banyak bukti-bukti video kekerasan Polisi.
Ini berlangsung hingga demonstrasi Agustus 2025, penembakan water cannon ke arah pengunjuk rasa dalam jarak dekat, pemukulan terhadap demonstran menggunakan tongkat, dan penggunaan granat gas air mata jenis berbahaya, yang diketahui dapat menyebabkan cedera serius termasuk kehilangan anggota tubuh, masih terus terjadi, seiring dengan penangkapan kawan-kawan kami secara sewenang-wenang.
Di tanah kami, Sulawesi. Para pejuang kemerdekaan dahulu menaruh harapan dan kepercayaan besar pada NKRI. Robert Wolter Monginsidi gugur dalam usia 24 tahun saat melawan Belanda, setelah ia, bersama kawan-kawannya menjalankan aksi sabotase, merebut kembali tempat-tempat vital di Makassar, bahkan menerobos markas Polisi Militer Belanda. Kawannya yang lain sekaligus kekasihnya, Emmy Saelan, seorang tenaga perawat yang progresif mesti menjadi martir yang meledakkan diri dengan kedua granat di tangannya saat dikepung oleh Tentara KNIL atau NICA-Belanda.
Namun, menilik yang apa yang terjadi belakangan ini. Kepercayaan tersebut tampak dikhianati. Potensi alam di berbagai daerah rupanya hanya dilihat sebagai sumber daya belaka, bahan mentah, sekadar untuk dieksploitasi oleh Pemerintah Pusat atas nama tambang, Proyek Strategis Nasional dan semacamnya.
Kita tak pernah belajar. Masa lalu tidak menggugah kita. Sebab, yang lebih penting adalah bergegas menuju kemajuan peradaban, masa depan, sembari menyembunyikan kebiadaban-kebiadaban yang terus menyusunnya. Memupuk kekalahan demi kekalahan yang tak pernah benar-benar tertebus, yang akan pelan-pelan pudar dalam ingatan, begitu saja.
Toh pada akhirnya, kita juga akan menikmati hasilnya.
Referensi
Amnesty International. (2020, Desember). Usut bukti-bukti kekerasan polisi sepanjang demo tolak omnibus law.
https://www.amnesty.id/kabar-terbaru/siaran-pers/usut-bukti-bukti-kekerasan-polisi-sepanjang-demo-tolak-omnibus-law/12/2020/
Amnesty International. (2025, Desember). Investigasi Amnesty International: Polisi pukuli demonstran dan gunakan gas air mata secara melawan hukum.
https://www.amnesty.id/kabar-terbaru/siaran-pers/investigasi-amnesty-international-polisi-pukuli-demonstran-dan-gunakan-gas-air-mata-secara-melawan-hukum/12/2025/
BBC News Indonesia. (2025, Desember). Prabowo ingin tambah lahan sawit di Papua – Siapa yang akan paling dirugikan akibat kebijakan ini?.
https://www.bbc.com/indonesia/articles/crrk14e41ddo
Benjamin, W. (n.d.). Theses on the philosophy of history.
https://ia802909.us.archive.org/5/items/zines-misc/Theses_on_the_Philosophy_of_History-screen.pdf
Hartono, R. (n.d.). Emmy Saelan, pejuang perempuan di garis depan. Berdikari Online.
https://www.berdikarionline.com/emmy-saelan-pejuang-perempuan-di-garis-depan/
Puspitalova, A. T. (n.d.). Robert Wolter Monginsidi gugur di usia 24 tahun: Teriakan terakhirnya “merdeka atau mati”. Tempo.co.
https://www.tempo.co/politik/robert-wolter-monginsidi-gugur-di-usia-24-tahun-teriakan-terakhirnya-merdeka-atau-mati-147224
Rusdianto, E. (n.d.). Diabaikan perusahaan, ditinggalkan pemerintah. Bollo.id.
https://www.bollo.id/laporan-mendalam/diabaikan-perusahaan-ditinggalkan-pemerintah/
Editor: Kanya Kiarra
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








