Estetika marxis, sebuah teori estetika yang tidak pernah dibahas secara eksplisit oleh Karl Marx itu sendiri. Dia tidak pernah menulis satu buku pun yang secara eksplisit membahas soal seni atau estetika. Sebab itu, pengembangan pemikiran estetika dalam tradisi marxis banyak bergantung pada kontribusi para tokoh lain, seperti Georgy Valentinovich Plekanov, Georg Lukács, Bertolt Brecht, Theodor Adorno, dan sejumlah pemikir serta seniman lainnya.
Membahas estetika marxis, artinya adalah membahas karya seni yang politis, serta memiliki maksud dan tujuan tertentu. Dalam buku Sejarah Estetika (2016), Martin Suryajaya menyatakan bahwa estetika marxis merupakan perwakilan modern dari tradisi estetika Klasik yang mengartikan seni secara mimetik (tiruan atau salinan dari dunia nyata), fungsional, dan rasional. Sebagai suatu pendekatan estetika, estetika marxisme tumbuh dari pendekatan realis yang berkembang pada sekitar pertengahan abad ke-19.
Ya, estetika marxis muncul dari pendekatan realis yang berkembang pada sekitar pertengahan abad ke-19. Namun, di saat yang sama, estetika marxis juga muncul di saat paradigma mimetik—yang menjadi ciri khas dari estetika Klasik dan bertahan di sepanjang Abad Pertengahan—mulai ditentang besar-besaran di zaman Modern.
Keberadaan estetika marxis berarti juga menentang gerakan estetisisme (aesthetic movement) dan doktrinnya yaitu ‘seni untuk seni (l’art pour l’art)’ yang muncul pada 1830-an. Frasa “seni untuk seni” maksudnya adalah bahwa seni seharusnya terbebas dari semua nilai eksternal seperti mimetik, fungsional, dan rasional. Seni pada hakikatnya hanya ada untuk dirinya sendiri, bukan untuk hal-hal lain di luar seni itu sendiri—suatu doktrin yang ditentang oleh estetika marxis.
Karl Marx dan Seni
Dalam bukunya yang berjudul Estetika Marxis (2010), Henri Arvon melihat bahwa ada dua karya tulis tentang seni yang pernah ditulis oleh Karl Marx. Dua karya tulis tersebut yakni The Holy Family (Keluarga yang Suci) yang ditulis oleh Karl Marx bersama dengan Friedrich Engels, dan sebuah dokumen yang berisi korespondensi Marx dengan Ferdinand Lassalle.
The Holy Family berisi kritik terhadap komentar Szeliga—pengikut Hegel—tentang Mysteries of Paris (Berbagai Misteri tentang Paris) yang ditulis oleh Eugène Sue. Sedangkan dokumen yang berisi korespondensi Marx dengan Ferdinand Lassalle berisi tentang pembahasan drama bernama Franz von Sickingen yang ditulis oleh Lassalle sendiri (Arvon, 2010:4).
Secara garis besar, kedua karya tulis tentang estetika dari Marx tersebut menyoroti hubungan antara seni dan fungsi sosialnya. Marx mencela Mysteries of Paris karya Sue karena tidak mengkritik masyarakat kapitalis di Paris. Begitu juga dalam pembahasan drama Franz von Sickingen karya Lassalle, Marx menunjukkan bahwa drama itu bisa membuat penonton meyakini bahwa setiap kekalahan dalam gerakan sosial adalah sesuatu yang tidak terhindarkan, sebab revolusi dianggap mengandung cacat fatal secara internal (Sidqi, 2023).
Dengan terbatasnya pandangan estetis dari Marx dan Engels, itu membuat sudut pandang estetis dari Marx dan Engels dibagi menjadi tiga bagian atau aspek. Tiga bagian tersebut yakni pandangan: (1) seni sebagai hal yang benar-benar dependen alias bergantung pada situasi sosial, (2) seni sebagai hal yang benar-benar otonom, dan (3) seni sebagai instrumen tindakan politik (Arvon, 2010:13).
Akibatnya, seni bagi para penerus Marx dan Engels adalah area yang serba abu-abu. Preferensi personal dan sensitivitas artistik tertentu dari tokoh-tokoh penerus Marx dan Engels akan memainkan peran penting dalam menyokong ‘kehidupan’ estetika marxis (Arvon, 2010:13). Hal itulah yang membuat perkembangan estetika marxis sangat bergantung dengan tokoh-tokoh marxis setelah Karl Marx.
Perintis Estetika Marxis
Usaha pertama dalam menghasilkan suatu teori marxis tentang seni dalam bahasa Inggris, bisa dibilang dilakukan oleh William Morris (1834-1896). Salah satu pemikirannya adalah tentang karya seni dan kaitannya dengan kebahagiaan kerja. Morris menganggap bahwa modus produksi kapitalis mencekik naluri estetis manusia dan menciutkan perkara kesenian pada perkara komoditas dan pasar (Suryajaya, 2016:544).
Bagi Morris, seni adalah ungkapan kebahagiaan manusia di dalam kerja. Morris membagi empat kriteria yang memungkinkan kebahagiaan dalam kerja, yakni: (1) kebebasan untuk menjalankan beragam aktivitas terkait dengan produksi karya, (2) harapan bagi penciptaan sesuatu yang baru dan unik, alih-alih sekadar mereproduksi berdasarkan skema yang telah tersedia, (3) penghargaan diri karena hasil karyanya berguna, bisa diapresiasi orang lain, dan (4) kenikmatan badani akibat olah tubuh secara bebas dalam penciptaan (Suryajaya, 2016:544-545).
Dasar pemikirannya itulah yang membuat Morris membatasi penggunaan mesin dalam produksi karya seni dan mengutamakan sentuhan fisik secara langsung alias kerajinan tangan. Dengan kata lain, Morris mengutamakan agar karya seninya bisa dibuat secara handmade.
Sebagai pelopor gerakan Art and Craft—yang berusaha memperbaiki kualitas artistik seni dekoratif yang menyebabkan berkurangnya jarak antara “seni murni” dan “seni terapan”, William Morris juga mendirikan firma Morris & Co. pada tahun 1861. Firma tersebut memproduksi produk-produk seni tekstil yang dikerjakan secara handmade. Firma tersebut masih ada hingga sekarang.
Lenin, Trotsky, dan Kritik terhadap Proletkult
Pembahasan mengenai estetika marxis terasa kurang lengkap jika tidak membahas Proletkult. Lembaga seni avant-garde bernama Proletkult ini muncul pasca Revolusi Bolshevik atau Revolusi Oktober 1917, dengan misi menciptakan kebudayaan baru yang berakar dari kelas pekerja. Proletkult berupaya membangun sebuah kebudayaan baru sekaligus menyingkirkan warisan budaya lama dari era Kekaisaran Rusia. Kebudayaan baru yang dimaksud di sini adalah budaya proletar (Sidqi, 2023). Dua sosok penting yang menjadi teoretikus sekaligus pendiri dari Proletkult adalah Alexander Bogdanov (1873-1928) dan Anatoly Lunacharsky (1875-1933).
Walaupun begitu, keberadaan Proletkult juga menuai banyak kritik dari beberapa tokoh di Uni Soviet. Salah satu kritik datang dari Vladimir Lenin. Lenin menolak doktrin ‘seni untuk rakyat’—yang dimiliki oleh orang-orang Proletkult—jika itu berarti memaksa para petani untuk terpukau dengan lukisan suprematis sambil merepresi kebudayaan aktual mereka demi suatu visi kebudayaan yang dipaksakan oleh sekelompok seniman avant-garde (Suryajaya, 2016:574-575).
Kritik juga datang dari Leon Trotsky. Trotsky melontarkan kritik terhadap Proletkult dan para seniman avant-garde yang berusaha menciptakan kebudayaan baru yang disebut sebagai kebudayaan proletar dengan cara menghapus sepenuhnya warisan budaya borjuis dan feodal. Trotsky ragu dengan jumlah waktu yang dibutuhkan untuk membangun sebuah kebudayaan baru, mengingat kaum proletar baru saja memperoleh kendali atas negara dan tengah memasuki fase transisi yang panjang menuju pembentukan tatanan masyarakat komunis (Sidqi, 2023).
Estetika Marxis Barat dan Perdebatan Lukacs-Brecht
Berbicara estetika marxis Barat, berarti mencakup varian pemikiran estetika marxis di luar tradisi Soviet alias yang ada di luar Rusia. Beberapa tokoh yang terkenal contohnya adalah Georg Lukács dan Bertolt Brecht. Perbedaan mendasar dari estetika marxis Barat dan estetika marxis Soviet adalah: (1) estetika marxis Barat cenderung bercorak teoretis ketimbang praktis, dan (2) estetika marxis Barat memiliki ciri berupa sebuah upaya menanggapi represi fungsional atas seni dalam konteks fasisme (Suryajaya, 2016:598-599).
Georg Lukács dan Bertolt Brecht sempat berdebat mengenai Realisme Sosialis pada tahun 1938—bertepatan dengan empat tahun pengadopsian Realisme Sosialis sebagai aliran estetika resmi negara oleh Partai Komunis Uni Soviet. Kedua orang tersebut berdebat sengit melalui artikel-artikel mereka yang tayang di majalah Das Wort, sebuah majalah yang didirikan oleh orang-orang Jerman di Moskow yang statusnya sebagai eksil karena Jerman berada di bawah pemerintahan Nazi.
Georg Lukács dan Bertolt Brecht berdebat sengit mengenai Realisme Sosialis dalam konteks memerangi Fasisme. Lukacs mencoba melakukan pendekatan ulang terhadap kelas borjuasi (bourgeoisie) liberal dengan menjadikannya sebagai sekutu kelas proletar revolusioner untuk pertarungan melawan Fasisme. Namun, Brecht tidak setuju dengan itu. Brecht yakin bahwa pemutusan radikal dengan kelas borjuasi akan memungkinkan kelas proletar memenangkan pertarungan melawan Fasisme. Oleh karena itu, Brecht menolak dan mencela secara mentah-mentah keseluruhan kesusastraan borjuis (Arvon, 2010:110-111).
Penutup
Pada akhirnya, estetika marxis adalah suatu topik estetika yang senantiasa menjadi polemik panas. Dalam sejarahnya, estetika marxis tidak terlepas dari berbagai macam perdebatan. Perdebatan antara Georg Lukács dan Bertolt Brecht saja tidak hanya terjadi sekali, melainkan tiga kali yakni pada tahun 1932, 1938, dan 1966.
Estetika marxis juga menunjukkan bahwa seni tidak pernah hadir dalam ruang hampa. Seni selalu terkait dengan kondisi sosial, politik, dan ekonomi zamannya. Pendekatan marxis dengan doktrinnya yaitu ‘seni untuk rakyat’—alih-alih ‘seni untuk seni’—ini penting untuk membaca bagaimana seni dapat berfungsi sebagai alat perlawanan, bukan sekadar konsumsi.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








