Kreator versus AI
Belakangan ini marak fenomena penggunaan generator karya seni AI (Artificial Intelligence atau Kecerdasan Buatan), terutama yang bergaya studio animasi Ghibli milik Hayao Miyazaki. Seketika orang-orang di lini masa media sosial menampilkan diri dengan representasi yang seragam khas Ghibli. Lalu, disusul perdebatan di media sosial serta warta-warta soal para kreator yang naik pitam lantaran perusahaan pencipta teknologi tersebut mencaplok atau melanggar hak cipta atas karya mereka. Mengutip sebuah artikel Kompas.com berjudul “CEO OpenAI Tanggapi Tren Bikin Foto ala Ghibli Pakai ChatGPT yang Tuai Kontroversi”,
“Lebih dari 400 pembuat film, aktor, musisi, dan seniman baru-baru ini mengajukan keberatan terhadap upaya OpenAI dan perusahaan AI lainnya yang mereka nilai berusaha melemahkan atau menghilangkan perlindungan hak cipta untuk melatih sistem AI mereka.”
Di kalangan perusahaan media surat kabar pun turut menuntut perusahaan OpenAI,
“Pada Kamis (28/3/2025), seorang hakim federal memutuskan bahwa The New York Times, bersama kelompok surat kabar lainnya, dapat melanjutkan gugatan hak cipta terhadap OpenAI dan Microsoft.
Mereka menuntut agar perusahaan AI berhenti menggunakan konten mereka tanpa izin untuk melatih chatbot seperti ChatGPT.”
Akibat dari gejolak tren generator karya seni ala Ghibli ini, membuat video tanggapan lama Hayao Miyazaki kembali beredar. Cuplikan itu terkait demo animasi AI yang diperlihatkan padanya dalam sebuah dokumenter berjudul “NHK Special: The Never-Ending Man Hayao Miyazaki (2016)”.
Di dokumenter itu, Hayao Miyazaki merasa sangat muak dan menolak keras keterlibatan teknologi AI. jika ada yang ingin menciptakan hal-hal menyeramkan, silakan saja, tapi bagi Miyazaki, hal itu sama sekali tidak layak dimasukkan ke dalam karyanya—bahkan dia menganggapnya sebagai bentuk penghinaan terhadap esensi kehidupan itu sendiri.
Teknologi: Antara Fiksi dan Realitas
Kecanggihan ‘teknologi baru’ seperti AI ini, telah ‘memecah piring makan’ dari beberapa profesi bahkan spesialisasi, lantaran proses kerja dan pembuatannya yang otomasi dan sekejap.
Melansir Tempo.co dalam artikel berjudul “Survei WEF Catat Profesi yang Mulai Hilang Akibat AI Generatif, Ada Desain Grafis dan Asisten Rumah Tangga”, laporan The Future of Jobs 2025 yang dirilis oleh World Economic Forum (WEF) pada 7 Januari 2025 menunjukkan bahwa sejumlah pekerjaan mulai tergeser. Berdasarkan data yang dikumpulkan dari lebih dari seribu perusahaan di 55 negara, profesi desainer grafis menempati peringkat ke-15 dalam daftar pekerjaan yang mengalami penurunan signifikan.
Peringkat teratasnya, diisi oleh kasir dan petugas tiket, bentuk pekerjaan yang sudah berkurang selama beberapa tahun terakhir. Profesi asisten administratif dan sekretaris eksekutif, penjaga bangunan, petugas pembersih, serta asisten rumah tangga pun ikut tergerus seiring perkembangan AI ini.
Sebagai seorang yang sempat menahun bergelut di dunia desain grafis dan sekaligus menjadi ilustrator (pemula), saya agak cemas jikalau nantinya, kami para kreator tak bisa lagi mendapat penghasilan dari sana. Kecemasan saya bermula sejak hadirnya Canva, aplikasi yang memungkinkan semua orang bisa menggunakan beragam layout produk desain siap pakai, yang memang telah disediakan di sana.
Saya sempat mengira percepatan teknologi akan mendorong masa depan ke sudut tebing distopia, lalu turut mengubah cara hidup manusia dan lingkungannya secara radikal. Perkiraan ini ditopang kala saya melihat pesawat terbang melintas di langit rumah.
Situasi itu bikin saya ingat bahwa Abbas Ibn Firnas, seorang penemu pertama komponen penting dalam teknologi pesawat terbang, pernah melakukan percobaan melompat dari menara masjid dengan jubah besar untuk menguji penemuannya. Akibatnya, beliau luka-luka.
Hal-hal yang dilakukan Abbas Ibn Firnas tersebut, mungkin saja tak lepas dari anggapan ‘gila’ dan ‘tidak realistis’ dirinya di mata masyarakat pada masa itu. Namun, toh, hasilnya bisa kita nikmati kini. Bahkan sebagai hal yang realistis dan jadi biasa, seperti pesawat yang melintas di atas kepala waktu itu.
Dengan demikian, bayangan liar kita tentang potensi teknologi—seperti kemungkinan manusia menjadi cyborg, atau munculnya alat-alat aneh layaknya yang dikeluarkan dari saku Doraemon—mungkin saja bukan sekadar fiksi, melainkan sesuatu yang berpotensi menjadi kenyataan di masa depan.
Teknologi hadir sebagai ‘alat’, menjadi semacam mediator atau perpanjangan tangan manusia dalam pencapaian tujuan. Di lain sisi, logika kemajuan di sepanjang zaman tampaknya diukur semata dalam kerangka efektivitas dan efisiensi ala rasionalitas instrumental. Kemajuan teknologi pun tak luput diukur sedemikian rupa tanpa memandang nilai-nilai kemanusiaan dan sosial-budaya. Yang penting tujuan tercapai dan, kita menanggalkan embel-embel ‘subjek’, lantas berakhir menjadi tumpukan sumber daya bersama alam, tempat kita hidup. Teknologi pun, tak menjadi sekadar ‘alat’.
Dalam penggunaan media sosial misalnya, informasi pribadi kita dihimpun dan dianalisis, guna dipakai dalam menampilkan iklan-iklan yang sesuai dengan kecenderungan kita bermedia sosial, atau boleh jadi buat dijual kepada pihak ketiga.
Semakin canggih sebuah teknologi, maka semakin cepat dan ringkas pula prosesnya dalam mencapai tujuan. Kita tak lagi sudi untuk mencoba proses panjang, tetapi alamiah. Sebab setapak demi setapak adalah buang waktu, bukan lagi proses. Sebab, kita kadung menjadi kerasan berteknologi. Tak jarang, saya menyaksikan bagaimana seseorang mesti menunggangi sepeda motor semata untuk belanja di warung yang jaraknya cuma beberapa meter.
Begitu pula terkait potensi kita yang tereduksi dalam berimajinasi, lantaran kadung kerasan dengan teknologi yang lebih canggih, terlebih lagi yang sudah berbasis multimedia dan multi-tasking. Beberapa kenalan saya punya pernyataan yang seragam soal keengganannya dalam membaca buku, misal, “saya malas kalau tidak ada gambarnya”. Kenalan-kenalan saya tersebut tentu lebih nyaman dengan konten-konten yang dipepat ringkas dalam kanal-kanal media sosial semacam TikTok atau YouTube.
Sayangnya, konten-konten semacam itu tak jarang semata mencelupkan kita pada permukaan belaka, alih-alih kedalaman. Saking nikmatnya buaian teknologi tersebut, seolah kita tak lagi memaknai teknologi sebatas ‘alat’, mediator, atau ‘perpanjangan tangan’, melainkan tangan kita sendiri. Tepatnya, bagian dari diri kita.
Upaya Penyelamatan Diri dalam Penggunaan Teknologi
Kendati saya telah mengetahui hal ihwal seputar ‘teknologi baru’ tersebut, tampaknya itu saja belum cukup untuk membebat penuh kepala saya dengan pesimisme. Masih ada semacam celah-celah kecil yang mampu dilalui oleh semburat cahaya yang, mungkin saja bisa menjadi semacam upaya penyelamatan diri dalam penggunaan teknologi.
Secara serampangan, saya menyebutnya sebagai kompromistis ‘yang lain’, untuk membedakan sikap kompromi yang menyadari teknologi sebagai ‘alat’, tapi semata dibibir saja. Sebab, masih saja ‘pasang badan’ untuk terdisiplinkan atau diperbudak.
Pertama, perihal kasus generator karya seni OpenAI ini, bagaimana pun adalah ‘salah’ lantaran melanggar izin hak cipta. Saya pikir ini sudah identik dengan pencurian karya dan berharap secepatnya menemukan ‘jalan keluar’ terkait hal ini.
Kedua, survei WEF tersebut pun mengatakan bahwa beberapa jenis lapangan pekerjaan yang kemungkinan masih bertahan, bahkan bertambah, pada periode 2025-2030 adalah buruh tani dan buruh jenis lainnya, serta pekerja agrikultural. Ini tampak semacam ‘evolusi profesi’. Jika kita menilik sejarah, selalu ada profesi yang hilang dan bertambah seiring perkembangan teknologi. Semacam bentuk adaptasi atas seleksi alam milik Charles Darwin, atau perkembangan alat produksi sebagai faktor awal penentu laju dialektika sejarah milik Karl Marx.
Bebatan pesimisme yang ada di kepala saya, agaknya tak perlu dilepas, sembari tetap mempertahankan cahaya tipis di celah-celahnya. Sebab bagi saya, pesimisme tetap penting, apalagi dalam situasi yang baru saja saya sebutkan. Pesimisme mampu menyingkap mata kita untuk melihat segala hal sehingga kita punya kesempatan untuk mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan terburuk yang akan hinggap, lantas meluangkan dan menyiapkan diri untuk belajar hal-hal baru.
Atau, jika tak sempat mengantisipasi nasib sebagai desainer grafis yang kadung patah arang ini, paling tidak, tak terlampau kecewa laiknya ekspektasi seorang optimis. Sebab, kita tak melihat tujuan sebagai yang satu-satunya, tak seperti kunci sukses ala Timothy Ronald!
Baca juga:
– Ketika Sensor dan Represi Menjadi Musuh Kebebasan Berkesenian
– Mengintip Kondisi Pekerja dan Budaya Kerja Industri Digital
Ketiga, boleh saja saya membuat pengandaian soal teknologi. Namun, agaknya terlampau naïf pula jika saya berpikir bahwa teknologi mampu melampaui kompleksitas manusia. Maaf saja, batas keliaran cuma sampai di situ. Yang saya maksud dengan kompleksitas adalah bagaimana manusia, semacam punya alat ukur tak kasat mata dalam bekerja, bermain, hingga memperlakukan orang lain. Semacam perasaan, empati, atau emosi. Istilah yang tepat untuk menggambarkan ini, barangkali disebut human touch. Unsur-unsur tersebutlah yang tak akan pernah bisa dimiliki oleh teknologi, mau secanggih apa pun.
Kini, siapa saja bisa menggunakan generator AI untuk memproduksi karya seni dengan cepat. Namun tak sepenuhnya bisa menggeser proses organik seorang spesialis. Barangkali persis seperti yang diungkapkan Walter Benjamin, bahwa kehadiran teknologi yang mereproduksi karya seni secara massal dan demokratis, tak lagi memiliki ‘aura’, sensasi dalam karya seni yang membuatnya punya unsur spiritual lagi unik.
Keempat, agaknya, sikap kerasan kita terhadap teknologi cuma membutuhkan sedikit ruang bagi ‘kekosongan’ di antaranya. Sebuah jarak. Mengembalikan teknologi jadi semata ‘alat’ yang menunjang kita untuk sampai ke tujuan tanpa mereduksi prosesnya. Memahami bahwa ada yang lebih penting dari sekadar penggunaan teknologi untuk memproduksi ‘sesuatu’, yaitu penggunaan teknologi untuk memproduksi ‘diri sendiri’. Kala menggunakan teknologi, kita mesti paham bahwa selain kesadaran yang mesti tertuju pada sesuatu, kesadaran pula mesti tertuju pada diri sendiri. Menjadi reflektif lagi ‘sadar diri’, pula berarti memahami bahwa kerelaan kita untuk tetap mencoba mengalami proses panjang tapi alamiah. Itu penting guna membentuk diri tetap mandiri dan imajinatif.
Tentu ini berbeda dengan pengglorifikasian fenomena baru ala ABG labil, seperti pernyataan Gibran dalam sebuah diskusi Artificial Intelligence: Shaping Indonesia’s Future di Universitas Pelita Harapan (UPH) Kampus Lippo Village, Karawaci, Tangerang, Banten.
“Manusia yang tak menggunakan AI akan dikalahkan oleh manusia yang gunakan AI”.
Gibran, dengan segala ambisinya, seolah menganggap bahwa teknologi AI mampu menjamin peningkatan produktivitas dan kreativitas, tanpa sedikit pun mempertimbangkan kesiapan masyarakat dalam penggunaan teknologi tersebut.
Menjadi siap, berarti mencipta jarak. Memberi ruang bagi kekosongan nan sepi. Menyepi, yang bikin kita lebih ‘sadar diri’.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








