Sajak yang “Menjadi” Adalah Puisi yang Sebenarnya

Penulis

“Tidak sekedar berindah-indah dengan permainan kata atau dengan musikalitas kesamaan bunyi kata, bagi selera saya, semua sajak Chairil dan sajak-sajak Rendra dalam Kumpulan Blues untuk Boni adalah sajak-sajak bercerita yang menjadi.”

-Saut Situmorang

Saut Situmorang, selain menjadi seorang penyair ia juga menjadi seorang penikmat berbagai karya puisi penyair terkenal di Indonesia sekaligus menganalisisnya. Pengalaman membacanya, terutama  pada puisi yang mampu menimbulkan sesuatu yang Aristotelessebut sebagai “khatarsis”, selalu berakhir pada pertanyaan; mengapa ekstasi tersebut bisa muncul? Apa penyebabnya?

Sebelum lebih jauh membicarakan bagaimana itu sajak “menjadi” terbentuk, mari kita bahas terlebih dahulu apa itu katarsis. Katarsis yang disebut Aristoteles merupakan semacam rasa nikmat ekstasi-tekstual atau tekstasi. Namun, pengalaman membaca puisi oleh Saut tidak selalu mendapat rasa katarsis. Baginya, puisi yang menimbulkan katarsis itu adalah sajak yang “menjadi”. 

Membaca Puisi 

Pengalam Saut Situmorang dalam membaca puisi tak selalu mendapat rasa nikmat ekstasi-tekstual. Secara kebetulan, pengalamannya tersebut didapati ketika membaca puisi seorang penyair telah terkenal. Poinnya adalah, baginya, kepopuleran seorang penyair bukan berarti secara otomatis karyanya melahirkan katarsis.

Lebih lanjut, ia menilai bahwa reputasi biografi seorang penyair terkenal, paling-paling hanya menambah rasa suspend/harapan untuk kejutan yang lebih besar untuk kemungkinan terjadinya sebuah katarsis. Bahkan tak jarang, banyak orang terkenal yang ternyata tak mampu menimbulkan respon apa-apa darinya, kecuali rasa mual tekstual yang ia rasakan. 

Ia turut bergidik juga menggerutu setelah membacanya. Mengapa sajak seperti itu bisa keluar dari imajinasi seorang yang terkenal? Apa yang sebenarnya membuat si penyair itu bisa terkenal? Sebaliknya, Saut seringkali mendapat rangsangan secara tekstual dan menimbulkan katarsis saat membaca sajak penyair kroco, penyair sekadar bahkan penyair pemula. 

Artinya, pengalaman membacanya melahirkan sebuah Kesimpulan, ternyata dalam dunia dalam penyairan, nama tak bisa menjadi merk atau menentukan mutu seperti di dunia kapitalis konsumer. Lantas, apa yang menyebabkan sebuah puisi bisa menimbulkan katarsis setelah membacanya?

Bagaimana Katarsis Muncul?

Secara akademis, jawaban yang biasanya disampaikan adalah dalam teori sastra disebut sebagai faktor kesastraan sebuah sastra. Faktor kesastraan sebuah sastra, pusisi misalnya, tak kurang dan tak lebih unsur-unsur linguisitik yang diyakini merupakan elemen-elemen paling penting dalam anatomi teks, yakni pola-pola bunyi dan sintaksisnya. Seperti repetisi, rima, irama, dan bentuk-bentuk stanzanya, termasuk seberapa sering munculnya kata-kata kunci atau imaji-imaji tertentu. Inilah yang disebut sebagai alat artistik bahasa bahasa puisi. Ia tak sekadar berfungsi sebagai hiasan tambahan bagi makna puisi, lebih dari itu, ia justru menyebabbkan perombakan total bahasa di tingkat semantik, bunyi, dan sintaksisnya.

Singkatnya, faktor kesastraan tersebut yang membuat bahasa teks sastra (re:pusi) dianggap unik, berbeda dengan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Atau bisa dikatakan inilah bedanya bahasa puitis dengan bahasa prosais. Bagi Saut, kesastraan bahasa puisi seperti yang diungkapkan kaum formalis Rusia, masih belum cukup untuk membuat sebuah puisi berhasil menjadi puisi yang mampu menciptakan katarsis.

Terdapat faktor lain di luar faktor linguistik, pola persajakan/verifikasi misalnya, yang juga memiliki fungsi artistik yang tak kalah penting untuk membuat ”sebuah sajak menjadi”, meminjam istilah Chairil Anwar. Faktor lain ini oleh kaum Kritik Baru Amerika disebut sebagai relasi timbal balik yang kompleks antara aspek-aspek ironi, paradoks, dan metafor dari makna bahasa sebuah karya serta  pengorganisasian ketiganya di antara sebuah tema kemanusiaan yang penting.

Menurut Saut, kombinasi atas kedua pandangan di atas mampu menjadikan kesastraan sebuah puisi dan memungkinkan untuk menimbulkan ekstasi-tekstual kepada para pembaca. Kombinasi keduanya, biasanya akan kita temukan pada sajak yang “menjadi”. Sajak yang “menjadi” biasanya adalah sajak yang bercerita, sajak yang memiliki sebuah topik pembicaraan, bisa soal percintaan, kelahiran, kematian, matahari dan bulan, atau ketuhanan. Bagi Saut, semua sajak Chairil dan sajak-sajak Rendra dalam kumpulan Blues untuk Bonnei adalah sajak-sajak bercerita yang “menjadi”.

Nb: Tulisan ini merupakan ringkasan sebuah essai Saut Situmorang 


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *