Dewasa kini, sering ditemui suatu prinsip yang dijunjung oleh para ilmuwan, yakni prinsip “sains yang bebas nilai”; tidak hanya dalam ranah ontologis, namun sampai menyentuh ranah aksiologis. Ini merupakan semangat untuk meneruskan perjuangan-perjuangan para ilmuwan jenius terdahulu seperti Galileo–suatu semangat yang mewujudkan netralitas sains dan ilmuwannya. Namun, secara historis, sebetulnya semangat netralitas tersebut, sejatinya adalah semangat pemberontakan dari ilmuwan dan sains itu sendiri. Yakni pemberontakan terhadap otoritas gereja dan “penjara” dogmatisnya yang menjadi belenggu terhadap para ilmuwan.
Apa yang terjadi pada zaman Galileo merupakan suatu bentuk interrelasi yang membelenggu para ilmuwan dengan segala inkuisisi, sanksi atau represivitasnya. Kemudian, para ilmuwan pada zaman tersebut menentang dengan keras melalui semangat netralitas sains. Ilmuwan yang menjunjung tinggi semangat netralitas tersebut adalah ilmuwan yang berkata objektif yang dengan begitu, tentu berkata jujur. Sejatinya, keobjektifan sains yang dilangsungkan oleh para ilmuwan tersebut adalah negasi atas negasi yang dilangsungkan oleh dogma gereja. Dengan kata lain, semangat netralitas tersebut adalah semangat pemberontakan.
Abad ke-21 kini, dengan corak kehidupan global yang mana masyarakat-masyarakat dengan ekspor kapital tinggi, membentuk ketergantungan dari masyarakat di mana kapitalnya bercokol. Dengan kata lain, ketimpangan dalam skala global ini merupakan suatu fakta sosial. Karenanya, prinsip netralitas sains yang menyentuh ranah aksiologis, patut dipertanyakan.
Sains sendiri memang cenderung netral. Namun, sains tidak pernah terlepas dari ilmuwannya, serta jaringan yang memungkinkan ilmuwan untuk memproduksi sainsnya. Karenanya, sains sendiri dalam produksinya sudah terikat oleh berbagai nilai. Selain nilai kemanusiaan, sudah pasti juga terikat oleh nilai ekonomi yang memungkinkan produksinya. Dan tentunya, nilai-nilai politik-legal yang akan menata dan mengelola produk saintifik lebih lanjut lagi.
Kenetralan sains akan terlihat jika sains dipandang sebagai suatu produk yang terpisah dari produsennya, dan produsennya dipisah dari kondisi-kondisi material yang memungkinkan produksinya. Namun, kenetralan tersebut hanyalah ilusi yang terbentuk karena kumulasi sains itu sendiri. Dengan kata lain, ilusi yang terbentuk karena sains direifikasi oleh pandangan yang memisahkan produk sains, dan sains itu sendiri, dari kondisi materialnya; sehingga seolah-olah, sains memiliki keberadaan yang independen dari ilmuwan dan kondisi material ilmuwannya. Oleh karena itu, memutus hubungan erat dari produsen dan produknya memungkinkan hadirnya suatu pandangan untuk melihat bahwa sains merupakan suatu pokok pembahasan yang terpisah dengan apa-apa saja yang menjadi bahasannya. Padahal, apa-apa saja yang dibahas oleh sains adalah kondisi yang memungkinkan ilmuwan untuk membahasnya.
Sangat absurd ketika sains, sebagai suatu produk dari kehidupan manusia, dipisahkan dari produsennya, kondisi-kondisi material produsennya, dan yang tak kalah penting, konsumen produk sains tersebut. Apakah para konsumen produk sains akan mempergunakan produk saintifik tersebut untuk kemanusiaan? Atau hanyalah suatu praktik yang berada dalam imperatif logika pasar?
Di zaman yang sangat terikat dengan logika pasar, seperti abad ke-21 kini, bahkan mungkin saja sedari awal prosesnya, produksi sains telah berlangsung dalam imperatif pasar. Oleh karena itu, berpegang teguh kepada prinsip “sains yang bebas nilai” pada ranah aksiologis saat abad ke-21 kini, justru adalah suatu bentuk dogmatisme. Karena prinsip tersebut menutup pikiran dari kemungkinan untuk mengetahui, bahwa produksi sains dan produknya justru dipergunakan oleh kelas dominan di satu sisi, dan menjauh dari kelas-kelas terdominasi di sisi lain. Dengan kata lain, memperkuat cengkraman kelas dominan atas kehidupan, dan pada akhirnya, gagal mewujudkan kemajuan bagi kemanusiaan itu sendiri.
Oleh karena itu, jika sains saja sudah demikian terikatnya dengan logika pasar, apakah masih mungkin sains merupakan produk yang ditujukan untuk memajukan kemanusiaan? Yang justru akan terjadi, dan yang bahkan telah terjadi, adalah terkonsentrasinya produk saintifik, termasuk teknologi, pada tangan segelintir kelas dominan.
Dengan kata lain, kumulasi sains dan teknologi berjalan beriringan dengan konsentrasi produknya pada tangan kelas dominan. Jika konsentrasi produk sains dan teknologi masih berada pada kelas dominan, dari masyarakat yang eksploitatif, ekspansif, dan menentang kemanusiaan itu sendiri; sains yang bebas nilai pada ranah aksiologis, adalah suatu bentuk keapatisan dari kelompok ilmuwan terhadap kemanusiaan itu sendiri. Dan di saat yang sama, mungkin para ilmuwan tersebut masih beranggapan bahwa produknya, merupakan upaya memajukan kemanusiaan itu sendiri. Sungguh ironis.
Jika kita memang ingin meneruskan perjuangan para ilmuwan jenius yang dulu memberontak terhadap dogma gereja, justru dogma yang meyakini bahwa sains terbebas dari nilai-nilai, pada ranah aksiologis lah yang harus dinegasikan. Sebagaimana ilmuwan-ilmuwan jenius terdahulu, menegasikan dogma gereja. Karena, secara terang-benderang, dapat disadari bahwa kondisi material abad ke-21 sangat jauh berbeda dibandingkan dengan kondisi material yang dihadapi oleh Galileo dkk.
Membiarkan sains dan teknologi terkonsentrasi dan dipergunakan oleh ideologi dominan, tanpa menyuarakan, atau bahkan bergerak memberontak terhadap kondisi tersebut justru adalah suatu pengkhianatan besar terhadap perjuangan ilmuwan-ilmuwan jenius terdahulu.
Jika kita memang menginginkan produk sains dan teknologi berguna untuk kemanusiaan, pertanyaannya adalah, apakah mungkin sains dan teknologi dipergunakan untuk kemanusiaan di saat produknya justru terkonsentrasi pada kelas dominan? Justru sebaliknya, sains dan teknologi harus dimiliki oleh kemanusiaan yang terbesar. Kemanusiaan yang terbesar, bukan dalam kapital yang dimiliki, akan tetapi, dalam kesamaan nasib sebagai kelas-kelas yang terdominasi. Itulah kemanusiaan yang terbesar.
Referensi
Marx, K., & Engels, F. (2023). The German ideology. Odise Publishing.
Suriasumantri, J. S. (2010). Filsafat ilmu: Sebuah pengantar populer.
Editor: Kanya Kiarra
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








