Hari itu, hari Senin, atau mungkin Selasa, atau hari apa pun yang tidak terlalu penting untuk diingat, sebab yang terasa justru bukan harinya, melainkan cara waktu berjalan seperti sesuatu yang pelan, berat, dan sedikit malas untuk bergerak maju. Kau duduk di beranda rumah yang kayunya mulai mengelupas, memandang jalan kampung yang tak pernah benar-benar sepi, tapi juga tak pernah benar-benar ramai. Ada suara anak-anak berlari, suara ibu-ibu memanggil dari dapur, dan sesekali motor lewat dengan knalpot yang terlalu percaya diri. Semua terdengar biasa saja. Terlalu biasa bahkan sampai-sampai kau hampir tidak pernah benar-benar mendengarnya. Kau tumbuh di kampung ini, tapi anehnya, kau tidak pernah benar-benar merasa mengenalnya. Selama ini, kampung bagimu hanyalah latar. Tempat tinggal. Titik asal dalam kartu identitas. Sesuatu yang disebut ketika orang bertanya, “Dari mana?” Lalu kau menjawab singkat, tanpa beban, tanpa cerita. Mungkin itu yang membuatmu berhenti hari itu. Bukan karena ada sesuatu yang berubah di kampung ini. Jalan masih sama. Rumah-rumah masih berdiri dengan cara yang sama. Bahkan wajah-wajah yang lewat pun masih wajah yang itu-itu saja. Tapi ada satu hal yang terasa berbeda, yakni caramu melihat.
Entah sejak kapan, kau mulai merasa bahwa selama ini kau hanya melihat kampungmu dari luar. Seperti orang asing yang kebetulan tinggal lama. Seperti tamu yang lupa pulang, tapi juga tidak pernah benar-benar menetap. Kau teringat percakapan beberapa waktu lalu. Tentang budaya. Tentang kampung. Tentang bagaimana orang-orang dengan mudah mengatakan, “Ini budaya kita,” seolah-olah mereka benar-benar tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Padahal, kalau ditanya lebih jauh, jawabannya sering berhenti di permukaan. Tradisi. Upacara. Pakaian. Hal-hal yang bisa dilihat, difoto, lalu dijadikan takarir. Kau tersenyum kecil. Selama ini, kau juga begitu. Mengira budaya adalah sesuatu yang selesai. Sesuatu yang tinggal diwariskan, tanpa perlu dipertanyakan. Tanpa perlu dipahami ulang. Padahal, kalau dipikir-pikir, semua yang ada di kampung ini tidak pernah benar-benar diam. Orang-orang berubah. Cara mereka bicara berubah. Cara mereka bercanda, bertengkar, berdamai, semuanya bergerak pelan-pelan, seperti waktu yang tadi kau rasakan. Terasa lambat, tapi pasti.
Dan anehnya, perubahan itu hampir tidak pernah kau sadari. Kau berdiri, berjalan sedikit ke arah jalan, lalu berhenti lagi. Ada seorang bapak tua yang sedang duduk di pinggir jalan, memandangi sesuatu yang tidak jelas. Mungkin tidak sedang memandangi apa-apa. Mungkin hanya sedang mengingat. Kau ingin menyapanya, tapi urung. Ada jarak yang aneh. Bukan jarak fisik, tapi sesuatu yang lebih dalam. Seperti ada banyak hal yang seharusnya kau tahu, tapi tidak pernah benar-benar kau tanyakan.
Selama ini, kau terlalu sibuk melihat ke luar. Kota, misalnya. Dengan segala ceritanya tentang kemajuan, tentang modernitas, tentang hal-hal yang terdengar lebih penting. Lebih layak diperjuangkan. Lebih pantas untuk diceritakan. Tanpa sadar, kau mulai melihat kampung dengan cara yang sama seperti orang-orang di luar melihatnya. Kampung sebagai sesuatu yang tertinggal. Sederhana dalam arti yang sedikit merendahkan. Tenang, tapi seperti tidak punya arah. Dan yang paling parah, kau mulai merasa sedikit malu. Malu dengan logatmu sendiri. Malu dengan cara orang-orang di sini berbicara. Malu dengan hal-hal kecil yang dulu terasa biasa saja.
Kau menghela napas. Mungkin ini bukan sepenuhnya salahmu. Sejak dulu, cerita tentang kampung memang lebih sering datang dari luar. Orang-orang datang, mencatat, meneliti, lalu menulis. Mereka memberi nama pada apa yang mereka lihat. Membuat kategori. Menentukan mana yang dianggap penting, mana yang tidak. Kau dan orang-orang seperti kau sering kali hanya jadi bagian dari cerita itu. Objek. Bukan subjek. Kau duduk kembali, kali ini di tangga rumah. Kayunya hangat oleh matahari. Sedikit kasar, tapi justru itu yang membuatmu merasa benar-benar menyentuh sesuatu yang nyata. “Kalau bukan kita yang cerita, lalu siapa?” Kalimat itu tiba-tiba muncul di kepalamu, entah dari mana. Sederhana, tapi mengganggu. Selama ini, kau jarang menulis tentang kampung. Kalaupun menulis, biasanya tentang hal-hal yang jauh. Tentang kota lain, tentang isu besar, tentang hal-hal yang terasa lebih “layak” untuk dipikirkan. Kampung terlalu dekat. Terlalu biasa. Terlalu … tidak menarik. Atau mungkin, kau saja yang tidak pernah benar-benar melihatnya. Kau mulai memperhatikan lagi sekitar. Lebih pelan. Lebih hati-hati. Seorang ibu berjalan sambil membawa sayur di keranjang. Cara ia menyapa tetangga, cara ia tertawa, bahkan cara ia mengeluh tentang harga cabai. Semuanya terasa seperti potongan-potongan kecil dari sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang selama ini kau lewatkan.
Di ujung jalan, anak-anak masih berlari. Mereka tertawa tanpa beban, tanpa memikirkan apa pun selain permainan yang sedang mereka jalani. Kau tiba-tiba bertanya dalam hati, apakah mereka nanti akan tumbuh seperti dirimu? Pelan-pelan menjauh dari kampungnya sendiri? Atau mereka akan punya cerita yang berbeda? Kau tidak tahu. Yang kau tahu, ada banyak hal di kampung ini yang tidak pernah benar-benar dicatat. Cerita-cerita yang hanya hidup di kepala orang-orang. Ingatan yang perlahan memudar, satu per satu, tanpa sempat dituliskan. Di dunia seperti sekarang, itu terasa berbahaya. Bukan karena cerita itu akan hilang sepenuhnya. Tapi karena suatu saat, ketika orang bertanya, “Mana buktinya?” Kau tidak punya apa-apa selain ingatan. Dan ingatan, sekuat apa pun, sering kali tidak cukup. Kau mulai membayangkan bagaimana kalau suatu hari kampung ini berubah? Jalan diperlebar. Rumah-rumah diganti. Orang-orang lama pergi, digantikan wajah-wajah baru. Apa yang akan tersisa? Apa yang akan benar-benar kau ingat? Dan lebih penting lagi apa yang bisa kau ceritakan? Kau menunduk, memandang tanganmu sendiri. Tangan yang selama ini lebih sering digunakan untuk menulis hal-hal yang jauh, tapi hampir tidak pernah menyentuh cerita yang paling dekat. Ada rasa aneh. Sedikit bersalah, mungkin. Tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu seperti dorongan kecil yang perlahan membesar. Keinginan untuk mulai. Bukan menulis sesuatu yang besar. Bukan sesuatu yang harus langsung sempurna. Tapi sekadar mencatat. Tentang jalan ini. Tentang suara-suara yang tadi kau dengar. Tentang bapak tua yang duduk sendirian tanpa alasan yang jelas. Tentang cara orang-orang di kampung ini hidup, berubah, dan bertahan. Kau tersenyum tipis. Mungkin selama ini kau salah. Kampung bukan sesuatu yang harus dibela mati-matian, bukan juga sesuatu yang harus dibanggakan tanpa pikir panjang. Ia hanya perlu dipahami. Untuk memahami, kau harus mau melihat lebih dalam. Mendengar lebih saksama. Dan, yang paling penting, berani menuliskannya. Angin sore mulai datang pelan-pelan. Tidak dingin, tapi cukup untuk membuat udara terasa sedikit lebih ringan. Kau berdiri, melangkah masuk ke dalam rumah, lalu berhenti di ambang pintu. Ada satu pikiran terakhir yang terlintas. Kalau kau terus diam, mungkin kampung ini akan tetap ada. Jalan ini akan tetap dilalui. Orang-orang akan tetap hidup seperti biasa. Tapi ceritanya? Belum tentu. Mungkin, suatu hari nanti, kau akan membaca tentang kampungmu sendiri dari tulisan orang lain. Versi yang rapi. Versi yang mungkin indah. Tapi terasa asing. Saat itu terjadi, kau akan sadar bahwa yang hilang bukan sekadar cerita. Tapi sesuatu yang lebih dalam. Sesuatu yang seharusnya kau jaga sejak awal. Kau menarik napas panjang, lalu masuk. Mungkin sudah waktunya mulai menulis. Bukan tentang tempat lain. Tapi tentang rumahmu sendiri.
Editor: Farras Pradana
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








