Pocong, CIA, dan Cipta Kondisi

Penulis
Teror pocong dan ketakutan massal bikin kita jadi bertanya, isu besar mana lagi yang mau ditutupi dan kebijakan bobrok apalagi yang akan dijalankan?

Pocong di Ciputat. Pocong di Kalideres. Pocong di Sidoarjo. Pocong di Magelang. Jujur saja, alih-alih bikin bulu kuduk saya berdiri, horor murahan yang bikin warga mengunci pintu rapat-rapat ini justru memantik ingatan saya ke hutan belantara Filipina pada malam awal 1950-an lalu.

Saat itu, sekelompok pemberontak komunis Huks yang sedang berpatroli, menemukan kamerad mereka tewas tergeletak di tengah jalan setapak. Namun, bukan kematian itu yang membuat lutut mereka bergetar, tetapi cara kawan mereka dibunuh.

Di leher mayat itu, terdapat dua lubang yang cukup dalam, persis seperti bekas gigitan vampir. Tubuhnya pucat pasi, karena seluruh darahnya telah dikuras habis.

Melihat pemandangan itu, nyali para pemberontak yang biasanya tak takut mati menghadapi berondongan peluru militer, seketika ciut. Mereka lari terbirit-birit meninggalkan hutan. Di kepala mereka, hanya ada satu satu sosok yang terbayang: Aswang. Ia adalah monster penghisap darah paling ditakuti dalam mitologi lokal Filipina. Mirip dengan vampir.

Namun, yang tak mereka ketahui, pembunuh kawan mereka bukanlah demit, tetapi sekelompok tentara yang dilatih khusus oleh Edward Lansdale, seorang agen CIA Amerika Serikat. Lansdale, yang sebelum terjun ke dunia intelijen adalah seorang eksekutif periklanan, menemukan sebuah cacat pikir dalam psikologi manusia.

Ia sadar, peluru tak selalu ampuh melukai lawan. Akan tetapi, takhayul bisa melumpuhkan akal sehat para Sapiens. Dari situlah, ia memerintahkan pasukannya untuk menculik seorang pemberontak, melubangi lehernya, menggantungnya terbalik hingga darahnya habis, dan meletakkannya kembali.

Kamerad-kamerad Huks, yang seharusnya “haram” buat percaya demit, dipaksa percaya bahwa yang membunuh rekan mereka ada Aswang.

Dalam intelijen, taktik ini oleh Paul Linebarger dalam buku babonnya, Psychological Warfare (1948), disebut weaponized superstition. Strategi mempersenjatai takhayul. Konsep ini agak laen, tapi toh berhasil. Konsepnya sederhana: mengubah ketakutan irasional masyarakat menjadi senjata taktis di lapangan.

Lagi pula, hantu adalah tentara bayaran yang paling sempurna. Ia tak butuh peluru. Tak perlu dibayar. Dan, yang paling penting, hantu tidak akan pernah bisa diseret ke pengadilan Hak Asasi Manusia.

Dengan menyuntikkan mitos lokal ke dalam arena perang, CIA berhasil melewati nalar logis musuhnya, para komunis itu. Ketakutan purba manusia dimanipulasi dengan kemasan yang amat sempurna.

Taktik berdarah di hutan Filipina itu membuktikan bahwa hantu jauh lebih efektif untuk menundukkan manusia ketimbang senjata.

Empat dekade kemudian, cetak biru “operasi psikologis” ini rupanya diekspor melintasi samudra dan mendarat di Indonesia yang saat itu ada di masa-masa senjakala Orde Baru. Tepatnya tahun 1998.

Saat itu, negara sedang berada dalam titik didih tertinggi. Ekonomi hancur. Mahasiswa turun ke jalan. Apalagi, pondasi kekuasaan di Jakarta terus meretak. Tiba-tiba, jauh dari riuhnya ibu kota, muncul sebuah teror gaib yang mencekam seluruh Jawa Timur, khususnya Banyuwangi.

Lampu-lampu desa, kala itu, sering mati secara misterius di malam hari. Di tengah kegelapan itu, muncul sosok-sosok berpakaian serba hitam, bergerak lincah menembus atap rumah laiknya seorang “Ninja”.

Target mereka bukan politisi, tetapi para guru ngaji, ulama, dan warga biasa yang tiba-tiba diberi cap sebagai “dukun santet”. Ratusan nyawa melayang dengan cara yang brutal. Tubuh-tubuh dicincang, rumah-rumah pun ikut dibakar.

Hingga hari ini, dalang resmi di balik teror Ninja Banyuwangi tidak pernah benar-benar diseret ke meja hijau. Namun, polanya terlalu rapi untuk disebut sebagai “kebetulan”.

Operasi ini, secara pola, mirip dengan yang dilakukan CIA di Filipina. Sosiolog Frank Furedi dalam bukunya Culture of Fear (1997), mengurai sebuah kerangka yang ia sebut sebagai “the politics of fear”. Furedi memperingatkan bahwa bagi para elite kekuasaan, kepanikan sipil adalah mata uang yang sangat berharga. Katanya, “cipta kondisi adalah seni merekayasa krisis”.

Ketika krisis politik di Jakarta mengancam kedudukan para elite, mereka membutuhkan sebuah pengalih isu. Maka, diciptakanlah panggung teror di tingkat akar rumput.

Mitos lokal tentang santet dan ilmu hitam—yang memang tertanam kuat dalam DNA kultural masyarakat Jawa—terus disiram bensin. Hasilnya luar biasa efektif. Rakyat mulai saling curiga. Tetangga membunuh tetangga. Warga desa tidak lagi peduli dengan jatuhnya nilai tukar rupiah atau demonstrasi di gedung DPR, apalagi menurunkan Soeharto. Sebab, mereka terlalu sibuk berjaga di pos ronda, menunggu kedatangan Ninja, atau yang merasa takut ogah buat keluar rumah.

Ninja Banyuwangi adalah mahakarya the politics of fear. Ketika rakyat hidup dalam teror dan saling memangsa satu sama lain, elite di atas sana memiliki ruang yang sangat luas dan tenang untuk mengkonsolidasi kekuasaan atau menghapus jejak kejahatan mereka.

Namun, sejarah punya cara yang unik untuk menertawakan manusia. Para sutradara politics of fear itu tidak pernah benar-benar mati. Mereka hanya berganti baju, memperbarui mesinnya, dan menyesuaikan diri dengan zaman.

Hari ini, mereka tidak lagi membutuhkan seragam Ninja. Di era modern, teror cukup dikirim melalui grup Whatsapp. Seperti yang menjadi keresahan saya di awal tulisan, terhitung sejak awal Mei 2026 ini, masyarakat tiba-tiba diserang oleh kepanikan massal karena teror pocong jadi-jadian.

Grup-grup WhatsApp keluarga dan warga RT berdenting tanpa henti, memuntahkan video-video. Ada kain putih yang melompat di sudut jalan di Ciputat. Ada bayangan menyerupai pocong yang terekam kamera CCTV di Cipondoh. Bahkan, di Magelang, ada pocong mengetuk kaca sambil membawa senjata tajam.

Polisi memang sudah menangkap beberapa pelaku yang ternyata hanyalah pengamen cosplay pocong. Sementara sebagian video lainnya dikonfirmasi sebagai hoaks, cuma daur ulang dari kota lain.

Namun, fakta bahwa itu hanyalah hoaks tidak mampu menghentikan laju ketakutan. Warga tetap mengunci pintu rapat-rapat setelah Isya’. Jalanan kampung mendadak sepi. Orang tua melarang anak-anaknya keluar rumah. Siskamling dadakan kembali diaktifkan.

Bagi sebagian masyarakat, mungkin, fenomena pocong ini terlihat seperti lelucon norak anak muda yang kebelet viral. Namun, jika kita meminjam gagasan sosiolog Ignacio Ramonet, pocong jadi-jadian ini adalah manifestasi dari apa yang ia sebut sebagai weapon of mass distraction. “Senjata pengalihan massal”. Pengalih isu.

Dalam pandangan Ramonet, di era tsunami informasi seperti sekarang ini, penguasa tidak lagi menyensor berita dengan cara memblokir. Mereka melakukan sensor dengan cara menjejali publik dengan informasi murahan. Ruang nalar sengaja dibanjiri oleh kebisingan yang irasional agar diskursus kritis mati.

Di era digital, “cipta kondisi” bisa digerakkan oleh sindikat kriminal amatir, maupun oleh aktor politik profesional. Jika ini adalah cipta kondisi kriminal rendahan, para sindikat begal sangat paham sosiologi kita: orang Indonesia jauh lebih takut pada hantu ketimbang pada aparat. Dengan memviralkan video pocong jadi-jadian, mereka berhasil menerapkan “jam malam” secara alamiah. Saat warga bersembunyi inilah komplotan penjahat ini bisa leluasa menggasak sepeda motor.

Persis cara Lansdale, hanya saja versi amatir.

Namun, mari kita lihat kemungkinan keduanya. Hantu yang muncul serentak di berbagai kota besar, jarang sekali disebut kebetulan. Seperti ada asap yang sengaja disemburkan agar pandangan warga jadi kabur. Saat jutaan warga menghabiskan waktu berjam-jam setiap hari berdebat soal keaslian video pocong, ada isu-isu besar yang sengaja dibiarkan terlupakan.

Ada undang-undang kontroversial yang berpotensi disahkan secara diam-diam di Senayan. Ada dugaan mega-skandal korupsi yang sedang ditutupi. Rakyat yang sibuk mengurus hantu, juga tidak akan punya sisa waktu dan tenaga untuk mengkritik kebijakan negara yang semakin ngawur.

Kepanikan yang diciptakan di grup-grup Whatsapp, berhasil mengurung rasionalitas kolektif sebuah bangsa.

Dari Aswang di Filipina, ninja di Banyuwangi, dan pocong jadi-jadian akhir-akhir ini, memberi kita satu kesimpulan: sepanjang sejarah peradaban, penguasa selalu menjadikan ketakutan sebagai komoditas yang paling menguntungkan. Mitos dan takhayul adalah lahan basah yang tak pernah kering untuk dieksploitasi.

Dari hutan Filipina, desa-desa di Banyuwangi, hingga kampung-kampung di sejumlah kota, polanya selalu sama. Subjek ketakutannya sengaja dirancang seram dan tak masuk akal agar nalar kita berhenti bekerja. Saat nalar mati, kendali atas massa menjadi sangat mudah dilakukan.

Kita boleh saja menertawakan kamerad-kamerad Huks di tahun 1950-an yang percaya pada vampir. Kita bisa merasa lebih pintar dari penduduk desa tahun 1998 yang saling serang karena isu ninja. Namun, kenyataannya, di tahun 2026 yang serba canggih dan dilengkapi kecerdasan buatan, masyarakat kita masih saja rela mengunci diri di dalam rumah hanya karena sepotong kain putih kotor yang melompat-lompat di jalanan.

Saat kita mengurung diri di dalam kamar itulah, kita terpaksa lupa kalau rupiah terus melemah, hutan-hutan di Papua terus dibabat, MBG terus meracuni siswa, aktivis terus dikriminalisasi, tentara semakin ikut campur urusan sipil. Saat kita mengurung diri di dalam kamar itulah, kita harus siap kebijakan aneh apalagi yang mau dijalankan.

Pocong-pocong ini, serius, berhasil menutupi berbagai isu-isu besar.


*Tulisan ini dimuat pertama kali di akun Substack penulis pada 24 Mei 2026.


Editor: Ivo Trias Julianno


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *