Kita sering kali disuguhkan narasi pahlawan yang rapi dan penuh heroisme. Seolah-olah seorang manusia hanya memiliki satu dimensi kehidupan yang statis dari lahir hingga wafat. Historiografi semacam ini menyajikan sejarah dengan cara yang terlampau sederhana melalui satu nama, satu tokoh, dan satu kisah yang ditarik dalam garis lurus agar mudah dicerna. Namun, kesederhanaan naratif semacam itu justru sangat merugikan dan menyesatkan. Terlebih untuk kasus Tan Malaka yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan di jagat maya.
Tan Malaka adalah seorang tokoh dengan serangkaian konstelasi dari identitas, gelar adat dan gagasan yang saling keterkaitan. Hubungan tersebut perlu dipahami sebagai usaha untuk mendobrak dan keluar dari cara pandang sejarah konvensional (atau yang ramai di media sosial) yang terlalu memusat pada aspek fisik (tubuh) dan tragedi kematiannya yang terlalu diromantisasi dengan tubrukan pada situasi Indonesia hari ini.
Kematian Fisik Ibrahim
Pada kelahirannya, bukan nama Tan Malaka yang disandang seperti kita mengenalnya hari ini. Ia lahir dengan nama Ibrahim. Seorang anak Minangkabau yang lahir di Kenagarian Pandam Gadang, Gunung Omeh, Lima Puluh Kota pada 2 Juni 1897.
Ia adalah manusia biasa layaknya kita semua. Ia butuh makan, bisa jatuh sakit sampai menahan perihnya tuberkulosis dalam kehidupannya merasa lelah saat dikejar-kejar intelijen dan harus bersembunyi di gorong-gorong dan pasar bahkan melintasi berbagai negeri yang disinggahinya. Sampai ketika peluru dari tentara menembus tubuhnya di kaki Gunung Wilis, Selopanggung pada 21 Februari 1949, jasadnya yang bernyawa pun pergi.
Kita tahu–dan mungkin sudah jadi klise, tidak ada makam dengan nisan berbatu pualam yang megah berukir emas atas namanya bahkan tidak ada prosesi tembakan salvo kenegaraan yang mengiringi kepergiannya, dan untuk waktu yang sangat lama, keberadaan pusaranya sengaja dikaburkan dan dihilangkan dalam tumpukan arsip.
Secara fisik, eksistensi Ibrahim memang telah selesai. Namun, di sinilah letak ironi terbesar bagi para algojo yang mengarahkan senapan itu: sejarah tidak pernah berhenti pada hancurnya tubuh seorang individu.
Adat Minangkabau yang Menyamainya
Hal yang penting, tapi sepertinya luput dari perbincangan mengenainya akhir-akhir ini adalah ia lahir dan tumbuh pertama-tama dari akar budayanya, yakni Minangkabau. Setelah menamatkan pendidikannya di Kweekschool (Sekolah Guru Pribumi) Bukittinggi pada 1913, ia kembali ke Pandam Gadang. Ia kemudian sesuai posisinya dalam struktur sosial kemasyarakatan Minangkabau didaulat menyandang gelar kebesaran: Datuk Sutan Malaka (Sebuah gelar yang kelak, bertahun-tahun kemudian, lebih dikenal untuk menandai sosoknya, ketimbang nama lahirnya sendiri). Dengan sistem Matrilineal, gelar adat itu diturunkan berdasarkan garis dari kakak/adik laki-laki ibunya Tan Malaka. Setelah ia mati, gelar tersebut diturunkan lagi.
Datuk Sutan Malaka bukan sekadar nama tambahan atau pajangan seremonial, tetapi sebuah penanda adat yang sarat akan makna luhur. Gelar “Datuk” menunjukkan sebuah posisi yang terhormat, yang diberikan bukan karena kepemilikan harta dan kekayaan, melainkan semata-mata karena beban tanggung jawab moral yang dipikul serta kecakapan dan ketajaman dalam berpikir. Sementara itu, “Sutan” mengisyaratkan suatu bentuk kebangsawanan kultural yang jauh dari kesan feodalisme pasif. Namun, melambangkan kepemimpinan egaliter yang bertumpu pada asas musyawarah, dialog, dan kesetaraan (tungku tigo sajarangan).
Konteks adat Minangkabau yang menyamai ini jarang disinggung ketika membicarakan jejak gagasannya. Radikalisme, pandangan kritis, dan corak pemikiran “Kiri”-nya sering kali dipahami secara sempit semata-mata dianggap sebagai pengaruh pemikiran dari Barat, imbas perkenalannya dengan Marxisme di Belanda, paham internasionalisme, dan cita-cita revolusi proletar. Padahal, akar keberaniannya dalam berpikir kritis sesungguhnya mula-mula tumbuh dan mekar dari tradisi Minangkabau itu sendiri. Budaya kato manurun, kato mendaki, tradisi dialektika di surau, logika argumentatif yang tajam, serta keberanian etis untuk menentang otoritas struktural yang tidak adil adalah warisan dari lingkungannya tumbuh.
Nama Alias yang Membawa Gagasan dan Keabadiannya
Ibrahim bergelar Datuk Sutan Malaka bukanlah sekadar manusia yang memakai aksesoris budaya untuk menguatkan kharisma, melainkan sosok individu yang turut berkontribusi membentuk fondasi kebangsaan Indonesia. Tan Malaka–pemendekan dari gelar adatnya–adalah sebuah nama yang dipilih secara sadar, dibentuk dengan perhitungan cermat, dan dipertahankan dalam bara pelarian. Nama itu bukanlah sekadar alias biasa layaknya Ilyas Hussein yang ia pakai saat menyamar menjadi kerani pada pertambangan batu bara di Bayah, Banten untuk menghindari kejaran Kempetai (Polisi Militer Rahasia Zaman Jepang). Identitasnya sebagai Tan Malaka yang kita amini hari ini merupakan cermin daripada ketajaman berpikir dan perjuangan tanpa henti.
Namun, perjalanan identitasnya adalah sesuatu yang lentur menyesuaikan lekuk tempatnya berjuang. Ia menjelajah dari satu negeri ke negeri lain melintasi belasan negara dari Eropa hingga ke jantung Asia tanpa dibelenggu pada satu identitas. Sebuah situasi yang harus dilakukan agar nyala dari proses menuju Republik Indonesia yang merdeka tidak padam.
Tatkala jasadnya menyatu dengan tanah, ia berada dalam ruang antara: diingat atau dilupakan; serta, dengan cara seperti apa pilihan itu dilakukan. Hari ini, kita masih mengingatnya. Ia diingat. Namun, perjalanannya penuh konflik, pertarungan atas memori terjadi.
Jika disusun secara singkat, kira-kira seperti ini: gagasannya terus-menerus diperdebatkan di ruang-ruang akademik, dicurigai secara paranoid oleh aparat Orde Baru, disingkirkan dari daftar pahlawan resmi, lalu dengan sendirinya direbut dan ditemukan kembali oleh generasi penerus yang haus kebenaran serta dijadikan nama komunitas dalam platform digital.
Singkatnya, peluru yang membunuhnya tidak pernah benar-benar cukup. Sebuah negara bisa dengan mudah dan kejam menghapus eksistensi jasadnya, tetapi tidak akan berhasil menghapus sebuah gagasan atau sosok yang telah tertanam dalam memori kolektif banyak orang. Sehingga, ia bukanlah aset eksklusif milik satu komunitas atau organisasi politik tertentu. Pemikirannya adalah warisan inklusif untuk semua anak bangsa. Selama diskursus tentang keadilan sosial, kemerdekaan berpikir, dan kedaulatan rakyat masih belum tercapai di negeri ini, maka namanya akan terus berhembus dan tetap hidup.
Terakhir, kita harus meletakkan ketiga tautan identitasnya secara proporsional. Pertama, jasad fisik Ibrahim sudah lama mati. Namun, identitas gelar atau kulturnya sebagai Datuk Sutan Malaka masih hidup dan diwariskan dalam tradisi turun-temurun matrilineal masyarakat Minangkabau (hari ini masih ada yang melanjutkan gelar Datuk Sutan Malaka). Ketiga, Tan Malaka sebagai seorang revolusioner dengan warisan pemikirannya–dalam buku-buku yang kini laris manis–terus mengembara dan hidup.
Editor: Farras Pradana
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








