Perang Saudara Spanyol dan Kehancuran CNT-FAI

Penulis

Perang Saudara Spanyol sering disebut sebagai “pembukaan” bagi konflik Perang Dunia II. Konflik ini menjadi medan tempur di mana ideologi-ideologi dan negara besar dunia saling bertarung memperebutkan pengaruh beserta menguji taktik dan alat tempur mereka (Beevor, 2012, hlm. 1-5). Di tengah pertarungan besar ini, sebuah kekuatan sosial dari dalam Spanyol sendiri, gerakan Confederación Nacional del Trabajo (CNT), berusaha memenangkan perang sekaligus melakukan revolusi sosialnya sendiri.

Poster propaganda milik serikat buruh CNT yang menyerukan mobilisasi rakyat selama berkecamuknya Perang Saudara Spanyol, sekitar 1936–1937. © 2026 Agencia EFE

CNT sendiri menerapkan model desentralisasi anarkis dan antibirokratisme. Organisasi dasarnya bukanlah serikat pekerja nasional melainkan sindicatos únicos (serikat pekerja khusus), yang menyatukan para pekerja dari semua jenis dan keahlian di suatu wilayah tertentu. Komite nasionalnya dipilih setiap tahun dari wilayah yang berbeda untuk memastikan tidak ada individu yang menjabat lebih dari satu periode; dan semua delegasi dapat segera ditarik kembali oleh para anggotanya. CNT mengklaim memiliki 700.000 anggota pada tahun 1919, 1.600.000 pada tahun 1936, dan lebih dari 2.000.000 selama perang berlangsung, di mana mereka hanya mempekerjakan satu sekretaris yang digaji (Beevor, 2012, hlm. 46).

Ketika sejumlah elemen militer Spanyol melakukan kudeta pada tahun 1936, kaum anarkis dari CNT dan Federación Anarquista Ibérica (FAI) berada di garda terdepan menghadapi mereka. Kudeta militer yang ditujukan untuk mengambil alih Spanyol dan dengan cepat justru menemui perlawanan sengit dari rakyat dan buruh. Di Barcelona, ​​para pekerja menyerbu barak dan mengalahkan kudeta dalam beberapa hari, memastikan Catalonia menjadi pusat eksperimen anarkis (Beevor, 2012, hlm. 71-75).

Kelompok Anarkis di Spanyol sendiri telah memiliki pengalaman bertahun-tahun dalam insureksi kota dan mogok massal melawan monarki serta pemerintahan konservatif. Di wilayah seperti Andalusia, Aragon, dan Catalonia, dengan semangat anti kekuasaan sentral memberi ruang bagi CNT, serikat pekerja anarkis terbesar di Spanyol, untuk tidak hanya melawan fasisme, tetapi juga mewujudkan mimpi masyarakat tanpa negara mereka. CNT-FAI memandang runtuhnya kekuasaan negara bukan hanya sebagai kesempatan untuk mengusir fasisme, tetapi juga sebagai momen yang telah lama ditunggu-tunggu untuk revolusi sosial (Beevor, 2012, hlm. 71-75).

Dilema pertama yang dihadapi kelompok anarkis adalah panggilan untuk berkolaborasi dengan negara yang (konsepnya) mereka tolak. Pada Oktober 1936, untuk mengkonsolidasikan perlawanan terhadap pemberontak nasionalis dan, yang terpenting, mendapatkan akses ke senjata dan pendanaan, para pemimpin CNT-FAI memutuskan untuk ikut serta dalam Kabinet Francisco Caballero (Beevor, 2012, hlm. 145-146). Front Populer Caballero adalah koalisi politik yang sangat longgar dan sebelumnya memenangkan pemilu tahun 1936. CNT-FAI, sebagai kekuatan anarkis utama di Spanyol, cukup kuat di wilayah Catalonia, tetapi tidak memiliki sekutu yang kuat. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kelompok Komunis yang berafiliasi dengan Komintern dan mendapat dukungan dari Uni Soviet.

Perang Saudara Spanyol sendiri memang memberikan kesempatan kepada kelompok-kelompok anarkis untuk unjuk gigi di medan perang. Kelompok Internasional Kolom Durruti adalah salah satunya. Unit yang dipimpin kaum anarkis ini terdiri dari sekitar 368 sukarelawan dengan berbagai pandangan politik dari setidaknya 25 negara berbeda. Pada 14 November 1936, Kolom Durruti tiba di Madrid bersama lebih dari 1.000 milisi dari Front Aragon. Nahas, pada 20 November, Buenaventura Durruti meninggal saat bertempur dalam Pertempuran Madrid.

Gelombang perang sendiri perlahan semakin tidak menguntungkan Republik. Pada tahun 1937 dan 1938, pasukan Franco, yang didukung oleh Nazi Jerman dan Fasis Italia, semakin mendesak pihak Republik. Benteng anarkis di Aragon dihancurkan, kolektifnya dibubarkan oleh pasukan yang dipimpin komunis bahkan sebelum pasukan Franco tiba. Kondisi mereka telah dilemahkan dengan dilangsungkannya Serangan Aragon pada tahun 1938.

Setelah Pertempuran Ebro (25 Juli–16 November 1938), pasukan Franco telah sangat melemahkan pasukan Republik yang ditempatkan di Catalonia, yang kapasitas operasionalnya berkurang akibat hilangnya material perang dan gugurnya prajurit veteran dalam pertempuran. Meskipun Staf Umum Tentara Republik Populer mempertahankan apa yang disebut “Grup Tentara Wilayah Timur” dengan 300.000 prajurit, di bawah komando Jenderal Juan Hernández Saravia dan Vicente Rojo Lluch, sebagian besar pasukan ini merupakan rekrutan yang kurang berpengalaman dan kekurangan persenjataan yang memadai untuk diperlengkapi secara lengkap.

Milisi wanita Catalan dari serikat buruh CNT bersiap di garis depan selama tahap awal Perang Saudara Spanyol, 1936. © 2026 Arxiu Nacional de Catalunya

Angkatan udara Republik juga berada dalam kondisi yang buruk, dengan hampir sepertiga pesawatnya dalam kondisi buruk dan tidak layak tempur. Penarikan unit-unit Brigade Internasional pada Oktober 1938, juga membuat Republik kehilangan kontingen pasukan yang, meskipun jumlahnya sangat kecil, memiliki pengalaman baik dalam medan pertempuran.

Kekalahan CNT-FAI tidak dapat dipahami tanpa konteks geopolitik yang lebih luas. Pasukan Francisco Franco mendapatkan dukungan militer yang masif dan terorganisir dari rezim fasis Jerman dan Italia, berupa pasukan reguler, persenjataan modern, pesawat tempur canggih seperti yang digunakan Legiun Kondor Jerman dalam pengeboman Guernica, serta dukungan logistik yang menjamin kelancaran suplai. Italia menyediakan ribuan unit artileri, mortir, truk, tank, dan pesawat, serta dukungan uang sebanyak 400 juta dollar. Nazi Jerman tidak hanya menyumbangkan perlengkapan senjata, amunisi, dan kendaraan tempur senilai 215 juta dollar, tetapi juga membangun fondasi militer Nasionalis yang profesional dengan melatih 56.000 tentara, serta mengerahkan sekitar 16.000 personilnya sendiri sebagai pasukan tempur dan penasihat militer (Beevor, 2012, hlm. 198-199).

Kelompok anarkis CNT-FAI justru harus bergulat dengan kondisi yang serba terbatas: mereka mengandalkan persenjataan hasil rampasan, produksi senjata rakitan lokal yang seringkali tak memadai, dan semata-mata mengandalkan semangat sukarelawan serta struktur milisi yang terdesentralisasi. Mobilisasi pihak Republik juga terhambat oleh Pakta Non-Intervensi, yang ditandatangani oleh Inggris dan Prancis, yang secara efektif mengembargo pengiriman senjata.

Uni Soviet sempat mengisi sebagian celah tersebut, tetapi dengan harga yang harus dibayar. Moskow memasok senjata hanya melalui jalur faksi komunis di parlemen, mempererat cengkraman mereka pada politik Republik dan meminggirkan kaum anarkis. Brigade Internasional yang bertarung dengan heroik, juga merupakan bagian dari instrumen pengaruh Soviet.

Surat kabar anarko-sindikalis dari wilayah Catalonia, Spanyol, dipublikasikan selama periode Revolusi Sosial, 1936. © 2024 Revista Catalonia/CC BY 2.0,0 via Wikimedia Commons

Di sini lah model organisasi CNT-FAI menunjukkan kekurangannya menghadapi perang modern. Milisi yang otonom seringkali kekurangan koordinasi dan disiplin yang dibutuhkan untuk pertempuran skala besar. Dalam upaya melawan kaum nasionalis, CNT-FAI akhirnya mendukung pembentukan “Tentara Rakyat” (Ejército Popular) yang hirarkis, sebuah institusi yang pada hakikatnya adalah tentara negara konvensional (Brown, 2023, hlm. 360-371). Langkah ini merupakan bentuk pengikisan prinsip mereka sendiri, di mana disiplin militer menggantikan semangat kesukarelaan. Kekuatan pun secara perlahan bergeser dari dewan-dewan pekerja dan milisi lokal ke tangan struktur militer terpusat, yang lambat laun dikuasai oleh kekuatan politik lain di pihak Republik, terutama Partai Komunis Spanyol (PCE).

Struktur milisi CNT-FAI yang non-hirarkis, sukarela, dan berdasarkan pada semangat kolektif, mungkin ideal untuk pertempuran jalanan dan aksi langsung di daerah urban. Namun, struktur ini tidak memadai untuk menghadapi mesin perang Franco yang terlatih, terdisiplin, dan didukung persenjataan modern dari Nazi Jerman dan Fasis Italia. Perang saudara telah dengan cepat berubah menjadi perang konvensional yang membutuhkan komando terpusat, rantai pasokan yang terorganisir, dan strategi terpadu antar matra.

Seiring berjalannya perang, para penasihat Uni Soviet dan anggota partai Komunis Spanyol juga perlahan semakin mengendalikan tentara Republik, termasuk satuan yang relatif baru seperti angkatan udara dan unit-unit lapis baja. Pada musim semi 1938, kelompok Komunis memegang 70 persen posisi komando di angkatan darat. Keempat korps Ejército del Ebro (Satuan Darat Ebro) yang baru dibentuk (dan berpelengkapan cukup baik) memiliki komandan yang terafiliasi dengan kelompok Komunis. Dari 17 korps di tengah dan selatan, 8 memiliki komandan Komunis, dan terdapat komisaris kepala Komunis di 5 dari 9 korps lainnya. Para pemimpin CNT mengklaim bahwa pada bulan September 1938, para perwira CNT hanya memimpin 9 dari 70 divisi Republik. Dari 7.000 promosi jabatan di bawah pemerintahan Republik antara bulan Mei dan September, sekitar 5.500 diberikan kepada anggota PCE.

Kondisi ini mengakibatkan meningkatnya kekuatan faksi Komunis pro-komintern, sementara CNT-FAI serta kelompok non-Komintern seperti POUM, menjadi semakin terpinggirkan. Terjadi pertikaian internal antara faksi-faksi Republik, dan Komunis yang mengikuti Stalinisme menyatakan Partai Pekerja Penyatuan Marxis (POUM), sebuah partai komunis anti-Stalinis, sebagai organisasi ilegal, bersama dengan kaum Anarkis. Bagi CNT-FAI, ini merupakan pukulan telak. Revolusi mereka semakin terisolasi, negara-negara demokrasi Barat menolak membantu, karena takut akan penyebaran ide anarkisme, sementara bantuan Soviet datang dengan syarat ideologis. Isolasi internasional membuat kaum anarkis berperang dengan kondisi yang serba kurang .

Di Catalonia, yang pernah menjadi basis kelompok republik, keputusasaan semakin tumbuh seiring dengan kekalahan militer yang beruntun dialami pihak Republik, yang diperparah runtuhnya ekonomi dan gelombang pengungsi yang membanjiri kota. Pada awal 1939, kota Barcelona pun akhirnya jatuh ke tangan kaum Nasionalis. Dengan kejatuhannya, prospek kemenangan kaum anarkis Spanyol pun semakin menyusut. CNT-FAI, yang pernah menjadi kekuatan revolusioner terkuat di Spanyol, terpaksa melarikan diri. Ratusan ribu orang pergi melintasi pegunungan Pyrenees, hanya untuk dipenjara di kamp-kamp Prancis (Beevor, 2012, hlm. 410). Yang lainnya dieksekusi atau dipenjarakan oleh rezim Franco.

Pada tahun 1939, rezim Franco mengeluarkan undang-undang yang melarang CNT dan menyita aset-asetnya. Saat itu, organisasi tersebut memiliki satu juta anggota dan infrastruktur yang besar. Menurut salah satu perkiraan, sekitar 160.000–180.000 anggota CNT dibunuh oleh pemerintahan Franco. CNT beroperasi secara rahasia di Spanyol selama masa Franco, beberapa anggotanya terus melawan negara Spanyol hingga tahun 1948 melalui aksi gerilya maquis, serta melakukan aktivitas politik dari pengasingan.

Kekalahan CNT-FAI bukan sekadar kemenangan tentara Franco, tetapi puncak dari berbagai faktor. Secara militer, milisi anarkis tidak dapat menahan musuh yang disiplin yang didukung oleh senjata yang dipasok oleh kekuatan asing. Secara politis, gerakan ini dirusak oleh kompromi-komprominya sendiri dan permusuhan kaum komunis. Secara internasional, gerakan ini ditinggalkan oleh demokrasi Barat dan terjebak oleh dominasi Uni Soviet. Dan secara ideologis, gerakan ini terpecah antara komitmen revolusionernya dan kebutuhan perang modern.

Kemenangan kelompok Nasionalis jelas menyebabkan kegagalan gerakan anarkis, tetapi jika Front Populer menang, masih belum pasti apakah kaum Anarkis dapat bertahan dari dominasi pihak Komunis dan elemen republikan lainnya. Kekalahan ini menunjukkan bahwa sebuah gerakan revolusioner tidak hanya membutuhkan semangat, tetapi juga kejelasan strategis dalam menghadapi kompleksitas realpolitik dan pengkhianatan internal di tengah perang konvensional. 

Referensi

Beevor, Antony. The Battle for Spain: The Spanish Civil War 1936–1939. Weidenfeld & Nicolson, 2012.

Brown, Henry. “¡ Vivan las tribus!”: persecution, resistance and anarchist agency in the Popular Army during the Spanish Civil War (1936–9). Journal of Iberian and Latin American Studies, 29(3), (2023): 357–379.


Editor: Dhika Marcendy


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *