Pendidikan yang Terasing dari Realitas Sosial

Penulis
Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang menjadi layang-layang di ibukota kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran atau apa saja bila pada akhirnya ketika ia pulang ke daerahnya lalu berkata
Di sini aku merasa asing dan sepi!

Dengan meminjam “Sajak Seonggok Jagung” karya W.S. Rendra itulah saya akan mengawali tulisan ini.

Pertanyaan W.S Rendra dalam sajaknya itu masih sangat relevan dengan dunia saat ini. Kaum terpelajar makin jauh dan menjaga jarak dengan masyarakat. Kaum terpelajar yang diharapkan bisa menjawab masalah sosial dan mengubah nasib masyarakat, justru makin acuh terhadap realitas dan persoalan yang ada. Mereka dipisahkan dan dijauhkan dari masyarakat.

Masalah tersebut bermula dari ketiadaan proses humanisasi dalam pembelajaran. Kaum terpelajar selalu dijejali hal-hal yang bersifat teoritis dan didogma bahwa orang yang hidupnya susah dan miskin, merupakan orang yang dulunya malas belajar. Padahal, kemiskinan merupakan masalah struktural yang melibatkan banyak aspek di luar individu yang mengalaminya.

Tak hanya itu. Kaum terpelajar juga hanya diajarkan untuk menjadi sukses dan berhasil, alih-alih diajarkan bagaimana cara menumbuhkan kesadaran sosial untuk bisa melakukan perubahan di masyarakat. Mereka juga tidak diajarkan bagaimana cara menghadapi dan menyelesaikan konflik sosial. Hal tersebut terjadi karena sejak di bangku sekolah mereka didesain untuk menerima informasi dan melaksanakan perintah, tanpa perlu mempertanyakan apa yang disampaikan oleh pengajar. 

Pada tahap ini, pendidikan berubah sifat menjadi negatif karena menempatkan guru sebagai subjek dan anak didik sebagai objek. Guru mengambil peran sebagai pemberi perintah, dan peserta didik hanya melaksanakan perintah tersebut. Selain itu, muncul pula masyarakat satu dimensi yang menurut Herbert Marcuse, adalah masyarakat yang kehilangan rasa kritisnya dan hanya patuh terhadap sistem.

Kaum terpelajar sudah seharusnya menjadi kaum intelektual organik. Mereka harus bisa memahami dan memberikan solusi terkait isu sosial yang ada, alih-alih sekadar memantau lewat media massa. Masalah seperti perampasan ruang hidup, kekerasan, dan lain sebagainya, merupakan masalah yang sering dan bisa menimpa siapa pun.  Pun begitu, sering kali kaum pelajar jarang terlibat untuk membantu menyelesaikannya. Ilmu yang didapatkan di sekolah hanya ditelan mentah-mentah, sehingga sangat jarang diimplementasikan dalam dunia nyata.

Pendidikan seharusnya berorientasi pada masyarakat, bukan pada kapitalis. Di sekolah, selain dicetak menjadi robot, pelajar juga didesain untuk menjadi kaum yang individualis, dan melepas keterikatan antarmanusia. Proses sosialisasi dan dialektika jarang digunakan. Pelajar dikondisikan untuk hanya memikirkan tugas akademik dan nilai. Demikianlah cara lembaga pendidikan memberikan dogma kepada kaum pelajar. 

Kaum pelajar dibuat tidak peduli dengan lingkungan. Mereka dikondisikan sedemikian rupa untuk mendapatkan nilai yang bagus, lalu bisa bekerja di perusahaan ternama, dan bisa hidup mewah. Mereka tidak diajarkan untuk memahami makna dan proses karena sudah terbiasa terfokus pada hasil akhir. Mereka seakan dikurung di dalam penjara sekolah, dan sangat jarang, bahkan tidak pernah dilibatkan dalam kehidupan masyarakat. Sebab itu, yang terjadi adalah minimnya rasa empati.

Ketika terjun langsung ke masyarakat, kebanyakan dari mereka akan kehilangan kendali seperti anak kecil yang ditinggal sendirian di keramaian. Mereka kebingungan karena hal tersebut tidak pernah didapatkan di sekolah. Tak hanya itu, yang paling memalukan dari kaum pelajar sekarang adalah, banyak dari mereka yang tidak mau turun langsung ke lingkungan sosial dan selalu menciptakan sekat; serta menganggap dirinya lebih superior dari masyarakat di sekelilingnya.

Inilah wajah lembaga pendidikan saat ini yang menjelma mesin produksi. Lembaga pendidikan mencetak anak bangsa menjadi alat kapitalisme. Mereka diiming-imingi: sekolah atau kuliah di tempat tertentu akan menjamin perolehan posisi di perusahaan besar. Di sini pendidikan terasa sudah melenceng jauh dari kodratnya. Alih-alih menjadi alat pembebasan, pendidikan malah menjadi alat perpanjangan tangan kapitalisme. Sebab, cara paling ampuh untuk mempertahankan kapitalisme adalah mengontrol daya pikir kritis masyarakat. 

Alhasil, pendidikan yang diharapkan mampu menjawab persoalan sosial, justru malah menambah permasalahan sosial.


Editor: Kanya Kiarra


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *