1975, malam yang dingin itu, hujan deras menyapu hamparan sawah luas di Desa Sumber Ayu, membasahi siapa pun yang berada di bawahnya tanpa pandang bulu. Burung hantu berlindung di balik sarangnya, di pohon trembesi yang gagah, tinggi, dan lebat; sembari memeluk anaknya dikala guntur menggelegar. Tikus-tikus bersembunyi di liangnya yang berada di pematang sawah dengan perasaan was-was, takut jika sarangnya tenggelam terendam air. Sedangkan kodok yang paling sumringah, menari-nari bersama derasnya hujan mengikuti irama turunnya air hujan, seperti balerina; gemulai, anggun, dan menawan, menyambut musim kawin yang telah tiba.
Malam berganti pagi, benderang mulai menafikan kelam yang dingin dan panjang. Sinar Mentari berwarna merah jingga menyeruak ke segala penjuru cakrawala bagaikan kuas mencoret kanvas. Ayam jantan terbangun dari tidurnya, kemudian naik ke pohon jambu yang licin dan berembun. Ia berkokok, disusul dengan kokok ayam jantan lainnya. Lastri seperti biasa bangun lebih awal daripada suami dan anaknya. Ia membangunkan keduanya setelah selesai memasak air.
“Pak’e, bangun nggih, sampun wayahe subuhan,” ujar Lastri kepada Sarip, suaminya.
“Ya, buk’e, bangunkan Dono juga sembari Bapak ambil wudhu.”
Setelah keluarga itu selesai menunaikan sembahyang pagi, Lastri beranjak dari ruang tamu menuju dapur, bersiap menyiapkan sarapan guna memberikan fondasi keluarganya untuk mengawali hari. Beras rojolele1 hasil panen musim lalu dimasak Lastri dengan lauk tempe goreng lengkap dengan sayur sop dan sambal kecap. Sarip dan Dono menyantap dengan lahap, lalu mengatakan bahwa masakan Lastri enak. Lastri memang gemar memasak sejak kecil, sehingga tangannya lincah mengolah bahan-bahan sederhana menjadi suguhan yang nikmat. Waktu sarapan habis, Sarip dan Lastri duduk berdua di lincak2 yang berada di depan rumah mereka. Lastri sengaja membawakan kopi dan sekotak tembakau, sebagai bahan bakar berbincang suaminya.
“Bulan lalu, kami diminta Pak Lurah Yus, untuk berkumpul di kantor kelurahan, Buk,” ujar Sarip.
“Terus, Pak?”
“Lha, di situ, Pak Yus bilang bahwa ia dapat perintah dari pemerintah pusat. Bilang, kalau katanya ada program BIMAS. Intinya, pemerintah mengharuskan kita memakai bibit padi dan pupuk dari pemerintah. Katanya, supaya hasil padinya banyak. Kalau pakai dua hal itu, bisa panen tiga sampai empat kali dalam setahun, Buk.”
Lastri menyambut perkataan Sarip dengan keheranan, “Lho, ya, nggak bisa to, Pak. Itu menyalahi aturan nandur3, kasihan tanahnya dipaksa nandur terus.”
Sarip menyetujui perkataan istrinya. Ia beranggapan bahwa sawah tidak bisa dipaksa panen tiga kali atau empat kali setahun. Menurutnya, sawah hanya bisa ditanam padi maksimal dua kali dalam setahun, menyalahi aturan apabila lebih dari itu.
Ia meminum kopi yang berada di tengah lincak itu.
“Lha terus gimana, Pak’e? Gimana keputusan Bapak?” tanya Lastri.
Tanpa menjawab pertanyaan Lastri, Sarip meneruskan perkataannya. “Bahkan, ya, Buk, Bapak dapat cerita kalau bibit padi dari pemerintah itu berasnya keras, tidak enak, apalagi pulen? Mimpi! Pupuk dari pemerintah itu juga hasil buatan pabrik, Buk’e. Sawah kita nanti bisa rusak jika kena barang-barang kotor itu. Apa kata Dewi Sri4 nanti? Kita pakai yang biasanya saja Buk’e, seperti cara leluhur-leluhur kita dulu.”
Pagi yang mulai terik mengajak Sarip untuk pergi ke sawah. Ia mengakhiri perbincangan dengan Lastri, membawa pacul dan caping dari dalam rumah, lalu pergi menuju sawah yang berada di samping kanan rumahnya. Kicauan burung pipit di pohon trembesi mengacaukan suasana pagi yang hening. Angin yang berhembus dari arah selatan itu setidaknya mengurangi panas terik di pagi menjelang siang. Hari itu, Sarip memupuk padinya, sebab ia sudah menanam bibit padi berjenis rojolele dua minggu lalu. Keringat bercucuran deras dari dagu hingga dadanya membuat bajunya basah, berharap hasil kerja kerasnya dapat mencukupi pangan hingga panen berikutnya.
Mentari yang berada di atas ubun, perlahan, namun pasti bergerak ke arah barat. Sore pun tiba. Sarip beristirahat di bawah pohon kelapa, duduk mengamati dan memastikan bahwa sawahnya telah dipupuk merata. Melihat padinya kian menghijau, Sarip teringat akan salah satu tembang dolanan dan dengan khidmat ia melafalkannya. Lelahnya perlahan hilang, hanyut tenggelam dalam suasana. Suaranya yang pelan dan halus, melantunkan irama yang syahdu; mengajak ruas-ruas padi menari.
Lir ilir, lir ilir
Tandure wes sumilir
Tak ijo royo-royo, Tak sengga temanten anyar
Bangunlah, bangunlah
Tanaman sudah bersemi
Telah menghijau seperti pengantin baru
Belum sempat menuntaskan seluruh isi tembang, dari kejauhan Sarip melihat iring-iringan mobil berwarna hijau tua menuju ke arahnya. Erangan mesin diesel itu bergemuruh, melaju kencang menghempaskan debu-debu di pinggiran jalan desa. Konvoi militer itu berasal dari satuan koramil setempat yang mendapati laporan dari intelijen bahwa terdapat petani yang menentang program pemerintah. Konvoi militer itu memarkirkan kendaraan di pinggir jalan. Sarip merasa heran, memikirkan apa yang terjadi. “Kenapa banyak tentara? Apa aku dituduh komunis? Bukankah komunis sudah dibinasakan sepuluh tahun yang lalu?”
Seorang pria berperawakan tinggi dan gagah turun dari mobilnya. “Semuanya, cepat injak atau cabut padi-padi itu, jangan sampai ada satu pun yang tersisa! Lalu, bawa si pembangkang itu ke markas!” perintah Komandan Koramil (Danramil) kepada satuannya.
Sarip yang sedang mencerna kondisi, mendadak dilanda kepanikan. Sebelum sempat bertanya atau menjelaskan, ia segera disergap dan kedua tangannya berada di balik punggung dengan borgol. Gerombolan loreng itu mencabuti padi-padi milik Sarip, membuat akar lepas dari tanah. Dan sepatu lars5 yang tebal dan keras itu, menginjak-injak tanaman-tanaman tak berdosa yang sedang berusaha tumbuh di atas Ibu Bumi. Sarip begitu nelangsa, melihat kerja kerasnya, sawah yang baru saja ia pupuk, hancur dalam hitungan menit.
Mendengar suara gaduh dari luar, Lastri yang sedang berada di dapur segera keluar bersama anaknya, Dono. Jantungnya berdegup kencang, panik, lalu menangis histeris. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain menangis dan memanggil-manggil nama Sarip yang sedang diangkut ke dalam truk, tanpa sempat berpamitan. Lastri meninggalkan Dono dan berlari kencang menyusul konvoi itu. Namun apalah daya, kaki Lastri yang kecil itu tidak sanggup menandingi mesin diesel yang setara dengan ratusan tenaga kuda. Lastri hanya bisa bersimpuh di atas jalan desa, pasrah dengan tangisan histeris. “Duh Gusti, bojoku digowo nendi?”
Dono berlari menyusul ibunya, menyusuri jalan desa yang kering, panas, dan berkerikil dengan kaki telanjang. Begitu mendekat, ibunya memeluknya dengan erat. Di dalam pelukan ibunya, Dono hanya bisa merasakan takut yang membuatnya membisu dan kaki-tangannya gemetar hebat. Usianya masih begitu dini untuk bisa mengerti apa yang sedang terjadi. Barisan kendaraan itu pergi meninggalkan desa di sore yang panas.
Sesampainya di Koramil, Sarip langsung dimasukkan ke dalam kerangkeng besi. Ia bertanya dengan marah kepada salah satu anggota, “Mengapa saya dibawa ke Koramil? Mengapa sawah saya; hasil keringat saya, kerja keras saya, sumber kehidupan saya, kalian hancurkan seenaknya?!”
Anggota itu tidak menjawab pertanyaan Sarip, lalu pergi meninggalkannya di dalam jeruji yang dingin dan lembab. Sebagai wong cilik, Sarip tidak bisa berbuat apa-apa selain pasrah dan berharap bahwa ia bisa segera dibebaskan.
Malam harinya, Lettu Hasan, Danramil mendatangi Sarip. Dengan dingin dan tegas, ia berkata, “Kamu wong cilik, jangan sekali-kali menentang pemerintah! Apa yang terjadi denganmu hari ini adalah hasil buahmu tidak mau melaksanakan program pemerintah!”
Setelah itu, Lettu Hasan pergi, meninggalkan Sarip tanpa sempat berkata apa pun. Perawakan yang tinggi dan gagah itu, perlahan lenyap menjauh dari lorong yang sedikit remang.
Sarip hanya seorang di dalam jeruji, sepi dan hening. Seekor kecoa yang semula menemaninya, terbang pergi dan hinggap di tembok lorong. Sesekali cicak berdecit memecah keheningan, setelah berhasil memangsa beberapa laron di atas dinding, dekat lampu. Juga suara nyamuk, yang hilir-mudik terbang menguasai tubuh Sarip dan siap menerjangnya. Sarip kemudian tertidur, beralaskan kardus tipis. Bukan karena sengaja hendak tidur, tetapi karena ia sudah tidak punya tenaga lagi untuk menghadapi hari yang telah menguras tenaga dan mentalnya.
Malam berganti pagi, kali ini tidak ada kokokan ayam jantan yang biasanya mewarnai hari, apalagi seorang istri yang biasa membangunkannya. Sinar Mentari menembus celah-celah ventilasi ruang jeruji, pantulannya menerangi seisi ruangan. Melihat Sarip belum terbangun, seorang petugas membangunkannya dengan memukul jeruji yang terbuat dari besi. Suaranya lantang dan keras, seperti suara guntur yang sedang menyambar pohon kelapa. Sarip terkejut, lalu bangun dari tidurnya.
Petugas itu berkata, “Anda diminta menghadap Lettu Hasan segera.”
Sarip beranjak dari kardus tipis itu, dan berjalan mengikuti petugas menuju ruangan Lettu Hasan.
Di dalam ruangan, Sarip hanya bisa membisu dan menunduk. Matanya melirik ke depan, dilihatnya seseorang dengan tanda pangkat dua balok emas mendatar di pundak. Ia diam bukan karena bodoh, melainkan karena ketidakberdayaannya ketika berhadapan dengan Lettu Hasan.
Lettu Hasan membuka suara, “Kamu tahu mengapa kamu ada di sini?”
Sarip tidak menjawabnya dan masih membisu.
“Kamu bisa di sini karena kamu menentang pemerintah! Sudah diberi tahu bahwa kamu harus menanam bibit padi dari pemerintah, tidak mau juga. Malah pakai cara kuno yang ketinggalan zaman itu. Sekarang ini zaman pembangunan, pembangunan di mana-mana, tinggalkan cara-cara lama itu mulai hari ini!”
Setelah puas berkomat-kamit kepada Sarip, dihisapnya sebatang cerutu; memberi rasa pada mulutnya yang lelah berbicara. Asapnya cukup pekat, memenuhi sepertiga ruangan dan membuat batuk bagi siapa saja yang menghirupnya.
“Setelah ini saya antar kamu ke jalan desa, pulanglah. Tapi ingat pesan saya baik-baik, jangan lagi-lagi menentang pemerintah atau kamu merasakan akibatnya sendiri nanti!”
Lettu Hasan segera memerintahkan anggotanya untuk menyiapkan mobil, mesin diesel itu meraung kembali. Mengikuti dari belakang dan tertunduk, Sarip memasuki mobil itu menyusul Lettu Hasan. Suasana hening menyelimuti mobil yang berisi tiga orang itu, kecuali decitan pegas akibat mobil melaju di jalan yang tidak rata dan raungan mesin yang bising.
Sarip diturunkan di jalan desa yang berjarak 200 meter dari rumahnya dan mobil tersebut langsung tancap gas meninggalkannya, menerjang jalan desa yang lurus dan panjang. Setelah memastikan mobil itu telah pergi, ia dengan tergopoh-gopoh segera berlari menuju rumahnya yang berada beberapa ratus meter di depan, tanpa alas kaki. Jalan itu dipenuhi sebaran kerikil atau batuan kecil seperti ranjau yang siap menusuk telapak kaki siapa saja yang melintas. Namun, ia tidak memedulikan itu, rasa rindu yang kuat terhadap Lastri dan Dono membuatnya kebal tidak merasakan sakit.
Dari dalam rumah, Lastri mendengar ada suara yang sudah tidak asing baginya. Suara itu bergema, memantul dari batang-batang pohon memanggil namanya. Samar-samar, perlahan suara itu jelas dan lantang. “Buk’e, buk’e, aku pulang!” teriak Sarip beberapa meter dari rumahnya. Mendengar hal itu, Lastri bergegas menuju depan rumah dan terharu melihat suaminya telah pulang. “Ya ampun Gusti, bojoku wis balik, suamiku sudah pulang,” ucap Lastri sembari menangis terharu di dalam pelukan Sarip.
“Bapak sehat kan? Tidak diapa-apakan sama tentara itu, kan?”
“Tidak buk, Bapak tidak dipukuli atau disakiti oleh mereka, Bapak baik-baik saja, Buk”
“Matur sembah nuwun Gusti, suamiku pulang dalam keadaan sehat”
Ditemani istri, Sarip baru sempat melihat sawahnya pada esok pagi. Sawahnya rusak akibat hujanan sepatu lars kemarin sore. Keputusannya bulat, “Kita tanam lagi, ya, Buk. Kita ambil sisa-sisa bibit yang masih bisa ditanam.”
Peristiwa sore itu untung tidak merusak banyak bibit milik Sarip, hanya seperlimanya yang rusak sehingga tidak bisa ditanam lagi. Meneruskan cara leluhur sudah merupakan keharusan bagi Sarip. Tidak bisa diganggu gugat. Menanam secara alami tanpa menggunakan barang buatan pabrik menjadikan jiwa petaninya berdaulat. Hingga sore tiba, sawahnya sudah rapi tertanam bibit-bibit padi; hijau-hijau berbaris lurus dan memanjang.
Hari demi hari, bulan demi bulan, tanaman itu kian menua. Bulir-bulirnya semakin berisi, semakin menunduk; menghijau lalu menguning. Capung-capung terbang-hinggap di ruas-ruas padi menyantap wereng6, hama yang dapat mengosongkan bulir-bulir padi. Alap-alap dan burung hantu bekerja sama dengan sistem waktu yang berbeda, alap-alap mengawasi dari cakrawala pada siang hari, sedangkan burung hantu mengawasi dari pohon trembesi pada gelap sunyi. Keduanya merupakan puncak rantai makanan yang merupakan mitra petani dalam menjaga sawah dari hama tikus atau bahkan werok, sejenis tikus dengan badan yang besar dan seringkali menjadi musuh utama petani. Dewi Sri memberkati sawah itu melalui mekanisme alam, keterpaduan antara konsep kosmologi dan kinerja alamiah.
Padi telah matang sepenuhnya, menunduk dan menguning, menandakan musim panen tiba. Sarip mengajak para tetangganya untuk ikut panen dengan imbalan bawon7 sebanyak mertelu8, sebuah konsep timbal balik terhadap jasa dengan bayaran dalam bentuk natura sebanyak sekilo padi tiap tiga kilo yang dipanen. Pelan, tetapi mekanik, para pemanen lihai dalam memotong bulir-bulir padi menggunakan ani-ani9. Beberapa tamu tak diundang juga ditemui sedang ngasak10 mengikuti dari belakang, mencari batang padi yang belum diambil bulirnya. Setelah menghitung hasil keseluruhan panen, Sarip bersyukur bahwa hasil panennya masih mencukupi hingga panen berikutnya tiba. Bahkan, puluhan kilo di antaranya sempat ia jual kepada para tetangga. Sebagai ucapan terima kasih dan bentuk syukurnya kepada Sang Maha Pemberi, ia berencana untuk mengadakan selametan dalam waktu dekat.
Setelah menentukan kapan terjadinya hari baik melalui perhitungan weton, Sarip segera memberitahu sanak famili dan orang-orang desa bahwa ia hendak mengadakan slametan. Tidak lupa, Lettu Hasan, Komandan Koramil juga diundangnya untuk menghadiri. Hari yang baik itu pun tiba, hari di mana secara khusus dipersembahkan kepada Sang Maha Pemberi sebagai bentuk syukur atas hasil panen yang melimpah. Berbagai ubo rampe telah disiapkannya seperti nasi tumpeng, ayam ingkung, telur rebus, urap, hingga berbagai jajanan pasar. Suasana malam itu terasa hangat dan khidmat, lantunan puji dan syukur kepada Sang Maha Pemberi bergema menembus sunyi.
Selesai berdoa, para hadirin menyantap suguhan yang telah disediakan. Nasi dari beras rojolele yang masih panas dengan lauk ingkung yang gurih serta urap, menggugah selera makan siapa pun yang melihatnya. Setelah berbincang dengan Pak Yus selaku lurah, Sarip melihat Lettu Hasan sedang lahap menyantap makanan. Lalu, ia menghampirinya dan mengucapkan terima kasih atas kedatangannya.
“Makan seperti ini kok rasanya nikmat sekali. Nasinya harum, pulen, dan enak. Saya berterima kasih karena telah diundang,” ucap Lettu Hasan.
“Ya, ini tanaman yang dulu Bapak cabuti dan injak-injak, yang membuat saya, Bapak bawa ke Koramil. Ini cara saya bertani, meneruskan cara orang-orang dulu agar nasinya nikmat.”
“Pak, saya ini cuma petugas, apabila laporan tidak saya jalankan, saya bisa dipecat,” balas Lettu Hasan dengan perasaan canggung.
“Ya sudah, lagi-lagi jangan ganggu saya lagi ya, Pak. Saya setelah ini akan keliling untuk mengajari orang-orang bertani seperti ini supaya Buminya sehat dan manusianya sehat juga. Karena rusaknya Bumi ini tergantung cara manusianya yang merawat,” balas Sarip dengan puas kepada Lettu Hasan, seorang yang pernah merusak sawahnya menggunakan sepatu lars.
Glosarium
- rojolele: Varietas beras lokal unggulan yang terkenal dengan tekstur pulen, butiran sedikit bulat, warna putih susu, dan aroma harum alami. ↩︎
- lincak: Kursi panjang yang terbuat dari bambu, biasanya diletakkan di depan rumah untuk tempat bersantai atau berbincang. ↩︎
- nandur: Istilah dalam bahasa Jawa yang berarti menanam; dalam cerita ini merujuk pada aktivitas menanam padi. ↩︎
- Dewi Sri: Sosok mitologi yang dipercaya sebagai pemberi berkah dan pelindung tanaman padi bagi para petani. ↩︎
- sepatu lars: Sepatu bot militer yang tebal dan keras, yang dalam cerita ini digunakan untuk menginjak-injak tanaman padi milik Sarip. ↩︎
- wereng: Serangga hama yang dapat merusak tanaman padi dengan cara membuat bulir-bulir padi menjadi kosong. ↩︎
- bawon: Sistem upah atau imbalan bagi para tetangga yang ikut membantu memanen padi berupa pembagian hasil panen dalam bentuk natura. ↩︎
- mertelu: Sistem pembagian upah panen (natura) dengan perbandingan satu bagian untuk pemanen dari setiap tiga bagian yang dipanen. ↩︎
- ani-ani: Alat panen padi tradisional berbentuk pisau kecil yang terbuat dari bambu/kayu dan mata pisau baja, digunakan untuk memotong bulir padi satu per satu dengan cara dijepit di antara jari telunjuk dan manis. ↩︎
- ngasak: Kegiatan mencari dan mengumpulkan sisa-sisa bulir padi yang tertinggal atau belum terambil oleh pemanen utama. ↩︎
Editor: Farras Pradana
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








