Pameran Arsip Perempuan: Jembatan Penghubung Lintas Generasi

Penulis

Karpet merah berbentuk persegi panjang membentang persis di tengah-tengah ruangan. Ia membelah para pengunjung di sisi kiri dan kanan. Persis di ujung karpet merah itu, beberapa meter sebelum anak tangga menuju lantai dua, terbentang satu catatan sepanjang dua meja belajar ukuran 2×1 meter. Catatan itu berjudul “Setara: Merekam Perempuan dalam Ruang Demokrasi”, ditulis oleh Tim Riset dan Kurasi, dan memang ditujukan untuk mengantar semua orang pada Pameran Arsip Kertas UGM 2025 di tiga ruang sebelah kanan tangga.

Pameran Arsip Kertas UGM 2025 yang mengangkat tema seperti tertulis pada judul catatan di atas adalah sebuah ruang pameran yang diselenggarakan tiap tahun oleh Program Studi Pengelolaan Arsip dan Rekaman Informasi. Prodi ini tergabung dalam Departemen Bahasa, Seni, dan Manajemen Budaya, Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada. Pada pameran tahun ini, mereka berkolaborasi dengan 66 kolaborator yang berasal dari berbagai elemen, mulai dari NGO, komunitas/organisasi akar rumput, hingga individu-individu terkait. 

Emanuella Karamoy, Koordinator Divisi Riset dan Kurasi sekaligus perwakilan tim di sesi tur pameran, menyatakan bahwa keresahan atas ketidakadilan yang dialami perempuan, khususnya dalam ranah sosial dan politik yang akhirnya mengantarkan mereka pada pemilihan tema di pameran ini. 

“Selain itu juga, (pameran diharapkan jadi alarm) kesadaran dari publik itu sendiri terhadap adanya kasus-kasus kekerasan seksual, pelecehan, yang memang itu sangat sering.… Dan pengalaman itu perlu ada titik balik untuk menyuarakan hal tersebut,” ucapnya pada awak Semut Api Media.

Hal lain diungkapkan oleh Andinie Putri Az Zaida, Sub Koordinator Riset dan Konteks. Baginya, inspirasi besar justru hadir kala melihat besarnya penolakan kaum mama terhadap pengesahan UU TNI beberapa bulan lalu. Di sana, dia menyadari bahwa dalam konteks perlawanan, perempuan sebetulnya memiliki napas yang panjang dalam sejarah republik ini. Namun sayangnya, banyak dari perjuangan itu yang tidak terdokumentasikan secara rapi. Jika pun ada, kebanyakan arsip-arsip yang merekam perjalanan perjuangan kaum perempuan terpencar-pencar.

“Maksudnya kayak tidak ada satu dokumentasi besar yang memang terkait dengan perempuan. Bahkan mungkin jarang yang menangkap fenomena perempuan melawan atau mungkin represi terhadap perempuan seperti itu. Jadi itu yang salah satu mendorong kami untuk merekam gerakan dari perempuan itu sendiri”.

Upaya yang dilakukan lebih dari 80 mahasiswa Sekolah Vokasi UGM  ini bisa dibaca sebagai satu upaya dari generasi hari ini, Generasi Z, untuk merangkai kembali kisah-kisah sejarah yang tercecer itu dan membuat kita berjarak dari para perempuan di masa silam. Tak heran, jika pada pameran kali ini, mereka mencoba mengumpulkan arsip-arsip tentang perempuan Indonesia sebisa dan sebanyak mungkin dari para kolaborator yang dilibatkan.

Merangkai Kisah yang Tercecer

Pameran Arsip Kertas UGM 2025 terbagi dalam tiga bagian, atau dalam bahasa kuratorial, mereka istilahkan sebagai storyline. Masing-masing storyline terdiri dari ruang yang memuat kisah historiografi berbeda. Di storyline pertama, Partisipasi, kita dihadirkan ragam peristiwa tentang bagaimana keterlibatan politik perempuan dalam institusi negara. Dalam struktur pemerintahan yang patriarki, porsi atau jatah perempuan di bidang politik terkesan sebagai ‘pelengkap’. Artinya, makna partisipasi politik yang selama ini membuat kesan bahwa adanya kesetaraan gender di negara ini, nyatanya hanyalah bahasa politik kekuasaan yang masih berkiblat pada sistem patriarki. 

Pada bagian partisipasi, terpampang arsip-arsip perempuan, keterlibatannya dalam dunia politik. Menariknya, terdapat arsip perempuan ketika mengikuti aksi besar di Jakarta baru-baru ini. Lainnya, terdapat data statistik terkait partisipasi perempuan dalam politik praktis, perempuan terpilih dalam pemilu daerah di DIY. Di sebelahnya, terlihat pula data sayap perempuan partai politik pra reformasi. Dari masa sebelum reformasi hingga pasca reformasi arsip perempuan ada di sana.  

Di storyline kedua, Represi, kita disuguhkan sekumpulan arsip perempuan yang membuat hati sesak. Di sana bisa dilihat bagaimana perempuan hari ini masih belum menemukan ruang bahkan meski dalam ruang daring sekalipun. Perempuan mendapat pelecehan verbal di kolom komentar media sosial. Sayang, nama pelaku itu disensor dalam pameran itu. Bukankah publik memang harus tahu bahwa dia adalah pelaku pelecehan seksual?

Sejarah represi negara terhadap perempuan turut ditampilkan di sana. Misalnya saja ada dokumen laporan Temuan Tim Gabungan Pencari Fakta Peristiwa Kerusuhan Mei 1998. Sekumpulan majalah perempuan dari masa ke masa juga surat kabar yang memberitakan terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak turut terpampang.

Selanjutnya, pada storyline ketiga, Resistensi, semangat perjuangan perempuan ada di ruang ini. Para perempuan melakukan berbagai aksi untuk menuntut keadilan. Ada aksi buruh May Day dan juga Aksi Kamisan yang mana inisiatornya adalah perempuan, Sumarsih yang merupakan Ibu Wawan korban peristiwa kerusuhan saat aksi 1998. 

Tak berhenti pada arsip-arsip saja, pemeran ini menghadirkan ruang kritik lewat kutipan-kutipan yang disadur dari pejuang keadilan perempuan, seperti Ita Fadia Nadia, Najwa Shihab, dan lainnya. Di luar ruangan, kritik semacam itu juga bisa ditemui. Salah satu kutipan dari Ita Fadia Nadia begini bunyinya:

“Kekerasan terhadap perempuan tak bisa ditolerir, kita harus bangkit dan embangun solidaritas. Rasa takut harus dilawan dengan menyuarakan kebenaran, fakta sejarah, dan solidaritas.”

Pameran ini adalah perjalanan panjang yang penuh emosi dan semangat untuk menyuarakan ketidakadilan dan perjuangan perempuan di Indonesia. Bagaimana represi diolah menjadi perlawanan dan perjuangan bagi perempuan. Keberanian perempuan-perempuan untuk melawan telah menular kepada generasi muda hari ini.

Usai Dirangkai, Lalu Apa?

“Kita melihat fenomena pada akhir-akhir ini kan perempuan sudah berani melawan. Sebenarnya sebelum-sebelumnya sudah ada, tapi kami juga terinspirasi dari gerakan yang RUU TNI, yang mana suara Ibu Indonesia yang kemudian melakukan gerakan itu. Kami terinspirasi juga dari itu, bahwa ternyata perempuanlah yang memiliki nafas panjang perjuangan. Jadi itulah yang mendorong untuk kita dokumentasikan itu, karena sebenarnya dokumentasi terkait dengan perempuan itu mencar-mencar,” ungkap Andinie.

Selama proses pra-pameran itu, Tim Riset dan Kurasi terbagi dalam dua divisi, yakni Divisi Riset dan Konteks dan Divisi Kurasi dan Display. Masing-masing subdivisi berjumlah 7 mahasiswa. Merekalah yang jadi orang-orang di balik layar pameran arsip tersebut. Proses panjang sejak Maret 2025, telah membawa mereka pada persimpangan perjuangan perempuan sehingga terjalin kolaborasi bersama dalam membangun pameran ini. Dari yang semula hanya berniat dengan membatasi wilayah arsip yang terfokus di Yogyakarta, mereka kemudian mendapat dukungan dari berbagai pihak, baik lembaga, komunitas, maupun individu, untuk merekam arsip perempuan Indonesia. Tentu, kerja-kerja itu pun semaksimal yang mampu mereka raih di waktu yang terbatas. 

Rasa khawatir sempat menyelimuti para tim balik layar pameran. Mereka paham bahwa beberapa topik yang diangkat sangat sensitif dan bisa jadi malah membangkitkan trigger bagi sebagian pihak yang pernah menjadi korban. Namun, perasaan itu akhirnya bisa mereka negosiasikan, salah satunya adalah dengan memberi trigger warning di ruang pameran. 

“(K)alau misalkan ada pengunjung yang memang tidak berkenan ke storyline yang ada topik-topik sensitifnya nanti bisa diarahkan ke storyline yang berikutnya,” tutur Eka Een Yulianti, Sub Koordinator Kurasi dan Display.

Sebagai generasi yang cukup terpaut jauh dari beberapa rangkaian peristiwa kelam yang dihadapi para perempuan Indonesia di masa lalu, realisasi pameran arsip ini ternyata memberi makna yang mendalam bagi mereka. Tak ayal gejolak emosi juga mereka alami selama merangkai satu deskripsi ke narasi lainnya, satu foto ke arsip lainnya, satu peristiwa ke kenyataan pedih lainnya. 

Meskipun tidak mengalami secara langsung, melihat, membaca, juga mendengar pengalaman represi perempuan di masa lalu juga menorehkan luka yang mendalam. Sebab, sebagai sesama perempuan, sejarah represif itu tentu terasa menyakitkan. Semisal, tuduhan untuk Gerwani atas kematian para jenderal di lubang buaya yang terjadi pada 1965-66.

Hal ini diungkapkan oleh Andinie. Menurutnya, dari melakukan riset sampai proses mendalami data-data arsip tersebut, dia akhirnya paham bahwa banyak para perempuan di luar sana yang sangat rentan dan ironinya, pemerintah tak pernah bersungguh-sungguh untuk merefleksikan subordinasi ini. Seolah, ketika perempuan mulai menunjukkan keberdayaannya, entah dalam bidang apa pun, itu dianggap sebagai ancaman. Alhasil, narasi-narasi diskriminatif dan manipulatif pun digencarkan untuk melemahkan perjuangan kaum perempuan. Situasi ini persis dengan apa yang dialami oleh para perempuan Gerwani.

”Betul pemerintah menggunakan perempuan untuk melanggengkan kekuasaannya, kayak yang terjadi di 65-66, politik seksualitas,” tegas Andinie. “Bahkan ada narasi perempuan yang menari telanjang saat perwira dibunuh, kemudian menyilet kemaluannya, terus mencolok matanya. Padahal ada bukti bahwa hasil visum itu, (yang) itu pun harus disembunyikan dulu, baru terpublikasi setelahnya. Itu pun bukan dari Indonesia yang mempublikasikan, dari orang luar.”

Ultimatum Pada Maskulinitas Toksik

Di sela-sela wawancara, Emanuella menceritakan bagaimana pameran ini membuatnya jadi lebih berani. Dia sadar bahwa di jaman sekarang, posisi perempuan masih belum seideal apa yang selama ini diperjuangkan oleh para pendahulunya. Dan, demikianlah masyarakat patriarkal bekerja. 

Selain kerap mendapat pelecehan verbal di media sosial, dia mengaku bahwa di hari yang sama saat perjalanan menuju ke venue pameran di kampusnya, dirinya mendapat catcalling dari laki-laki. Peristiwa ini benar-benar membuktikan bahwa perjuangan untuk menuju masyarakat yang sadar pada keadilan gender di negeri ini masih begitu panjang. 

Meninggalkan budaya maskulinitas yang toksik dalam praktik kehidupan hari ini seharusnya menjadi pengingat kita semua. Sudah seharusnya ruang yang aman itu ada di negara yang konon beradab dan berbudaya. 

“Perempuan di sini perlu lebih berani lagi untuk stand out. Kalau misalnya, oh kamu dilecehkan, kamu harus ngomong sama pelakunya. Kalau misalnya kamu dilecehkan, kamu harus bisa berani lebih lagi sebagai perempuan,” pungkas Emmanuella yang berharap bahwa kejadian yang menimpanya tak lagi terulang, entah ke dirinya, entah ke siapa pun.

Dari ruang-ruang kecil di Gedung Iso Reksohadiprodjo, kita melihat bagaimana pameran arsip ini bisa bertransformasi sebagai sebuah ledakan keberanian. Memahami riwayat panjang pengsubordinatan perempuan Indonesia dari masa silam, setidaknya bisa kita maknai sebagai cara untuk membangkitkan keberanian yang serupa pada perempuan-perempuan Indonesia di masa kini dan mendatang. Meski ada banyak jurang membentang, kerja-kerja perawatan arsip semacam ini membuktikan bahwa ia lebih dari sekadar jembatan penghubung lintas generasi.


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *