Pablo Neruda: Sang Penyair Bawah Tanah | Ricardo Eliecer Neftalí Reyes Basoalto atau yang dikenal sebagai Pablo Neruda lahir di Parral, Chile pada 12 Juli 1904. Lelaki yang meninggal di Santiago, 23 September 1973 merupakan salah satu penyair besar berbahasa Spanyol di abad ke-20. Bahkan sejak usia 22 tahun, dia telah menjadi selebritas sastra internasional, meski hidup terperangkap dalam kemiskinan. Buku keduanya, misalnya, Twenty Love Poems and a Song of Despair (1924) yang menjadi salah satu buku puisi terlaris tetap tidak bisa menghidupinya. Neruda hampir tak mendapat bayaran atas kesuksesan buku tersebut.
Kala itu, sebagai mahasiswa di Universitas de Santiago di Chili, kelaparan pun menjangkitinya. Tubuhnya kurus kering. Tak seperti penyair muda miskin pada umumnya yang memilih jalan untuk pergi ke Paris dan mencari penulis yang lebih tua dan mapan, Neruda justru memilih jalan lain dengan mencari jabatan diplomatik di luar negeri.
Dari Berpetualang hingga Mengasingkan Diri
Karirnya berawal dari perkenalannya dengan Menteri Luar Negeri Amerika Latin. Di sana, reputasi sastra mengundang rasa hormat dari penguasa. Dia pun diperkenalkan kepada menteri yang telah membaca puisinya oleh teman bangsawannya. Segera, sang menteri menawari Neruda jabatan dan menyebut kota-kota asing yang membutuhkan jasa perwakilan Chili. Ketika ditanya ke mana ia ingin pergi, Neruda memilih ‘Rangon’ meski dia tak tahu kota itu.
Di tahun 1927 dia mulai berlayar ke Burma (sekarang Yangon, Myanmar), tempat terpencil dan asing bagi mayoritas orang. Perjalannya di Asia sebagai wakil negaranya berlangsung lima tahun – dua tahun di Rangon, bersamaan dengan jabatan konsuler di Kolombo, Ceylon (sekarang Sri Lanka) dan Jawa tepatnya di Batavia (Jakarta). Namun, posisinya sebagai konsul kehormatan masih belum memberinya kesejahteraan.
Pada 1934 dia diangkat menjadi konsul Chili di Buenos Aires, Argentina. Pada 1934, dia menjadi konsul di Barcelona, Spanyol. Di sana Neruda bertemu dengan Federico Garcia Lorca, penyair Spanyol. Kesuksesannya pun dimulai setelah mengenal Lorca. Lewat pertemuan itu, Neruda lalu bertemu teman-teman lain yang terlibat dalam politik radikal dan Partai Komunis. Sejalan dengan keyakinannya, dia pun semakin dekat dengan komunisme.
Neruda kemudian kembali ke Chili pada 1937 dan menyelami dunia politik negaranya. Dua tahun setelahnya, dia diangkat menjadi konsul khusus di Paris. Dari Paris dia mengambil jabatan sebagai konsul jenderal Chili di Meksiko. Hingga pada akhinya, pada 1943 Neruda kembali ke Chili dan terpilih sebagai senator pada 1945. Dia kemudian bergabung dengan Partai Komunis.
Neruda berkampanye untuk kandidat sayap kiri, Gabriel González Videla pada pemilihan umum 1946. Tak disangka, dua tahun berikutnya, Presiden Videla beralih ke sayap kanan. Neruda pun merasa dikhianati. Dia kemudian menerbitkan surat terbuka untuk Videla. Ternyata tindakannya berujung tak menyenangkan. Neruda dikeluarkan dari senat.
Tak ingin ditangkap, Neruda lalu disembunyikan dari rumah ke rumah oleh para pengagumnya selama 13 bulan, sebelum akhirnya melarikan diri dari Chili pada Februari 1948. Dia menunggangi kuda menyeberangi Pegunungan Andes di malam hari. Tak lupa naskah Canto General dibawanya. Dalam kisah pengasingannya inilah, Neruda berkesempatan menyinggahi Uni Soviet, Polandia, Hungaria, hingga Meksiko. Pengasingan ini kemudian menghasilkan karya Canto General yang merupakan ekspresi keyakinaan politik komunisnya. Neruda kembali pada 1952 ketika situasi politik di Chili membaik.
Dari kisah singkat ini, karir dan sikap politik yang dimiliki Neruda telah memberi kekhasan dan kekuatan tersendiri di setiap karya sastra yang diciptakannya dan sebagiannya mungkin telah kita nikmati.
Referensi:
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.








