Novel Orang-Orang Proyek karya Ahmad Tohari menghadirkan sebuah panggung sosial yang tampak sederhana, pembangunan jembatan di sebuah desa. Namun, justru dari panggung yang sederhana itulah lahir potret yang jauh lebih besar tentang bangsa, tentang kekuasaan, dan tentang manusia yang terjebak dalam sistem yang sakit. Tohari, yang sebelumnya dikenal luas lewat trilogi Ronggeng Dukuh Paruk, kembali menunjukkan kepekaannya membaca denyut sosial masyarakat Indonesia. Kali ini, bukan soal tradisi dan politik pasca ‘65, melainkan tentang praktik korupsi yang merayap halus dalam keseharian.
Tokoh utama dalam novel ini adalah Kabul, seorang insinyur muda yang dipercaya menjadi pengawas proyek pembangunan jembatan. Kabul bukan sekadar tokoh fiksi, ia adalah representasi dari generasi idealis yang masih percaya bahwa profesionalisme dan kejujuran adalah fondasi utama pembangunan. Dalam benaknya, jembatan bukan hanya bangunan fisik, melainkan simbol penghubung antara desa dan kota, antara harapan dan kenyataan, antara masa depan dan masa lalu. Namun simbol itu perlahan retak ketika ia menyadari bahwa proyek yang dikerjakannya telah dicemari kepentingan politik dan praktik penggelembungan anggaran.
Tohari dengan cermat menggambarkan bagaimana proyek pembangunan, yang seharusnya menjadi sarana kemajuan masyarakat, berubah menjadi ladang bancakan. Dana yang semestinya digunakan untuk memperkuat pondasi justru “disunat” oleh berbagai pihak yang memiliki kuasa. Kontraktor, pejabat, hingga elite politik lokal saling terhubung dalam jejaring kepentingan. Kabul berada di tengah-tengah pusaran itu, menyaksikan bagaimana idealismenya diuji hari demi hari.
Kekuatan narasi Tohari terletak pada kemampuannya membumikan konflik besar dalam percakapan sehari-hari. Tidak ada retorika berlebihan. Tidak ada ceramah panjang tentang moralitas. Justru lewat dialog ringan dan adegan keseharian, pembaca diajak menyaksikan bagaimana sistem korup itu bekerja secara “normal”. Seolah-olah praktik penyunatan anggaran bukan lagi kejahatan, melainkan kebiasaan yang diterima begitu saja. Di titik inilah Tohari seakan ingin berkata bahwa penyakit terbesar sebuah bangsa bukanlah korupsi itu sendiri, melainkan ketika korupsi telah dianggap wajar.
Bangunan jembatan dalam novel ini menjadi metafora yang kuat. Ia dibangun dengan material yang tidak sepenuhnya sesuai standar, karena sebagian dana telah “dialihkan”. Kabul tahu bahwa jika kualitas diturunkan, maka jembatan itu berpotensi tidak akan bertahan lama. Namun ia juga tahu bahwa menolak perintah atasan berarti mempertaruhkan karir, bahkan juga mempertaruhkan keselamatan diri dan keluarganya. Ia pun mengalami konflik batin dan itu terasa begitu manusiawi. Ia bukan pahlawan super yang tanpa rasa takut. Ia ragu, ia cemas, ia marah, namun ia juga tetap berusaha mempertahankan garis batas integritasnya.
Melalui karakter Kabul, Tohari menghadirkan pertanyaan mendasar, masih mungkinkah seseorang bertahan dengan kejujurannya dalam sistem yang korup? Ataukah sistem yang sakit pada akhirnya akan melumat siapa saja yang mencoba melawannya? Pertanyaan ini tidak dijawab secara hitam-putih. Tohari membiarkan pembaca merasakan kecemasan yang sama dengan tokohnya.
Sementara itu, dalam kacamata sosiologis, novel ini dapat dibaca sebagai kritik terhadap praktik pembangunan era Orde Baru, di mana proyek-proyek fisik sering kali menjadi alat legitimasi kekuasaan. Namun Tohari tidak menuliskannya sebagai pamflet politik. Ia memilih pendekatan humanis. Ia memperlihatkan bahwa di balik angka-angka anggaran dan laporan proyek, para tokoh dalam novel ini merasa ada ketakutan, ambisi, dan nurani.
Begitulah gambaran singkat bagian awal novel ini, pembaca disuguhi lanskap moral yang retak. Keretakan itu tidak hanya terjadi pada beton jembatan, melainkan pada integritas orang-orang yang membangunnya. Dan di antara retakan itu, Kabul berdiri dengan mantap, mencoba menjaga agar sisa-sisa kejujuran tidak sepenuhnya runtuh.
Jejaring Kekuasaan dan Normalisasi Penyimpangan
Memasuki bagian tengah novel, konflik semakin kompleks. Jika pada awal cerita Kabul hanya berhadapan dengan kecurigaan dan tekanan halus, kini ia berhadapan langsung dengan realitas jejaring kekuasaan yang terstruktur. Proyek pembangunan jembatan ternyata bukan sekadar urusan teknis, melainkan bagian dari strategi politik menjelang pemilihan umum. Dana proyek menjadi alat konsolidasi, sekaligus sumber pembiayaan tak resmi untuk kepentingan partai.
Tohari menggambarkan bagaimana elite lokal memanfaatkan proyek sebagai sarana membangun citra. Spanduk-spanduk dipasang, pidato-pidato disampaikan, seolah pembangunan jembatan adalah bukti kepedulian mereka terhadap rakyat. Padahal di balik layar, terjadi pembagian komisi yang sistematis. Semua sudah memiliki porsinya masing-masing. Kontraktor tahu berapa persen yang harus disisihkan. Pejabat tahu berapa bagian yang akan diterima. Bahkan aparat pengawas pun tak luput mendapat “jatah”.
Menariknya, Tohari tidak menampilkan para pelaku korupsi sebagai tokoh jahat karikatural. Mereka digambarkan sebagai manusia biasa yang memiliki keluarga, kebutuhan, dan ambisi. Justru di situlah letak kritiknya. Korupsi bukan dilakukan oleh monster, melainkan oleh orang-orang biasa yang menormalisasi penyimpangan demi kenyamanan hidup. Dalam percakapan mereka, terselip logika pembenaran: “Semua orang juga melakukannya.” “Kalau tidak ikut arus, kita akan tersingkir.” Kalimat-kalimat semacam itu menjadi mantra yang mengukuhkan sistem.
Kabul semakin terpojok. Ia menyadari bahwa jika ia memaksakan standar kualitas sesuai aturan, anggaran yang tersisa tidak akan cukup. Sementara jika ia mengikuti arus, ia akan mengkhianati sumpah profesinya. Dilema ini bukan sekadar konflik individu, melainkan cerminan benturan antara etika profesional dan realitas politik.
Tohari juga menghadirkan tokoh-tokoh lain yang memperkaya perspektif. Ada pekerja proyek yang hanya memikirkan upah harian, ada mandor yang pragmatis, ada pejabat yang licin memainkan bahasa. Masing-masing membawa kepentingan sendiri. Dalam mosaik karakter ini, pembaca melihat bagaimana sistem yang sakit bekerja melalui relasi sosial yang saling mengikat.
Salah satu kekuatan novel ini adalah kemampuannya memperlihatkan bahwa korupsi tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan budaya patronase, loyalitas politik, dan ketimpangan kekuasaan. Proyek pembangunan menjadi semacam miniatur negara. Apa yang terjadi di lokasi jembatan sejatinya adalah refleksi dari tata kelola yang lebih luas.
Secara naratif, Tohari membangun ketegangan tanpa perlu adegan dramatis berlebihan. Ketegangan muncul dari percakapan, dari tatapan, dari keputusan-keputusan kecil yang berimplikasi besar. Kabul mulai merasa terasing. Ia menyadari bahwa idealismenya membuatnya tampak aneh di mata rekan-rekannya. Di sinilah pembaca merasakan kesepian moral yang dialami tokoh utama.
Novel ini seakan menegaskan bahwa sistem yang sakit tidak hanya merugikan negara secara materiil, tetapi juga merusak jiwa manusia. Ia memaksa orang untuk berkompromi dengan nuraninya. Ia menciptakan budaya sinis, di mana kejujuran dianggap kebodohan.
Dalam bagian ini, Tohari tidak sekadar mengkritik praktik korupsi, tetapi juga membedah mekanisme sosial yang membuatnya terus bertahan. Ia menunjukkan bahwa perubahan tidak cukup hanya dengan mengganti individu, karena persoalannya terletak pada struktur dan budaya yang mengitarinya.
Harapan di Tengah Keruntuhan: Moralitas sebagai Perlawanan
Bagian akhir novel menghadirkan klimaks sekaligus refleksi mendalam. Ketika proyek hampir selesai, kualitas jembatan menjadi simbol dari pilihan-pilihan moral yang telah diambil. Kabul berada pada titik keputusan, apakah ia akan menandatangani laporan sesuai “kesepakatan”, ataukah ia akan bersikeras mempertahankan standar yang benar?
Tohari tidak menuliskan akhir cerita sebagai kemenangan heroik yang bombastis. Justru kesederhanaan penyelesaiannya membuat pesan moral terasa lebih kuat. Kabul mungkin tidak mampu mengubah sistem secara keseluruhan, tetapi ia berusaha menjaga dirinya agar tidak sepenuhnya terperosok dalam arus. Di sini, moralitas tampil sebagai bentuk perlawanan paling mendasar.
Novel ini tidak menawarkan solusi instan atas penyakit sistemik. Namun menghadirkan harapan dalam bentuk integritas personal. Tohari seakan ingin mengatakan bahwa perubahan besar selalu berawal dari sikap kecil yang konsisten. Meski jembatan itu dibangun dalam kondisi kompromi, kesadaran Kabul menjadi benih kritik yang tak bisa sepenuhnya dibungkam.
Secara simbolik, jembatan dalam novel ini dapat dibaca sebagai gambaran Indonesia: dibangun dengan semangat kemajuan, tetapi kerap digerogoti oleh kepentingan elit. Retaknya bukan hanya pada struktur fisik, melainkan pada fondasi moral. Namun, selama masih ada individu yang mempertahankan integritas, harapan belum sepenuhnya padam.
Dari segi gaya bahasa, Tohari tetap setia pada ciri khasnya: sederhana, jernih, tapi sarat makna. Ia tidak menggurui, tetapi mengajak pembaca merenung. Kritik sosial disampaikan dengan empati, bukan kebencian. Inilah kekuatan utama Orang-Orang Proyek, ia menyentuh kesadaran tanpa kehilangan kehangatan manusiawi.
Meskipun sudah terbit sejak puluhan tahun lalu, novel ini masih relevan sampai sekarang. Praktik korupsi dalam proyek pembangunan masih menjadi isu aktual hingga hari ini. Karena itu, membaca Orang-Orang Proyek bukan sekadar menelusuri kisah fiksi, melainkan bercermin pada realitas sosial yang terus berulang.
Meskipun novel ini bercerita dengan kuat justru kekurangannya terdapat dalam penggambaran realitas korupsi dalam proyek pemerintah. Penyelesaian dalam konflik utamanya pun terasa kurang tegas, seolah membiarkan keburukan sistem berjalan tanpa solusi dan menegaskan bahwa di dunia nyata, ketidakadilan tak selalu menemukan akhir yang adil. Hal ini bagi saya yang membaca buku ini merasa akhir cerita yang masih menggantung.
Sehingga pada akhirnya, Orang-Orang Proyek adalah potret kecil dari sistem yang sakit sekaligus potret tentang manusia yang berusaha tetap waras di dalamnya. Ahmad Tohari menghadirkan kritik yang tajam sekaligus reflektif, mengingatkan bahwa pembangunan sejati bukan hanya soal beton dan baja, tetapi tentang kejujuran dan tanggung jawab.
Novel ini meninggalkan pertanyaan yang menggema, jika setiap orang memilih kompromi demi kenyamanan, siapa yang akan menjaga jembatan itu tetap kokoh? Dan mungkin, pertanyaan itulah yang menjadi jembatan terakhir antara sastra dan kesadaran pembacanya.
*Ulasan novel berjudul Orang-orang Proyek karya Ahmad Tohari (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2015).
Editor: Aisya Puja Ray
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








