“Selamat pagi, Ifan. Sudah dengar info? Kaka April meninggal.”
Pesan tersebut saya terima dari salah seorang kawan Fawawi Club pada pukul 9 pagi, 18 Oktober 2025. Informasi itu tidak langsung membuat saya percaya. Saya membuka HP dan memastikan kabar tersebut kepada anaknya, JC (nama samaran). “Iya Om, Mommy meninggal,” balas JC singkat.
Pasalnya, sebelum berangkat ke Papua, hampir sebulan saya rutin berkunjung ke rumah Aprila R. A. Wayar—saya biasa memanggilnya Kaka Aprila. Sekadar memastikan ia dalam kondisi stabil sejak beberapa hari menjalani rawat inap di RSA UGM—membantu DC dan JC membelanjakan kebutuhan pokok rumah, mencari Home Care, dan sesekali menemani obrolan ringan dengan Aprila.
Sejak pagi itu, ingatan-ingatan kecil tentangnya datang bergantian. Bukan dalam peristiwa besar, melainkan percakapan-percakapan sederhana yang dulu terasa biasa saja.
Hari belum benar-benar sore. Saat itu, saya dan Aprila hanya membicarakan hal-hal random di luar diskusi biasanya: seperti soal rencana tulisan, buku, film, dan lain-lain. Namun, pembicaraan random itu tak pernah menyurutkan niatnya untuk menjadi obrolan serius. Diskusi kami pun meluber ke mana-mana. Mulai dari soal kondisi pendidikan hingga seabrek persoalan Papua yang tak kunjung usai.
“Fan, kalau sa tra merokok itu macam otak buntu kah.”
Begitu respons Aprila saat saya mencoba membujuknya untuk tidak merokok. Saat itu, kami tengah membahas beberapa agenda liputan The Papua Journal (TPJ), media yang baru saja ia rintis pada September 2022 di Yogyakarta. Di tengah obrolan serius tentang naskah dan liputan, rokok seperti menjadi jeda berpikirnya.
Saya cukup mengetahui riwayat kesehatannya. Ia pernah menjalani operasi jantung dan memasang alat kejut. Beberapa kali ia tak sadarkan diri dan harus dilarikan ke rumah sakit. Sejak saat itu, saya jadi tahu kalau jantungnya bukan lagi persoalan ringan.
Ya, hidupnya memang tidak pernah ringan. Di tengah kondisi kesehatan yang rapuh, ia membesarkan dua anak perempuannya—DC (nama samaran) dan JC—dengan keteguhan yang tidak banyak orang tahu. Ia memikirkan naskah-naskah yang belum selesai, sambil menjaga napas TPJ tetap hidup.
Pada Januari 2023, ia mendadak mengalami serangan jantung dan dilarikan ke RSA UGM. Kabar itu baru saya terima sehari setelahnya dari koleganya di Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta. Beberapa kawan AJI mengatakan kalau Aprila dirawat di ICCU [Intensive Coronary Care Unit] UGM. Sebelumnya saya sempat menanyakan ruang rawat melalui pesan WhatsApp kepada Aprila. “Kaka di ICCU jantung, lantai 3,” balasnya singkat setelah siuman.
Pesan itu mungkin terasa biasa saja. Tetapi ruang ICCU bukan ruang biasa. Pukul 6.29 WIB saya mengunjunginya. Tubuhnya lebih lemah dari biasanya, tetapi pikirannya masih berbicara tentang kerja, tentang tulisan, tentang rencana-rencana yang belum selesai.
Sejak itu saya sadar: sakitnya bukan lagi cerita sampingan. Ia melawan sakit dan keadaan sekaligus.
Pagi itu saya sadar bahwa yang kehilangan bukan hanya keluarga. Ada sesuatu dari Papua yang terasa ikut hilang.
Saya mengenalnya sejak 2014. Dan sejak itu, saya melihat sendiri bagaimana ia membentuk orang-orang di sekitarnya.
Di Kontrakan Kecil Itu
Saya masih ingat satu sore ketika Benfa—salah satu jurnalis awal TPJ—mengirimkan straight news pertamanya. Ia pernah aktif di pers mahasiswa, tetapi sudah lama berhenti menulis. Di naskah itu, lead beritanya panjang dan berputar-putar, seperti esai pendek yang ingin menjelaskan terlalu banyak hal sekaligus.
Aprila membacanya pelan, lalu berkata singkat, “Kalau ini straight news, langsung saja to the point. Lead itu bukan tempat ko pamer analisis. Itu teknis. Arahkan pembaca ke inti.”
Benfa mencoba menjelaskan konteksnya. Aprila memotong lagi, lebih tegas: “Intinya apa? Siapa? Di mana? Kenapa penting? Itu dulu. Jangan bikin orang capek di paragraf pertama.”
Tak terkecuali saya.
“Setelah jemput JC, Kaka baru bisa naikkan ke website TPJ. Foto sama berita tolong dipisahkan. Terus berikan caption foto. Masa kecil-kecil begitu Kaka yang harus edit lagi.”
Begitu komentarnya atas tulisan saya bertajuk “PMKP Meminta Pemerintah DIY Mencabut Izin Pertambangan Kali Progo” pada tanggal 14 September 2022.
“Tulis saja: hingga berita ini diturunkan, Kepala Bidang (Kabid) DLHK DIY belum menjawab pesan singkat The Papua Journal,” ungkap Aprila saat saya menunggu respons DLHK terkait audiensi kala itu yang terbilang cukup lama.
Sejak itu, saya paham: menulis baginya bukan sekadar ekspresi, tetapi tanggung jawab.
Sejak TPJ dibentuk, kontrakan kecilnya di Kampung Miliran berubah fungsi. Ia bukan lagi sekadar rumah, tetapi kelas jurnalisme. Di ruang yang sederhana itu, ia mengajar tentang dasar-dasar jurnalistik, etika pers, undang-undang pers, dan keberanian menulis. Ia menjadi satu-satunya mentor bagi sejumlah anak muda Papua—termasuk saya—yang terlibat aktif sebagai wartawan TPJ sejak awal.
Aprila keras pada tulisan. Ia tak suka kalimat malas. Ia juga tak begitu sabar dengan argumentasi kami yang kerap dianggapnya terlalu kabur. Ia percaya bahwa orang Papua harus menulis dengan disiplin, bukan hanya dengan emosi.
“Menulis yang ringan-ringan begini saja kam tra bisa, baru mo bicara Papua merdeka? Berat.”
Kalimat itu bukan sekadar teguran, tetapi cara ia melatih mental kami. Konsistensinya tak berhenti di TPJ. Dalam diskusi-diskusi Fawawi Club—komunitas sastra yang kami dirikan bersama di Yogya pada 2019—ia juga kerap bersikap tegas.
“Jogja ini tempat orang belajar. Kalau kitong cuma mo datang main-main, lebe baik pulang saja!”
Kekesalannya bukan tanpa sebab. Ia melihat begitu banyak anak Papua—meski tidak semua—datang berkuliah di Yogya, tetapi sedikit yang benar-benar serius belajar. Ia ingin kami pulang bukan hanya dengan gelar, tetapi dengan keberanian berpikir dan menulis.
Komentar-komentar kecil itu terdengar sepele, tetapi baginya tidak ada detail yang boleh diabaikan.
Ia mungkin tak pernah menyebutnya sekolah. Namun, dari kontrakan kecil di Miliran itu, lebih dari satu anak Papua belajar menata pikiran dan kalimatnya.
Di Balik Ruang Publik
Di balik ruang-ruang diskusi yang riuh dan liputan yang menuntut ketegasan, ada rumah yang ia jaga hampir seorang diri. Tidak banyak yang tahu bagaimana Aprila membagi waktu antara naskah, rapat redaksi, dan kebutuhan dua anak perempuannya.
“Om, Kaka minta tolong bikin poster. JC pu tugas sekolah.”
Pesan tersebut saya terima dari Aprila pada 30 Juli 2024, pukul 22.59—berikut aturan lomba desain poster yang diminta pihak sekolah. Dari delapan tema, JC memilih “toleransi” sebagai tema utama. Poster tersebut baru selesai saya kerjakan keesokan harinya.
“Makasi, Om,” jawab Aprila singkat melalui pesan WhatsApp.
Bukan hanya di rumah dan urusan sekolah, di hampir setiap diskusi kami, kedua anak perempuannya pun sering mengikutinya. Mulai dari diskusi Fawawi Club ataupun ruang-ruang lain di luar. Jika Aprila sedang ada agenda mendesak yang tak bisa ia tinggalkan saat itu, atau anaknya ingin pulang terlebih dulu, maka saya sering menjadi orang pertama yang ia minta tolong memboncengi kedua putrinya untuk pulang ke rumah. Anak-anak itu tumbuh di antara ruang diskusi dan ruang rumah yang nyaris tanpa jeda.
Ia tak pernah meminta bantuan untuk hal besar. Justru hal-hal kecil seperti itulah yang sering ia titipkan.
Dalam ingatan saya, ia tak mudah percaya orang begitu saja meski sudah pernah atau sering bertemu. Ia menjaga lingkarannya kecil, tetapi jika sudah percaya, ia akan menjaga orang itu dengan sungguh-sungguh.
Di luar ruang-ruang diskusi itu, hidupnya berjalan dalam ritme yang jauh lebih sunyi. Setiap hari ia harus memastikan bekal dan uang jajan kedua putrinya sebelum berangkat ke sekolah. Suaranya kerap muncul bak alarm yang seketika mengingatkan kedua putrinya, JC dan DC, yang tengah asyik bermain HP, hingga nyaris lupa mengerjakan tugas sekolah.
Sementara itu, tumpukan naskah kawan-kawan jurnalis TPJ sering menunggu diedit di keranjang berita.
Suatu pagi, suara yang biasa menjadi alarm di rumah itu mendadak tak terdengar. Ia terbaring dan tak mampu bangun seperti biasanya.
“Sekarang Mami tidak bisa buat apa-apa. JC sudah besar dan harus gantian mengurus Mami lagi, to? Kalau capek, ganti-gantian dengan DC, ya. Om harus pulang karena ada kuliah,” pesan saya menguatkan JC yang nyaris tak kuasa melihat mamanya terbaring berbulan-bulan setelah stroke.
Di Yogyakarta, tidak ada keluarga dekat yang bisa bergantian menjaga. Rumah itu hanya diisi tiga orang: ia dan dua anak perempuannya.
Menjaga Suara
Aprila tahu suara yang tidak dirawat akan mudah hilang. Karena itu ia tak pernah tergesa-gesa pada kata. Baginya, menjaga suara bukan soal siapa paling keras berbicara, melainkan siapa yang sabar menyusun dan merapikan kalimatnya.
Di tengah kondisi fisiknya yang rapuh, ia tak pernah sedikit pun menyurutkan niatnya untuk hadir jika itu menyangkut persoalan tanah Papua.
“Maaf, Kaka telat,” katanya dengan nada sedikit membisik pada saya yang kebetulan duduk di sisi kanannya sebagai pembicara.
Saat itu, diskusi buku bertajuk “Papua: Antara Berkat dan Kutuk” hampir saja dimulai. Sementara Aprila sebagai pembicara di acara itu belum juga muncul. Tak lama berselang, ia datang dengan langkah yang tidak lagi seimbang. Kakinya belum pulih benar. Namun ketika diskusi dimulai, suaranya tetap jernih. Ia tidak berbicara dengan nada tinggi. Ia berbicara dengan ketelitian.
Dalam beberapa momen demonstrasi mahasiswa, saya melihatnya berdiri bersama kawan-kawan AJI Yogya. Ia mengenakan jaket hitam, celana pendek, satu tas selempang, dan sandal jepit yang sering digunakannya ke mana-mana. Kami bertegur sapa sebentar sebelum aksi Gejayan Memanggil yang berlangsung di pertigaan Jalan Kolombo itu benar-benar berakhir.
Dalam berbagai diskusi—entah buku, film, atau pertemuan Fawawi Club dan TPJ—ia selalu mengingatkan kami, “Jangan cuma dengar. Tolong dicatat.” Barangkali ia tahu: ingatan mudah berkhianat, tetapi catatan memaksa kita berpikir ulang. Ia sendiri terbiasa melakukan journaling sejak kecil. Membaca, mencatat, lalu menyusun ulang gagasan dalam bahasanya sendiri. Kebiasaan itu tidak berisik, tetapi menjadi bagian dari cara ia merawat pikirannya.
Namun suara yang ia bangun tidak lahir dari satu kebiasaan semata. Ia ditempa oleh pengalaman hidup yang tak ringan. Oleh kerja jurnalistik yang menuntut ketelitian, oleh buku-buku yang ia baca dan diskusikan, serta perjumpaan-perjumpaan dengan orang-orang yang kisahnya terpinggirkan. Dari disiplin kecil dan pengalaman panjang itulah karyanya perlahan tumbuh.
Novel Mawar Hitam Tanpa Akar (2009) menandai salah satu pijakan awalnya dalam sastra Papua—sebuah kisah tentang ketercabutan dan pencarian akar yang ditulis dengan lirih namun tajam. Disusul Dua Perempuan (2013), yang menelusuri relasi dan keteguhan perempuan dalam ruang sosial yang tidak selalu ramah. Kemudian Sentuh Papua (2018), novel perjalanan yang menjadikan Papua bukan sekadar latar, tetapi ruang rindu dan pulang.
Pada 2020, ia menerbitkan Tambo Bunga Pala dan Hutan Rahasia, dua karya yang semakin memperlihatkan perhatiannya pada ingatan, sejarah, dan lapisan-lapisan sunyi yang menyimpan identitas. Bahkan Rootless Black Roses, edisi bahasa Inggris dari karya awalnya, menjadi upaya memperluas jangkauan suara itu keluar dari batas bahasa.
Aprila tidak pernah memisahkan menulis dari kerja jurnalistiknya. Dalam beberapa kesempatan ia bercerita tentang hari ketika ia menemui Filep Karma di Penjara Abepura. Ia tak mengisahkan detail dramatisnya. Ia hanya mengatakan bahwa membicarakan tentang “Papua Merdeka itu tidak mudah; taruhannya nyawa.” Barangkali sejak itu ia makin yakin bahwa menjaga suara berarti berdiri sedekat mungkin dengan mereka yang hendak dibungkam.
Menyebut judul-judul itu hari ini bukan sekadar mengenang. Dalam sejarah Papua, terlalu banyak cerita tercecer dan terlalu sering dituturkan oleh orang lain. Dengan menulis, Aprila seperti sedang menyimpan arsipnya sendiri—arsip tentang rindu, perempuan, hutan, perjalanan, dan tanah Papua yang terus memanggilnya. Ia menjaga agar Papua tidak hanya dibicarakan, tetapi dituliskan dari dalam.
Kini ia tak lagi duduk di ruang diskusi, tak lagi mengingatkan kami untuk mencatat. Tetapi buku-buku itu masih ada. Di rak-rak kecil, di tangan pembaca muda, di ruang-ruang sunyi tempat seseorang belajar memahami Papua lewat sastra. Mungkin di situlah cara paling tenang untuk menjaga suara: memastikan ia tetap bisa dibaca, bahkan ketika yang menuliskannya telah tiada.
Editor: Dhika Marcendy
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








