Tidak banyak yang membicarakan perjuangan Mia Bustam sebagai seorang seniman sekaligus penyintas tragedi kelam ‘65. Dalam sejarah seni rupa di Indonesia, namanya tak terdengar. Ia hanya dilihat dan dikenal sebagai mantan istri si maestro: Sudjojono. Namanya seringnya hanya disebut ketika orang-orang membicarakan mantan suaminya itu. Ia hanya dipandang sebagai bayang-bayang Sudjojono. Dominasi maskulinitas telah meminggirkan nama Mia Bustam dari gelanggang sejarah seni rupa di Indonesia. Karyanya dibumihanguskan oleh tragedi ‘65.
Begitulah setidaknya keprihatinan yang membelenggu Astrid Reza, seorang sejarawan yang berfokus pada sejarah perempuan, yang kemudian menuliskannya menjadi tesis. Berangkat dari sana, Astrid Reza bersama Alia Swastika selaku Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta beserta teman-teman lainnya membawa nama Mia Bustam naik ke atas permukaan. Sebuah pameran studi arsip dengan tajuk yang sama seperti namanya, “Mia Bustam” dan diselenggarakan di ruang Sultan Agung, Benteng Vredeburg.
Di ruang Sultan Agung, karya-karya dan pemikiran Mia Bustam hadir. Memasuki ruangan itu, saya disambut oleh nukilan tulisan Mia Bustam “Haruskah Seniwati Memisahkan Diri dari Seniman?” dalam surat terbukanya kepada Kartika Saptohudojo. Harian Rakjat, 27 Februari 1960. Tulisan itu terpampang pada bidang berwarna merah hati dengan tulisan yang berwarna putih yang disorot lampu kuning. Dalam dan memikat diri saya untuk berdiam diri sejenak. Membacanya dengan seksama.
Sebuah kalimat membuat dada sesak. Keresahannya sebagai seniman perempuan begitu terasa saat saya membacanya. “Tuntutan kita, kaum wanita minta persamaan hak adalah kebenaran,” begitu tulisnya. Perlawanannya tak sekadar perlawanan terhadap pemerintah keji yang menyeretnya dari kamp ke kamp dengan tuduhan tak berdasar. Ia juga menjegal sistem patriarki yang telah meminggirkan perempuan dalam dunia seni.
Astrid turut menyampaikan bagaimana perempuan telah terpinggirkan atau bahkan barangkali dilupakan dalam historiografi seni. Terlebih lagi, di Indonesia, kata Astrid, frame tentang seni hanya sebatas kuantitas karya. Parahnya lagi, Mia Bustam hanya dilihat sebagai bayang-bayang Sudjojono.
“Mia Bustam telah menerbitkan empat buku. Tapi dia kayak ngga pernah masuk ke kurikulum sejarah seni rupa. Dosen yang ngajar atau ngutip dia juga cuma buat ngomongin Sudjojono gitu. Karyanya dipandang remeh. Kadang-kadang kayak; ah … apaan sih ini buku harian perempuan aja. Ya karena ‘kan frame kita tentang seni juga ngeliat seni itu hanya di batas itu. Lo harus ngelukis, lo harus produktif, lo harus sukses.”
Padahal, menurut Astrid, lewat karya tulisan Mia Bustam, kita bisa melihat bagaimana dunia seni rupa selepas periode kelam: Orde Baru. Di sana, Mia Bustam mencatatnya secara lengkap dengan berbekal ingatannya yang tajam. Ia telah merekam banyak sekali periode juga peristiwa. Namun, ia dilupakan.
“Dia (re: Mia Bustam) kayak ensiklopedia penting dan panjang. Sayangnya karyanya enggak,” ungkap Astrid.
Hal serupa dirasakan oleh Nessa Theo (24), salah seorang seniman muda Gen Z yang tergabung dalam pameran ini. Sebagai seorang Gen Z yang tidak mengalami periode Orba, historiografi seniman perempuan sangat diperlukan. Untuk tahu bagaimana dunia seni rupa perempuan di masa lalu sebagai referensi sekaligus koneksi penguat bagi generasi selanjutnya mengenai perjuangan yang pernah dilewati.
Ia mengekspresikan keresahannya melalui karyanya yang dinamai The Other Side of Melancholia. Sebuah lukisan berisi gambar Mia Bustam dengan delapan anaknya dan sesosok laki-laki yang diblok hitam untuk menimbulkan kesan bayangan, ganjil, atau bahkan memudar. Dari karyanya itu, satu hal yang menarik bagi saya. Tepat di bawah gambar sosok Mia Bustam, arsip-arsip tentangnya terhambur keluar dari lukisan dan menjuntai hingga ke lantai.
Nessa kemudian menjelaskan kepada saya maksud dari arsip-arsip yang seolah keluar dari lukisan itu.
“Sebenarnya itu sebuah bentuk pertanyaan. Gimana, ya, cara kita ngomongin fenomena atau peristiwa ini gitu. Apakah komemorasi, apakah kita kayak … wah, museum nggak meng-include ini, yuk kita include. Apakah kita selebrasi atau apa? Terus eksesnya apa? Tapi yang pasti kayak mencoba bentuk baru dan bagaimana apa yang dia perjuangkan tuh tetap meraih ke kita hari ini,” ungkapnya kepada saya.
Di samping itu, ia juga berupaya untuk mengekspresikan daya juang Mia Bustam dalam pergulatannya sebagai seniman yang “tak terlihat” juga sebagai penyintas Tragedi ‘65. Sebab, Mia Bustam seringkali dinarasikan dengan kesedihan dan kekalahan kaum kiri. Oleh karenanya, lewat The Other Side of Melancholia, Nessa mengubah narasi kekalahan dan kepedihan dengan perjuangan seorang seniman, ibu tunggal, dan penyintas Orba yang melawan dengan menulis, melukis, bahkan dengan hidupnya sendiri.
Serial Liputan Biennale Jogja 18, “KAWRUH: Tanah Lelaku”
Babak II – Museum Benteng Vredeburg, Kota Yogyakarta (6 Oktober-20 November 2025)
Editor: Balqis Nabila
Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.








