Membaca Pak Jameson, Membaca Sejarah, Filter dan Vibe

Penulis
Bagaimana bisa seseorang merindukan masa yang tiada pernah ia alami?

Telah menjadi lumrah rasanya, suatu pemandangan yang sukar dijelaskan tanpa pertanyaan itu. Anak-anak muda yang lahir di sekitaran tahun 2000 mengenakan celana cutbray, sepatu lari model 1980-an, dan kaos dengan desain yang naga-naganya dicetak tiga dekade lampau. Sebagian memotret diri mereka sendiri dengan kamera digital awal 2000-an, lantas mengunggah hasilnya ke media sosial selepas memilih filter yang membuatnya tampak lebih tua lagi.

Mereka mendengarkan city pop Jepang, musik yang populer sebelum mereka lahir. Mereka mengoleksi vinyl, benda yang sempat disangka punah sebelum mereka cukup umur guna mengenalnya. Tiada yang aneh dalam semua ini, kecuali satu: sebagian besar dari mereka tiada pernah hidup di masa yang kelihatannya tengah mereka “rindukan”. Dan ganjil pula rasanya kalau hal itu disebut “mengenang”. Sebab saya menduga, mereka tengah melakukan sesuatu yang lain, sesuatu yang belum sepenuhnya punya nama.

Beberapa waktu lalu, saya membaca esai bapak Fredric Jameson yang ditulis tahun 1983, Postmodernism and Consumer Society. Terjemahannya, Pascamodernisme & Masyarakat Konsumer oleh bang Saut Situmorang, telah diterbitkan Semut Api. Di situ, tiadalah Pak Jameson tengah mengulas mode retro atau filter Instagram. Ia membahas mbah Andy Warhol, Las Vegas, pula arsitektur pascamodernisme.

Di tengah esai itu, saya mulai menangkap satu gagasan yang terus berulang. Melalui pembahasannya seputar pastiche, nostalgia, dan kesejarahan, Pak Jameson memperlihatkan bahwa dalam masyarakat konsumer hubungan kita dengan masa lampau perlahan berpindah. Tiadalah lagi masa lalu terutama mengemuka sebagai pengalaman sejarah, melainkan sebagai himpunan gaya, citra, dan kode-kode visual yang bisa dipakai lagi.

Tempo doeloe jadi gudang citra yang bisa dipetik seenaknya, dilepaskan dari konteks historisnya, dibersihkan dari luka dan kontradiksinya, lantas dikemas ulang sebagai komoditas. Niscaya tiada cocoklah andai ini semua disebut ingatan. Sebab rasanya ini merupakan sesuatu yang sungguh lain.

Saya memikirkan anak-anak muda dengan celana cutbrai itu. Mereka tiada punya pengalaman tahun 1980-an. Apa yang mereka dekati ialah sesuatu yang mereka bayangkan sebagai tahun 1980-an: siluetnya, warnanya, tekstur visualnya, suasananya. Muskil memastikan apakah yang mereka cari ialah sejarah, fantasi seputar sejarah, atau sesuatu di antara keduanya. 

Celana itu boleh jadi terasa akrab bagi mereka. Dan keakraban itu, apapun status ontologisnya, boleh jadi pula merupakan sesuatu yang nyata. Andai tepat demikian, maka besarlah kemungkinan mereka tiada tengah berpura-pura. Besar kemungkinan mereka sungguh merasakan sesuatu.

Lantas, apa sebenarnya yang mereka rasakan? Seringkali, jawaban yang muncul dari percakapan mereka sendiri ialah kata yang sederhana: “vibe.” 

“Vibe-nya cozy.” 

“Vibe-nya nostalgic.” 

“Vibe-nya old school.”

Kata itu agaknya layak diperhatikan dengan serius, sebab di dalamnya tersimpan segenap diagnosis Pak Jameson dalam bentuk mini.

“Vibe” ialah kata yang tiada menuntut pemahaman, tiada mensyaratkan konteks, tiada memerlukan sejarah. Ia hanya minta satu hal: bagaimana sesuatu terasa. Sedangkan apa maknanya, terlebih bagaimana ia terbentuk, jarang menjadi kriteria yang relevan. “Vibe” ialah kata yang lebih menunjuk suatu kondisi budaya di mana permukaan telah menjadi lebih penting ketimbang apa yang ada di baliknya.

Pak Jameson punya nama untuk fenomena yang memayungi “vibe” ini: pastiche. Konsep ini penting, dan saya perlu memberinya ruang, sebab ialah jembatan yang menghubungkan celana cutbray, kamera digital lawas, city pop, dan filter VHS menjadi satu diagnosis yang koheren. 

Pak Jameson membedakan pastiche dari parodi. Parodi masih punya niat guna menertawakan, mengkritik, atau sekurang-kurangnya menunjukkan jarak dari objeknya. Parodi masih punya titik pijak, masih tahu apa yang tengah ditirunya, dan dari pengetahuan itu, lantas efek komik atau kritisnya lahir.

Pastiche berbeda. Pastiche, meminjam istilah Pak Jameson, ialah semacam blank parody, atau parodi kosong, yakni peniruan yang telah kehilangan dorongan satirisnya. Ia tinggal berupa pengulangan tanpa jarak, tanpa sindiran, dan tanpa kesadaran menyejarah atas apa yang tengah ditirunya. 

Manakala seorang anak muda mengenakan celana cutbray gaya tempo doeloe, tiadalah ia tengah memparodikan tempo doeloe. Tiada pula ia tengah mengapresiasi 1980-an dengan pemahaman historis yang mendalam. Ia tengah mengulang suatu gaya yang telah lama terlepas dari konteks sosial dan bersejarah yang dulu melahirkannya. Gaya itu kini berdiri sendiri, melayang bebas, tersedia untuk dipakai siapa pun tanpa perlu memahami dari mana asalnya. Inilah kiranya yang oleh Pak Jameson disebut pastiche.

Lantas apa kaitannya dengan hilangnya kedalaman? Sejenak, mari kita beralih ke tulisan Pak Jameson yang lain: Postmodernism, or, The Cultural Logic of Late Capitalism. Di situ, beliau membandingkan antara sepatu pak tani karya Van Gogh dan sepatu debu kristal karya Andy Warhol. Pada lukisan Van Gogh, sepatu ialah pintu masuk ke seluruh dunia: kerja keras, tanah, kemiskinan, perjuangan. Sepatu itu punya kedalaman lantaran ia merujuk pada sesuatu di luar dirinya: pada kehidupan, pada sejarah, pada penderitaan yang nyata.

Sementara pada karya Warhol, sepatu hanyalah sepatu. Permukaan. Citra. Tiada yang bisa dimasuki. Tiada dunia di baliknya. Inilah kiranya yang oleh Pak Jameson dijuluki depthlessness, dan inilah akibat paling serius dari budaya pastiche: manakala segala sesuatu bisa dikutip tanpa konteks, segala sesuatu kehilangan kedalamannya. Lantas apa yang tersisa sekadar permukaannya yang berkilau.

Saya merenungi ini tatkala suatu sore membuka TikTok dan menemukan akun @nos_8090an yang mengkurasi “estetika tahun 80-90-an Indonesia.” Akun itu memiliki ratusan ribu pengikut, sebagian besar anak muda. Ada foto-foto lama yang telah diwarnai ulang dengan filter hangat. Ada video sinetron lama yang dipotong lima belas detik dan diberi musik lo-fi. Ada iklan-iklan jadul yang diunggah ulang tanpa konteks, semata lantaran “estetik.” Di kolom komentar, tak langka orang menulis kesan semacam: “Ini Indonesia yang saya rindukan.”

Indonesia yang mana? Indonesia tahun 1998? Indonesia Reformasi? Indonesia yang sesak ketidakpastian, krisis, kekerasan, dan pergolakan? Tentu bukan. Apa yang mereka rindukan ialah permukaannya: warna bajunya, gaya rambutnya, font iklannya, vibes-nya. Di ruang digital yang dihuni banyak anak muda hari ini, tiadalah sejarah kerap mengemuka sebagai narasi yang wajib dipahami, melainkan ia tampil selaku arsip visual yang dapat dipilih, dipotong, dan diedarkan kembali. 

Tiadalah sejarah tampil selaku sejarah. Ia tampil sebagai filter. Dan filter, sepertimana “vibe” dan sebagaimana pastiche, tiada menuntut apapun kecuali permukaan. Masa lalu menjelma sesuatu yang bisa dipilih dan diganti-ganti, selayaknya tema di aplikasi penyunting foto. Tiada lagi masa lalu berupa pertanyaan seputar “apa yang sebenarnya terjadi,” melainkan seputar “mana yang lebih enak dilihat.”

Barangkali kita dapat melangkah setapak lagi. Pertanyaannya bukan semata mengapa pastiche terjadi, melainkan mengapa ia terus-menerus diproduksi. Dalam masyarakat konsumer, iklan hampir tak pernah menjual benda sebagai benda. Ia menjual suasana, identitas, dan cara mengalami dunia. Kopi dijual sebagai “kehangatan”, mobil sebagai “kebebasan”, smartphone sebagai “kreativitas”, bahkan masa lampau pun dijual sebagai “nostalgia”. 

Barang dan sejarah sama-sama dilayani sebagai himpunan tanda yang dapat dipilih, dipadukan, lantas dipasarkan. Maka tiadalah mengherankan manakala citra-citra budaya tempo doeloe senantiasa didaur ulang. Dalam logika kapitalisme yang demikian ini, tiadalah tempo doeloe semata-mata merupakan sesuatu yang telah lewat, lantaran rupanyalah ia pula suatu cadangan tanda, gaya, serta citra yang senantiasa dapat diperdagangkan lagi. Tiadalah lagi tempo doeloe terutama tampil selaku sejarah yang mesti dipahami, kini ia lebih tampil selaku bahan baku estetis yang senantiasa bisa dipasarkan.

Kendati demikian, mari sejenak kita mawas diri, lantaran kelewat gampang melanjutkan argumen ini menjadi dakwaan: bahwa anak muda hari ini dangkal, bahwa mereka kehilangan sejarah, bahwa mereka cuma peduli pada permukaan. Tiadalah saya memaksudkan itu. Dan boleh jadi pula, tiadalah pak Jameson memaksudkan hal yang sama. 

Sekiranya apa yang hendak didiagnosis Pak Jameson bukanlah kapasitas individu, melainkan kondisi budaya yang mengarahkan cara kita semua, tak terkecuali selain anak muda, tatkala berhubungan dengan waktu. 

Sewaktu Pak Jameson mengulas seputar schizophrenia budaya, tiadalah kiranya beliau tengah mendiagnosis orang per orang. Beliau tengah menggambarkan bagaimana pengalaman waktu beralih di bawah tekanan kapitalisme konsumer: masa lalu, kini, dan masa depan tiada lagi menyusun narasi yang utuh, melainkan hadir sebagai pecahan-pecahan yang berdiri sendiri. 

Rasanya, tiadalah perlu saya memberi terang teori ini dengan gurat berkepanjangan, lantaran kita niscayalah mengalaminya sendiri saban hari. Kita mengalaminya manakala membuka TikTok, Instagram, atau Facebook, dan dalam lima belas detik kita berpindah dari video bencana alam ke meme politik, dari iklan baju anak ke curhatan seseorang yang baru putus cinta. Urgensinya sama. Emosinya sama. Tiada yang lebih penting. Tiada yang lebih bermakna. Semuanya rata. Semuanya datar.

Barangkali di sinilah kedua diagnosis Pak Jameson saling jumpa. Pastiche memberi terang bagaimana gaya, citra, serta sejarah diceraikan dari konteks yang dahulu melahirkannya. Schizophrenia budaya, pada gilirannya, memberi terang bagaimana pecahan-pecahan citra itu terus mengalir dalam pengalaman kita tanpa sempat dirangkai kembali menjadi suatu narasi yang utuh. Tiadalah logika kapitalisme semata memproduksi barang dagangan, melainkan ia pula memproduksi arus tanda yang nyaris tiada memberi peluang bagi pengalaman guna mengendap menjadi sejarah.

Kendati demikian, tiadalah pula ini merupakan penilaian bahwa media sosial atau iklan-iklan itu jahat. Semata-mata, ini merupakan perkara arsitektur pembentukan budaya masyarakat konsumer, yang menyusun ulang ritme perhatian kita tanpa kita sadari. Saya, atau barangkali kita bersama, bisa merasakannya selagi berupaya membaca tulisan panjang. Ada kegelisahan di sana. Ada keinginan untuk cepat menyudahi pembacaan. Ada suara-suara yang berbisik: ini kelewat lambat, ini terlampau dalam. Dan saya khawatir, tiadalah sejatinya suara itu berasal dari luar. Saya khawatir kalau-kalau suara itu sungguh berasal dari dalam diri kita sendiri.

Kendati di saat yang sama, saya mesti menginsafi bahwa gambaran ini pastilah tiada lengkap. Di platform yang sama, yang menderaikan perhatian, ada pula komunitas pembaca yang malah menghidupkan kembali apresiasi kepada narasi panjang. 

Ada anak-anak muda yang menghabiskan waktu membaca arsip-arsip 1965, yang aktif di komunitas sejarah lokal, yang menggunakan format meme dan video pendek dengan sengaja guna membuka diskusi seputar trauma kolektif, yang oleh generasi sebelumnya telah dibisikkan: malapetaka 1965, kekerasan Orde Baru, penghilangan aktivis 1998. Maka besar dugaan bahwa ini bukan sekadar depthlessness. Ini ialah sesuatu yang lain, yang barangkali luput dari diagnosis Pak Jameson.

Di satu wilayah, Pak Jameson memberi kita bahasa guna menyaksikan sesuatu yang nyata: ada semacam pengikisan pengalaman kesejarahan yang terjadi manakala segala sesuatu menjelma menjadi konten. Tatkala masa lalu bisa diakses sebagai arsip digital yang tiada terbatas dan, lantaran itu, kehilangan bobotnya sebagai sesuatu yang sungguh terjadi. 

Di area lain, tiada sanggup kita mengabaikan fakta bahwa banyak anak muda malah memakai akses yang sama kepada arsip digital itu, guna menggali sejarah yang disembunyikan. Dua hal yang tampaknya bertentangan ini terjadi di waktu yang sama, di platform yang sama, boleh jadi pula oleh orang yang sama. Seakan fenomena ini tengah menunjukkan bahwa kondisi yang didiagnosis Pak Jameson bukanlah semata-mata takdir. Ialah kecenderungan, dan kurang pas apabila dikata hukuman.

Barangkali di sini, terdapat pertanyaan yang belum selapangnya dijawab Pak Jameson. Beliau memberi kita perangkat pemikiran guna memahami mengapa budaya “nostalgia” bisa tumbuh manakala kaitan langsung dengan masa lalu kian renggang. Beliau menunjukkan bagaimana sejarah bersalin menjadi himpunan citra dan gaya yang dapat diperdagangkan, dipakai ulang, lantas diedarkan kembali sebagai barang dagangan budaya, dan lantas pula menjadi “vibe”.

Kendati demikian, Pak Jameson belum serapatnya menutup persoalan. Beliau menunjukkan bahwa pengalaman pascamodern tetap bisa mengemuka dengan intensitas yang amat nyata, bahkan terasa lebih mendesak ketimbang sebelumnya. Apa yang belum banyak beliau beri terang ialah bagaimana kita mesti memahami intensitas itu. Apakah ia sekadar efek dari logika kapitalisme akhir? Ataukah di dalam pengalaman yang telah dibentuk oleh kapitalisme itu masih tersisa kemungkinan bagi makna yang tiada sepenuhnya dapat direduksi kepadanya?

Tiadalah saya memiliki jawaban pasti. Dan barangkali keraguan ini penting. Sebab boleh jadi di situ ada ruang bagi sesuatu yang belum bisa didiagnosis, sesuatu yang belum memiliki nama. Sepanjang esainya, Pak Jameson memperlakukan pascamodernisme bukan semata sebagai nama bagi suatu gaya artistik, melainkan sebagai gejala kebudayaan yang lahir seturut akrobat yang kian menggila dari suatu tatanan sosio-ekonomi tertentu yang masih bertahan kendati telah mencapai puncak riwayatnya, yakni kapitalisme, atau lebih tepatnya imperialisme. Kendati demikian, barangkali dalam kondisi yang paling deras sekalipun, senantiasa ada celah.  Celah di antara filter dan wajah. Celah di antara “vibe” dan pengalaman. Celah di antara citra dan sesuatu yang, barang sejenak saja, terasa layaknya kenyataan.

Saya melihat celah itu pada anak-anak muda yang berjalan dengan celana cutbray dan kamera digital lawas di tangan, mengenakan pakaian dari era yang tiada mereka alami, dan tersenyum lantaran mereka tengah merasakan sesuatu yang, untuk sekarang, belum bisa mereka jelaskan. Boleh jadi mereka tak wajib menjelaskannya. Boleh jadi itu bukanlah tugas mereka.

Apa yang menjadi tugas kita, yakni insan-insan budiman yang membaca Pak Jameson di tengah banjir konten ini, ialah senantiasa bertanya tanpa tergoda untuk segera menjawab. Setia mengamati tanpa tergoda untuk segera menghakimi. Lagipula tiadalah kiranya pertanyaan yang diajukan Pak Jameson itu berbunyi “apakah anak muda hari ini dangkal?” Sebab, pertanyaannya jauh lebih sukar: apa yang terjadi pada cara kita mengalami waktu tatkala segala sesuatu, tak terkecuali masa lampau, bisa dipilih, dipotong, difilter, dan disebarkan seturut logika kapitalisme yang suka mengatomisasi segala sesuatunya? Akankah tersedia celah bagi pascamodernisme guna melawan logika kapitalisme yang telah mencapai usia senjanya ini?

Belumlah usai pertanyaan itu menerima jawab. Atau boleh jadi tiada akan pernah usai. Dan seperti mana akhir guratan Pak Jameson sendiri dalam Pascamodernisme dan Masyarakat Konsumer: pertanyaan ini mesti kita biarkan terbuka.


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *