Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita besutan Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale meledak. Dari puluhan hingga meledak ke angka jutaan orang yang menonton dan mendiskusikan film tersebut. Kemarahan dan empati hadir bersamaan dalam satu tarikan napas para penonton. Media sosial dibanjiri berbagai flyer nonton bareng (nobar) dan diskusi Pesta Babi. Setiap kelompok berlomba-lomba mengadakan nobar dan setiap orang secara bergantian mengeluarkan kemarahannya terhadap negara.
Tak ada rasa gentar ataupun takut diciduk setelah memutar atau mengeluarkan kritik keras kepada negara, atau secara terbuka meneriakkan “Free West Papua”. Setelah itu, semua pulang dengan rasa bangga di dada; merasa sudah bersolidaritas dengan masyarakat Papua. Lalu sisanya, adalah kisah tentang acara pada hari itu, residu dari sebuah keterlibatan.
Di tengah-tengah polusi cahaya dan deru modernitas, kita berbicara tentang kehebatan Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale, masyarakat adat, kekuatan budaya, dan sosok-sosok pemberani yang dihadirkan dalam film dokumenter Pesta Babi melawan jaringan setan pencuri tanah. Setan militerisme, kapitalisme, sampai neoliberalisme yang diciptakan oleh sebuah bangsa yang menjajah bangsa lain. Sementara itu, beribu-ribu mil jauhnya, di tengah belantara hutan di selatan West Papua, sosok-sosok yang hadir dalam film tersebut sedang mempersiapkan diri melawan rasa takut yang datang dari militer atau bahkan sesama masyarakat sipil yang telah dipengaruhi militer.
Bagaimana dengan Mama Yasinta yang hidup sendiri di kampungnya? Apakah ada rumah aman untuk dia? Bagaimana kalau selama ini, Mama Yasinta hidup dalam bayang-bayang ketakutan kalau suatu saat dia bisa didatangi militer atau diserang oleh sesama warga kampung yang telah dipengaruhi negara melalui kekuatan militer hanya untuk mendukung Proyek Strategis Negara (PSN)? Apakah pertanyaan semacam itu hadir dalam semua rangkaian diskusi yang menghebohkan media sosial dan kehidupan sehari-hari kita?
Beberapa pekan setelah nobar film dokumenter Pesta Babi, publik dihebohkan dengan kabar “hilangnya” Mama Yasinta Moiwend dari rumahnya di Distrik Ilwayab. Kejutan berlanjut saat Mama Yasinta tiba-tiba hadir di Polda Metro Jaya, Jakarta, dengan tujuan melaporkan sutradara Pesta Babi, Dandhy Laksono, dan Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Merauke, Jhonny Teddy Wakum. Publik gempar dan bertanya-bertanya: apa yang sebenarnya terjadi? Secara perlahan-lahan, fokus kita bergeser pada kasus pelaporan tersebut. Banyak yang menduga perubahan sikap Mama Yasinta disebabkan oleh intimidasi yang dilakukan militer. Flyer nobar Pesta Babi yang sebelumnya memenuhi linimasa media daring berganti menjadi flyer “Kami bersama Mama Yasinta”.
Beberapa minggu setelah kasus pelaporan tersebut, Mama Yasinta kembali muncul ke publik. Kali ini ia bukan lagi di Jakarta, melainkan di lokasi Proyek Strategis Nasional (PSN) di Merauke. Kehadiran Mama, dalam sebuah video yang beredar, dikelilingi oleh kelompok yang berbeda. Mereka bukan kelompok yang menolak PSN, melainkan kelompok yang mendukung PSN. Setelah gambar dan video Mama Yasinta tersebar, muncullah berbagai tulisan yang menghujat Mama Yasinta karena dianggap mengkhianati perjuangan masyarakat adat. Hujatan itu datang dari berbagai lapisan masyarakat, tak ketinggalan pula datang dari mereka yang mendaku diri sebagai aktivis gerakan sosial di Papua.
Tulisan ini hadir sebagai respons terhadap sikap beberapa aktivis gerakan sosial di Papua. Untuk kalian yang mencemooh Mama Yasinta, sa mo tanya, atas dasar apa kam mencemooh Mama Yasinta? Apakah sikap Mama Yasinta Moiwend berasal dari kemauannya sendiri?
Apakah kita pernah bertanya bagaimana beratnya hidup Mama Yasinta sebagai individu yang memiliki kerentanan berlapis (perempuan, Papua dan nonkooperatif) di tengah-tengah konsistensinya menolak PSN? Atau melalui “musibah” yang menimpa Mama Yasinta, bukankah kita diajak untuk kembali bertanya, apakah ada proses dalam kerja-kerja advokasi dan solidaritas selama ini, yang tanpa disadari, justru turut andil menempatkan Mama Yasinta dalam situasi yang semakin rentan?
Kami Tak Mungkin Salah
Berbagai hujatan yang dilayangkan oleh beberapa aktivis di dan luar Papua kepada Mama Yasinta menunjukkan watak kolonial yang hidup di dalam alam pikir kita. Mereka mengidap penyakit bernama “Kami-Tak-Mungkin-Salah”. Sebuah keyakinan bahwa mereka yang bergerak dalam kerja-kerja pengadvokasian persoalan rakyat tak mungkin salah. Jika suatu saat ada rakyat yang berbelok mendukung kelompok penindas, kesalahan tersebut murni karena individu tersebut tidak berjuang cukup keras dan dengan begitu dia pantas disalahkan. Mereka tidak akan bertanya: Apa yang menyebabkan individu tersebut berbelok? Kerentanan semacam apa yang menyebabkan si individu tersebut berbalik arah mendukung si penjajah? Atau, jangan-jangan kerja-kerja solidaritaslah yang mesti dievaluasi? Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan barusan, rasanya mustahil untuk ditemui jawabannya. Sebab mereka hanya percaya, mereka tidak pernah melakukan kesalahan dalam proses pengadvokasian.
Fenomena semacam itu telah dituliskan oleh Edward Said secara panjang lebar dalam bukunya, Orientalisme. Secara umum, kita mengetahui bahwa orientalisme berbicara tentang bagaimana Barat menguasai Timur melalui pengetahuan dan bagaimana Barat mempersepsikan Timur berdasarkan standar mereka. Namun, kalau kita baca secara pelan-pelan, kita akan menemukan bahwa Said mencoba mengingatkan para peneliti, aktivis, bahkan gerakan sosial yang lain bahwa saat meneliti kelompok tertentu, perlu mengedepankan sikap kehati-hatian dalam mendampingi atau menulis kelompok tersebut. Di bukunya, kita bisa melihat bagaimana kelompok yang memegang prinsip “Kami-Tak-Mungkin-Salah” adalah kelompok yang dikategorikan Said sebagai kaum orientalis. Seorang orientalis percaya bahwa dia tidak mungkin melakukan kesalahan karena dia membawa seperangkat dominasi pengetahuan, yang dengan berbagai biasnya, diyakini memiliki keampuhan dalam membedah persoalan dan menjelaskan tentang siapa pun di luar dirinya.
Dalam semangat “Kami-Tak-Mungkin-Salah”, hadir sikap superioritas kelompok satu atas kelompok lain. Dalam konteks “musibah” yang dialami Mama Yasinta, kelompok yang mencemooh dan mengkritik Mama Yasinta berada di barisan “Kami-Tak-Mungkin-Salah”. Sementara Mama Yasinta ditempatkan sebagai individu yang harus berterima kasih dan bersyukur karena isu yang sedang diperjuangkannya telah dibawa keluar, bahkan sampai kancah internasional. Kelompok ini seolah merasa bahwa solidaritas yang diberikan oleh orang Indonesia haruslah diterima—sebisanya tanpa bertanya. Kelompok ini juga kadung menilai kawan-kawan Indonesia yang membantu Mama Yasinta sudah bekerja secara serius untuk menyebarkan pada dunia soal deforestasi dan pelanggaran HAM di Papua.
Perlu diingat, bekerja dengan serius tidak berarti Anda bekerja dengan mengedepankan sikap kehati-hatian saat berhadapan dengan semesta kehidupan kelompok tertentu. Dalam Orientalism, Said menjelaskan bahwa otoritas (bekerja dengan serius) bergerak dengan cara dibentuk, diamini, dan disebarluaskan. Sifatnya yang instrumental dan persuasif itulah yang mengharuskan kita untuk selalu menganalisisnya. Sebab otoritas terhadap kelompok tertentu, suka tidak suka, akan “dibaptis” dengan nama representatif dan fenomena semacam itu selalu ada dalam sejarah bangsa-bangsa. Teori ini tidak hanya berlaku sebagai pisau bedah kita untuk menguliti sebuah fenomena atau teks, melainkan berlaku pula sebagai pengingat bagi diri kita agar selalu mengedepankan pendekatan yang hati-hati saat mencoba membaca dan membicarakan kelompok lain. Sebab, kita semua bisa jatuh kapan waktu pada sesuatu yang sedang kita kritisi hari ini, tanpa kita sadari.
Peringatan yang ditulis Said itu nampaknya tidak didengar (atau memang sengaja tak diindahkan) oleh mereka yang menyalahkan Mama Yasinta. Kelompok yang mencemooh Mama Yasinta mengesankan, sebagaimana Said menukil pernyataan Marx dengan sedikit penambahan, bahwa jika Timur mampu membicarakan dirinya, tentu dia akan melakukannya. Namun karena dia “tidak bisa”, maka Barat berkewajiban untuk membicarakan kelompok tersebut. Maksudnya, hanya karena Mama Yasinta “tidak mampu” meluaskan isu Papua ke khalayak nasional dan internasional, maka otomatis itu menjadi tugas kelompok lain untuk melakukannya. Sebab itulah, dalam kerangka pikir demikian, maka Mama Yasinta seharusnya berterima kasih kepada kelompok tersebut. Cara pandang semacam ini jelas mencerminkan tindakan monopoli representasi. Sebuah tindakan khas kolonial.
Monopoli representasi semacam itu dapat dibaca sebagai akibat dari dominasi kelas terhadap produksi material dan produksi gagasan sebagaimana dijelaskan oleh Marx. Dalam The German Ideology, Marx dan Engels menjelaskan bahwa kelas yang memiliki material dominan dalam masyarakat secara bersamaan menjadi pemilik kekuatan intelektual dominan. Dalam tulisan tersebut, Marx dan Engels berseru kepada kelas revolusioner agar dalam proses revolusi, kelas tersebut tidak boleh muncul sebagai kelas baru, melainkan sebagai perwakilan seluruh massa rakyat yang berhadap-hadapan dengan kelas penguasa. Dalam konteks Mama Yasinta, aktivis yang mengkritik Mama Yasinta justru masuk ke dalam apa yang telah diperingatkan Marx dan Engels: menjadi kelas baru yang dominan. Kelas baru itu nampak saat beberapa orang yang terlibat dalam gerakan sosial mulai menyalahkan Mama Yasinta atas keputusannya (yang bukankah masuk akal jika kemunculannya karena represivitas?) untuk mendukung PSN. Alih-alih melihat kasus Mama Yasinta sebagai konsekuensi dari kegagalan gerakan memahami basis, banyak dari kita justru memosisikan diri sebagai kelas baru (“Kami-Tak-Mungkin-Salah”) yang tugasnya juga menghukum sesama masyarakat tanpa memahami kompleksitasnya.
Basis dalam konteks Marx tak melulu soal benda. Dia bisa dibaca sebagai situasi kerentanan nyata yang dihadapi kelompok tertentu (relations of production). Dalam Das Kapital I bagian “Simple Reproduction”, Marx tidak hanya membahas proses produksi sosial sebagai satu kesatuan yang terhubung dan selalu diperbarui dengan tujuan menghasilkan komoditas dan nilai surplus. Marx berargumen, kapitalisme secara kontinu memproduksi dan mereproduksi hubungan kapitalis itu sendiri, hubungan antara kelas yang menindas dan kelas yang ditindas. Musibah yang dialami Mama Yasinta menunjukkan kegagalan gerakan dalam memutus hubungan antara kelas penindas dan tertindas. Mama Yasinta, sebagai salah satu sosok yang sangat vokal dalam gerakan di selatan, karena ketidakhati-hatian beberapa gerakan sosial (LSM dan aktivis), berbalik mendukung PSN.
Kenapa hal tersebut bisa terjadi? Alih-alih bergerak dari kacamata Investigasi Sosial dan Analisis Kelas (ISAK/SIKA), gerakan sosial (LSM maupun aktivis yang tergabung di dalam LSM) di Papua sering kali bergerak dengan “semangat proposal”. Sebuah semangat yang acapkali tidak mempertimbangkan kerentanan para narasumber mereka. Untuk itu, mereka yang mengkritik Mama Yasinta: tak cukup kalian membaca teks-teks Marx, hal yang lebih penting adalah kenali keadaan masyarakat menggunakan kacamata Marxisme!
Tahu Marxisme, Kenal Keadaan
Subjudul ini terinspirasi dari tulisan Zen Rs berjudul “Tahu Marxisme, Kenal keadaan: Kritik MDH atas Pedantisme dalam Gerakan Sosial” yang diterbitkan oleh trimurti.id. Zen menukilnya dari dokumen Politbiro CC PKI dalam brosur berjudul “Tesis 45 Tahun PKI” yang diterbitkan di Djakarta, 6 Mei 1965. Saya pikir, dokumen Politbiro CC PKI ini bisa digunakan untuk mengingatkan mereka yang menghujat Mama Yasinta.
Pada sub Pekerdjaan Riset (halaman 25), Politbiro menulis:
“Tak dapat disangkal, bahwa masalah terpokok dari riset adalah masalah melakukan kontak-kontak dan hubungan’ langsung dengan kenjataan2 jang harus diketahui dan
harus dirombak. Dari kontak dan hubungan langsung itu, kita dapat mentjerminkan hukum2nja setjara tepat, mempergunakannja untuk mengubah kenjataan tersebut. Adalah suatu omongkosong belaka melaksanakan metode memimpin ,,memadukan seruan umum dengan tuntunan kongkrit, memadukan pimpinan dengan massa” tanpa melakukan kontak atau hubungan langsung dengan kenjataan’ itu sendiri, dengan perkataan lain, tanpa melakukan riset.” (Hlm. 26).
Riset menjadi laku kerja Partai Komunis Indonesia (PKI) waktu itu. Di dalam tulisan tersebut, D.N. Aidit disebut sebagai sosok yang berhasil mengorganisir kerja-kerja riset untuk mengetahui keadaan tani dan dan gerakan tani di seluruh Jawa. Politbiro menulis begini:
“Pekerdjaan riset mengenai keadaan tani dan gerakan tani diseluruh Djawa, jang dilakukan dibawah pimpinan langsung Kawan D.N. Aidit, tidak hanja mendororg perkembangan gerakan tani, tapi djuga mernbangkitkan kesedaran didalam barisan Partai bahwa pekerdjaan Partai hanja akan berhasil baik djika dipadu dengan pekerdjaan riset.” (Hlm. 26).
Artinya, pekerjaan riset untuk mengetahui kondisi basis masyarakat menjadi kewajiban dalam perjuangan. Kerja riset semacam itu diperlukan agar para aktivis tidak terjebak dalam teori yang dibaca. Teori adalah alat. Sebuah alat hanya bisa digunakan secara tepat kalau penggunanya memahami material. Ketidaktahuan material akan menghancurkan alat dan material tersebut. Fenomena aktivis di Papua yang mengkritik Mama Yasinta menunjukkan minimnya riset (untuk tidak menyebutnya sebagai ketidaktahuan) yang dilakukan terhadap kondisi material Mama Yasinta. Orang-orang semacam itu berpegang pada teori dan sosok yang diyakini tak mungkin melakukan kesalahan. Alih-alih menjadikan musibah yang dihadapi Mama Yasinta sebagai momen evaluasi terhadap LSM yang sering kali bekerja tanpa mempertimbangkan keselamatan masyarakat, mereka justru menjadi hakim massal terhadap Mama Yasinta.
Pekerjaan riset di sini jangan dimaknai sebagai kerja-kerja peneliti atau akademisi yang datang beberapa hari dan lantas ke tempat tinggalnya lalu menginterpretasikan persoalan masyarakat tertentu dengan berbagai teori mereka. Pekerjaan riset dalam konteks PKI adalah tindakan hidup bersama kelompok tertentu. Turun ke bawah (turba). Hidup bersama mengharuskan kita menanggalkan semua pengetahuan di kepala kita dan kembali menjadi bayi. Kembali melihat, merasakan, memahami, dan berbicara menggunakan bahasa kelompok itu. Hal itu perlu dilakukan agar kita tidak menjadi kelompok dominan yang menentukan kebenaran dalam cara melawan.
Mudah berbicara tentang perjuangan saat di sekeliling kita dipenuhi orang-orang yang juga memiliki hasrat untuk melawan. Totalitas perlawanan kita akan diuji saat kita berada di suatu tempat di mana kita sendiri yang melawan. Sementara itu, sikap melawan kita justru dianggap oleh masyarakat sekitar sebagai tindakan yang meresahkan. Jauh dari sorotan wartawan, jauh dari rumah aman, dan bahkan jauh dari bantuan hukum. Dalam situasi semacam itu, semua jargon revolusioner yang sering kita gunakan akan kita pikirkan kembali sebelum mengucapkannya. Sebab kita akan berhitung dengan mempertahankan napas perlawanan atau merasa keren dengan kata-kata seperti melawan, revolusi, dan segala kosakata perlawanan lainnya.
Apakah mereka yang mengkritik Mama Yasinta pernah berada dalam situasi seperti itu? Kalau pernah, artinya kalian tidak belajar. Kalau belum pernah, saya usulkan untuk turun dan merasakan ruang itu. Tinggallah beberapa tahun di ruang-ruang itu. Dalam ruang semacam itu, kita akan belajar dari kondisi rakyat dan mencoba memberikan penamaan terhadap fenomena tersebut dengan ideologi yang kita pelajari. Kita tetap melawan penjajahan tanpa mengucapkan kata melawan. Kita perlu sering-sering hidup dalam kondisi tersebut. Barang kali, melalui jalan semacam itu kita diajarkan untuk memahami keadaan, teori, dan berbicara menggunakan bahasa masyarakat tertindas. Melalui pengalaman hidup semacam itu, kita mengerti arti dari merawat perjuangan, alih-alih candu melafalkan kosakata perlawanan yang acapkali hanyalah sebuah onani intelektual. Melalui pengalaman semacam itu, kita belajar untuk tidak mudah mengadili sesama rakyat. Rakyat yang bahkan kita tak pernah benar-benar tahu kompleksitas kerentanan hidupnya!
Daftar Pustaka
Karl Marx, Frederick Engels, The German Ideology, Foreign Languages Press, Paris 2022, p 59-60
Karl Marx, Capital Volume I, Progress Publishers, Moscow, USSR, 1887, p 551-560
Edward W. Said, ORIENTALISM, Vintage Books, New York 1978, p 1-28 & p 255-584
Politbiro CC PKI Tesis 45 Tahun PKI, Jajasan Pembaruan, Djakarta, 1965, p 25-26
Editor: Ivo Trias Julianno
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








