Ilusi Vital: Menerka Ancaman Dunia Pascamilenial

Penulis

Jean Baudrillard (1929-2007) adalah seorang filsuf cum sosiolog asal Prancis. Pemikirannya seputar pascamodernisme dan pascastrukturalisme menjadi rujukan bagi banyak kalangan. Baudrillard kerap menulis mengenai isu-isu kontemporer seperti sejarah seni dan budaya populer, relasi gender, konsumerisme, hingga kritik terhadap kebijakan politik Barat.

Buku ini merupakan rekam ceramah Baudrillard yang dia sampaikan pada Mei 1999 di University of California. Baudrillard membahas tiga hal pokok yang kiranya akan punya andil besar dalam membentuk mentalitas dunia pascamilenial: kloning, milenarianisme, dan hiperrealitas virtual. Ketiga ini merupakan pilar pembangun—tetapi sekaligus berpotensi menghancurkan—peradaban manusia.

Bumerang Kloning dan Profanitas Seks

“Pertanyaan mengenai kloning adalah pertanyaan tentang keabadian. Kita semua mendambakan keabadian.” Demikian Baudrillard membuka pidatonya. Baudrillard menilai kloning merupakan jalan terakhir bagi umat manusia untuk mengatasi obsesi klasiknya sebagai makhluk (ciptaan): mengalahkan kematian.

Bentuk kloning, eksperimental maupun artifisial, senantiasa merupakan wujud fantasi kolektif terhadap eksistensi fana manusia. Manifestasinya bisa beragam rupa—melampaui yang manusiawi dan yang tak manusiawi. Ketika manusia mencoba ‘memanipulasi’ proses generatif (dengan beragam bentuk kloning), manusia membuat dirinya tercerabut dari kemanusiaannya sendiri.

Mula-mula, seks dibebaskan dari fungsi reproduksi (generatif-biologis) melalui inovasi alat kontrasepsi dan industri pornografi. Lalu, menyusul sebaliknya, urgensi reproduksi coba direnggang-lepaskan dari aktivitas seksual—melalui bermacam kloning. Seks lantas bisa dinikmati sebagai kegiatan sambil lalu belaka: tak lagi tunggal sebagai pelanggeng eksistensi manusia.

Baca juga:
– Melihat Lebih Dekat Buku Artistik di SOKONG! Reading Area
– Seabad Pram: Mengingat Ulang Sang Maestro yang Dulu ‘Terbuang’

Padahal, pembebasan—atau mungkin lebih tepatnya ‘ketercerabutan’(?)—seks terhadap fungsi reproduksinya ini pada mulanya berangkat dari tujuan mulia nan empatik. Fenomena bayi tabung, misalnya, hadir sebagai opsi kloning yang solutif untuk menjawab problem teknis perihal ovulasi konvensional. Inovasi ini, ironisnya, justru membuka potensi jurang pemisahan semakin lebar.

Seks lantas tak lagi semata esensial. Seks yang semula agung—karena hanya lewat jalan itu manusia dapat ‘menyelamatkan diri’ dari kepunahan—kini tereduksi menjadi perkara erotisisme belaka. Industri pornografi, yang tumbuh pesat berkat kemajuan digitalisasi, mengeksploitasi ketelanjangan dan meruntuhkan keluhuran dari seks itu sendiri. Akibatnya, seks yang pada mulanya sakral—karena ia esensial—menjadi dekaden imbas profanitas kiwari hasil pemisahan esensi dan fungsi tersebut.

Seks bagai narapidana yang akhirnya terbebas dari penjara azali bernama reproduksi. Ia berlari-lari kegirangan merayakan hancurnya kerangkeng fungsi.

Milenarianisme Tanpa Hari Esok

Baudrillard berpendapat bahwa milenarianisme kita adalah milenarianisme tanpa hari esok. Jika pada idealnya milenarianisme dipahami dengan optimisme zaman baru, Baudrillard mengambil perspektif sebaliknya: dia pesimis dengan dunia pascamilenial. Menurutnya, manusia justru akan gagap dalam memahami dan ‘menjalani’ waktu di zaman yang baru ini, alih-alih memanfaatkannya dengan efektif dan efisien.

Alih-alih menghidupi waktu yang kini (living the moment), kita malah tergesa-gesa menangkap memori dahulu. Prematur dalam mengkreasikan kenangan. Kita terlalu takut waktu akan berlalu—padahal memang sudah niscaya begitu—sehingga latah ingin membungkusnya selekas mungkin. Ironisnya, kita justru kehilangan momen itu sendiri dan tak sadar tengah menipu diri mengira kita sudah mendapatkannya—hanya karena telah mendokumentasikannya. Inilah yang dimaksud Baudrillard dengan ‘bahaya memorisasi fanatik’.

Sejarah aktual—yang sejatinya sedang kita ciptakan pada momen yang kini—lenyap lantaran kita keasyikan dengan obsesi memorisasi. Bukan bermaksud melarang untuk mencipta kenangan, hanya saja Baudrillard mewanti-wanti agar kita tidak berakhir tragis menjadi ‘fosil virtual’ di tangan kita sendiri.

“Kebebasan telah dilenyapkan, dihancurkan oleh pembebasan; kebenaran telah digantikan oleh verifikasi; komunitas telah dibubarkan dan diserap oleh komunikasi; bentuk-bentuk memberi jalan kepada informasi dan kinerja.” (hlm. 40).

Akibatnya, manusia menjadi mudah terlena dalam bermacam bentuk ilusi ekstase. Mulai dari ekstase sosial (massa: lebih sosial daripada yang sosial), ekstase tubuh (obesitas: lebih gemuk daripada yang gemuk), ekstase informasi (simulasi: lebih benar daripada yang benar), ekstase waktu (instanitas: lebih hadir daripada yang hadir), ekstase realitas (hiperrealitas: lebih nyata dari yang nyata), ekstase seks (pornografi: lebih seksual daripada seks itu sendiri), hingga ekstase kekerasan (teror: lebih kejam daripada kekerasan itu sendiri). Pada akhirnya, kita dipermainkan oleh ‘dunia ilusif’ yang kita ciptakan sendiri.

Tipu Daya Hiperrealitas

Ekstase-ekstase tadi membuat kita sukar dalam mencerna mana yang real. Segala yang faktual senantiasa campur baur dengan dunia citraan—hiperrealitas. Menurut Baudrillard, proses rasionalisasi ini—yang dengan bangga kita sebut sebagai kemajuan, modernitas, dan pembebasan—hanya akan menjadi eksponensial dan kacau-balau. Jadi, kalaupun kita mampu menelaah hiperrealitas yang ada, kita mesti bersiap pada muara kenaifan dan ke-chaos-an.

“Subjektivitas manusia menjadi serangkaian fungsi yang tak berguna, sama tidak bergunanya dengan seksualitas bagi klon.” (hlm. 54-55).

Ketika seksualitas mengalami pembebasan dari fungsi reproduksi, ia lamat-lamat kehilangan signifikansi sebagai ‘baju zirah’ umat manusia dalam perang melawan kepunahan. Kemunculan kloning—dengan segala macam turunannya—membuat seks tak lagi sakral secara eksistensial, tetapi berubah opsional dan insidental.

Seks tak lagi indah ketika ia menjelma semata-mata lucah.

Demikian halnya dengan subjektivitas manusia yang semakin sulit diandalkan dalam virtualitas yang merangsek—bahkan menggantikan—dunia faktual. Kita semakin goyah digodam ilusi vital. Kepayahan menilai mana yang perlu (vital) dan tak perlu (insignificant) untuk ditanggapi dan dijalani dalam hidup. Terjebak dalam hegemoni virtual: linglung membaca mana yang real dan hiperreal.

Apa yang Baudrillard uraikan dalam buku ini mungkin menjadi diskursus umum hari-hari ini. Namun, jika mengingat bahwa buku ini adalah rekam ceramah yang dia sampaikan 26 tahun lalu, itu sudah cukup membuktikan kecakapannya yang tajam dalam membaca zaman.

Referensi

Ane, D. (24 Januari 2023). “Jean Baudrillard: Simulakra dan Hiperrealitas Masyarakat Postmodern.” LSF Discourse. Diakses dari https://lsfdiscourse.org/jean-baudrillard-simulakra-dan-hiperrealitas-masyarakat-postmodern/ 

Baudrillard, J. (1998). The End of the Millennium or The Countdown. Theory, Culture & Society, 15(1), 1-9. https://doi.org/10.1177/026327698015001001 

Kellner, D. (1989). Jean Baudrillard: From Marxism to Postmodernism and Beyond. California: Stanford University Press.

Koro-Ljungberg, M. (2013). “Data” As Vital Illusion. Cultural Studies ↔ Critical Methodologies, 13(4), 274-278. https://doi.org/10.1177/1532708613487873

Sastrodinomo, K. (8 September 2018). “Tentang Mileniarisme.” Kompas.id. Diakses dari https://www.kompas.id/baca/utama/2018/09/08/tentang-mileniarisme 

*Ulasan buku berjudul The Vital Illusion karya Jean Baudrillard dan diterjemahkan oleh Sushela M. Nur menjadi Ilusi Vital (Bantul: Basabasi, 2021).


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *