Hardcore dan Komersialisasi Musik

Penulis

Belakangan ini banyak berita berseliweran di media sosial tentang Turnstile yang menggelar konser di kampung halaman mereka di Baltimore. Konser ini digelar secara gratis di Wyman Park Dell dan dihadiri ribuan orang. Konser ini juga membuka donasi amal untuk membantu tunawisma. Hal ini menjadi menarik karena Turnstile, meskipun telah mencapai keberhasilan komersial yang signifikan sebagai band hardcore, tetap memilih untuk menggelar konser gratis. Keputusan ini menimbulkan beragam tanggapan. Sebagian pihak menganggapnya sebagai strategi promosi untuk album terbaru mereka, tetapi tidak sedikit pula yang melihatnya sebagai upaya untuk menegaskan kembali bahwa mereka masih merupakan bagian dari skena hardcore.

Komersialisasi dan Paradoks Musik Hardcore

“If you played Hardcore, you couldn’t possibly been in it for the money, anyone seeking fame and fortune through the scene only found heartbreak”. Itulah kalimat yang dilontarkan oleh Steven Blush dalam bukunya American Hardcore: A Tribal History. Namun agaknya terjadi paradoks dari kalimat itu di zaman ini. Seperti yang kita lihat sendiri, band-band seperti Turnstile dan Knocked Loose telah sukses menembus pasar komersial musik dengan membawa genre yang digadang-gadang sebagai genre yang ‘marah’ terhadap komersialisasi musik itu sendiri. Pada 2022, Turnstile dengan album T.L.C. (TURNSTILE LOVE CONNECTION) di 2021 meledak secara komersial dan sukses membawa mereka melejit. MusiK khas hardcore yang mereka padukan dengan sedikit EDM terbilang sukses mengikat telinga masyarakat global. Demikian pula band Knocked Loose yang terkenal dengan beatdown-nya, juga sukses tampil di Jimmy Kimmel Live! pada November 2024. Bahkan, lagu mereka berjudul “Suffocate” yang berkolaborasi dengan Poppy berhasil menembus nominasi Grammy. Tentu hal ini memantik pertanyaan: apakah hardcore sudah mati? Apakah resisten yang menjadi marwah lahirnya hardcore kini sekadar retorika belaka?

Apakah Hardcore Sudah Mati?

Jawabannya adalah ya dan tidak. Kenapa? Di zaman postmodern ini, kebenaran merupakan hal yang bersifat sangat subjektif dan tidak bisa dilihat hanya dari satu perspektif saja. Maka dapat kita simpulkan bahwa band-band hardcore yang berhasil menembus kancah komersial tetaplah band dengan genre hardcore dengan kemarahannya masing-masing. Jika demikian, apakah hardcore telah mati? Jawabannya adalah tidak. Tentu saja kita masih dapat melihat banyak sekali band-band hardcore yang masih sibuk melawan dan menyuarakan isu-isu sosial. Namun, band-band tersebut mungkin tidak akan pernah berhasil menembus kesuksesan komersial. Terlebih apabila band tersebut masih sangat konservatif dan memegang teguh kemurnian dari apa yang dimaknai sebagai hardcore itu sendiri. 

Shawn Stern dari Youth Brigade berkata: “It was never, ‘Should we sign to a major?’ There was never even a consideration. They didn’t want to know about us. They just wanted us to die; they couldn’t kill us and we wouldn’t go away; the scene kept getting bigger and they just scratched their heads and didn’t understand it. We were just having a great time.” 

Baca juga:
– Ketika Sensor dan Represi Menjadi Musuh Kebebasan Berkesenian
– Dangdut Sebagai Lumbung Kebudayaan Rakyat Kecil

Hal senada juga dilontarkan oleh Jack Grisham, vokalis dari T.S.O.L: “There was no big plan going on. We weren’t trying to capitalize on anything. We weren’t trying to make any money. There was no great social significance. It was just, ‘Hey, let’s be fucked.’ And what a great soundtrack.” 

Dari dua pernyataan tersebut, kita dapat pahami bahwa mereka hanya ingin terus berteriak dan marah. Hal tersebut tentu saja membuat mereka akan sulit menembus kesuksesan komersial selain karena mereka sendiri yang tidak peduli dan seperti yang dikatakan oleh Blush, “hardcore became one of the few musical forms on which major labels seemed unwilling or unable to capitalize. The era’s prototypical cokesnorting music biz power brokers never took HC seriously, so the bands couldn’t work through typical channels. In all fairness to the labels, with Hardcore coming from such a self-destructive scene, who exactly were they gonna sign? Four belligerent kids likely to wind up in a mental hospital or in jail? Practitioners of a form based upon the brazen manifesto that it would be short-lived? How do you work with such artists?”. But lets be honest, apakah masih ada hardcore yang sebrutal itu di zaman ini? 

Evolusi dan Benturan dengan Zaman

Lalu seperti apakah hardcore di zaman sekarang? Apakah resistensi mereka hanya tinggal retorika belaka? Nah, I don’t think so, hardcore akan terus berkembang dan berbenturan dengan perkembangan zaman, hardcore  akan terus menyelinap di sela-sela skena musik gigs maupun komersial. Di zaman sekarang, hardcore mungkin dapat dilihat dalam dua kecenderungan, yaitu brotherhood hardcore atau social justice hardcore. 

Brotherhood hardcore adalah tipikal musik yang membawakan hardcore dengan lirik yang lebih ‘halus’. Mereka kerap membawakan isu seputar persaudaraan, kecemasan sehari-hari, dan kebebasan dalam bertindak. Hardcore ini memiliki kecenderungan untuk lebih ‘sukses’ secara komersial karena karakternya yang lebih ‘friendly’. Lalu social justice hardcore adalah tipikal musik yang lebih mentah, pedas, serta tajam. Mereka menyuarakan isu sosial, ketidakadilan, dan penindasan otoritas kepada masyarakat kecil melalui musik. Hardcore ini masih cukup konservatif meskipun telah mengalami penyesuaian budaya setempat. Hardcore ini masih sangat erat dan sangat beririsan dengan kultur punk. 

Seperti yang disampaikan Paul Hodkinson, sikap kemandirian yang dipegang teguh oleh subkultur yang menciptakan ekosistem mereka sendiri membuat subkultur ini tidak mati. Hardcore yang fokus pada isu-isu sosial masih akan selalu dapat dijumpai di berbagai tempat di dunia ini. Terutama, di komunitas yang masih memegang erat kultur do it yourself (DIY). Mereka tumbuh dan berkembang dari gigs ke gigs, dan dari kota ke kota secara mandiri. Bahkan banyak dari mereka yang juga turun langsung ke masyarakat untuk memberikan dampak dari karyanya. Social justice hardcore agaknya lebih sulit untuk menembus kesuksesan komersial karena mereka sendiri juga tidak begitu menginginkannya. Mereka memegang teguh prinsip perlawanan. Mereka hanya ingin melawan dan menyuarakan protes terhadap ketimpangan situasi akibat relasi kekuasaan yang terjadi di masyarakat. 

Lalu, apakah ada yang salah dari kedua hardcore di atas? Tentu saja tidak. Keduanya tetaplah hardcore, keduanya tetaplah berkaitan, keduanya tetaplah perlawanan. Ibarat sebuah menu masakan yang sama, maka di dua menu itu, hanya racikan bumbu dan meja makannya saja yang berbeda.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *