Film Melawan Korupsi: ACFFest 2025 di Kulon Progo

Penulis

Sabtu, 6 Desember 2025, Cine Club Kulon Progo bekerja sama dengan Forum Film Purworejo menggelar program Menoreh Screening dengan tajuk “Dari Layar, Kita Berantas Korupsi” di Social. Lab (Bekas SMK Bopkri Wates) di Jalan Sugiman No. 1, Terbah, Wates. Acara tersebut merupakan bagian dari Movie Day Anti Corruption Film festival (ACFFest), sebuah festival film yang merupakan program dari Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). ACFFest sendiri adalah rangkaian bagian Hari Antikorupsi Sedunia (HAKORDIA).

Movie Day ACFFest diselenggarakan selama sehari penuh. Mulai dari pukul setengah delapan pagi hingga sepuluh malam. Menghadirkan kegiatan tidak hanya pemutaran film bagi anak-anak, remaja, dewasa atau kawak, tetapi juga kegiatan melukis, permainan anak-anak, lomba-lomba, diskusi antikorupsi, dan pertunjukan tari serta musik.

Kolaborasi Dua Kota

Acara tersebut digawangi oleh dua komunitas dari Kulon Progo dan Purworejo. Eileena Julinda Lyana (27) selaku project manager kegiatan menceritakan kisah di balik kerja sama antara Cine Club Kulon Progo dan Forum Film Purworejo untuk mewujudkan ACFFest. 

Semula bermula dari saat Eileena menjadi bagian ACFFest 2024 sebagai koordinator event dan kurator Sinema Aksi serta Movie Day. Dari sanalah, kedekatannya dengan KPK, terutama Direktorat Sosialisasi dan Kampanye Antikorupsi terjalin. Pada tahun ini, dia mendapatkan informasi bahwa HAKORDIA akan digelar secara serentak di kota dan kabupaten di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). 

Namun, karena Eileena berdomisili dan aktif di Forum FIlm Purworejo, maka mau tidak mau, dia dengan dukungan dari KPK mencari rekanan dari kabupaten terdekat, yakni Kulon Progo. Dalam proses pencarian itu, dia menemukan komunitas Cine Club Kulon Progo yang sudah eksis dengan program rutin nonton bareng di Menoreh Screening setiap akhir pekan. 

Kolaborasi antara dua komunitas dari dua kabupaten yang bertetangga ini menarik. Menurut Eileena, Kulon Progo dan Purworejo berbagi kesamaan antar wilayah dan budaya, seperti Pegunungan Menoreh yang membentang di utara dan Senam Angguk yang memiliki kaitan erat dengan Tari Dolalak. “Jadi kita yang sebagai masyarakat perbatasan itu, pengennya saling harmonisasi, bersinergi menjaga hubungan silaturahmi yang baik,” imbuhnya.

Proses untuk menjalin kedekatan dua komunitas ini dimulai satu setengah bulan sebelum pelaksanaan. Seturut penuturan Eileena, sesudah menawarkan kolaborasi serta rencana yang telah disusun, dia mulai mengunjungi Cine Club Kulon Progo secara langsung selama beberapa kali. Melihat kegiatan-kegiatan yang dijalankan dan mebangun komunikasi yang intens. 

Eileena menuturkan bahwa lokasi untuk ACFFest ingin digelar di daerah perbatasan. Namun, karena infrastruktur yang belum memadai dan cuaca yang sewaktu-waktu bisa hujan jika menggelar layar tancap di luar ruangan, maka rencana tersebut ditiadakan. Lokasi yang dipilih akhirnya bekas SMK Bopkri Wates.

Film-film yang Diputar 

Bertautan dengan dukungan dan dorongan dari KPK dalam menyelenggarakan Movie Day ACFFest di Kulon Progo, tema dan film yang ada pun berkaitan dengan masalah korupsi. Eileena menjaslakan bahwa “…untuk temanya itu sendiri memang sudah dari KPK-nya, ‘Dari Layar, Kita Beraksi Berantas Korupsi’. Kami di sini melaksanakan kegiatannya dengan pemutaran film-film yang sudah diproduksi dari ACFFest KPK itu sendiri.”

ACFFest di Kulon Progo memutar sembilan film yang dibagi dalam tiga kategori: anak-anak, remaja, dan dewasa. Masing-masing kategori terdapat tiga film pendek fiksi dan animasi berdurasi sekitar 5 hingga 15 menit. Semua film yang diputar berasal dari ACFFest tahun-tahun sebelumnya, kecuali How to be an Actor (2025) karya sutradara Dimas Juju dan Nasrudin Mardiansyah yang masuk kategori Ide Cerita Film Pendek Fiksi.

“Aku yang mengkurasi dari film layar anak, film layar remaja, sama layar kawaknya. Tapi, kemudian ada masukan dari KPK untuk menambahkan film dari produksi tahun yang terbaru 2025 yaitu How to be an Actor. Karena memang isunya sangat kuat mengenai pemerintahan. Aktornya itu bukan pemerintahan, tapi lebih seorang oknum yang berpura-pura,” kata Eileena.

Film-film yang diputar seluruhnya telah mencakup core value dari KPK dengan tujuan menjadikannya sebagai pembelajaran bagi penonton. Hal ini ditegaskan oleh W. N. Naufal (30),  Co-Founder Social.Lab saat mengisi sesi diskusi  pada malam hari. Menurutnya, film adalah media yang sangat tepat untuk membicarakan isu-isu sosial. Sebab, film bukan storytelling, tetapi adalah storyshowing yang memberi pengalaman kepada penonton.

Keberlanjutan 

Menyelenggarakan Movie Day ACFFest di Kulon Progo membuat Eileena terkesan dengan rekan-rekannya di Cine Club Kulon Progo. Kolaborasi yang mereka usung selama setengah bulan berproses, berkabar, dan berkomunikasi terkait perkembangan penyelenggaran membuat rasa solidaritas di antara keduanya semakin tinggi. Dia berharap kerja sama antara komunitas film di dua kabupaten ini tidak hanya terjadi di ACFFest saja.

“Mungkin ke depannya, kita masih bisa berkolaborasi. Mungkin film dari Kulon Progo, kita bawa ke Purworejo. Atau sebaliknya, film Purworejo diputarkan di Menoreh Screening yang nanti akan tumbuh secara organik. Diskusi-diskusi terkait, entah itu kolaborasi produksi film bareng, atau sesuatu kegiatan yang bisa diaplikasikan bareng,” pungkas Eileena.


Editor: Ivo Trias Julianno


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *