SLEMAN, YOGYAKARTA — Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif (Wakanda) Jogja bersatu dengan Forum Cik Di Tiro, Ibu Berisik, Aliansi Rakyat Memanggil, dan beberapa aliansi mahasiswa menggelar sebuah aksi berjudul Agustus Gelap. Aksi ini dilakukan di Bundaran UGM pada Jumat, 28 Agustus 2026. Segenap elemen masyarakat mulai memadati titik lokasi pada pukul 15.00 dengan pakaian serba hitam.
Aksi Agustus Gelap dilaksanakan untuk kembali melihat dan mengenang tindakan represif yang dilakukan oleh aparat kepada rakyat, jurnalis, buruh, petani, ojek, dan masih banyak lagi. Selain itu, Wakanda, Forum Cik Di Tiro, Ibu Berisik, dan Aliansi Rakyat Memanggil juga ingin mengajak masyarakat untuk sejenak memberi refleksi atas bencana dan kerusakan lingkungan hidup yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia saat ini seperti NTT, NTB, Sumatera, Kalimantan, dan Papua.
Komunitas rakyat tersebut mendesak enam tuntutan untuk pemerintah Indonesia yaitu, jamin kebebasan sipil dan demokrasi, stop militerisme dan impunitas, wujudkan kesejahteraan mulai dari melindungi hak hidup layak, lindungi kedaulatan rakyat atas ruang hidup dan penuhi hak atas ruang sipil, tuntaskan penanganan bencana dan hentikan berlanjutnya krisis pascabencana, serta terbitkan regulasi pengemudi transportasi online dan kurir.
Perdana Arie Putra Veriasa, mahasiswa UNY yang sempat dikriminalisasi dan menjadi eks tahanan politik pada bulan Agustus 2025, berkesempatan membacakan pernyataannya pada sore itu yang mengkritisi penindasan dan kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah melalui aparat kepada masyarakat yang sedang berjuang mempertahankan ruang hidupnya.
“Untuk setiap penindasan di Papua Barat dan Kulon Progo, untuk setiap penggusuran dan perampasan lahan di Dago Elos, Sukahaji dan Sukajaya, untuk setiap konsesi hutan yang akan mengancurkan keanekaragaman hayati mengatasnamakan ruang dan bisnis. Maka, selama negara dan kapitalis masih eksis, tak akan pernah ada kata damai antara mereka yang tak berpunya dan mereka yang berpunya. Pemerintah yang menyebabkan penderitaan di muka bumi ini, kami bukan teroris. Terorisme adalah peperangan antar negara, terorisme adalah beras dan pangan yang ada di dapurmu yang semakin menipis, terorisme adalah bagian dari seragam yang membawa senjata kemana-mana,” teriaknya sore itu di antara kerumunan massa yang memadati bundaran UGM.
Aksi Agustus Gelap sore itu diakhiri dengan sesi doa bersama dan pembacaan surat dari elemen masyarakat. Masyarakat yang membawa lilin merah berkumpul dan membentuk lingkaran untuk kemudian memanjatkan doa. Bunga mawar merah juga diletakkan pada setiap lilin sebagai simbol atas duka yang dialami masyarakat juga sebagai simbol harapan untuk keadilan di negara ini.
Editor: Patricius Sulistya Eka Apira Yogayudha
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








