Dari Tepian, Menuju Pusat Dunia: Cara Budaya Populer Merangsang Hasrat Berbahasa di Indonesia

Penulis

Kenapa banyak anak muda di Indonesia rela mempelajari bahasa asing tanpa ada kewajiban dari sekolah dengan cara apapun, sementara banyak siswa juga kesulitan untuk memelajari hal tersebut di sekolah? Keinginan Presiden Prabowo Subianto untuk memperluas pengajaran bahasa Prancis dan Portugis di sekolah-sekolah Indonesia telah memunculkan banyak respons. Bahkan banyak juga yang mengerutkan dahi bahwa ucapan itu selalu muncul setelah adanya kunjungan bilateral antar negara. Sebagian melihatnya sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kompetensi global generasi muda Indonesia. Sebagian lainnya mempertanyakan urgensi kebijakan tersebut di tengah berbagai tantangan pendidikan yang masih dihadapi bangsa;  gaji guru yang minim, nilai siswa yang rendah di berbagai mata pelajaran, kemampuan kognitif, kritis, dan kreatif yang belum terasah dan, kurikulum yang berubah-ubah. Namun, perdebatan mengenai bahasa Prancis dan Portugis sesungguhnya menyimpan pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana seseorang terdorong untuk mempelajari sebuah bahasa?

Pengalaman budaya populer bergerak menunjukkan bahwa banyak orang mempelajari bahasa karena ingin menyelami dunia tertentu. Selama ini, pembelajaran bahasa sering dipahami sebagai urusan kurikulum di sekolah. Negara menentukan bahasa apa yang perlu diajarkan; bahasa daerah, bahasa Indonesia, dan bahasa asing. Lalu sekolah menyediakan guru, dan siswa mempelajarinya melalui proses pembelajaran formal di kelas. Dalam program ekstrakurikuler, sebagian siswa yang berminat ikut serta untuk belajar bahasa. Banyak akhirnya orang tua menyuruh anaknya mengikuti kursus bahasa asing, atau mendatangkan guru private ke rumahnya. Dalam logika ini, bahasa dipandang sebagai pengetahuan yang dapat ditransfer dari institusi kepada peserta didik, dengan jam yang tentunya sangat singkat di sekolah.

Akan tetapi, pengalaman sehari-hari menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa sering kali tumbuh melewati dan melalui jalur yang jauh lebih kompleks, dinamis, dan berliku. Banyak orang mempelajari bahasa bukan karena diwajibkan oleh sekolah ataupun oleh negara, melainkan karena mereka tertarik pada dunia yang baru, di balik bahasa tersebut. Dunia yang menurutnya unik untuk didalami, diresapi, dan dimaknai keindahannya. Dalam konteks ini, budaya populer dan subkultur kaum muda menawarkan pelajaran penting yang luput dari perhatian para perancang kebijakan pendidikan.

Sebagai seorang yang tumbuh dari ruang-ruang pinggiran, seringkali Saya belajar dari punk. Saya merasakan proses belajar bahasa tidak dimulai dari ruang kelas. Hal yang tidak mungkin ditemukan juga ketika punk juga dipelajari sebagai pengetahuan oleh guru di sekolah. Saya pun tidak mencintai bahasa Inggris karena guru yang asyik di mata pelajaran bahasa Inggris selama menempuh pendidikan dasar dan menengah. Rasa ini lahir dari rasa ingin tahu yang tinggi, ketertarikan  pada  suatu budaya yang berbeda, dan keinginan untuk terhubung dengan dunia yang lebih luas melalui musik dan subkultur punk. Dalam banyak kasus, bahasa tidak dipelajari karena kewajiban, melainkan karena hasrat. Hasrat untuk belajar menjadi cara untuk terus tumbuh dan belajar. Sehingga, ketika menentukan jurusan  kuliah, alasannya hanya karena ‘punk dari Inggris.’ Untuk memahami fenomena ini, gagasan tentang hasrat dari Gilles Deleuze dan Félix Guattari dapat membantu menjelaskan mengapa sebagian bahasa sangat begitu diminati, sementara bahasa lain sering kali mendapatkan kesulitan untuk menemukan tempat di hati para pelajar di Indonesia.

Hasrat yang Menggerakkan Bahasa

Dalam pemikiran Deleuze dan Guattari, hasrat bukan sekadar hanya keinginan individual yang muncul dari rasa kekurangan atau ketidakcukupan. Hasrat adalah kekuatan produktif yang mendorong manusia membangun relasi, menciptakan hubungan, dan membuka kemungkinan-kemungkinan baru untuk terjadi. Hasrat tidak diam. Ia bergerak, mengalir, dan menciptakan koneksi. Dari sudut pandang ini, seseorang tidak mempelajari bahasa semata-mata karena kebutuhan praktis atau instruksi institusional. Bahasa dipelajari karena ia menjadi bagian dari jaringan hasrat yang lebih luas. Bahasa memungkinkan seseorang memasuki dunia yang ingin ia kenali, pahami, atau bahkan hidupi. Fenomena budaya populer yang hadir juga menunjukkan bagaimana proses tersebut bekerja, bergerak, mengalir, dan saling terkoneksi.

Dalam dua dekade terakhir, Saya mengambil contoh bahasa Korea Selatan yang mengalami peningkatan dan popularitas yang luar biasa di hati masyarakat Indonesia. Di berbagai kota, kursus bahasa Korea Selatan tumbuh pesat. Ribuan anak muda mempelajari Hangul, tata bahasanya, hingga percakapan sehari-hari.  Tidak hanya itu, perjalanan ke Korea Selatan juga menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat yang mencintai dan berusaha menjadi seperti ‘Korea’. Semua fenomena ini tentu tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan gelombang budaya Korea Selatan. Musik K-pop dengan girlband dan boyband, film dan dramanya, konten digital, dan berbagai produk budaya lain dari sana yang telah menciptakan daya tarik yang kuat di kalangan generasi muda. Kecintaan ini bersifat non-hierarkis, desentralistik, dan penuh cabang, tanpa pusat ataupun garis tunggal. Pembelajar Bahasa Korea Selatan bergerak dengan caranya masing-masing. 

Yang menarik, sebagian besar dari mereka tidak memulai perjalanan belajar bahasa Korea Selatan dari buku tata bahasa yang tersedia di perpustakaan atau toko buku. Mereka memulainya dari lagu, video musik, serial televisi, dan komunitas penggemar. Hasrat terhadap dunia Korea Selatan mendahului proses pembelajaran bahasa. Dengan kata lain, yang pertama kali dipelajari bukanlah bahasanya, melainkan dunianya. Korea Selatan juga bukan satu-satunya contoh. Selama bertahun-tahun, budaya populer dari Jepang juga memperkenalkan anime, manga, fim, videogame kepada jutaan anak muda. Banyak penggemar mengenal dan mempelajari ungkapan bahasa jauh sebelum mempelajarinya secara formal. Sebagian mengikuti kursus, sementara banyak yang mempelajarinya dari internet. Dalam dua hal tersebut, Bahasa tidak hadir sebagai tujuan utama. Bahasa menjadi pintu masuk dunia budaya yang ingin dipahami lebih dalam. Dalam kedua kasus tersebut, bahasa berkembang melalui hasrat yang dibentuk oleh budaya populer. Bahasa menjadi dinamis dan adaptif. Pembelajaran bahasa akhirnya berkembang dan bertahan dalam menghadapi tantangan sosial dan politik. 

Pelajaran dari Program BIPA 

Fenomena yang sama dapat dilihat melalui Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA). Setiap tahun, ribuan warga negara asing mempelajari bahasa Indonesia. Mereka berasal dari Australia, Jepang, Korea Selatan, Belanda, Jerman, Prancis, Amerika Serikat, Tiongkok, Thailand, Timor-Leste, dan berbagai negara lainnya. Banyak universitas di Indonesia yang memiliki program BIPA, dan menyiapkan tenaga pengajar bahasa, serta kurikulum yang menarik agar banyak orang dari luar Indonesia mempelajari bahasa Indonesia. 

Mengapa mereka belajar bahasa Indonesia? Tentu bukan karena pemerintah di negaranya mewajibkan mereka untuk belajar bahasa Indonesia. Bukan hanya itu, banyak orang asing yang juga mempelajari bahasa Jawa dan bahasa Sunda juga. Mereka belajar karena memiliki hubungan tertentu dengan budaya Indonesia. Ada yang ingin melakukan penelitian antropologi. Ada yang mempelajari sejarah Indonesia. Ada yang bekerja di Indonesia. Ada yang tertarik pada seni, sastra, musik, atau kebudayaan nusantara. Ada pula yang ingin memperdalam hubungan diplomatik maupun ekonomi. Bahkan ada juga yang tidak memiliki alasan tertentu untuk mempelajarinya. 

Dalam semua kasus tersebut, bahasa Indonesia berfungsi sebagai pintu masuk menuju dunia yang ingin orang asing pahami, yang tidak ada di negara mereka. Keberhasilan BIPA menunjukkan bahwa bahasa tidak pernah berdiri sendiri. Di balik bahasa selalu terdapat jaringan pengalaman, pengetahuan, dan relasi sosial yang membuat seorang merasa perlu mempelajarinya. Apabila orang asing bersedia menginvestasikan waktu dan tenaga untuk mempelajari bahasa Indonesia, hal itu bukan semata karena mereka tertarik pada struktur gramatikal bahasa Indonesia. Mereka tertarik pada Indonesia sebagai dunia sosial dan budaya yang unik dan berbeda. Pelajaran ini penting ketika kita berbicara mengenai pengajaran bahasa asing di Indonesia.

Dalam tulisan saya sebelumnya yang dimuat di Kompas, 24 Mei 2025 berjudul Punk dan Pedagogi: Menengok Pendidikan dari Pinggiran, Saya berupaya menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung di institusi formal. Banyak proses pembelajaran yang justru tumbuh di ruang-ruang pinggiran, melalui komunitas, pengalaman hidup, dan praktik budaya sehari-hari. Subkultur punk menawarkan contoh menarik mengenai bagaimana bahasa dipelajari melalui hasrat dan relasi sosial.

Dalam jaringan dan jejaring punk global, bahasa sering kali dipelajari secara mandiri dan dengan semangat kemandirian. Seseorang belajar bahasa Inggris untuk membaca zine dan berkomunikasi dengan komunitas punk luar negeri. Yang lain belajar bahasa Prancis karena tertarik pada sejarah gerakan otonom dan budaya DIY di Eropa. Ada pula yang mempelajari bahasa Spanyol atau Portugis untuk membangun hubungan dengan komunitas punk di sana. Proses tersebut tidak berlangsung melalui struktur pendidikan yang formal dan hierarkis. Ia berkembang melalui jejaring komunitas yang cair dan terbuka, dengan medium apapun.

Seorang mungkin memulai dari sebuah lagu K-pop, kemudian belajar Hangul, bergabung dengan komunitas penggemar, mengikuti kursus bahasa, dan akhirnya melakukan perjalanan ke Korea Selatan. Berinteraksi dan merasakan langsung dengan apa yang saat itu hanya dilihat dan dipelajari di buku, film, dan musik yang berasal dari Korea Selatan. Orang lain mungkin memulai dari anime, kemudian mempelajari bahasa Jepang, membaca manga dalam bahasa asli, dan membangun pertemanan dengan penutur asli Jepang. Sedangkan dalam komunitas punk, seorang dapat memulainya dari musik, lalu membaca zine internasional, belajar bahasa asing, menghadiri konferensi, dan menjalin jejaring global. Tidak ada jalur yang linear. Tidak ada pusat tunggal yang mengatur seluruh proses pembelajaran pemerolehan Bahasa tersebut. Hasrat bergerak secara rizomatik.

Bahasa yang Bergerak Melampaui Wilayahnya

Deleuze dan Guattari menggunakan istilah deterritorialisasi untuk menjelaskan bagaimana gagasan, identitas, atau praktik tertentu dapat bergerak melampaui batas-batas asalnya dan memperoleh pemaknaan baru di tempat lain. Konsep ini sangat relevan untuk memahami pembelajaran bahasa di era global.

Bahasa Korea Selatan tidak lagi hanya hidup di Korea Selatan saja, pun bahasa Jepang. Bahasa Indonesia tidak hanya dipelajari di Indonesia dan oleh penutur aslinya saja. Bahasa Prancis dan Portugis pun tidak hanya dimiliki oleh negara-negara asalnya. Bahasa bergerak mengikuti arus budaya, media, perpindahan penduduk, pendidikan, dan teknologi. Seorang remaja dapat mempelajari bahasa Jepang karena anime yang diproduksi di Tokyo melalui film dan video game yang digemari. Mahasiswa di Jakarta dapat belajar bahasa Korea Selatan karena komunitas penggemar musik yang berjejaring secara global. Seorang peneliti di Prancis dapat belajar bahasa Indonesia karena tertarik meneliti masyarakat Indonesia yang tangguh, kuat, dan berbeda. 

Bahasa tidak lagi terikat sepenuhnya pada wilayah geografis tertentu. Ia bergerak melintasi batas negara dan menemukan kehidupan baru dalam berbagai konteks sosial.  Dalam situasi seperti ini, keberhasilan sebuah bahasa tidak hanya ditentukan oleh kebijakan negara, melainkan juga oleh kemampuannya menjadi bagian dari arus budaya yang lebih luas.

Kurikulum dan Batas-Batasnya

Di sinilah letak tantangan bagi pembuat kebijakan bahasa. Negara dapat menyusun kurikulum, merekrut guru, dan menyediakan buku pelajaran. Semua itu penting. Namun kurikulum memiliki keterbatasan. Kurikulum dapat mengajarkan bahasa, tetapi ia tidak selalu mampu menumbuhkan hasrat berbahasa. Kurikulum tetap penting sebagai fondasi. Namun, tanpa tanpa berhubungan dengan dunia sosial, budaya, dan hasrat yang hidup, maka bahasa akan sulit tumbuh menjadi praktik yang bermakna. Hasrat lahir ketika seseorang melihat hubungan antara bahasa dan kehidupan yang ingin ia jalani. Ia tumbuh ketika bahasa membuka akses menuju dunia yang dianggap menarik, penting, atau bermakna. Inilah sebabnya mengapa sebagian siswa dapat menghafal kosakata untuk ujian tetapi melupakan semuanya beberapa bulan kemudian. Sebaliknya, ada orang yang secara sukarela menghabiskan waktu bertahun-tahun mempelajari bahasa asing karena mereka merasa bahasa tersebut membawa mereka menuju dunia yang mereka cari, dan akhirnya dicintai.

Pelajaran dari K-pop, anime, BIPA, dan komunitas punk menunjukkan bahwa keberhasilan pembelajaran bahasa tidak hanya bergantung pada metode pengajaran. Ia juga bergantung pada kemampuan menciptakan hubungan antara bahasa dan hasrat. Karena itu, apabila bahasa Prancis dan Portugis ingin diperkenalkan secara lebih luas kepada generasi muda Indonesia, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya bagaimana mengajarkannya. Pertanyaan yang juga penting adalah: dunia seperti apa yang dapat diakses siswa melalui bahasa tersebut? Apakah siswa diperkenalkan pada sastra Prancis dan Portugis? Film-film berbahasa Prancis? Pertukaran pelajar? Musik, seni, dan sejarah yang hidup di berbagai negara Frankofon? Apakah mereka diajak memahami Brasil, Portugal, Timor-Leste, dan berbagai komunitas berbahasa Portugis yang memiliki hubungan historis maupun kultural dengan Indonesia? Tanpa konteks budaya semacam itu, bahasa berisiko menjadi sekadar mata pelajaran tambahan.

Dari Tepian Menuju Dunia

Pengalaman budaya populer, program BIPA, dan pedagogi punk memperlihatkan satu pelajaran yang sama: manusia belajar bahasa karena mereka ingin memasuki dunia tertentu. K-pop menciptakan hasrat berbahasa Korea. Anime dan manga menumbuhkan hasrat berbahasa Jepang. Indonesia menarik minat penutur asing melalui program BIPA. Komunitas punk mendorong anggotanya mempelajari berbagai bahasa untuk membangun solidaritas lintas negara.

Dalam semua contoh tersebut, bahasa berfungsi sebagai jembatan. Ia menghubungkan seseorang dari ruang yang terbatas menuju cakrawala yang lebih luas. Bagi banyak anak muda yang tumbuh di pinggiran kota, bahasa sering kali menjadi salah satu kendaraan terpenting untuk memasuki dunia global. Bahasa memungkinkan mereka membaca, berdialog, berjejaring, dan berpartisipasi dalam komunitas yang sebelumnya terasa jauh. Bahasa membawa seseorang dari tepian menuju dunia, serta merangsang untuk menguasai banyak Bahasa asing pada akhirnya.

Karena itu, tugas pendidikan mungkin bukan sekadar menentukan bahasa apa yang harus dipelajari. Jika pemerintah ingin memperluas pengajaran bahasa Prancis dan Portugis, maka negara perlu membagun ekosistem budaya seperti pertukaran pelajar, festival film, dan akses terhadap produk budaya negara-negara Frankofon dan Lusofon, bukan hanya investasi pada kurikulum dan guru. Tugas yang lebih penting juga adalah menciptakan kondisi yang memungkinkan hasrat berbahasa tumbuh dan berkembang bagi siswa dan semua masyarakat Indonesia. Sebab pada akhirnya, manusia tidak belajar bahasa karena diwajibkan. Mereka belajar bahasa karena menemukan dunia yang ingin mereka masuki. Dan setiap dunia baru selalu dimulai dari sebuah hasrat untuk saling terhubung dan membentang.


Editor: Ivo Trias Julianno


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *