Cinta Tak Pernah Jadi Ruang Netral di Era Krisis dan Kekerasan 

Penulis

Kerja-kerja perawatan dalam hubungan cinta seperti sabar, bertahan, setia adalah kerja-kerja perawatan yang tidak sederhana. Di era krisis yang dibentuk oleh kapitalisme, patriarki, dan menguatnya konservatisme global. Cinta, dalam konteks ini, tidak pernah benar-benar netral. Cinta bukan ruang aman yang berdiri di luar relasi kuasa, melainkan medan di mana ketimpangan sosial, kekerasan simbolik, dan eksploitasi justru bisa bekerja.

Cara kita berkencan, memilih pasangan, berkomitmen, atau meninggalkan satu sama lain tidak pernah sepenuhnya menjadi urusan pribadi. Relasi intim selalu dipengaruhi oleh distribusi kuasa, dibentuk oleh struktur ekonomi dan norma gender (Santury, 2025). Seperti, siapa yang dianggap layak dicintai, bagaimana tubuh harus tampil, serta siapa yang lebih dibebani tanggung jawab merawat. Persoalan-persoalan tersebut berkaitan dengan kegagalan struktur sosial dalam menyediakan rasa aman secara material maupun emosional. 

Sosiolog C. Wright Mills menyebut kondisi itu sebagai pergeseran persoalan publik menjadi beban pribadi (the sociological imagination), di mana individu dipaksa menanggung sendiri dampak dari krisis struktural yang lebih luas (C. Wright Mills, 2000). Ketika upah tidak mencukupi dan masa depan terasa tidak pasti, cinta sering kali dipaksa menjadi satu-satunya tempat untuk menggantungkan harapan akan stabilitas, padahal beban itu terlalu besar untuk dipikul oleh dua individu saja. 

Masyarakat kapitalis modern tidak lagi memahami cinta sebagai pengalaman intim yang personal, tetapi sebagai bagian dari mekanisme pasar. Eva Illouz menyebut fenomena ini sebagai emotional capitalism, yaitu kondisi ketika emosi, keintiman, dan relasi manusia diproduksi, dinilai, lalu dipertukarkan layaknya komoditas (Illouz, 2007). Fenomena itu tampak jelas dalam aplikasi kencan seperti Tinder atau Bumble. Individu direduksi menjadi profil visual, deskripsi singkat, dan performa algoritmik. Dalam hitungan detik, seseorang dapat dipilih atau ditolak hanya berdasarkan kesan pertama. Romansa pun perlahan berubah menjadi sistem seleksi cepat yang menyerupai logika konsumsi.

Silvia Federici, seorang feminis Marxis, memberikan gambaran bagaimana kapitalisme bergantung pada kerja reproduktif yang tidak dibayar—seperti merawat, mengasuh, dan menjaga keberlangsungan hidup sehari-hari (Federici, 2012). Dalam relasi romantis, hal itu sering kali tidak diakui sebagai “kerja produktif”, melainkan dianggap sebagai bentuk cinta yang alami. Akibatnya, perempuan kerap menanggung beban ganda: bekerja secara ekonomi sekaligus melakukan kerja domestik dan emosional. Ketika mereka lelah, hal itu dianggap sebagai kegagalan pribadi dalam mencintai, bukan sebagai akibat dari ketimpangan struktural. 

Perempuan dan kelompok minoritas gender lebih rentan mengalami objektifikasi dan komodifikasi (Beauvoir, 2003). Mereka tidak hanya dinilai dari daya tarik fisik, tetapi juga dibebani ekspektasi untuk melakukan kerja emosional seperti memahami dan menjaga agar hubungan tetap berjalan.

Dalam situasi krisis, tekanan itu menjadi semakin besar. Ketidakamanan kerja, biaya hidup yang tinggi, dan minimnya perlindungan sosial membuat relasi menjadi semakin rentan konflik. Banyak hubungan tidak retak karena kurangnya rasa cinta, tetapi karena tekanan hidup yang terlalu berat untuk dikelola bersama.

Selain itu, pembahasan tentang cinta tidak terlepas dari persoalan kekerasan. Kekerasan dalam relasi intim baik dalam bentuk fisik, emosional, maupun ekonomi sering kali tersembunyi di balik narasi cinta itu sendiri. Normalisasi cemburu berlebihan, kontrol terhadap pasangan, hingga manipulasi emosional kerap dianggap sebagai tanda kasih sayang, padahal merupakan bentuk kekerasan. Dalam konteks krisis, ketergantungan ekonomi dan ketidakamanan sosial membuat banyak individu, terutama perempuan, sulit keluar dari relasi yang abusif.

Di situasi lain, menguatnya konservatisme turut andil mengembalikan kontrol atas tubuh dan relasi ke dalam norma-norma yang kaku. Bell Hooks dalam bukunya All About Love: New Visions (2000) menulis bahwa cinta sejati adalah praktik komitmen untuk mendukung pertumbuhan diri dan kebebasan satu sama lain (Bell hooks, 2018). Cinta dalam pengertian ini bersifat radikal karena menuntut kesetaraan, tanggung jawab, dan kesadaran untuk tidak menguasai. Dengan demikian, pilihan untuk berkomitmen terutama bagi perempuan dan kelompok marjinal bukanlah sekadar keputusan romantis, melainkan tindakan politis.

Merespons kondisi tersebut, kita perlu mengkritisi kembali apa yang disebut sebagai ekosistem cinta yang adil. Artinya, cinta tidak lagi diposisikan sebagai satu-satunya sumber pemenuhan kebutuhan emosional, tetapi sebagai bagian dari jaringan relasi yang lebih luas, termasuk teman, komunitas, dan solidaritas sosial.

Sebagai contoh, cinta platonik antara Jean-Paul Sartre dan Simone de Beauvoir dipandang sebagai ekspresi radikal hubungan yang menolak norma tradisional. Mereka tidak menikah, tidak hidup dalam struktur keluarga konvensional, dan menolak gagasan bahwa cinta harus dibangun di atas kepemilikan. Sartre dan Beauvoir memilih mempertahankan hubungan jangka panjang tanpa menghapus kebebasan satu sama lain untuk menjalin relasi di luar hubungan utama mereka.

Sartre dan Beauvoir membedakan antara “cinta esensial” dan “cinta kontingen”. Cinta esensial adalah hubungan utama yang menjadi pusat keterikatan emosional, sementara hubungan lainnya dianggap sebagai pengalaman tambahan yang tidak mengganggu relasi inti (Beauvoir, 2016). Konsep ini lahir dari filsafat eksistensialisme yang menempatkan kebebasan individu sebagai nilai tertinggi (Sartre, 2016). Dalam pandangan tersebut, cinta ideal bukanlah hubungan yang mengurung, melainkan relasi yang memungkinkan dua individu tetap menjadi subjek yang bebas.

Namun, pengalaman mereka menunjukkan bahwa kebebasan selalu dinegosiasikan dalam konteks sosial tertentu dan konteks itu tidak pernah sepenuhnya setara. Dalam hubungan Sartre dan Beauvoir, terdapat dinamika kuasa yang kompleks. Sebagai intelektual laki-laki dengan posisi sosial yang kuat, Sartre memiliki otoritas simbolik yang tidak sepenuhnya dimiliki Beauvoir. Meski Beauvoir merupakan pemikir besar, relasi mereka tetap dibentuk oleh dunia patriarkal yang memberi legitimasi lebih besar kepada suara laki-laki.

Hal ini dapat digunakan untuk membaca cinta di era krisis. Banyak relasi hari ini juga dibangun atas nama kebebasan: kebebasan memilih pasangan, kebebasan untuk pergi, kebebasan untuk tidak terikat. Namun, kebebasan sering kali diasumsikan sebagai kondisi yang dimiliki semua orang secara merata. Padahal, dalam kenyataannya, kemampuan untuk bebas sangat dipengaruhi oleh kelas sosial, gender, keamanan ekonomi, dan posisi sosial seseorang.

Tidak semua individu memiliki kebebasan yang sama untuk meninggalkan relasi yang menyakitkan. Tidak semua orang mampu menegosiasikan batas, meminta ruang, atau menolak eksploitasi emosional. Pada kondisi ekonomi yang timpang dan minimnya dukungan sosial, cinta sering berubah menjadi ruang kompromi yang berat. 

Hubungan Sartre dan Beauvoir yang dianggap paling bebas pun tidak otomatis terbebas dari luka, kecemburuan, ketimpangan, dan negosiasi kuasa. Sehingga romantisme itu tidak diposisikan sebagai model cinta ideal, melainkan hanya sebatas contoh bahwa cinta modern selalu penuh paradoks. Membebaskan cinta dari ikatan formal seperti pernikahan tidak otomatis membebaskannya dari ketidakadilan. Sebab yang perlu dipertanyakan bukan hanya apakah cinta dapat memberi kebebasan, tetapi juga siapa yang paling banyak membayar harga dari kebebasan tersebut.

Kesadaran bahwa cinta tidak pernah netral membawa kita pada kebutuhan untuk membayangkan bentuk relasi yang tidak sekadar bertahan, tetapi juga mampu melawan ketimpangan yang membentuknya. Jika cinta dinegosiasikan dalam medan kuasa, maka konteks interpretasi paling sesuai adalah bagaimana menciptakan hubungan yang adil melalui cinta radikal. Secara sederhana, hal itu dapat dilakukan melalui pembagian kerja domestik dan ekonomi secara adil, membangun komunikasi yang jujur, atau menciptakan ruang aman untuk mengekspresikan emosi tanpa takut disalahkan.

Cinta radikal juga berarti berani menolak peran patriarkal, menetapkan batas terhadap eksploitasi emosional, dan mereproduksi keintiman yang tidak sepenuhnya tunduk pada logika negara maupun pasar. Komitmen bukan lagi kontrak untuk memaksimalkan kepuasan individu, melainkan proyek kolektif untuk bertahan hidup dan berkembang bersama.

Mencintai adalah proses menuntut keberanian untuk melawan norma, membangun solidaritas, dan menciptakan ruang relasi yang lebih manusiawi. Dengan begitu, cinta bisa terus beroperasi sebagai medium perlawanan dalam sistem yang menindas.

Referensi

Beauvoir, S. de. (2003). Second sex: Kehidupan perempuan (Trans. T. Feerizutono, Ed.). Pustaka Promethea.

Beauvoir, S. de. (2016). The second sex: Fakta dan mitos (Trans. ) (T. B. Febrianto, Ed.). Narasi-Pustaka.

Bell hooks. (2018). All About Love: New Visions. Harper Collins.

C. Wright Mills. (2000). The Sociological Imagination. Oxford University Press.

Federici, S. (2012). Revolution at point zero: Housework, reproduction, and feminist struggle. PM Press.

Illouz, E. (2007). Consuming the romantic utopia: Love and the cultural contradictions of capitalism. University of California Press.

Santury, F. A. (2025). Keluar dari bayang-bayang patriarki dan kapitalisme: Perjuangan pekerja seks merebut keadilan. Independen.

Sartre, J.-Paul. (2016). Eksistensialisme adalah humanisme (Narasi-Pustaka, Ed.).


Editor: Aisya Puja Ray


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *