Cendekiawan dalam Profesi Dosen(?)

Profesi dosen di Indonesia dihadapkan pada beban kerja, hegemoni kuasa, dan minim penghargaan yang mengaburkan peran cendekiawan.

Penulis

Opini Kompas yang ditulis oleh Tauchid Komara Yuda pada 24 November 2025 menjadi suatu cermin kegelisahan akan eksistensi profesi dosen, sebenarnya seperti apakah laku seorang dosen di Indonesia? Pada seperti apakah kerja-kerja dosen saat ini sebagai insan yang terlabel intelektual?

Dalam tulisannya Yuda memberi suatu gambaran adanya pemaknaan yang beragam atas profesi dosen, serta konsekuensi jabatan professor sebagai titik dari jalur karier mereka yang berkecimpung di aktivitas akademik di berbagai negara. Namun dalam keberagaman pemaknaan tersebut tersirat suatu penjelasan bahwa kerja seorang akademisi – baik dalam makna sebagai dosen, lecturer, atau professor – sangatlah kontekstual dan bergantung pada kebutuhan dari ruang dan waktunya.

Dosen di Indonesia sering kali dipersepsikan sebagai manusia serba bisa yang tulus ikhlas melaksanakan pekerjaannya. Tuntutan yang berwarna mulai dari publikasi ilmiah bereputasi setiap tahunnya, pendidikan generasi muda, pendorong hilirisasi kajian dalam masyarakat, hingga mengurus kepanitiaan di kampus menjadi aktivitas yang harus dilakukan dalam kondisi pendapatan yang seadanya.

Pada realitas lain, ketika dosen berusaha mencari kesejahteraan untuk dirinya maka ia harus melakukan involusi intelektual hanya untuk mengamen dari satu klien ke klien yang lain. Ironinya hal ini kemudian diamini pula sebagai salah satu bentuk pengabdian seorang dosen kepada dunia di luar akademik.

Tulisan ini merupakan sebuah respons sekaligus partisipasi pendapat atas pemaknaan dosen di Indonesia. Dalam opini Yuda ditinjau komparasi dengan profesi sejenis di negara lain, tulisan ini mencoba melihat pemaknaan khas Indonesia terhadap eksistensi dosen.

Intelektual Cendekia 

Merujuk pada beberapa tulisan terdahulu yang mengulas terkait profesi yang bersinggungan dengan dunia intelektual akademik di Indonesia, insan subjek yang melaku di dalamnya sering disebut sebagai cendekiawan. Cendekiawan merupakan istilah yang diserap dari bahasa Sansekerta cendekia atau cendekya yang berarti pandai, bijaksana, atau terdidik. Cukup sulit untuk dilacak kapan istilah ini dipakai pertama kali, namun istilah ini menjadi kosa kata yang populer terkhususnya pada era Orde Baru.

Penggunaan istilah cendekia pada keseharian sosialnya berbeda dengan istilah intelektual. Intelektual berarti cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Orang-orang yang dilabeli sebagai pelaku intelektual adalah mereka yang memiliki level kecerdasan yang baik dan daya akal berlandaskan logika pengetahuan.

Sementara itu cendekia memiliki pemaknaan kata sebagai tajam pikiran dan lekas mengerti. Cendekia tidak sebatas sebagai suatu label kapasitas berpikir manusia, namun juga label kapabilitas untuk menggunakan kapasitas berpikirnya secara baik dan tepat. Sehingga cendekiawan sebagai pelaku cendekia adalah orang-orang yang pantas untuk dilabeli dengan makna tersebut.

Pemaknaan yang dibentuk oleh KBBI sejalan pula dengan pemaknaan konstruksi sosial terhadap istilah cendekiawan. Kata tersebut merupakan label khas kepada mereka yang tidak hanya paripurna dalam kemampuan berpikirnya, namun juga selaras dalam memberikan pandangan ke depan terhadap masyarakat luas. Dhaniel Dhakidae dalam bukunya Cendekiawan dan Kekuasaan dalam Negara Orde Baru, melihat cendekiawan sebagai aktor dengan peranan sosial menciptakan gagasan arah perubahan sosial melalui pengetahuan yang diproduksinya.

Konstruksi makna cendekiawan sering kali tidaklah terbatas kepada akademisi, namun juga tersemat kepada para pelaku sosial yang memiliki kesadaran berpikir ala dunia akademik. Bahkan sering kali pula seorang akademisi kampus tidaklah seutuhnya dapat disebut sebagai cendekiawan. Akan tetapi proses terciptanya cendekiawan yang bersinggungan dengan dunia tersebut menjadikan adanya sebuah bayangan atas kaum akademisi yang lekat dengan peran pelaku cendekia.

Realitas Dosen Kita

Secara umum pemaknaan peran seorang cendekiawan sudah melekat dalam tuntutan kerja seorang dosen di Indonesia dalam kerangka Tri Dharma Perguruan Tinggi. Konstruksi makna cendekia memberi kesan peran atas tiga dharma suci dosen Indonesia tidak hanya sebagai capaian kinerja namun proses luhur yang harus dijalankan sepenuh hati. Namun dibalik konstruksi makna tersebut, sudah selaraskah kemudian kerja-kerja akademik dosen kita sebagai seorang cendekiawan?

Membahas keselarasan kerja-kerja akademik dosen di Indonesia memunculkan beberapa garis besar isu yang juga masih memberikan pertanyaan lanjutan dalam memaknai profesi ini. Pertama adanya realitas hegemoni kekuasaan atas kerja-kerja seorang dosen. Beban administrasi dalam kerja akademik sejatinya dapat dimaknai sebagai proses pendisiplinan melalui standarisasi capaian kinerja. 

Hegemoni kuasa juga secara praktis terwujud dalam kerja-kerja dosen dalam praktik konsultasi dan pengabdian dalam struktur birokrasi. Seperti yang diargumenkan oleh Yuda, timbal balik material yang rendah terhadap seorang dosen menjadikan mereka menggeluti kerja-kerja intelektual tukang Beberapa dosen secara sukarela melakukan involusi intelektual dengan mengekor kepada klien-klien konsultan mereka. 

Alam pikir akademisi kita akhirnya terhegemoni secara tak sadar oleh tujuan yang bukan kepada kerja-kerja pencarian kebenaran sebagai inti dasar seorang intelektual. Dampak dari hegemoni kuasa ini menciptakan peran pemberi gagasan perubahan sosial seutuhnya hadir dari kebenaran-kebenaran realitas masyarakat.

Isu yang kedua ialah ketidakjelasan penghargaan kerja-kerja akademik di Indonesia. Persepsi umum yang melihat kerja-kerja akademik dosen sebagai pengabdian – seperti halnya kerja cendekiawan – membawa pada penghargaan yang setara pada aktivitas sukarela. Perihal ini semakin menjadi soal ketika aktivitas kerja ini dianggap sebagai palugada solusi dalam setiap masalah publik yang ada. Setiap gagasan perubahan sosial yang dimunculkan kemudian ditempatkan sebagai sesuatu yang harus menjawab masalah dengan penghargaan sukarela.

Pada beberapa pengalaman yang penulis lihat, kerja-kerja akademik akhirnya tereduksi semata sebagai pelengkap teknis bagi pemangku kepentingan tertentu tanpa suatu penghargaan terhadap substansi yang dihadirkan. Persoalan ini kemudian membawa perspektif peran dosen kembali lagi seperti halnya seorang tukang semata daripada sebagai insan cendekia.

Kedua isu tersebut menjadi suatu representasi menguatkan kembali mempertanyakan, apakah sudah selaras pula dunia dosen saat ini disebut juga sebagai dunia kaum cendekia? Apakah sudah bisa disandingkan kerja-kerja dosen saat ini sebagai kerja dengan tujuan penciptaan gagasan perubahan sosial yang utuh khas cendekia? 


Editor: Ivo Trias Julianno


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *