Catatan Harian Cindo: Pahlawan Nasional?

Penulis

Untuk kesekian kalinya negara mengecewakan kita semua dengan keputusan-keputusan yang mereka buat tanpa mau mendengar apa yang rakyat inginkan. Kali ini, tepat 10 November 2025 lalu, negara baru saja menganugerahkan gelar pahlawan nasional kepada Presiden Ke-2, Soeharto. Tentangan sudah jauhari datang dari berbagai pihak, salah satunya dari Koalisi Masyarakat Sipil yang dengan tegas menyatakan pemberian gelar pahlawan nasional ini merupakan upaya negara untuk menghapus sejarah kelam di masa lalu. 

Sebagai orang keturunan Cina biasa saja yang pernah hidup di era Orde Baru, rasanya peristiwa yang beberapa hari ini terjadi, secara pribadi terasa tidak benar. Saya tidak benar-benar tahu dan mengikuti apa yang terjadi di Talangsari atau Timor Leste, tapi saya benar-benar mengalami kehidupan dalam ketakutan selama masa itu. Bagaimana keluarga kami rasanya berjalan di pinggir jurang karena sedikit saja melangkah, banyak hal akan menjadi sulit. Harus punya Surat Bukti Kewarganegaraan untuk melakukan semua prosedur birokrasi, padahal kami sudah lahir dan beranak-pinak di Indonesia. Masuk sekolah negeri susah, sedikit-sedikit dimintai uang, ditambah pula sebagai orang beragama Kristen yang mau masuk sekolah juga harus pilih-pilih banget agar tidak didiskriminasi. Itu semua adalah produk tidak terlihatnya dari Soeharto.

Saya masih ingat, di masa kecil dulu, ada pagi-pagi di mana saya bangun, dan Ibu saya bercerita dengan penuh teror, tapi di sisi yang sama, juga terasa biasa saja. Entah bagaimana menggambarkan ini, tapi saya ingat beliau bercerita tentang ditemukannya mayat orang bertato di suatu pembuangan sampah di kampung tetangga. Atau tetangga kami yang bertato tiba-tiba tidak lagi terlihat, entah ke mana hilangnya. Saya diajari untuk tumbuh dalam ketakutan, diam, dan tidak banyak berpendapat. Dan saya menjadi takut untuk bersuara, bahkan sebelum saya belajar akan betapa banyaknya korban di 1965, kerusuhan Tanjung Priok, Talangsari, kerusuhan yang menyerang orang Cina di Solo pada 1981, Timor Leste, hingga perkosaan massal 1998.

Kenyataan yang saya alami, dan saya yakin banyak orang lain juga alami ini ternyata disangkal terus-menerus oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, salah satu orang yang paling banyak diberitakan mendukung dan mengusulkan pemberian gelar pahlawan nasional ini. Fadli Zon yang juga sekaligus menjabat Ketua Dewan Gelar Tanda Jasa dan Tanda Kehormatan ini menyatakan bahwa proses pengajuan Soeharto sebagai pahlawan nasional sudah melalui proses yang panjang dan sesuai dengan prosedur yang seharusnya. Segala hal yang terkait dengan pelanggaran HAM yang dituduhkan kepada Soeharto, dianggap belum terbukti kebenarannya, dan tidak ada fakta yang bisa membuktikan itu. 

Penyangkalan yang sama pun pernah diucapkan oleh Menteri Kebudayaan ini beberapa bulan lalu mengenai perkosaan masal yang terjadi pada perempuan keturunan Tionghoa dalam peristiwa memilukan 1998. Dia menyatakan bahwa perkosaan masal itu tidak terjadi dan ironinya masih memperdebatkan terma massal yang digunakan. 

Saya yang sedang tertarik untuk belajar Michel Foucault jadi ingat salah satu bagian teorinya mengenai sensor. Penyangkalan adalah salah satu bentuk sensorship yang dilakukan oleh negara dalam rangka menguasai, mengendalikan, dan mendisiplinkan rakyatnya. Negara berkali-kali menyangkal dan tidak pernah mengakui sejarah kelam di Indonesia dan sering kali dibungkus dalam kerangka ‘nama baik’ dan ‘stabilitas nasional’, seakan-akan itu terjadi demi kebaikan dari masyarakat itu sendiri. Negara tidak pernah berhenti menjadi sang ‘Bapak’ yang seakan-akan tahu apa yang penting bagi anak-anaknya, tetapi yang sebenarnya dilakukan justru suatu tindak pembungkaman atau pengebirian. 

Rakyat Indonesia dibuat takut untuk bersuara dengan berbagai ancaman, baik itu fisik dengan kekerasan, maupun melalui hukum formal. Masih terjadi di depan mata kita bagaimana Delpedro dan 900 orang lain yang menjadi tersangka karena peristiwa demonstrasi besar pada Agustus lalu. Sebelas orang meninggal dunia, dan dua orang ditemukan mengenaskan dalam wujud kerangka lebih dari 50 hari kemudian. Para anggota DPR yang kita protes dalam demonstrasi kemarin hanya dinonaktifkan dalam hitungan bulan. Negara kembali berjalan seperti biasa seakan mereka tidak pernah bersembunyi dengan ketakutan dan mengatakan apa saja untuk menenangkan kemarahan rakyat. 

Bagi kita sekarang, mungkin masih ada yang mengingat apa yang terjadi di 1965, 1998 bahkan di Agustus 2025. Masih ada dari kita yang sekarang masih terlibat dan masih cukup peduli dengan apa yang sesungguhnya terjadi. Namun berapa lama kita akan bertahan terus bersuara? Berapa lama lagi Ibu Sumarsih masih akan berdiri setiap Kamis mengingatkan kita semua akan kejahatan yang sudah dilakukan negara? Entah sampai kapan. Bagaimana jika negara menjadi jengah dan tidak lagi membiarkan? Atau waktu yang akhirnya mengalahkan kita. Mungkin memang tujuan negara lebih jauh ke depan, 10 tahun, 50 tahun, atau 100 tahun ke depan. Menghapus jejak sejarah kelamnya bagi anak cucu kita kelak.

Jika negara ini adalah tubuh manusia, ini adalah tubuh yang membawa trauma dan menyimpan banyak luka. Seperti manusia yang terus-menerus merepresi atau menekan luka yang dia alami, pada akhirnya luka itu akan menggerogoti dirinya sendiri. Entah pada akhirnya akan menjadi sakit mental, sakit fisik, atau meledak menjadi kekerasan yang tidak terkendali. Kekerasan yang sudah kita lihat beberapa kali sepanjang sejarah Indonesia berdiri. Dan penguasa kita, masih tetap tidak peduli. Mereka masih sibuk mengisi kantong-kantong mereka yang sudah meluber dengan kekayaan alam dan darah rakyatnya. Luka-luka ini pasti akan merembes keluar bahkan di tengah tebalnya pembungkaman. 

Saya yakin keputusasaan dan kemarahan ini tidak hanya milik saya pribadi. Sekali lagi saya kembali kepada Michel Foucault, yang didiamkan itu bermakna, yang disensor itu adalah hal yang penting. Jadi, jangan berhenti untuk terus mengingat dan berbicara tentang apa yang sedang negara berusaha sembunyikan dari generasi selanjutnya.


Editor: Ivo Trias Julianno


Hai, suka pada tulisan ini?
Kami paham, kehidupan yang menyebalkan sekarang sering membuat kita tak punya waktu untuk menulis, meski banyak kenyataan yang membuat kita berpikir dan bahkan yakin bahwa penderitaan ini sama pula dampaknya. Maka, mari biasakan untuk berterima kasih pada mereka yang telah meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk menuliskan keresahan serta kekecewaan kita. Dengan cara apa? Sederhana. Berilah apresiasi pada kerja-kerja sunyi mereka lewat link di bawah ini.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *