Booktalk: Basis Filsafat Nietzsche dan Pewartaan Orang Gila dari Jerman

Penulis

PAKEM, SLEMAN — Pemikiran filsuf Jerman Friedrich Nietzsche kerap dilabeli sebagai igauan orang gila, padahal pewartaannya justru menelanjangi kemunafikan peradaban modern. Narasi provokatif tersebut menjadi sorotan utama dalam acara Booktalk: Basis Filsafat Nietzsche yang digelar di pelataran luar Toko Buku Petroek, kawasan Omah Petroek, Kabupaten Sleman, Sabtu (22/8/2026) malam. Di kaki Gunung Merapi, budayawan Romo Sindhunata dan pakar filsafat Romo A. Setyo Wibowo secara bergantian membedah akar pemikiran sang filsuf di hadapan puluhan peserta. Dipandu oleh seorang moderator, perbincangan kritis ini membongkar bagaimana wacana “kematian Tuhan” sebenarnya adalah sebuah gugatan terhadap manusia yang kehilangan kebebasan esensialnya.

Romo Sindhunata (tengah) dan Romo A. Setyo Wibowo (kanan) ditemani seorang moderator (kiri) saat membedah pemikiran sang filsuf Jerman dalam acara diskusi Booktalk: Basis Filsafat Nietzsche di pelataran luar Toko Buku Petroek, kawasan Omah Petroek, Pakem, Sleman, Sabtu (22/8/2026) malam. Gelaran wisata literasi ini merupakan bagian dari rangkaian Jakal Bookshop Festival 2026. SAM/Valentino.

Dalam sesi diskusi, Romo A. Setyo Wibowo membedah analogi terkenal Nietzsche mengenai sosok orang gila yang berlari membawa lentera di siang bolong untuk mencari Tuhan. Ia menjelaskan bahwa sang pewarta gila tersebut sedang menyindir masyarakat yang diam-diam telah “membunuh” dimensi ilahi lewat rutinitas dan tata bahasa yang dangkal. Penulis buku Cara Kerja Ilmu Filsafat dan Filsafat Ilmu ini mengibaratkan pemahaman manusia tentang konsep keilahian kerap terjebak pada sekadar kata, layaknya orang tuli yang mencoba memahami indahnya nada musik.

 “Oleh karena itu, cara beragama yang dipenuhi fanatisme dan menolak rasionalitas sejati itulah yang sesungguhnya tengah menghancurkan esensi Tuhan itu sendiri,” tegasnya.

Melengkapi kacamata filosofis tersebut, Romo Sindhunata menarik gagasan Nietzsche ke dalam kritik tajam terhadap mentalitas umat beragama dewasa ini. Ia menyoroti cara beragama yang sering kali justru menjebak manusia ke dalam kepatuhan buta dan mentalitas budak. Penulis kawakan yang akrab disapa Romo Sindhu tersebut menegaskan bahwa hakikat penciptaan manusia sesungguhnya memuat anugerah kemerdekaan batin yang paripurna. 

“Jika secitra dengan Allah, kita juga harus bebas seperti penciptanya, bukan malah jadi budak,” tegasnya menafsirkan semangat perlawanan Zarathustra.

Penolakan terhadap dogma-dogma kosong ini sejalan dengan salah satu kutipan paling radikal Nietzsche yang berbunyi, “Aku hanya menyukai apa-apa yang ditulis dengan darah.” Darah dalam kacamata filosofis tersebut dimaknai sebagai wujud pergumulan dan pengalaman batin terdalam, bukan sekadar teori intelektual tanpa penghayatan hidup nyata. Pemikiran-pemikiran yang mendobrak batas kewarasan umum ini nyatanya tetap relevan dan berhasil memukau para peserta yang hadir hingga acara usai pada pukul 20.00 WIB. Gelaran wisata literasi ini menjadi salah satu acara dalam memeriahkan rangkaian panjang Jakal Bookshop Festival 2026.


Editor: Benediktus Fatubun


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *