NGAGLIK, SLEMAN — Kumpulan cerita Kasih Ibu Sepanjang Buku karya sastrawan sekaligus pedagang buku, Gunawan Tri Atmodjo, dibedah dalam acara diskusi di Multitude Toko Buku dan Angkringan, Kabupaten Sleman, Minggu (23/8/2026) malam. Gelaran yang dipandu oleh Aldino Jalu Seto ini menghadirkan Gilang Andretti dan Nugrahani Annisa dari Radio Buku sebagai pembedah utama. Diskusi berdurasi 90 menit tersebut merupakan salah satu rangkaian agenda aktivasi ruang dalam Jakal Bookshop Festival 2026. Fokus pembahasan berkisar pada realitas dunia kepenulisan dan seluk-beluk pasar buku di Indonesia yang diangkat di dalam buku tersebut.
Dalam paparannya, kedua pembedah menyoroti bagaimana karya ini secara spesifik membicarakan ekosistem perbukuan, khususnya perdagangan buku lawasan. Kumpulan cerita ini memfiksikan pengalaman nyata sang penulis yang sehari-harinya bergelut sebagai penjual buku bekas. Alur ceritanya menelanjangi berbagai fenomena literasi secara blak-blakan, mulai dari praktik penjurian lomba sastra hingga interaksi antara pedagang buku dan pembelinya. Seluruh fakta lapangan tersebut disajikan kepada pembaca menggunakan pendekatan komedi dan narasi yang ringan.
Gilang Andretti menyatakan bahwa kehadiran karya fiksi komedi ini berhasil mendobrak stigma yang selama ini melekat pada profesi pedagang buku.
“Buku ini memberikan bukti nyata bahwa seorang bakul buku tidak sekadar melakukan transaksi ekonomi, melainkan turut aktif membaca dan menulis sastra,” papar Gilang.
Senada dengan pandangan tersebut, Nugrahani Annisa menambahkan bahwa aktivitas membaca dan menulis itu menghasilkan kedekatan observasi dengan realitas keseharian pekerja perbukuan.
“Kedekatan observasi itulah yang pada akhirnya menjadikan buku ini sebagai medium kritik yang relevan terhadap industri literasi arus utama,” tegas Nugrahani.
Merespons berbagai ulasan tersebut, Gunawan Tri Atmodjo yang turut hadir di lokasi membenarkan posisi karyanya di tengah ekosistem sastra nasional. Ia memosisikan kumpulan ceritanya sebagai sebuah ruang alternatif yang santai bagi para pembacanya. “Buku saya seperti gang kecil kalau Sastra Indonesia diibaratkan sebagai jalan raya besar, orang bisa mampir untuk sekadar istirahat,” ungkap Gunawan. Pernyataan penutup tersebut mengakhiri sesi diskusi yang dihadiri oleh pegiat literasi malam itu.
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








