Betrak-Betruk and Don’t Care: Pameran Seni Barang Sehari-Hari

Penulis
Bricolage is the skill of using whatever is at hand and recombining them to create something new–Nasrullah Mambrol

Betrak-Betruk sebagai Praktik Bricolage

Trio Muharam suatu ketika menghubungi saya melalui jaringan pribadinya. Ia mengatakan hendak membuat pameran di Kecamatan Muntilan, sebuah kecamatan yang kerap saya lewati setiap pulang ke rumah. Pamerannya ia beri judul Betrak-Betruk and Don’t Care. Judul dengan keseluruhannya menggunakan bahasa asing, baik itu Betrak-Betruk–nya atau “and Don’t Care”–nya. Ia bercerita bahwa betrak-betruk adalah istilah dalam Bahasa Sunda. Namun saya bukan orang Sunda, istilah betrak-betruk terasa asing di telinga saya. Saya berusaha mencari arti betrak-betruk dari dua sumber yaitu Wiktionary Sunda dan Kamus Bahasa Sunda Online. Dari dua sumber itu kurang lebih artinya sebagai perabotan rumah tangga yang tidak dipakai lagi. 

Trio, begitu saya menyapanya, setidaknya memamerkan dua puluh karya seni kontemporer dalam pamerannya. Medianya beragam, bentuknya sesuka dia, dan yang paling penting dari seni ialah estetika. Tanpa itu seni dapat sekali kunyah seperti membaca koran. Estetika baru muncul ketika dimaknai, oleh; kurator, pengunjung, dan kritikus. Tulisan ini adalah refleksi kritis dari cara pandang seorang pengunjung yang menjaga jarak dengan karya seni dan senimannya. Di samping itu, saya juga berupaya untuk menaruh beberapa konsep sebagai landasan atau pendekatan dalam merespons. 

Ketika mengetahui arti dari betrak-betruk, pikiran saya terlempar pada konsep Bricolage. Sebuah konsep yang pernah digagas oleh Claude Lévis-Strauss dalam buku yang berjudul Savage Mind. Di dalam buku itu Lévis-Strauss memberikan definisi mengambang tentang bricolage. Bricolage bagi Lévis-Strauss merupakan pengetahuan sebelum ada pengetahuan primitif. Lebih jauh lagi, menurut Lévis-Strauss orang yang bertindak melakukan bricolage adalah seorang bricoleur. Bricoleur makna sepadannya dalam bahasa Inggris odd job man atau handyman. Lévis-Strauss menerangkan sejatinya seorang bricoleur adalah yang bekerja dengan bahan apa adanya dan menggunakan cara-cara tidak umum, terkesan sangat kompleks. Dalam konteks seni rupa, bricoleur adalah seorang seniman yang bekerja dengan bahan yang ia temui untuk menciptakan makna baru dengan dari repertoar bahan-bahan atau kemampuan artistik dari seniman pada umumnya. 

Teori ini kemudian berkembang seiring berjalannya waktu dan dapat diterapkan di berbagai lini kehidupan masyarakat. Saya ambil dua teoritisi yang saya ketahui, pertama Derrida dan kedua adalah Hebdige agar tampak perbedaannya serta sejalan dengan niat merespons karya-karya Trio Muharam. Derrida dalam bukunya yang berjudul Structure, Sign, and Play in the Discourse of the Human Sciences menjelaskan bahwa setiap praktik diskursus merupakan bricolage. Melalui tangan-tangan bricoleur tanpa disadari menggunakan pengetahuan, pengalaman, hingga peralatan yang telah tersedia. Artinya bricoleur tidak menciptakan diskursus yang benar-benar baru, sama seperti karya-karya Trio, tidak ada wacana yang baru. Trio hanya mereplikasi atau menduplikasi dengan cara estetika berbeda melalui perangkat yang ia miliki. Dalam pandangan Derrida, tidak ada satu pun manusia atau masyarakat yang memang dapat menciptakan bahasa atau sistem baru tanpa merujuk sejarah atau pengetahuan dari epos sebelumnya. 

Derrida tidak seperti Lévis-Strauss dalam menjelaskan bricolage. Derrida mengembangkannya dengan membantah Lévis-Strauss. Di awal Lévis-Strauss menyebutkan bahwa bricolage sebagai upaya membangun struktur. Dalam konteks Lévis-Strauss sebagai membangun mitos-puitik yang naif dan mentah. Bricolage jika dimaksimalkan, ujar Lévis-Strauss, maka dapat menjadi pemahaman intelektual yang luar biasa. Sementara Derrida menyebutkan bahwa tidak pernah ada diskursus yang selesai. Makna terus mengalami dinamika, tidak kaku karena dapat dibentuk. Maka dengan ketidakstabilan itu diskursus selalu bersifat terbuka seperti sebuah permainan. Ini mengingatkan pada sebuah permainan anak-anak bernama play-doh, sebuah mainan berbahan lilin yang dapat dibentuk, dipotong, ditempel dengan warna lainnya, atau aktivitas lainnya sesuai keinginan subjek.

Hebdige berbeda mengartikan bricolage daripada pendahulunya. Seorang profesor yang ahli dalam kajian seni dan media menerangkan konsep tersebut di dalam bukunya yang berjudul Subculture: The Meaning Style. Subkultur merupakan kultur tandingan yang sifatnya lebih kecil tetapi berusaha menantang dominasi kultur yang ada. Hebdige meletakkan bricolage dalam subkultur punk dengan mengartikan sebagai cara rekontekstualisasi objek budaya dominan. Kemudian menaruhnya pada suatu konteks baru yang menghasilkan makna berbeda atau bahkan bertabrakan. Mudahnya penjungkirbalikan makna atas benda untuk menjadikannya bahasa protes terhadap kultur dominan. Bricolage ditujukan untuk menjadi pembeda antara subkultur dengan kultur dominan atau usaha subkultur melawan kultur arus utama. 

Terakhir, satu konsep yang tak kalah penting adalah mengenai benda. Benda dalam perspektif Jane Bennet memiliki pengaruh yang besar dalam kehidupan manusia. Dalam bukunya Vibrant Matter: A Political Ecology of Things bahwa benda mati bukanlah objek diam. Melalui konsep materialitas vital, ia mengoreksi bahwa benda mati mempengaruhi fenomena sosial dan politik karena di dalam benda mati terdapat kekuatan aktif yang dapat menjadi agensi. Bagi Bennet segala sesuatu tidak bisa dipisahkan pada biner objek dan subjek. Objek itu sendiri dapat menentukan kehandak subjek berupa mempercepat atau menghambat. Artinya niat maupun diskursus tidak dapat terbentuk secara tunggal, ada benda mati yang terlibat dalam mewujudkan niat. Benda mati di sini menjadi agensi distributif atau dalam bahasa Bennet rakitan. Perpaduan niat dan benda mati menciptakan fenomena sosial maupun politik. 

Seorang bricoleur tidak dapat menghasilkan makna tanpa melibatkan benda mati. Ada instrumen, bahan, dan kebutuhan peralatan maupun perlengkapan di dalam proses bricolage yang telah dijelaskan pada paragraf-paragraf sebelumnya. Hubungan benda dan manusia melampaui batas ruang pribadi dan publik. Seperti yang diungkapkan Wright Mills dalam The Sociological Imagination bahwa isu sehari-hari yang dibingkai di dalam struktur sosial merupakan isu publik. Dalam isu sehari-hari kita hanya melihat bahwa isu itu berdiri tanpa campur tangan benda mati. Imajinasi tentang bricolage juga perlu ditambahkan dengan materialitas vital, tanpanya buah tangan bricoleur tidak dapat dinikmati. Di dalam dunia sosial semuanya terhubung menjadi jaringan sosial bahkan di ruang yang paling pribadi sekalipun seperti yang ditegaskan Mills. 

Membaca Karya-Karya Pameran Betrak-Betruk and Don’t Care

Dalam satu lembar yang ditulis oleh kurator, yaitu Ica Mangadil, tak pernah disebutkan alasan konkret Trio mengambil cara betrak-betruk pada proses keseniannya yang terbaru. Kurator hanya memberikan dugaan-dugaan atau indikasi-indikasi Trio memilih betrak-betruk sehingga orang di luar Trio tidak ada yang mengetahui motif proses kreatifnya. Apakah ini kesengajaan atau sebuah “kecelakaan” eksperimen berkeseniannya. Seni juga memerlukan batasan dalam penafsirannya agar maksud dari seniman sampai ke penikmat atau pengunjung pameran. Artinya pekerjaan Trio seperti bricoleur intellectual yang hanya mengkonstruksi mitos-mitos untuk menghasilkan mitos-puitik dengan kenaifannya dan kementahannya melakukan bricolage. Dalam konteks ini menjadi seorang seniman naif dengan makna yang ia amini sendiri, berbarengan dengan kekuatan kurator yang mentah karena gagal menerangkan alasan mendasar Trio. Dampaknya penikmat atau pengunjung menebak-nebak maksud dari pameran ini, sambil tersesat di interpretasi mereka dan ruang galeri 

Imbas paling mendasar ialah apakah yang dilakukan oleh Trio ini benar-benar betrak-betruk atau bricolage? apakah hanya sebagian betrak-betruk atau bahkan pura-pura betrak-betruk? Pertanyaan ini muncul selaras dengan benda-benda yang ia gunakan seperti bukan barang kesehariannya. Seperti kurator, saya juga menduga-duga Trio tidak sepenuhnya melakukan betrak-betruk. Mudah-mudahan kecurigaan ini salah, karena Trio yang tahu.

Terlepas dari, motif kita dapat bergeser dari beberapa karya Trio di Betrak-Betruk and Don’t Care perlu diakui berhasil melakukan peruntuhan, perangkaian ulang (rekontekstualisasi), dan terhubung dengan konsep materialitas vital. Beberapa karya seni Trio. Meski setiap karyanya punya makna yang berbeda, saya berupaya mengklasifikasikannya. Cara pengklasifikasian ini menggunakan bricolage dan pendekatannya lainnya seperti yang sudah disampaikan di paragraf-paragraf sebelumnya. Ini hanya untuk mempermudah dan memberikan jembatan pemaknaan terhadap karya seni Trio. Karena pembacaan saya sebenarnya karya seni Trio dalam pameran Betrak-Betruk and Don’t Care lebih kompleks. Karya-karyanya seperti operasi himpunan matematika, satu karya bisa didekati dengan multi-pendekatan, berikut pengategorisasiannya:

Bricolage a la Lévis-StraussBricolage a la DerridaBricolage a la HebdigeMaterialitas Vital
ReflectionsBETRAK BETRUKLegalize It !!!UNDER CONSTRUCTION: Nowadays
UNDER CONSTRUCTION: Dead Poet ContemporarySelf (destroy) PortraitSpray That Shit: ViolenceCON (Text)
OUT OF SERVICEAnything Gowes!29.11 (1947)NOIR: Face Off
AESTHETIC SERVICEOVERLOADCorrecting The StatementArtificial Statement
UNDER CONSTRUCTION: Pesan pada Manzoni dan DuchampUNDER CONSTRUCTION
NOIR: Linocut SeriesUNDER CONSTRUCTION: Bible
UNDER CONSTRUCTION: Brick

Tabel 1. Tabulasi Karya Seni dalam Betrak-Betruk and Don’t Care

Dari tabel yang telah tersedia di atas, secara tidak langsung karya seni Trio Muharam dalam Betrak-Betruk and Don’t Care memiliki posisi analisis sebagai berikut:

  • Kolom satu, merupakan karya seni yang lebih kental dapat menciptakan mitos-puitik alami dalam benak penikmat. 
  • Kolom dua, adalah upaya seniman melakukan penggeseran makan atas objek yang dipilih.
  • Kolom tiga, bertendensi respons seniman mengekplorasi isu sosial-politik
  • Kolom empat, membuktikan bahwa pentingnya interaksi benda mati dengan manusia untuk menghasilkan karya seni

Kolom satu merupakan kerja menyatukan fragmen terpisah yang menghasilkan satu visual dengan makna desakralisasi dunia. Bagian ini berusaha untuk menghilangkan tentang pesona dunia, dalam konteks Science as a Vocation karya Max Weber. Ada teks catatan yang berhasil dihidupkan Trio, ada wajah memilik makna “wajah” yang lain di dunia seni kontemporer, dan bahkan potret aktivitas medio 1940–1950–an. Aktivitas sehari-hari, wajah, dan teks catatan selama ini selalu dilumat begitu saja oleh waktu. Namun di tangan Trio ini sebagai umpan-balik bahwa realitas mempunyai jiwa atau makna tersembunyi. Trio pada konteks seni di kolom satu menyodorkan kepada pengunjung untuk merefleksikan kembali pengalaman sehari-hari. Namun di sisi yang lain Trio dapat menciptakan mitologi baru. Caranya dengan menggugat “seni serius” sebagai “seni yang biasa aja”. Maka tren pada karya kolom satu “memberikan masukan” kepada pengunjung melalui cara-cara yang paling simbolis sambil pelan-pelan menciptakan mitos baru. 

Tawaran desakralisasi dunia dilakukan dalam bentuk lainnya juga. Namun dalam bentuk seni yang lain, kolom dua misalnya, Trio bermain-main dengan makna yang tidak stabil pada benda. Pada sisi karya berjudul BETRAK BETRUK, misalnya, Trio membawa “gudang” ter-artsy. Seolah ada estetika pada karya itu tapi sebenarnya seniman hanya berusaha jujur kepada pengunjung. Tidak ada yang menakjubkan dalam proses Betrak-Betruk and Don’t Care. Tidak ada spesialnya sama sekali, mirip dengan pameran karya seni pisang yang ditempel dengan lakban abu-abu. Di karya seni lainnya juga begitu, ini hanya soal bermain-bermain tanda untuk membuat jaringan tanda baru dalam konteks Derrida. Bagi saya pribadi tidak spesialnya, tidak ada pentingnya juga. Namun jika sampai dibeli oleh kolektor, tentu ada masalah kognitif pada kolektor yang membeli. Karena ini seperti kegiatan ibu-ibu PKK di desa yang mendaur ulang sampah plastik kemasan menjadi tas belanja. Setidaknya tas belanja daur ulang hasil kegiatan ibu-ibu PKK lebih memiliki nilai guna. 

Di kolom tiga Trio Muharam sebagai bricoleur lebih serius menampilkan simbol. Ia menggunakan benda-benda sepeti stempel, sepatu lars, dan cat semprot berwarna merah. Pada kategori bentuk seni ini ia membicarakan tentang kekerasan aparat yang terjadi, peristiwa invasi Israel terhadap warga Palestina, dan cara negara melakukan stigmatisasi atau pembredelan karya. Refleksi kritis yang dilakukan Trio terasa vulgar dan seolah-olah menantang dengan terbuka negara sambil mengajak pengunjung untuk sampai pada titik yang makna yang sama. Dalam estetika marxis ini semacam propaganda cum agitasi pikiran dengan, bukan hanya menampilkan penindasan melalui kekerasan, tapi juga seni berperan mendidik rakyat dengan cara yang paling subtil. Seniman berupaya memfungsikan seni untuk mengganggu struktur kekuasaan dan ekonomi menurut Henri Arvon dalam karyanya yang berjudul Marxist Esthetics. Keberanian yang luar biasa mengingat situasi rezim hari ini mudah melakukan pembredelan dan pelarangan kegiatan pameran seni maupun diskusi buku. Keberanian lainnya ini dipamerkan di Muntilan yang jaraknya mungkin hanya belasan kilometer dari markas “percetakan” serdadu Angkatan Darat (AD). 

Terakhir, pada kategori di kolom empat, Trio mengajarkan pada khalayak materialitas vital yang paling mudah dipahami secara praktik. Peristiwa seni dalam karya berjudul UNDER CONSTRUCTION: Nowadays, CON (Text), NOIR: Face Off, maupun Artificial Statement tidak akan pernah ada tanpa kontribusi benda mati. Benda mati paling penting pada kategori ini energi listrik, sensor inframerah dan cermin. Tanpa ini semua peristiwa seni dalam karya yang telah disebutkan pasti tidak akan pernah ada. Maka benda-benda mati tersebut membuktikan niat untuk menciptakan karya seni dapat menjadi penghalang jika tidak ada, tetapi sebalinya dapat mempercepat jika tersedia. Pada bagian ini saya yakin proses penciptaannya tidak dilakukan betrak-betruk murni, karena hampir kebanyakan benda mati yang ada di karya seni ini bukan masuk dalam kategori barang seadanya. Melalui model fabrikasi atau perakitan a la industri yang tujuannya untuk mengkritik perilaku individu. Ini cara khas kapitalisme bekerja, mencari profit dengan pura-pura membantu. Pada karya CONSTRUCTION: Nowadays adalah salah satu contohnya, pura-pura artsy sambil merampok uang pengunjung. 

Limitasi dan Kesimpulan

Apa yang telah dilakukan oleh Trio Muharam adalah mengeksplorasi desakralisasi dunia sambil menggunakan seni kritis untuk sinis terhadap realitas sosial. Ia menggunakan memecah–menggabungkan kepingan realitas, menggugat, membangun mitos baru, hingga mempermainkan makna benda. Selain itu mengajarkan caranya rendah hati sebagai seniman cum bricoleur bahwa benda-benda mati, yang terkadang keberadaannya tanpa disadari tidak penting, menjadi penentu Trio dalam menghadirkan peristiwa seni. 

Pameran ini juga mengartikulasikan kembali gagasan Walter Benjamin dalam bukunya yang berjudul The Work of Art in the Age of Its Technological Reproducibility tentang pergesaran nilai seni dari ritual menjadi ekspresi politis. Trio Muharam menciptakan aura dan otentisitas seni dari barang-barang yang mudah dijangkau. Berbeda dari Walter Benjamin yang menceritakan fotografi menghilangkan keunikan aura dan otentisitas karena konsumsi massal. Di samping itu ia berhasil mempolitisasi seni dengan cara menggugurkan sekaligus membangun kultus baru dengan metode sinis. Tingkat kesinisan Trio mungkin ada di level muak terhadap internal ekosistem industri seni, keakuan, penindasan dan kekerasan, hingga agama. 

Oleh sebab itu Betrak-Betruk and Don’t Care tidak dapat berdiri secara an sich. Ia merupakan jalinan, kait–kelindan, maupun tumpang tindih antara niat manusia, kemampuan benda mati, serta makna yang menghasilkan mitos-puitik atau menawarkan gagasan ilmu pengetahuan. Di samping itu butuh pemaknaan dari dunia luar sebagai cara memunculkan ide, tanpanya apa yang dilakukan oleh Trio Muharam hanya kegiatan mendaur ulang sampah di tengah krisis ekonomi yang tidak pasti. Mengartikulasikan Betrak-Betruk and Don’t Care menghindarkannya dari status pengangguran terbuka maupun tukang rosok yang kerap dianggap penyakit sosial oleh negara. Lebih dari itu, betrak-betruk adalah praktik orang Sunda dalam konteks resiliensi terhadap dunia di luar dirinya. Artinya praktik tentu lebih dahulu diterapkan ketimbang teori bricolage. Penulis meyakini bahwa betrak-betruk lebih dari sekadar pemanfaatan barang-barang yang tidak lagi dipakai

Ini merupakan usaha kecil untuk mengartikulasi proses kreatif yang telah dilakukan oleh Trio Muharam. Tentu tulisan ini memiliki banyak limitasi. Artikel selanjutnya dapat mengeksplorasi motif betrak-betruk yang belum terjelaskan oleh selembar tulisan kurator maupun tulisan ini. Selain itu dengan cara wawancara mendalam lebih dapat mengetahui cara pandang seniman memaknai karya seninya sekaligus detail proses kreatif. Mempertanyakan kembali praktik kesenian yang telah dilakukan oleh Trio Muharam sebagai betrak-betruk. Dalam konteks ini terdapat kesempatan untuk melakukan proses yang lebih teoritis dalam mengkaji betrak-betruk sebagai konsep seni dan cara bertahan hidup lokal yang lebih besar dari konsep bricolage. Usulan lainnya dapat menggunakan metode pembacaan dekat agar lebih dapat mengeluarkan makna terdalam, interpretasi yang lebih jelas, dan menjelaskan unsur intrinsik maupun teknis dalam karya. 


Editor: Ivo Trias Julianno


Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *