SURAKARTA — Akademisi sekaligus penulis, Muhammad Syafiq Yunensa, membedah buku autobiografinya bertajuk Aku (Tetap) Punk: Perjalanan Menjadi Diri Sendiri dalam rangkaian Konferensi Punk Scholars Network (PSN) pada Rabu, 23 September 2026 di ruang studio Lokananta. Diskusi literasi ini mengupas transformasi kultur punk dari sekadar bentuk perlawanan jalanan menjadi sebuah metode pendidikan. Pemaparan tersebut disampaikan di hadapan para peserta diskusi yang dipandu oleh Dadang selaku moderator. Sesi pembedahan buku ini menjadi salah satu agenda khusus yang mengiringi perhelatan hari kedua konferensi.
Dalam paparannya, Syafiq menjelaskan bahwa karya ini merupakan refleksi kehidupannya yang kerap menjadi korban perundungan fisik semasa menempuh pendidikan di lingkungan pesantren. Ia menemukan nilai keberanian dari kultur punk untuk melawan penindasan tersebut agar mentalnya tidak semakin hancur.
“Menjadi nakal itu pilihan secara sadar, pilihan untuk melawan penindasan-penindasan kecil itu,” ungkap Syafiq. Ia kemudian mentransformasikan semangat perlawanan tersebut ke dalam metode pengajaran akademik berbasis penyelesaian proyek sesuai hobi mahasiswa.
Kehadiran buku ini dinilai memberikan perspektif baru dalam mematahkan stigma negatif masyarakat terhadap individu yang menolak penyeragaman standar kesuksesan.
Hal tersebut selaras dengan kesimpulan yang ditarik oleh Dadang saat akan menutup jalannya sesi diskusi. “Buku ini sebuah memoar sekaligus perenungan mendalam tentang kehidupan Syafiq yang sejak kecil harus memikul cap sebagai anak nakal dan pembangkang,” jelas Dadang. Ia menambahkan bahwa karya ini mengajak pembaca untuk melihat sisi keteguhan prinsip seseorang dalam menepis prasangka sosial.
Editor: Benediktus Fatubun
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








