Analisis Intelijen di bawah ini cumak menunjukkan betapa perlunya mata pelajaran “Teori & Kritik Seni” diajarkan kepada para intelijen negeri ini biar kalok bikin analisis tentang Seni gak malu-maluin bangsa aja.
Laporan Intelijen di bawah ini dengan sangat naif mengira kalok Selera dalam Seni itu seragam (kayak dalam dunia inteleijen lokal) padahal terdapat banyak, inilah yang disebut sebagai Style ato Isme itu. Makanya dengan sangat memalukan dia dengan bangga dan merasa benar telah membandingkan Cubisme dengan Realisme dan menilai kalok Cubisme jauh lebih bernilai! Alasannya malah bikin kutu kepala jadi sebel: “seni lukis modern semacam Kubisme, Surealisme, apalagi Abstrak, secara bertahap mengajak pemirsanya masuk ke dalam dimensi menta (psyche), dan hanya menyediakan sedikit ruang bagi pemahaman akal-budi”.
Baru tau awak pemabuk ini kalok Realisme itu gak termasuk seni modern! Alasannya cumak: “orang (di kanvas) ya orang (di realitas), bunga (di kanvas) ya bunga (di realitas). Baru kemudian interpretasinya diturunkan dari korelasi antar obyek yang sudah jelas ditangkap akal budi”!
Yang menggelikan lagi, si intelijen ini dengan gaya tukang jual koyok di Medan di zaman Orba dulu, mengklaim “Picasso, dibalik kemarahannya, mengajak orang untuk berpikir sendiri. Djoko Pekik juga mengambil cara yang sama. Bagi mereka, interpretasi yang terbuka atas sebuah karya seni, justru sebuah kekuatan. 𝘛𝘩𝘦𝘺 𝘭𝘦𝘵 𝘷𝘪𝘦𝘸𝘦𝘳𝘴 𝘮𝘢𝘬𝘦 𝘵𝘩𝘦𝘪𝘳 𝘰𝘸𝘯 𝘤𝘰𝘯𝘤𝘭𝘶𝘴𝘪𝘰𝘯𝘴” padahal sebelumnya dia udah berbusa-busa menunjukkan betapa:
“Pada 26 April 1937, kota kecil Guernica di provinsi Basque, Spanyol, dibombardir habis oleh koalisi kaum Fasis (Nazi Jerman + Partito Nazionale Fascista Italia). Kebiadaban itu untuk membantu Jenderal Francisco Franco, yang adalah pemimpin aliansi Fasis di Spanyol.
Picasso marah, setelah mengetahui banyak wanita dan anak-anak menjadi korban kelakuan para Fasis ini. Sebagai orang Spanyol, dia sangat marah dan benci kepada Jenderal Franco. Kemarahan Picasso inilah yang dituangkan ke dalam karyanya “Guernica.”
Picasso tahu, sekalipun dalam situasi perang, hukum dan etika harus dijaga. Sasaran tempur harus sesama militer (serdadu, alat tempur, fasilitas militer), tidak boleh menyerang sasaran non-militer (orang sipil, apalagi anak-anak, rumah sakit, sekolah, rumah ibadah, museum)”.
Bukankah dia sendiri telah memaksa pembaca laporannya itu untuk HARUS membaca “Guernica” Picasso kayak dia membacanya! Dan dia membacanya dengan sangat bertendensi politik! Gimana kalok ada yang menafsir karya Picasso itu tanpa mengaitkannya dengan peristiwa sejarah yang pernah menimpa sebuah kota di Spanyol itu? Picasso sendiri TIDAK pernah kan menyatakan kalok lukisan raksasanya itu memang tentang peristiwa sejarah kayak si intelijen lokal ini nyatakan! Picasso bilang kayak dikutip dalam laporan intelijen di bawah:
“…𝘵𝘩𝘪𝘴 𝘣𝘶𝘭𝘭 𝘪𝘴 𝘢 𝘣𝘶𝘭𝘭 𝘢𝘯𝘥 𝘵𝘩𝘪𝘴 𝘩𝘰𝘳𝘴𝘦 𝘪𝘴 𝘢 𝘩𝘰𝘳𝘴𝘦… 𝘐𝘧 𝘺𝘰𝘶 𝘨𝘪𝘷𝘦 𝘢 𝘮𝘦𝘢𝘯𝘪𝘯𝘨 𝘵𝘰 𝘤𝘦𝘳𝘵𝘢𝘪𝘯 𝘵𝘩𝘪𝘯𝘨𝘴 𝘪𝘯 𝘮𝘺 𝘱𝘢𝘪𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨𝘴 𝘪𝘵 𝘮𝘢𝘺 𝘣𝘦 𝘷𝘦𝘳𝘺 𝘵𝘳𝘶𝘦, 𝘣𝘶𝘵 𝘪𝘵 𝘪𝘴 𝘯𝘰𝘵 𝘮𝘺 𝘪𝘥𝘦𝘢 𝘵𝘰 𝘨𝘪𝘷𝘦 𝘵𝘩𝘪𝘴 𝘮𝘦𝘢𝘯𝘪𝘯𝘨. 𝘞𝘩𝘢𝘵 𝘪𝘥𝘦𝘢𝘴 𝘢𝘯𝘥 𝘤𝘰𝘯𝘤𝘭𝘶𝘴𝘪𝘰𝘯𝘴 𝘺𝘰𝘶 𝘩𝘢𝘷𝘦 𝘨𝘰𝘵 𝘐 𝘰𝘣𝘵𝘢𝘪𝘯𝘦𝘥 𝘵𝘰𝘰, 𝘣𝘶𝘵 𝘪𝘯𝘴𝘵𝘪𝘯𝘤𝘵𝘪𝘷𝘦𝘭𝘺, 𝘶𝘯𝘤𝘰𝘯𝘴𝘤𝘪𝘰𝘶𝘴𝘭𝘺. 𝘐 𝘮𝘢𝘬𝘦 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘢𝘪𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘧𝘰𝘳 𝘵𝘩𝘦 𝘱𝘢𝘪𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨. 𝘐 𝘱𝘢𝘪𝘯𝘵 𝘵𝘩𝘦 𝘰𝘣𝘫𝘦𝘤𝘵𝘴 𝘧𝘰𝘳 𝘸𝘩𝘢𝘵 𝘵𝘩𝘦𝘺 𝘢𝘳𝘦.”
Lobang besar dalam laporan intelijen di bawah kayak yang aku tunjukkan di atas terjadi kerna memang terdapat banyak lobang dalam tubuh teks laporan intelijen tersebut. Si intelijen, misalnya, gak tau beda antara Cubisme, Surrealisme, dan Abstrak tapi seenak gerbong baksonya aja menyama-ratakan ketiganya dalam kategori umum Seni Modern. Kedua, makna “𝘱𝘴𝘺𝘤𝘩𝘦” dalam ketiga aliran besar Seni Rupa di ataspun disamakannya aja kerna malas (ciri khas intelijen lokal) untuk menggoogle apa arti konsep tersebut pada ketiganya. Ketiga, dan ini yang paling parah, dia begitu gampang membuat klaim asersif kalok “Obyek-obyek pada kanvas para seniman Indonesia [dewasa] ini adalah representasi langsung dari sosok/individu yang dikritiknya. Pemirsanya langsung tahu bahwa lukisan mereka menyerang sosok A atau sosok B”. Cumak menunjukkan betapa awamnya dia tentang seni rupa kontemporer negerinya sendiri tapi sok tau tentang Picasso dan sejarah seni rupa Barat! Emangnya para pelukis Indonesia saat ini melukis dengan gaya kek Yos Suprapto?! Emangnya para pelukis Jogja saat ini melukis dengan gaya kek Yos Suprapto?! Kesoktauan epik ini dia tunjukkan lagi dengan mengklaim kalok “Guernica” itu adalah
“kritik Picasso yang menyerang gagasan atau ide dibalik sebuah sistem politik yang brengsek. Bukan menyerang sosok-sosok atau individual tertentu!
Picasso mengritik ide/gagasan dan sistem Fasisme yang membelengu kebebasan manusia dengan cara-cara biadab. Itu intinya.”
Dan gak satupun dia sebutkan Sumber Informasi tentang “Guernica” di atas seolah itu semua memang hasil dari inti pemikirannya secara “𝘪𝘯𝘴𝘵𝘪𝘯𝘤𝘵𝘪𝘷𝘦𝘭𝘺” dan “𝘶𝘯𝘤𝘰𝘯𝘴𝘤𝘪𝘰𝘶𝘴𝘭𝘺” setelah menghabiskan lima mangkok bakso di depan Galeri Nasional Jakarta!
Terakhir, “Antara menyerang “orang” dan menyerang “ide/gagasan dan sistem”, itu dua hal yang berbeda!” Lho, emangnya lukisan bisa menyerang orang?! Lukisannya pasti bisa terbang lalu menyepak congor bau orang tersebut pasti ya, huahahahahahahahaha. Kalok pada Picasso dan Joko Pekik “sapi” dan “celeng” harus langsung dimaknai sebagai SIMBOL maka pada Yos Suprapto TIDAK BISA! Kerna Yos Suprapto adalah TUHAN yang mencipta Orang dan bukan Pelukis yang melukis Simbol Orang!!! Huahahahahahahaha. Makanya hati-hatilah makan bakso di depan Galeri Nasional Jakarta!
* Tulisan ini dipublikasikan Saut Situmorang pertama kali di akun Facebook pribadinya sebagai respons atas tulisan Josef H. Wenas berjudul “Analisis Intelijen: GUERNICA, KRITIK POLITIK PICASSO” di akun Facebook pribadinya (Sumber: https://www.facebook.com/share/p/1AvRfDTe7V/).
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂








