Bogdanov: Berdiri di Atas Karya Kaum Proletar

Penulis

semutapi.id | Alexander Alexandrovich Malinovsky merupakan seorang ekonom, ahli teori budaya, penulis fiksi ilmiah, professor, dan revolusioner politik. Sepanjang hidupnya dia memiliki banyak nama samaran, seperti Maksimov, Verner, dan Riadovoy. Namun nama Bogdanov, nama tengah istrinya menjadi pilihannya untuk sebagian besar karir revolusioner, ilmiah, dan budayanya. Bogdanov adalah putra seorang anggota bangsawan dan seorang guru. Kehidupan masa kecil dan remajanya dihabiskan di Tula, sebuah kota dekat Moskow.

Bogdanov mengenyam pendidikan tinggi di Universitas Moskow dengan mempelajari ilmu pengetahuan alam. Studinya dilanjut di Universitas Kharkor dan meraih gelar pascasarjana di bidang Kedokteran Psikiatri pada 1899. Pada 1890-an dia berkecimpung dalam gerakan bawah tanah revolusioner, memimpin studi pekerja, serta memimpin lingkar studi ekonomi dan Marxisme.

Di masa itu pula, dia menulis buku A short Caourse of Economic Science yang cukup berpengaruh. Karyanya pun mendapat pujian dari Vladimir Lenin ketika diterbitkan pertama kali pada 1897. Tak sedikit orang yang menginginkan dia menjadi pengganti Lenin setelah kepergian Lenin pada 1923. Namun secara tegas Bogdanov menolak permintaan orang-orang termasuk Joseph Stalin yang memberikan dukungan. Terlebih lagi ada perselihan sengit di antara keduanya soal pandangan ketika revolusi di Rusia.

Kala itu, Bogdanov berpihak pada Bolshevik ketimbang Menshevik yang merupakan pembagian faksi atas Second Congress of the Russian Social Democratic Labour Party (RSDLP). Dia tak sepakat dengan konsep yang diusung Lenin dalam pamfletnya “What is to be Done?”. Dengan menyatakan bahwa kaum buruh tak mampu mencapai cita-cita sosialis tanpa bantuan kaum intelektual sosialis. Sebaliknya, bagi Bogdanov, kaum intelektuallah yang membutuhkan masukan disiplin dari kaum buruh.

Bogdanov memilih jalannya sendiri. Dia terjun ke dalam dunia seni, menjadi seniman sekaligus ilmuwan yang berkelindan dalam karya kaum proletar. Dia memiliki pandangan bahwa revolusi budaya adalah solusi untuk membangun tatanan demokrasi baru di Rusia saat rezim Tsar mengalami keruntuhan. Di mana sebuah gerakan setidaknya akan mengajarkan demokrasi kepada masyarakat Rusia. 

Pada 1918, Bogdanov sempat menolak undangan untuk bergabung dengan pemerintahan Soviet yang baru. Sebab, bagi Bogdanov pemerintahan tersebut terlalu otoriter dan minim ‘kerja sama yang bersahabat’. Penolakannya tak serta merta meninggalkan Soviet begitu saja. Dia memberikan kontribusi penting bagi sistem Soviet pada 1921 melalui perumusan prinsip-prinsip perencanaan ekonomi Soviet.

Bogdanov berpendapat bahwa keseimbangan harus tetap dipertahankan di antara berbagai sektor karena semua cabang ekonomi saling bergantung. Dia menggunakan Hukum Tektologis yang Terkecil dalam karya utamanya berjudul Tectology, the Universal Science of Organization untuk melakukan perencanaan ekonomi Soviet. 

Sejalan dengan Hukum Tektologis yang Terkecil, dia berpandangan bahwa pertumbuhan ekonomi dibatasi oleh ukuran cabang produksi dasar yang paling terbelakang. Cabang-cabang itulah yang seharusnya diprioritaskan dengan mengarahkan sumber daya juga tenaga kerja ke dalamnya. Prinsip-prinsip ini menjadi dasar perencanaan ekonomi Soviet pada 1929. 

Seiring berjalannya waktu, karyanya mencapai puncak antara 1918 dan 1920. Novel yang berjudul Red Star menjadi salah satu karya gemilangnya. Novel ini berisi satu-satunya visi masyarakat sosialis yang dimiliki kaum Bolshevik. Gagasannya mengilhami Proletkult, sebuah organisasi rakyat yang dibangunnya bersama Anatoly Lunacharsky, Maxim Gorky, dan lainnya.

Pembentukan organisasi tersebut dimulai pada awal abad ke-20. Harapannya, organisasi ini kelak akan berkontribusi pada revolusi budaya yang kemudian disebut dengan Budaya Proletar (Proletarskaya kul’tura), yang lebih dikenal  dengan singkatannya: Proletkult.

Organisasi Proletkult bahkan merambah hingga internasional. Lenin tak tinggal diam. Pada 1920 Lenin berupaya mengakhiri independensi Proletkult dengan mensubordinasikannya ke Komisariat Pendidikan. Dia juga melakukan kampanye melawan Bugdonav secara individu dengan menerbitkan ulang bukunya Materialism and Empiriocritism. Pengantar buku itu mengecam teori Tectology Bogdanov dan karya teoritis Bogdanov lainnya.

Kampanye anti Bogdanov mencapai klimaks sejak penangkapannya yang dilakukan State Political Administration (GPU) pada September 1923. Dia dicurigai mempunyai hubungan ideologis dengan kelompok oposisi Workers Truth. Namun Felix Dzerzhinky, kepala GPU berhasil diyakinkan atas ketidakbersalahan Bogdanov. Waktu itu, Bogdanov menghabiskan waktunya di balik jeruji besi selama lima minggu. Dia merasa beruntung berhasil lolos dengan selamat. 

Setelah peristiwa ini, Bogdanov semakin mengalami kesulitan untuk menerbitkan tulisannya atau terlibat dalam kegiatan akademis apa pun. Lenin berhasil menyingkirkan Bogdanov secara politis, tapi tidak secara teoritis.

Pada akhirnya, hal  terpenting dalam kehidupan Bogdanov adalah upayanya untuk menghancurkan elemen-elemen borjuis yang tertanam dalam ilmu pengetahuan dan seni, dan menyusunnya kembali sebagai upaya proletar. Singkatnya, Bogdanov sangat tertarik pada bagaimana cara mengobarkan revolusi budaya dengan benar. Sebelum Antonio Gramsci mengartikulasikan perang budaya melawan hegemoni, Bogdanov memiliki kekhawatirannya sendiri. Baginya, tanpa pendidikan sosialis yang tepat, massa revolusioner secara tidak sadar akan tergelincir kembali ke dalam kebiasaan-kebiasaan borjuis.

Bogdanov adalah tokoh Gerakan revolusioner Rusia yang luar biasa. Karya-karyanya selalu menarik perhatian sebagai seorang pemikir sosialis. Sayang, keberadaannya bak ditelan bumi. Para sejarawan tak menghiraukannya, karena pertentangannya terhadap Lenin. Namun, beberapa tahun terakhir, warisan intelektualnya mulai dilirik kembali dan keberadaannya sebagai pelopor teori sistem mulai diakui.

Referensi :

  1. D. White, J. (2023). “Alexander Bogdanov Was One of Russia’s Great Revolutionary Thinkers and a Sci-Fi Pioneer”. Diakses pada laman https://jacobin.com/2023/11/alexander-bogdanov-russian-revolutionary-thinker-science-fiction-lenin-socialism
  2. Bogdanov, A. (1918). Art and The Working Class (Taylor R. Genivese, terjemahan). US: Iskra Books.

Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *