Chinua Achebe dalam 1621 Kata

Penulis

Ketika berbicara tentang apa itu Afrika dan bagaimana wujud dari sastra Afrika modern, nama Achebe tak bisa dilewatkan. Sebagai seorang penulis sastra dan intelektual kritis, dia telah membawa suara Afrika ke wacana global melalui karya-karyanya yang menggugat dan secara tegas mengkritik dampak kolonialisme Eropa, efek modernitas Barat, hingga konflik identitas antarpribumi Afrika pascakolonial itu sendiri. Fenomena ini, tentu dirasakan pula oleh kita semua yang pernah menjadi subjek terjajah di masa kelam kolonialisme Eropa.

Albert Chinualumogu Achebe atau yang dikenal sebagai Chinua Achebe lahir pada 16 November 1930 di Ogidi, salah satu wilayah timur Nigeria, negara yang sistem jajahannya tanpa pemerintahan langsung, tapi menjadi tempat ekstraksi minyak kelapa sawit dan perkebunan komersial yang menguntungkan Inggris. Achebe lahir dan tumbuh dalam lingkup budaya masyarakat Igbo, salah satu suku terbesar di Afrika. Seusai menamatkan studi bahasa Inggris dan sastra di Universitas College (sekarang Universitas Ibadan), Achebe sempat menjadi pengajar di sana sebelum bergabung sebagai staf Nigerian Broadcasting Corporation di Lagos. 

Pada 1967, Achebe mendirikan Citadel Press di Enugu bersama dengan seorang penyair Nigeria Christopher Okigbo—setahun setelah Okigbo menolak penghargaan Langston Hughes untuk Puisi Afrika di ajang Festival of Black African Arts di Dakar karena baginya puisi haram dinilai berdasarkan ras. Dari penerbitan Citadel Press inilah buku-buku anak yang berisi kisah masyarakat pribumi Afrika—yang bukan dari pandangan primitif dan barbar ala orientalis Barat—ditulis dan disebarkan. Aksi ini bisa dibaca sebagai bagian dari misi dekolonisasi. 

Sayangnya, dua tahun sejak kematian Okigbo di medan pertempuran dalam perang di Nigeria untuk kemerdekaan Biafra, misi itu hiatus disusul hijrahnya Achebe ke Amerika bersama para penulis lainnya, seperti Gabriel Okara dan Cyprian Ekwensi. Di masa inilah, Achebe merintis karir sebagai seorang pemikir dan pengajar kritis di beberapa universitas, baik di Amerika maupun di tanah kelahirannya.

 

Sastra adalah Alat Perlawanan Bangsa Terjajah

Mari kita sepakati bahwa Achebe bukan sekadar penulis. Dia adalah salah satu penulis sastra pascakolonial. Bahkan dia adalah penulis sastra pascakolonial yang sadar betul pada fungsi sosial dari karya sastra. Dari karya-karya yang dihasilkan, kita bisa bisa sedikit mengerti bahwa bagi Achebe sastra adalah alat yang ampuh untuk melawan dominasi budaya kolonial. Perlawanan Achebe berpusat pada upaya pemulihan identitas budaya bangsanya yang telah tercerabut oleh kekuasaan Barat. Tak heran jika dirinya banyak menginspirasi para penulis muda Afrika, salah satunya Chimamanda Ngozi Adichie yang terkenal melalui novel Half of a Yellow Sun (2006).

Sebagai seorang sastrawan pascakolonial, Achebe telah melahirkan puluhan karya yang terdiri dari novel, cerpen, puisi, hingga esai. Upaya ini pula yang hingga hari ini menempatkan namanya sebagai salah satu penulis cum pemikir pascakolonial asal Nigeria yang, tidak bisa tidak, berkontribusi besar dalam menghancurkan imaji superioritas kolonial Eropa terhadap apa yang dalam beberapa dekade silam kita kenal sebagai Afrika. Pemikiran pascakolonial Achebe tidak sekadar mendekonstruksi warisan kolonial yang selama ini telah dengan serampangan mendefinisikan Afrika dan sosial-budaya masyarakatnya, tapi juga membangun kembali pondasi identitas budaya yang telah terdistorsi oleh kekuatan superioritas Eropa. Dengan kata lain, kata-kata adalah senjata di tangan mereka yang menolak menutup mata dan telinga.

Seperti kita ketahui, kolonialisme selalu memaksakan budaya modernitas Barat, yang konon dianggap sebagai puncak peradaban dunia, sebagai sebuah patokan kehidupan bagi seluruh subjek masyarakat jajahan. Sebab itulah, demi memuluskan hal tersebut maka bangsa kulit putih harus merusak lebih dulu struktur budaya bangsa jajahan. Dalam Orientalisme karya Edward Said, kita bisa melihat bagaimana eksplorasi, eksotisasi, lalu eksploitasi yang terjadi di sekitar kita adalah serangkaian kebengisan penjajah yang terlegitimasi melalui misi-misi pemberadaban.

Things Fall Apart yang publikasi pada 1958, adalah salah satu novel pertama Achebe yang memasukkan namanya di daftar sastrawan pascakolonial. Novel ini tidak hanya menceritakan kisah kehancuran budaya Igbo akibat kolonialisme, tetapi juga memulihkan martabat masyarakat Afrika. Melalui kisah Okonkwo dan desanya dengan latar waktu awal abad ke-20, Achebe membahas kehidupan masyarakat suku Igbo pada masa kedatangan para misionaris dan pemerintahan kolonial di Afrika. Dengan kata lain, Achebe berupaya memperlihatkan bahwa masyarakat pribumi Afrika sejak lama telah memiliki sistem sosial, ekonomi, dan politik yang kompleks serta khas sebelum kedatangan kolonialisme di tanah kelahirannya.

Karya yang dipublikasikan saat usianya menginjak 28 tahun itu dengan tegas menentang bahkan menantang balik stereotipe-stereotipe Eropa yang diwariskan sejak masa kolonial. Sarah Jilani (2018) menyatakan bahwa dalam prosa yang lugas dan menggugah tersebut, Achebe menggambarkan bagaimana masyarakat yang kaya budaya dan tertata dengan baik menjadi tidak stabil akibat kedatangan misionaris Kristen dan penjajah Inggris. Afrika, yang bahkan banyak dari kita masih mengamininya, sering digambarkan sebagai benua yang gelap, gersang, terpinggirkan, dihuni masyarakat primitif, dan tidak memiliki peradaban modern seperti di Barat. Pandangan ini menciptakan posisi biner, primitif adalah Afrika dan modern adalah Eropa. 

Pandangan orientalistik semacam ini, diperkuat melalui karya-karya sastra yang sebelumnya membicarakan tentang Afrika. Heart of Darkness karya Joseph Conrad adalah salah satu karya sastra kolonial yang juga terkenal di seantero dunia, sebagai salah satu medium kebudayaan yang melegitimasi superioritas Eropa. Dalam novel itu, Afrika direpresentasikan sebagai tempat yang liar dan barbar. Achebe mengkritik pandangan ini dengan menekankan bahwa narasi kolonial telah menciptakan gambaran Afrika yang tidak manusiawi dan secara tidak langsung, Conrad telah membenarkan kebengisan penjajahan di muka bumi. 

Achebe berpendapat bahwa karya literatur Barat sering kali menghapus identitas masyarakat yang dijajah, menggantinya dengan stereotipe yang melanggengkan dominasi kulit putih. Dalam esainya “An Image of Africa: Racism in Conrad’s Heart of Darkness” (1977), dia secara tegas menyebut Heart of Darkness sebagai karya yang rasis. Achebe menggugat hegemoni literatur Barat yang cenderung mendistorsi gambaran Afrika demi kepentingan kolonial. Baginya, tugas seorang penulis pascakolonial adalah membangun kembali sejarah dan identitas masyarakat yang telah lama diredam oleh narasi dominan.

 

Sikap Politik Seorang Intelektual Sastra

Seperti yang pernah dilakukan sahabatnya, Christopher Okigbo, Achebe pun pernah menolak penganugerahan Commander of the Federal Republic (CFR) yang diberikan pemerintah Nigeria atas kiprahnya dalam dunia kesastraan Afrika dan dunia. Penghargaan kehormatan yang diberikan Presiden Goodluck Jonathan (petahana Nigeria waktu itu) pada Achebe bersama 360 penerima lainnya dari masing-masing kategori seharusnya diterima pada Senin, 14 November 2011. Namun, dengan tegas dan tanpa pikir panjang, Achebe menolak hal tersebut. 

Uniknya, itu bukan kali pertama dilakukannya. Jauh sebelum itu, tepatnya pada 2004 silam, Achebe menolak tawaran penghargaan yang sama dari pemerintahan Presiden Olusegun Obasanjo sebagai protes terhadap situasi politik di Nigeria dan negara bagian asalnya, Anambra saat itu. Keputusan itu bukan tak berdasar. Selama karirnya, Achebe telah banyak mendapat penghargaan dari berbagai pihak, seperti penghargaan Saint Louis Literary Award (1999), Peace Prize of the German Book Trade (2002), and Man Booker International Prize (2007), Dorothy and Lillian Gish Prize (2010), Dayton Literary Peace Prize (2010) dan lainnya. Bahkan dia pun pernah menerima penghargaan dari pemerintah Nigeria pada beberapa dekade sebelumnya, seperti Nigerian National Trophy for Literature, Nigerian National Order of Merit, Order of the Federal Republic, hingga National Creativity Award. Namun, apa yang terjadi di 2004 waktu itu, merupakan buntut dari pergolakan batin sang sastrawan atas kengerian yang disaksikannya di Nigeria.

Dalam sebuah surat terbuka terkait penolakan yang ditulisnya di Amerika pada 2004, Achebe menyatakan:

 

“…. Saya menerima semua penghargaan ini dengan kesadaran penuh bahwa Nigeria tidaklah sempurna; tetapi saya memiliki keyakinan kuat bahwa kita akan mengatasi kekurangan kita di bawah para pemimpin yang berkomitmen untuk menyatukan masyarakat kita yang beragam. Kondisi Nigeria saat ini di bawah pengawasan Anda, bagaimana pun, terlalu berbahaya untuk dibungkam. Saya harus menyatakan kekecewaan dan protes saya dengan menolak menerima penghargaan tinggi yang diberikan kepada saya dalam Daftar Penghargaan 2004….”

 

Bagi Achebe, selama beberapa tahun terakhir dia merasa begitu kecewa karena ulah pemerintah Nigeria, yang dinilainya sebagai wujud dari persekongkolan para pejabat negara, telah menyebabkan kekacauan yang tidak bisa diwajarkan di wilayah negara bagiannya, Anambra. Pernyataan tegas semacam ini merupakan bentuk sikap politik dari sang profesor kebanggaan Afrika tersebut. Dengan alasan yang masih sama inilah, maka Achebe menolak penganugerahan tersebut pada 2011. 

Dalam siaran persnya, Achebe mengatakan bahwa masalah struktural dan sistemik yang menjadi landasan protesnya pada 2004 silam nyatanya masih belum tertangani dan teratasi oleh pemerintahan yang baru di bawah kepemimpinan Presiden Goodluck Jonathan. Dengan kata lain, Achebe menilai adanya ketidakbecusan pemerintah bahkan pembiaran yang disengaja atas segala penderitaan yang dialami masyarakat di Nigeria. “Tidak pantas untuk menawarkannya lagi kepadaku. Karena itu, dengan berat hati aku harus menolak tawaran itu lagi,” tegasnya.

Merespons tindakan sang sastrawan kebanggaan negaranya, Jonathan menyebut bahwa penolakan Achebe atas penghargaan kedua kali yang dianugerahkan padanya sebagai ‘keputusan yang disesalkan, yang mungkin muncul, karena informasi yang salah mengenai keadaan sebenarnya di Nigeria’. Meski demikian, dalam surat kabar Nigeria, The Nation, sang petahana waktu itu tetap berharap Achebe segera pulang ke Nigeria dan melihat sendiri kemajuan yang telah dicapai oleh pemerintahannya. Sebab bagi Jonathan dan para pejabat lainnya, Achebe dianggap sebagai ikon nasional, warga negara Nigeria yang berprestasi tinggi, dan bahkan salah satu orang Afrika terhebat.

Dua tahun setelah huru-hara pasca penolakannya terhadap penghargaan prestisius ketiga di Nigeria, Chinua Achebe meninggal dunia pada 21 Maret 2013. Namun, warisan pemikirannya yang selalu ingin melihat Afrika benar-benar terbebas dari cengkeraman wacana kolonial Barat, dari sejak masa kolonial sampai masa setelah kolonial, bisa dikatakan nyaris abadi. Things Fall Apart, juga karya-karya pascakolonial lainnya, telah diterjemahkan ke lebih dari 50 bahasa dan bahkan menjadi bacaan rujukan bagi siapa saja yang mempelajari tentang Kajian Afrika, Sastra Pascakolonial Afrika, bahkan Sastra (berbahasa) Inggris. Diklaim dalam klasifikasi Sastra (berbahasa) Inggris tentu tak begitu mengherankan. Sebab menulis menggunakan bahasa Inggris adalah pilihan politis Achebe sejak lama. Sama lamanya dengan bagaimana pilihan itu didebat banyak pemikir kritis Afrika lainnya, seperti Ngũgĩ wa Thiong’o yang secara tegas memilih menggunakan bahasa Gĩkũyũ sebagai bahasa utama dalam karya-karyanya. 

Dialektika itu hanya persoalan sudut pandang dan motif politik bahasa masing-masing. Toh, diakui atau tidak, justru berbagai perdebatan yang muncul sebagai respons atas sikap-sikap politiknya inilah yang setidaknya membuat nama Chinua Achebe tak akan pernah dilupakan sampai hari ini. Terutama ketika satu per satu manusia Afrika mulai bertanya tentang: apa, siapa, dan bagaimana identitas mereka, bangsa Afrika, yang sebenarnya.


Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *