SURAKARTA — Konferensi Punk Scholars Network (PSN) Indonesia 2026 hari kedua menghadirkan panel diskusi bertajuk “Timurnesia: Music, Transnational Identity, and the Politics of Eastern Indonesian” di Ruang Studio Lokananta, Surakarta, pada Rabu (23/9/2026) sore. Sesi kelima ini mengupas peran musik populer di kawasan Indonesia Timur sebagai medium resolusi konflik, negosiasi gender, hingga pembentukan identitas kultural. Lima makalah penelitian dipresentasikan secara bergantian oleh para akademisi dan praktis budaya dalam forum tersebut. Agenda pemaparan kajian musik kawasan tersebut resmi mengakhiri seluruh rangkaian sesi panel pada hari kedua konferensi.
Pemakalah Yosia Revie Pongoh menyoroti fenomena musik pop Nusa Tenggara Timur (NTT) yang saat ini telah berevolusi menembus batas-batas geografis asalnya. Ia memaparkan bahwa melalui platform digital, musik dari wilayah tersebut dapat masuk ke dalam industri musik arus utama nasional.
“Identitas ‘Timur’ dalam musik pop saat ini tidak lagi bersifat esensialis, tapi sudah menjadi gaya, sikap, dan pilihan estetika yang bisa diadopsi oleh siapa saja,” jelas Yosia.
Melengkapi diskusi, Yogie Mofun mempresentasikan bagaimana musik rap difungsikan sebagai medium perdamaian bagi anak muda pasca konflik di Kota Ambon. Selanjutnya, Jawahirus Saniah membedah lagu populer Bugis-Makassar untuk menelaah cara laki-laki menegosiasikan maskulinitas mereka melalui konsep siri’.
Pertukaran gagasan akademik di ruang Lokananta ini memberikan impresi tersendiri bagi para pengkaji subkultur yang hadir. Rendi Pandita, salah satu peserta asal Telkom University Bandung, menilai perhelatan ini mengemas wacana alternatif ke dalam ranah keilmuan dengan metode yang tidak kaku.
“Kesan saya, ini conference tapi rasa gigs (konser). Berasa seperti punya band dan manggung, tapi untuk menyampaikan sesuatu yang berhubungan dengan pengetahuan,” ungkap Rendi. Ia menambahkan bahwa ruang akademik sangat krusial untuk menarasikan proses negosiasi dan sirkulasi kapital di dalam komunitas subkultur.
Agenda pemaparan kajian musik kawasan Indonesia Timur ini mengakhiri seluruh rangkaian sesi panel pada hari kedua konferensi.
Hai, SAM ingin mengucapkan terima kasih karena kamu sudah membacanya sampai akhir.
Jika kamu suka dan mendapat sesuatu dari tulisan ini, mari kita apresiasi penulisnya dengan klik link di bawah ini:








