Pasca Perang Dunia 2, Milton Friedman membawa semangat melawan ‘New Deal’ bersama rekannya sebagai kelompok Mont Pèlerin Society yang dipimpin oleh ekonom Austria, Friedrich von Hayek. Mulanya, di tahun 50-an mereka masih dipandang sebelah mata, tapi selama setengah abad terakhir gagasan mereka telah menjadi doktrin ekonomi yang dominan.
Milton Friedman merupakan ilmuwan yang mengajar di Universitas Chicago. Dia percaya bahwa terapi kejut ekonomi mampu mendorong masyarakat untuk menerima deregulasi kapitalisme yang lebih murni. Pasca Perang Dunia 2, dia tak sepakat pada model ekonomi Keynesian yang prinsip-prinsipnya diterima secara luas di Eropa.
Atas penolakannya terhadap Keynesian, Friedman lalu menyebarkan semangat perang melawan ‘New Deal’. Dia merupakan anggota kelompok Mont Pèlerin Society yang dipimpin oleh ekonom Austria, Friedrich von Hayek. Mereka percaya bahwa jika pemerintah berhenti menyediakan layanan dan berhenti mengatur pasar, maka perekonomian akan membaik dengan sendirinya.
Gagasan tersebut telah menjadi doktrin ekonomi (re: doktrin ekonomi kejut) yang dominan selama setengah abad terakhir setelah di tahun 50-an mereka dipandang sebelah mata. Tesis dari doktrin ini adalah bahwa kita telah dijejali dongeng tentang bagaimana kebijakan radikal ini telah melanda dunia. Bagaimana para penyebar neoliberalisme memulai cerita dengan Thatcher dan Reagan hanya karena terdengar jauh lebih menarik. Sebab, keduanya menerima kebijakan pasar bebas. Tak seperti Chili.
Doktrin ini membutuhkan sebuah kejutan, krisis, dan keadaan darurat untuk bekerja. Milton percaya bahwa hanya krisis, baik itu aktual maupun persepsi, yang mampu menghasilkan perubahan nyata. Ketika krisis itu terjadi, tindakan yang diambil bergantung pada ide-ide yang ada. Milton memahami betul bagaimana memanfaatkan krisis.
Doktrin Teori Milton Friedman kepada Chili
Di tahun 50-an dan 60-an, kebijakan pembangunan progresif Chili menjadi mercusuar di kawasan Amerika Selatan. Pemerintah berinvestasi di bidang kesehatan, pendidikan, dan industri. Perusahaan-perusahaan Amerika khawatir investasi mereka akan terganggu. Menanggapi hal tersebut, Departemen Luar Negeri AS mulai mensponsori siswa dari Chili dan seluruh Amerika Selatan untuk belajar pasar bebas dengan Milton Friedman.
Selain itu, kekhawatiran Amerika kembali muncul pada 1970 saat pemerintah Persatuan Rakyat pimpinan Salvador Allende memenangkan pemilu melalui nasionalisasi sektor-sektor besar perekonomian. Di bawah kepemimpinannya, dia berhasil membawa Chili pada perekonomian yang stabil. Segala sesuatu pun dilakukan AS untuk mengganggu stabilitas perekonomian.
Kudeta terhadap Allende turut dilakukan, meski mengalami kegagalan pada 29 Juni 1973. Kemudian pada 11 September, pasukan yang dipimpin Jenderal Pinochet kembali melakukan penyerangan di istana presiden. Padahal, selama 41 tahun Chili berhasil menikmati pemerintahan demokratis yang damai dan tak terputus. Sejak adanya campur tangan AS-lah, pemerintahan tersebut kemudian digulingkan bahkan dengan menggunakan kekerasan. Inilah kemunculan ‘kejutan’ di Chili.
Pinochet dan pendukungnya menggambarkan kudeta ini sebagai perang. Keberhasilan atas kudeta mengantarkan Pinochet sebagai pemimpin Chili yang baru. Secara bersamaan, krisis pun terjadi. Pinochet mengadopsi apa yang dilakukan pemerintahan Junta, yaitu mengundang para kapitalis untuk proyek pembangunan ekonomi. Dia juga mendatangkan para para ahli ekonom lulusan Universitas Chicago yang dikenal sebagai Chicago Boys. Presiden AS kala itu, Nixon, disebut oleh Milton Friedman telah berhasil memberi jalan keluar Chicago Boys. Friedman juga menganggap bahwa Chili adalah satu-satunya tempat yang imajinatif. Melalui Chicago Boys, Nixon dan Friedman akan membawa apa yang telah lama mereka dambakan, yaitu utopia kapitalis dalam membangun kembali sebuah negara dari nol.
Bagi Chicago Boys, mereka tak bisa bersahabat dengan model demokrasi yang berlaku di Chili. Mereka justru menganggap bahwa sistem kediktatoranlah yang dinilai lebih cocok untuk diterapkan di Chili. Dari sinilah akhirnya Pinochet menggunakan konsep pasar bebas sebagai dasar pembangunan ekonomi dengan peranan swasta dan bantuan luar negeri yang menjadi kunci dari praktik ini. Selain itu, privatisasi juga dilakukan secara massif. Pinochet bahkan mengatakan bahwa kepemimpinan Chili kedepannya tidak akan diberikan dan melibatkan sipil.
Lalu apa yang terjadi adalah sebaliknya. Kediktatoran justru membawa Chili pada ketidakstabilan politik. Kebijakan ekonominya memang berhasil memperbaiki permasalahan ekonomi yang ditandai dengan peningkatan pertamabangan tembaga dan kembali masuknya investasi asing. Namun, pelanggaran HAM terjadi secara besar-besaran. Bahkan kekerasan sipil banyak terjadi, seperti pemerkosaan remaja dan perempuan yang dilakukan oleh aparat militer dan kepolisian Chili.
Hal ini menjadi puncak pelanggaran HAM yang didalangi oleh Pinochet yang kemudian mendapat kecaman dari luar negeri dan Amerika Serikat di tahun 1980. Masyarakat pun melakukan demonstrasi untuk menuntut kemunduran Pinochet demi kembalinya sistem demokrasi yang adil di Chili.
Referensi:
- L33T Guy. “The Shock Doctrine [2009] Documentary by Naomi Klein.” Diupload oleh L33T Guy, 2017. https://www.youtube.com/watch?v=B3B5qt6gsxY.
- Yuniansah, Irham Kahfi. Revolusi Chili yang Dikudeta: Transisi Politik dari Allende ke Pinochet (1970-1990). Yogyakarta: Penerbit Semut Api, 2023.
Suka dengan tulisan ini? Kamu bisa mengirimkan donasi kepada penulis agar penulis lebih semangat menulis 🙂








